- sepetak ruang kecil untuk menjadi diri sendiri -

Memo akhir 2014

(Picture from here)

Hai, halo.

Hari ini adalah hari terakhir di tahun 2014. Karena tahun kemarin sudah bikin semacam kalaedoskop singkat mengenai hidup saya, kali ini saya ingin menjaga kebiasaan itu tiap akhir tahun.

Mungkin bukan jenis kalaedoskop komplit, tapi hanya flash back singkat saja. Here we go.
Awal tahun posisi saya sudah di rumah alias resign. Sehari-hari menjaga kehamilan yang kerap bolak-balik check up ke dokter karena bleeding atau flek. Bulan kedua, asisten rumah tangga buru-buru balik kampung. Sejak itu saya bangun lebih pagi untuk menyiapkan kebutuhan sekolah Chiya. Juga sore hari untuk ia mengaji. Ketika itu, siang hari selepas ia sekolah, kami berdua makan buah dingin sambil mengerjakan PR. It was a good old days, by the way.

Akhir April mulai was-was, flek masih saja hadir sementara usia janin makin matang. Takut sekali kenapa-kenapa. Diputuskan untuk sectio caesaria tanggal 2 Mei. Prosesnya cepat, tapi jauh lebih sakit. Alhamdulilah, saya dan bayi sehat. Meski setelah dibawa pulang, si Levi bilirubinnya tinggi. Sempat dua kali cek darah, ternyata dia termasuk breastmilk jaundice. Sekitar umur dua bulan bilirubinnya baru turun secara signifikan.
Sejak melahirkan ini rasanya muncul friksi-friksi dan drama. Saya juga bukan perempuan sempurna sebagai anak, sahabat, ibu dan isteri. Banyak hal coba saya renungkan sendiri. It's still going on until now.

Banyak hal yang saya pelajari di paruh kedua tahun ini. Banyak sekali. Memaknai pernikahan sebagai hal yang tidak ditujukan untuk "mencari kebahagiaan". Atau merekontruksi hubungan orang tua dan anak yang selama ini saya jalani (sebagai anak). Dan lain-lain. Perjalanan hidup saya sangat terasa di usia kepala tiga ini *tua ya, bok!*
Hal lain, adalah ketika saya "iseng" jualan melalui akun facebook personal saya. Sebetulnya saya sudah punya akun khusus jualan, tapi tidak saya rawat dengan baik. Bisnis yang tidak dijalani dan ditekuni memang tidak akan maksimal. Alhamdulilah, kali ini jualannya lancar. Ada beberapa reseller di beberapa kota. Tahun depan insya Allah ada beberapa rencana untuk jualannya juga.

Begitulah. Tak begitu istimewa, memang. Semoga tahun depan akan ada lebih banyak pelukan dan harapan baik yang tercapai. Aamiinn.
Makin banyak botol yang tidak terisi :(

Perpisahan ini adalah bulat keputusanku. Sempat ragu untuk benar-benar meninggalkanmu, namun akhirnya kupilih juga. Sebab sejatinya perempuan memiliki suara dan posisi politisnya apabila ia menyadarinya. Dan sejak dulu aku percaya, seorang ibu tidak dinilai baik atau tidak hanya dari susu yang diminum anaknya.

Sebagian mungkin merasa ini keluhan tiada henti. Tidak melihatnya sebagai hal yang manusiawi. Tak apa, kadang hidup memang harus jalan sendiri.

Mungkin sekitar tujuh bulan, Medela, kamu menemaniku. Membisikanku, menyemangatiku di tiap detik tanganku berjungkit berjuang meraih tetes demi tetes ASI. Aku harus beradaptasi dengan jari yang kapalan atau sendi tangan yang kerap nyut-nyutan. Tak pernah menyangka pekerjaan (yang dilihat sebagian orang) sepele ini ternyata melelahkan.

Ya, Medela, lelah. Begitu banyak friksi, begitu banyak drama, ketika kita masih bersama. Kau mungkin satu-satunya saksi yang tahu bagaimana kantung mataku mulai berubah menghitam dan mencekung. Bagaimana akhirnya kudapat berat badan semula, bahkan kebablasan. Bagaimana aku menjungkit dengan dada penuh amarah. Bagaimana aku kewalahan menahan sedan dan mata yang sering kuseka karena air mata. Mungkin tak banyak yang tahu ini adalah rutinitas membosankan yang tetap harus kau lakukan, capek atau tidak.

