- sepetak ruang kecil untuk menjadi diri sendiri -

Gaya banget, ya. Bacain temennya buku cerita, padahal sama-sama blom bisa baca tuh :))


It started when I want to get some worksheet about “sorting numbers”. Soalnya pas Chiya kasih lembar ulangan harian matematikanya, dia banyak salah di materi itu. Karena saya pengen dapet worksheet yang bagus, jadilah saya googling. Tapi ternyata susah. Di beberapa website yang biasa saya sambangi buat cari worksheet, gak ada. Di beberapa situs lain juga gak ada. Mulailah saya curiga: sebetulnya materi ini diajarkan di luar nagari sana gak sih?
 
Well, since I’m not a pro for the expensive schools, no offense ya buat yang nyekolahin anaknya di sekolah mahal. We have to agree to disagree first :)
 
Googling worksheet pun berakhir dengan browsing materi belajar first grade di luar nagari. Iseng, saya coba search juga tentang “when do kids learn substraction”. Jawabannya hampir serempak: third grade. Jadi, ada perbedaan nih. Pertama, di sana tidak diajarkan untuk mengurutkan bilangan. Apalagi bilangan dengan angka besar sampai puluhan. Yang ada, membedakan bilangan ganjil dan genap saja. Itupun saya lihat kebanyakan hanya sampai sepuluh, atau duapuluh. Kedua, di Endonesya anak kelas dua (pada saat ini) sudah mulai diajarkan perkalian. Sementara di luar nagari, anak first grade dan second distimulasi untuk fokus pada penguatan materi dasar. Nah, materi dasarnya antara lain: basic math, basic languange, dan banyak aktivitas selama di dalam kelas. Gak kayak kita di sini ya bok, kudu duduk-diem-dengerin guru (dimana efek jangka panjangnya, kita tidak terbiasa dengan budaya argumen yang sehat dan cenderung “ho oh” pada orang yang dianggap lebih tua—atau lebih tinggi derajatnya).
 
Oh, soal materi sekolah first-second grade ini hnyalah pengamatan awam dan cetek saya melalui googling aja, ya. Saya sendiri belum paham sistem sekolah di luar nagari karena memang belum pernah mengalami sekolah di sana. Yang jelas, saya ingin mengungkapkan bahwa betapa sistem pendidikan di sini terkesan padat materi demi tercapainya sesuatu yang abstrak. Abstrak itu seperti: wawasan kebangsaan, blablabla. Sementara, dasar dari ilmu yang mau ditanamkan tidak relevan. Gimana caranya membuat anak-anak kelas satu SD paham soal (pendidikan kewarga-)negara(-an)? Dengan ujug-ujug memberi mereka teks soal hak-hak anak? Di kelas satu SD? People, please
 
Kalo ngeliat buku-buku teks pelajaran itu saya seolah-olah melihat cerminan betapa hal-hal yang ingin diraih itu sangat utopis. Biarin deh disangka apatis. Kita negara dunia ketiga dengan tingkat konsumsi pada gadget sangat tinggi tapi gak sanggup membuat sistem pendidikan yang baik dari masa ke masa. Udah berapa lusin kita ganti menteri pendidikan?
 
Saya gak bilang ini semata-mata tugasnya pemerintah, ya. Ada kami, para orangtua yang juga harus kritis mendampingi anak-anak. Tapi, kalau sudah perkara uang, bagaimana mau kritis, kan? Saya sering googling soal sekolahan di Jakarta dan sekitarnya. Banyak juga tuh forum-forumnya di web parenting. Tapiiiii, ya forum itu sebatas survey biaya, fasilitas, kelebihan-kekurangan aja. Karena bukan itu yang saya cari, ya saya ngerasa sebagian orang merasa “tidak ambil pusing” dengan sistem bobrok ini. Ini sistem lho, satu negara pake sistem ini. Dengan pengecualian (yang harus digarisbawahi, dibold dan diberi huruf kapital) MEREKA YANG MAMPU SEKOLAH DI SEKOLAH MAHAL. Tapi coba pikir:
pendidikan yang sudah dikapitalisasi + pemerintah yang impoten soal sistem pendidikan + kaum menengah yang sudah merasa “aman” di zonanya = …??
 
Bukankah sekolah mahal itu juga banyak banget beban pelajarannya, ya? Dan ada di sebuah forum parenting, yang bahas soal basis kurikulum sekolah-sekolah mahal, seorang ibu bertanya: main reason ibu-ibu yang pengen sekolahin anaknya ke sekolah basis kurikulum internasional apa? Apakah nanti mau kuliahin anaknya di luar negeri? Apakah pengen anaknya lebih fasih bahasa inggris? Atau pengen anaknya merasakan kurikulum di luar kurikulum Endonesya? Kalau jawabannya: pengen kuliahin anak, ada satu ibu-ibu yang komentar bahwa dia dulu sekolah negeri, bisa kuliah di luar nagari dan  merasa ga perlu-perlu amat untuk sekolahin anak di sekolah berkurikulum internasional itu. Lagi pula konon (katanya) nagari Endonesya ini belum menerima sertifikat kurikulum luar untuk melanjutkan ke jenjang selanjutnya. Sekalipun bisa, si anak tetap harus melalui Ujian Nasional (UN) dimana itu dapat membuat anak cukup kewalahan untuk adjust dengan sistem ini. See?
 
Dari dulu saya ngerasa yang “ngotot” untuk menyekolahkan anak dari bayi adalah orang tua. Umur tiga setengah tahun belum bisa sebut warna, sudah panik. Belum bisa baca, lantas kebelet masukin anaknya ke playgroup. Atau baby school yang basisnya bahasa inggris. Yah, gak heran kalau akhirnya sistem pendidikan nagari ini juga menetapkan standar yang tinggi buat anak-anak first grade. Dari bayi sudah disekolahkan, umur empat-lima tahun banyak sekolah TK yang mulai ngasih PR ke anak-anaknya. Di tes ini-itu sebelum masuk sekolah dasar. Lha, emang gak kebalik ya, bukahkah seharusnya sekolah yang nantinya sebagai penyedia dan pendidik bagi anak-anak (baik yang sudah bisa baca maupun yang belum)? Bukan dengan melakukan serangkaian fit and proper test bagi anak.
 
Saya berharap anak-anak yang ditempa oleh sistem ini bakal menjadi generasi besar yang tangguh. Meski, gak munafik saya sangat apriori. Ada banyak fase yang dilompati, lho. Saya juga yakin para pembuat kebijakan juga tidak pernah melibatkan orang tua atau pelaksana pendidikan untuk membuat kurikulum atau sistem yang berkaitan dengan itu. Kebayang kan, ketika pembuat kebijakan (hanya) berhadapan dengan sesama pembuat kebijakan, apa yang mereka hasilkan?
 
Ada beberapa hal yang menurut saya “tidak logis” untuk diterapkan pada anak-anak first grade. Nih listnya:
 
Pendidikan kewarganegaraan
Mengajarkan hal abstrak macam "hak anak" menurut saya sangatlah utopia. DI kelas satu SD, lho ya. Mengapa tidak diajarkan untuk mengenal negeri ini dulu? Apa itu Endonesya. Bagaimana bentuknya dalam peta. Di mana kita berada dalam peta itu. Belajar hal-hal yang dasar, lah. Yang bisa ddibayangkan BENTUKNYA oleh anak-anak. Saya yakin. lepas belajar soal "hak" ini anak-anak tak bisa lagi mengingat (apalagi memahami)nya.

Materi pelajaran yang terlalu banyak (bahkan dalam satu mata pelajaran—alih-alih memfokuskan pada beberapa materi saja)
Terutama matematika. Saya pernah baca buku pelajarannya dan mendapati banyak sekali materi yang ingin disampaikan dalam satu bab. Satu bab, lho. Misalnya, materi tentang satuan-puluhan, lalu penjumlahan dengan metode pendek-panjang (juga dengan bilangan puluhan). Edan, ini yang bikin kurikulum mikirnya anak kelas 1 SD semacam megaloman apa gimana, sih?

Teoritis, abstrak, definitif.
Misalnya, apakah puisi itu? Lagi-lagi, di kelas satu SD. Bisa dibayangkan kira-kira mereka akan menjawab apa? Atau malah balik bertanya kepada kita: puisi itu gimana sih, Bunda? Jangankan mengerti bagaimana mendefinisikannya, mereka bahkan belum pernah dikenalkan pada puisi ini.
 
Aduh, bakal panjang deh postingan ini kalau nurutin saya yang bawel. Pertanyaan secara garis besar sih: secara soft skill, apa yang akan ditanamkan? Apa diharapkan para pembuat kebijakan itu terhadap mereka, para generasi selanjutnya yang masih piyik-piyik itu?