Awalnya memang tak pernah kubayangkan akan bersama denganmu. Sama sekali. Kupikir, tak apalah, yang penting si bayi tetap minum ASI. Tapi hidup sebetulnya sudah mengajari kita banyak hal. Bahwa tak ada yang mudah di dunia ini. Jam istirahat kupakai untuk berjuang bersamamu. Makin lama, semakin susah untuk mencari waktu. Tak jarang proses berjungkit harus diinterupsi bayi yang menangis minta susu. Tak peduli apakah ada orang selain aku. Tak jarang suaraku tenggelam, hilang dibawa angin.

Semakin aku larut dalam kalut, semakin jauh diriku untuk mereguk hasil yang berlimpah. Pada titik itu, Medela, keimananku untuk tetap sabar selalu goyah. Aku sebenarnya hanya butuh dipeluk dan dipahami sebagaimana manusia yang kerap ingin berhenti. Tapi tak pernah semudah itu, Medela. Kau tahu itu.

Tiap tengah malam aku terbangun, tiap selesai berjungkit memerah sebotol-dua botol ASI, aku kadang berpikir kapankah semua ini selesai? Perjalanan ini tak semudah dan seindah cerita-cerita. Misalnya ketika aku harus berjungkit tapi malam kian larut dan banyak hal belum diselesaikan. Aku lalu mendapat pertanyaan: sejak tadi ngapain saja? Pikiranku menerawang, berkelebat banyak hal yang sudah kulakukan dengan sepasang tangan ini.

Apakah mereka mengerti rasanya makan ketika belum lapar? Apakah mereka tahu sulitnya menahan kantuk sementara kau belum boleh tidur? Apakah tahu rasanya melakukan hampir semua hal sambil menggendong bayi yang menjerit menangis di dalam pelukanmu?

Kita tak akan pernah bisa berharap orang lain peduli, Medela. Siapapun dia. Kita tak akan pernah bisa menunggu untuk dibantu. Tak akan bisa berharap orang berempati pada kita. Yang bisa kita lakukan adalah mengerjakan semuanya sendiri. Dengan atau tanpa orang lain. Dan tujuh bulan adalah waktu yang cukup bagiku. Kita akan segera berpisah, Medela.

Terima kasih sudah menemani tiap kali aku berjungkit kapanpun si bayi tidur. Terima kasih telah memberikan dukungan bahwa aku bisa kembali mengisi botol-botol kaca yang sempat kosong dan terus mengingatkanku bahwa aku bisa. Terima kasih untuk detik-detik yang kuhabiskan sambil melamun. Memikirkan banyak hal denganmu. Dalam tujuh bulan yang pasang surut ini, kamu tetap hal yang paling baik dalam mengajariku melihat orang lain dari perspektif yang berbeda. Tujuh bulan yang pasang surut ini akan diingat sebagai pelajaran hidup, Medela. Bukan semata-mata waktu saja.

Terima kasih untuk semuanya.

* 00.54 ditulis dengan sedikit bumbu drama dan rasa haru*
Gaya banget, ya. Bacain temennya buku cerita, padahal sama-sama blom bisa baca tuh :))


It started when I want to get some worksheet about “sorting numbers”. Soalnya pas Chiya kasih lembar ulangan harian matematikanya, dia banyak salah di materi itu. Karena saya pengen dapet worksheet yang bagus, jadilah saya googling. Tapi ternyata susah. Di beberapa website yang biasa saya sambangi buat cari worksheet, gak ada. Di beberapa situs lain juga gak ada. Mulailah saya curiga: sebetulnya materi ini diajarkan di luar nagari sana gak sih?
 
Well, since I’m not a pro for the expensive schools, no offense ya buat yang nyekolahin anaknya di sekolah mahal. We have to agree to disagree first :)
 
Googling worksheet pun berakhir dengan browsing materi belajar first grade di luar nagari. Iseng, saya coba search juga tentang “when do kids learn substraction”. Jawabannya hampir serempak: third grade. Jadi, ada perbedaan nih. Pertama, di sana tidak diajarkan untuk mengurutkan bilangan. Apalagi bilangan dengan angka besar sampai puluhan. Yang ada, membedakan bilangan ganjil dan genap saja. Itupun saya lihat kebanyakan hanya sampai sepuluh, atau duapuluh. Kedua, di Endonesya anak kelas dua (pada saat ini) sudah mulai diajarkan perkalian. Sementara di luar nagari, anak first grade dan second distimulasi untuk fokus pada penguatan materi dasar. Nah, materi dasarnya antara lain: basic math, basic languange, dan banyak aktivitas selama di dalam kelas. Gak kayak kita di sini ya bok, kudu duduk-diem-dengerin guru (dimana efek jangka panjangnya, kita tidak terbiasa dengan budaya argumen yang sehat dan cenderung “ho oh” pada orang yang dianggap lebih tua—atau lebih tinggi derajatnya).
 