Sebagai akhiran, saya mau siapapun yang membaca ini melihat apa yang saya tulis sebagai sebuah refleksi dari apa yang saya alami. Anak saya sekolah di sebuah sekolah swasta (tidak bergengsi) yang ala kadarnya. Sementara ibunya hanya berusaha mengkritisi apa yang didapat anak perempuannya melalui tulisan ini. Terima kasih sudah membaca :) 

Ditulis saat Chiya masih kelas 1 SD. Meski begitu, ia gigih belajar dan bisa sampai ranking 3 besar di kelasnya.[]

Trimester Ketiga (updated)

Kali ini mau cerita tentang trimester ketiga, yah. Karena trimester kedua udah lewat, jadi diskip aja ceritanya *hihihihi*. Postingan ini semacam rangkuman gitu, karena kemarin-kemarin bener-bener gak kuat kalo ngetik lama di laptop.

Hari ini usia kehamilan udah jelang 39 week. Ini didapat dari perhitungan hari pertama menstruasi terakhir.Kalo dari USG sih udah didapet HPL-nya (hari perkiraan lahir), yaitu estimasi sekitar 25 April sampe 4 Mei. Berat janin sampe terakhir kontrol Sabtu kemarin sekitar 2,9 kg. Panteslah, saya mulai pegel, susah bergerak dan berasa bawa badan segede traktor gituh… Kenaikan berat badan saya udah melampaui angka kenaikan waktu hamil pertama. Kalo dulu “hanya” sepuluh kilo sampai melahirkan, saat ini udah mencapai belasan (dan belum lahiran *glek*). Yang berasa banget sih pas ngaca, perut besaaaar banget. Yang lain juga sih *uhuk*
 
Nah, untuk persiapan melahirkan, sejak masuk trimester kedua saya dan suami mulai cari-cari rumah sakit yang bisa mengcover Askes. Maklum, kami gak punya dana persiapan melahirkan yang setara dengan harga tiket bisnis Jakarta-Amsterdam pake maskapai burung biru, wkwkwkwkwk… Di Jakarta (dan di sebagian forum kehamilan di mana ibu-ibunya adalah kelas menengah ke atas), rujukan biaya melahirkan di beberapa rumah sakit, ya estimasinya segitu. Dan, untuk informasi nih, di rumah sakit di mana dokter kandungan yang kami pilih waktu trimester awal itu, biaya persalinannya (baik normal maupun caesar) yaaaa sekitar harga tiket kelas ekonomi sampai bisnis dengan destinasi yang tadi saya sebutkan. Saya dulu pegang sih tabelnya, tapi sekarang entah di mana. Tapi sedikit-sedikit saya masih ingat range-nya.
 
Kalau persalinan normal spontan dengan kelas terbawah (kelas 3), estimasi MULAI 5-6 jutaan. Kalau kelas VIP-nya sekitar belasan. Persalinan normal dengan komplikasi, jelas nambah dong biayanya. Nah, dengan caesar kelas 3, MULAI belasan juta sampai hampir tigapuluhan juta (kelas VIP). Fasilitas yang membedakan kelas 3 sampai VIP adalah kamarnya. Satu kamar dengan delapan bed, tujuh bed, empat bed, dua bed, sampai kamar seperti paviliun. Biaya tersebut sudah termasuk visit dokter tapi belum termasuk alat dan obat tambahan.
 
Kami jelas tahan nafas pas baca price list-nya, hahahaha… Ohiya, kami berdua hunting daftar harga ini untuk mempersiapkan biaya persalinan dengan caesar. Jaga-jaga kalau si bayi seperti kakaknya yang rembes ketuban *naudzubillah*. Nah karena rasanya tidak mungkin melahirkan di rumah sakit itu dengan dokter yang sama, kami memutuskan mencari rumah sakit lainnya. Pertimbangan utamanya dua: dekat dari rumah (in case ada apa-apa) dan bisa cover Askes. Setelah mengumpulkan beberapa calon kandidat *halah*, akhirnya pilihan jatuh pada RS dr Suyoto, Bintaro (itu loooh yang deket sama kejadian tragedi rel Bintaro, wkwkwkwkwk).
 
Rumah sakit ini relatif dekat dengan rumah. Kalau mau kontrol, naik motor bisa 15 menitan lah sampe sana. Trus, bisa cover Askes. Pertama ke sana kami tanya-tanya dulu. Di lobby depan, ada petugas khusus yang melayani pasien dengan Askes. Jadi bisa langsung tanya-tanya. Seperti biasa, yang dibutuhkan untuk menjadi pasien Askes di sana adalah rujukan dari Puskesmas, kartu Askes (yaiyalaaaah) dan fotokopi KTP. Waktu itu saya sendiri yang ngurus surat rujukan ke Puskesmas Pondok Betung. Ngurus rujukannya gak ribet sih, kecuali pas ditanya buku kehamilan yang gak saya bawa waktu itu. Jadilah saya balik ke rumah untuk ambil dulu (mana gerimis pula, perjuangan bumil deh). Buku kehamilan itu penting buat surat rujukan itu. Jadi dilihat tuh profil kehamilannya, trus baru deh dirujuk. Cepet kok, saya langsung masuk (karena tadi udah dipanggil), bukunya dicek, suratnya juga langsung ditulis. Gak bayar pula 
 
Rujukan yang diberikan hanya rujukan untuk USG saja. Karena kalau mau rujukan melahirkan, harus ada rekomendasi dulu dari dokter Suyoto bahwa saya butuh penanganan di rumah sakit. Jadi, ibaratnya rujukan USG ini adalah tiket awal untuk dapat rujukan melahirkan. Okelah, gak masalah. Yang penting terdaftar dulu di Suyoto.
 
Dokter kandungan yang praktek di sana hanya ada dua, dua-duanya laki-laki. Kaget sih, kalo bandingin sama Muhammadiyah Taman Puring yang punya segambreng SpOG. Nah, salah satunya spesialis Askes, nih namanya dr. Teddy Rochantoro, SpOG. Maksudnya spesialis Askes adalah, beliau itu dokter SpOG yang khusus menangani pasien Askes di Suyoto. Tapi bukan berarti yang umum gak dilayani lhooo yaa… Jadi, hari praktek buat pasien Askes adalah Senin-Jumat jam 11 siang. Lalu, ada juga Sabtu jam 5 sore, namun hanya bisa pasien dengan status umum saja. Nah, awalnya kami pakai status Askes (dua kali kalo gak salah). Tapi seterusnya kontrol hari Sabtu dengan status pasien umum karena suami susah atur jadwal kalau kontrol pas jam kerja.
 
Pertama konsultasi dengan dr Teddy, waktu itu kami nunggu cukup lama. Jadwal jam 11, sampai hampir jam 12 dokternya belum juga nongol. Udah keburu gak sabar gitu, hahahhaa… SOalnya pertama kali kontrol dengan status pasien Askes. Pikirannya udah macem-macem. Biasalah, kalo pelayanan pemerintah identik dengan gak efisien dan sebagainya. Ternyata beliau sedang ada operasi. Setelah dokter datang dan saya dipanggil, langsung USG, dan liat profil kehamilanku. Waktu konsul beliau cerita cukup panjang gitulah. Enak buat konsultasi. Trus ternyata beliau juga praktek di RS Gandaria. Karena di sana ada USG 4 dimensi, kami mau coba deh. Sekalian cek macem-macem (tali pusat, keadaan janin, air ketuban dan lain-lain). First impression sama dokter Teddy sih, bagus-bagus aja. Beliau juga ngasih nomer hape yang bisa di-sms (kalo telpon biasanya gak diangkat). Dan so far kalo di-sms selalu balas.
 
Karena sudah merasa cocok dengan rumah sakit dan dokternya, kami memutuskan akan melahirkan si bayi di sana. Nah, masalah lain lagi muncul. Awal tahun 2014, diberlakukan kebijakan baru di ranah pelayanan kesehatan: BPJS. Askes dan sistem pelayanan kesehatan masyarakat lainnya dilebur menjadi satu. Persoalan datang karena sepertinya sistem baru ini butuh banyak koreksi dan perbaikan. Ini merupakan kesimpulan setelah kami survei ke bagian administrasi rawat inap di sana dan hasil saya googling tentang berbagai pengalaman dengan BPJS ini. Sebagian orang berhasil menjadi orang-orang yang menikmati fasilitas ini, sementara beberapa yang lainnya belum bisa seperti itu. Saya termasuk golongan yang kedua.
 
Intinya, akhirnya kami mengubah status pasien Askes (atau BPJS) menjadi pasien umum. Estimasi biaya melahirkan pun sudah dikantongi. Kalau dibandingkan dengan biaya rumah sakit yang saya sebutkan sebelumnya, jelas berbeda. Bahkan, dari biaya konsultasi dokterpun, terdapat selisih. Ibaratnya, biaya melahirkan normal VIP di rumah sakit sebelumnya sama dengan biaya caesar di Suyoto. Masih estimasi lho, yaaa…. Tapi setidaknya kami tahu berapa banyak biaya yang harus disiapkan.
 