Oh, soal materi sekolah first-second grade ini hnyalah pengamatan awam dan cetek saya melalui googling aja, ya. Saya sendiri belum paham sistem sekolah di luar nagari karena memang belum pernah mengalami sekolah di sana. Yang jelas, saya ingin mengungkapkan bahwa betapa sistem pendidikan di sini terkesan padat materi demi tercapainya sesuatu yang abstrak. Abstrak itu seperti: wawasan kebangsaan, blablabla. Sementara, dasar dari ilmu yang mau ditanamkan tidak relevan. Gimana caranya membuat anak-anak kelas satu SD paham soal (pendidikan kewarga-)negara(-an)? Dengan ujug-ujug memberi mereka teks soal hak-hak anak? Di kelas satu SD? People, please
 
Kalo ngeliat buku-buku teks pelajaran itu saya seolah-olah melihat cerminan betapa hal-hal yang ingin diraih itu sangat utopis. Biarin deh disangka apatis. Kita negara dunia ketiga dengan tingkat konsumsi pada gadget sangat tinggi tapi gak sanggup membuat sistem pendidikan yang baik dari masa ke masa. Udah berapa lusin kita ganti menteri pendidikan?
 
Saya gak bilang ini semata-mata tugasnya pemerintah, ya. Ada kami, para orangtua yang juga harus kritis mendampingi anak-anak. Tapi, kalau sudah perkara uang, bagaimana mau kritis, kan? Saya sering googling soal sekolahan di Jakarta dan sekitarnya. Banyak juga tuh forum-forumnya di web parenting. Tapiiiii, ya forum itu sebatas survey biaya, fasilitas, kelebihan-kekurangan aja. Karena bukan itu yang saya cari, ya saya ngerasa sebagian orang merasa “tidak ambil pusing” dengan sistem bobrok ini. Ini sistem lho, satu negara pake sistem ini. Dengan pengecualian (yang harus digarisbawahi, dibold dan diberi huruf kapital) MEREKA YANG MAMPU SEKOLAH DI SEKOLAH MAHAL. Tapi coba pikir:
pendidikan yang sudah dikapitalisasi + pemerintah yang impoten soal sistem pendidikan + kaum menengah yang sudah merasa “aman” di zonanya = …??
 
Bukankah sekolah mahal itu juga banyak banget beban pelajarannya, ya? Dan ada di sebuah forum parenting, yang bahas soal basis kurikulum sekolah-sekolah mahal, seorang ibu bertanya: main reason ibu-ibu yang pengen sekolahin anaknya ke sekolah basis kurikulum internasional apa? Apakah nanti mau kuliahin anaknya di luar negeri? Apakah pengen anaknya lebih fasih bahasa inggris? Atau pengen anaknya merasakan kurikulum di luar kurikulum Endonesya? Kalau jawabannya: pengen kuliahin anak, ada satu ibu-ibu yang komentar bahwa dia dulu sekolah negeri, bisa kuliah di luar nagari dan  merasa ga perlu-perlu amat untuk sekolahin anak di sekolah berkurikulum internasional itu. Lagi pula konon (katanya) nagari Endonesya ini belum menerima sertifikat kurikulum luar untuk melanjutkan ke jenjang selanjutnya. Sekalipun bisa, si anak tetap harus melalui Ujian Nasional (UN) dimana itu dapat membuat anak cukup kewalahan untuk adjust dengan sistem ini. See?
 
Dari dulu saya ngerasa yang “ngotot” untuk menyekolahkan anak dari bayi adalah orang tua. Umur tiga setengah tahun belum bisa sebut warna, sudah panik. Belum bisa baca, lantas kebelet masukin anaknya ke playgroup. Atau baby school yang basisnya bahasa inggris. Yah, gak heran kalau akhirnya sistem pendidikan nagari ini juga menetapkan standar yang tinggi buat anak-anak first grade. Dari bayi sudah disekolahkan, umur empat-lima tahun banyak sekolah TK yang mulai ngasih PR ke anak-anaknya. Di tes ini-itu sebelum masuk sekolah dasar. Lha, emang gak kebalik ya, bukahkah seharusnya sekolah yang nantinya sebagai penyedia dan pendidik bagi anak-anak (baik yang sudah bisa baca maupun yang belum)? Bukan dengan melakukan serangkaian fit and proper test bagi anak.
 
Saya berharap anak-anak yang ditempa oleh sistem ini bakal menjadi generasi besar yang tangguh. Meski, gak munafik saya sangat apriori. Ada banyak fase yang dilompati, lho. Saya juga yakin para pembuat kebijakan juga tidak pernah melibatkan orang tua atau pelaksana pendidikan untuk membuat kurikulum atau sistem yang berkaitan dengan itu. Kebayang kan, ketika pembuat kebijakan (hanya) berhadapan dengan sesama pembuat kebijakan, apa yang mereka hasilkan?
 