Selain pendarahan dan flek sepanjang kehamilan, saya juga sempat mengalami batuk kering panjang yang sungguh menyiksa sampai tidak bisa tidur malam hari dan perut bagian pusar perih saat batuk. Minum SIlex, gak sembuh juga. Saya kalo batuk kering emang panjang dan lama banget buat bener-bener sembuh, sih. Akhirnya periksa dan dikasih obat sama antibiotik. Finally, I can trully sleep hehehhe…Nah, untuk flek ini, karena sepanjang hamil masih saja keluar, saya disarankan cek darah. Dulu waktu masih periksa di Klinik Permata Bintaro sempat cek darah juga untuk tokso dan rubella. Hasilnya negatif (sayang, hasil lab gak dikembalikan). Kali ini, cek darahnya umum saja, dari angka trombosit dan sebagainya. Ohiya, selain cek darah, saya juga tes urine.
 
Dari hasil lab, diketahui bahwa Laju Edar Darah (LED)  saya termasuk tinggi. LED ini kalau saya googling-gooling sih tidak berpengaruh pada penyakit. Maksudnya, bukan indikasi adanya penyakit. Tapi bisa untuk melihat adanya infeksi dalam tubuh. Angka LED saya pada cek darah pertama adalah 25, sementara yang kedua 40. Untuk kondisi kehamilan, LED pada wanita normalnya 18-70 *cmiiw*. Sebetulnya nilai LED saya termasuk normal untuk kondisi hamil, tapi karena ditakutkan bisa membahayakan janin, saya diberi antibiotik dan pengencer darah. Selain itu, saya harus banyak minum untuk menyeimbangkan LED (dan juga biar tidak dehidrasi tentunya).
 
Perlengkapan bayi sudah dibeli di akhir kehamilan 8 bulan. Lama ya? Iya, soalnya saya sempet gak boleh belanja-belanja sama Ibu saya. Tadinya heran karena beliau keukeuh gak memperbolehkan saya belanja kebutuhan bayi. Belakangan dia bilang kalo beliau parno alias paranoid sama kasus tetangga yang meninggal (ibu dan janinnya) padahal udah belanja-belanja banyak. Hadeeehh, namanya orangtua ya. Waktu itu sih, yang udah ada baru beberapa lembar kain bedong aja. Itupun hasil dari perjalanan Ibu ke Jogja. Tapi akhirnya jelang 9 bulan, si Bapak (Akung) nanya:
 
Bapak: udah disiapin semua perlengkapannya?
Saya: lah, wong belum boleh beli-beli sama Uti (Ibu)…
Ibu: iya, entar aja pas udah lahir, Uti yang beli-beli, deh…
Bapak: beli di mana?
Ibu: deket sekolahan (tempat beliau mengajar) ada toko bayi…
Saya: kalo lahirannya malam, gimana dong?
Bapak: iya tuh, kalo malem-malem mau beli di mana? Sana belanja, nanti gak sempet, baru bingung deh…
 
Kesimpulan: akhirnya berbekal daftar belanja dari Ibu, siang itu saya dan suami belanja kebutuhan bayi di supermarket lengkap dekat rumah, hehehehe... Belanjanya pun masih dalam jumlah yang sedikit. Cukup buat sekitar 3 hari si bayi setelah lahir. Yang sudah dibeli kemarin (dalam beberapa kali belanja) antara lain:
-    Kain bedong (belinya jauh, di Jogja, hahahhaha…)
-    Popok kain
-    Baju new born (tanpa lengan, lengan pendek dan lengan panjang)
-    Celana new born (pendek dan panjang)
-    Gurita bayi
-    Sarung tangan dan sarung kaki
-    Topi
-    Selimut (pengalaman dari Chiya sih, selimut bayi ini gak begitu useful, karena hanya terpakai sampai bayi usia dua bulanan aja, itu pun hanya dipakai kalau pergi-pergi. Saranku sih, beli yang katun dan halus aja. Kemarin nemu yang katun setelah udah beli yang bahan beludru tebal itu. Soalnya kalo katun, bakal terpakai sampai bayinya agak besar.)
-    Perlak alias alas ompol dari bahan karet (saya beli perlak yang bahan karetnya tebal dan berat, rasanya mending yang biasa aja deh. Meski bagus, tapi besar jadinya gak ringkes aja.)
-    Kain flanin (sebutannya kayaknya macem-macem ya, ini kain yang jadi alas di atas perlak, bahannya tipis. Dan perasaan sekarang lebih tipis dari jamannya Chiya dulu. Soalnya masih ada satu-dua di rumah yang udah jadi mainannya dia hehehe.)
-    Kelambu (ini sama kayak selimut, kepakenya cuma sebentar hehehehe…)
-    Kasur (tadinya udah ngincer kasur yang plus kelambu dan bisa dilipet jadi sofa kecil, tapi setelah mau dibeli kok berubah pikiran. Kasurnya gak empuk-empuk amat, konstruksinya besar tapi jelas gak akan bisa provide samapai bayi gede, gulingnya built-in alias ga bisa dilepas, jadi tetep harus beli bantal dan guling lagi. Dan nilai kegunaannya meski nanti bisa jadi sofa kok rasanya gak maksimal, ya… Ayah naksir kasur yang udah nempel sama perlak waktu ke Bintaro Plaza. Eh tapi harganya separuhnya kasur-sofa itu *weew*, padahal bener-bener cuman kasur ajah. Yang kami pilih akhirnya kasur biasa dengan bantal-guling isi dacron [bukan busa] harga 50 ribuan wkwkwkwkwk… Percaya deh, kasur mahal gak fungsional juga, apalagi bayi itu tumbuh cepeeet bangeett…
-    Bantal-guling (loh, kan udah sepaket sama kasur? Iya, kami beli bantal-guling juga karena yang bawaan dari kasur gak akan awet. Jadi kami beli bantal-guling yang lebih besar dan lebih bagus.)
-    Box container (ini penting buat saya, soalnya baju-baju bayi kan banyak printilannya, jadi butuh tempat banyak juga. Karena rumahnya sempit, ya bisanya beli box container ajah. Kami beli yang susun empat. Pengalaman sebelumnya, bisa dipake sampe……anaknya dibeliin lemari beneran hahahahha!)
-    Stroller (ini udah masuk list, dan udah catet beberapa merk yang ditaksir, tapi karena keadaan perut menggelembung dan udah bener-bener ga kuat berdiri lama, dipending deh belanja stroller-nya. Eh tapi ternyata dibeliin stroller sama adikku. Alhamdulilaaahh…)
-    Diapers bag (ini yang agak susah milihnya. Tapi akhirnya nemu tas yang gambarnya Snoopy. Tasnya besar, empuk, ada alas buat diapers changing, box buat dot. Harga awalnya bikin melotot, tapi karena diskon, harganya jadi sama kayak tas-tas lain yang udah pernah dilihat. Strategi marketing deh itu :p)
Sebenernya masih ada printilan lain yang belum kebeli, kayak gendongan (yang kain ato bukan), tempat bedak yang dobel box, serta kapas bundar dan tempatnya. Yang penting sih printilan esensialnya dah siap. Oh iya, tanggal 23 April kemarin Ayah ulang tahun. Sempat mbatin sih: moga bayi ini lahir berbarengan dengan Ayahnya. Tapi apa daya, ternyata di tanggal itu dia belum mau keluar, tuh… Kami juga gak pengen melahirkannya dengan sengaja di tanggal itu, hahahahaha…. Moga tetap sehat-sehat yaaa, bayiiiii… We believe that every baby have their own date. *kiss*
 
Sampai usia kehamilan masuk 9 bulan, saya masih mendapati flek beberapa kali. Bahkan, sejak Kamis hingga hari Selasa ini (29 April 2014), flek masih muncul. Ini artinya sudah masuk hari kelima-keenam. Padahal, biasanya kalo flek, di hari kedua sudah berhenti. Nah, ini kok bisa lebih lama. Dokter kaget juga, waktu kami kontrol (waktu itu udah hari ketiga flek). Hari ini rencana kami konsul untuk jadwal caesar. Kalau kondisi janin dan saya bagus serta siap untuk operasi, tinggal pilih tanggalnya saja. Doakan yaaa… Kami mau yang terbaik. Perjalanan hamil kedua ini betul-betul “sesuatu” deh… (PS: nanti di-update lagi, kalo sempat, kalo inget dan kalo mau, hahahhaha.)

written on 29th April 2014[]

Blog Hits

Hello

"Membuat jarak paling intim antara suara hati dan memori adalah dengan menuliskannya pada sebuah tulisan. Dan kamu, sedang menuju ke tempat milikku."

Enjoy reading.

Popular Posts

Followers