Ada beberapa hal yang menurut saya “tidak logis” untuk diterapkan pada anak-anak first grade. Nih listnya:
 
Pendidikan kewarganegaraan
Mengajarkan hal abstrak macam "hak anak" menurut saya sangatlah utopia. DI kelas satu SD, lho ya. Mengapa tidak diajarkan untuk mengenal negeri ini dulu? Apa itu Endonesya. Bagaimana bentuknya dalam peta. Di mana kita berada dalam peta itu. Belajar hal-hal yang dasar, lah. Yang bisa ddibayangkan BENTUKNYA oleh anak-anak. Saya yakin. lepas belajar soal "hak" ini anak-anak tak bisa lagi mengingat (apalagi memahami)nya.

Materi pelajaran yang terlalu banyak (bahkan dalam satu mata pelajaran—alih-alih memfokuskan pada beberapa materi saja)
Terutama matematika. Saya pernah baca buku pelajarannya dan mendapati banyak sekali materi yang ingin disampaikan dalam satu bab. Satu bab, lho. Misalnya, materi tentang satuan-puluhan, lalu penjumlahan dengan metode pendek-panjang (juga dengan bilangan puluhan). Edan, ini yang bikin kurikulum mikirnya anak kelas 1 SD semacam megaloman apa gimana, sih?

Teoritis, abstrak, definitif.
Misalnya, apakah puisi itu? Lagi-lagi, di kelas satu SD. Bisa dibayangkan kira-kira mereka akan menjawab apa? Atau malah balik bertanya kepada kita: puisi itu gimana sih, Bunda? Jangankan mengerti bagaimana mendefinisikannya, mereka bahkan belum pernah dikenalkan pada puisi ini.
 
Aduh, bakal panjang deh postingan ini kalau nurutin saya yang bawel. Pertanyaan secara garis besar sih: secara soft skill, apa yang akan ditanamkan? Apa diharapkan para pembuat kebijakan itu terhadap mereka, para generasi selanjutnya yang masih piyik-piyik itu?

Sebagai akhiran, saya mau siapapun yang membaca ini melihat apa yang saya tulis sebagai sebuah refleksi dari apa yang saya alami. Anak saya sekolah di sebuah sekolah swasta (tidak bergengsi) yang ala kadarnya. Sementara ibunya hanya berusaha mengkritisi apa yang didapat anak perempuannya melalui tulisan ini. Terima kasih sudah membaca :) 

Ditulis saat Chiya masih kelas 1 SD. Meski begitu, ia gigih belajar dan bisa sampai ranking 3 besar di kelasnya.[]

Trimester Ketiga (updated)

Kali ini mau cerita tentang trimester ketiga, yah. Karena trimester kedua udah lewat, jadi diskip aja ceritanya *hihihihi*. Postingan ini semacam rangkuman gitu, karena kemarin-kemarin bener-bener gak kuat kalo ngetik lama di laptop.

Hari ini usia kehamilan udah jelang 39 week. Ini didapat dari perhitungan hari pertama menstruasi terakhir.Kalo dari USG sih udah didapet HPL-nya (hari perkiraan lahir), yaitu estimasi sekitar 25 April sampe 4 Mei. Berat janin sampe terakhir kontrol Sabtu kemarin sekitar 2,9 kg. Panteslah, saya mulai pegel, susah bergerak dan berasa bawa badan segede traktor gituh… Kenaikan berat badan saya udah melampaui angka kenaikan waktu hamil pertama. Kalo dulu “hanya” sepuluh kilo sampai melahirkan, saat ini udah mencapai belasan (dan belum lahiran *glek*). Yang berasa banget sih pas ngaca, perut besaaaar banget. Yang lain juga sih *uhuk*
 
Nah, untuk persiapan melahirkan, sejak masuk trimester kedua saya dan suami mulai cari-cari rumah sakit yang bisa mengcover Askes. Maklum, kami gak punya dana persiapan melahirkan yang setara dengan harga tiket bisnis Jakarta-Amsterdam pake maskapai burung biru, wkwkwkwkwk… Di Jakarta (dan di sebagian forum kehamilan di mana ibu-ibunya adalah kelas menengah ke atas), rujukan biaya melahirkan di beberapa rumah sakit, ya estimasinya segitu. Dan, untuk informasi nih, di rumah sakit di mana dokter kandungan yang kami pilih waktu trimester awal itu, biaya persalinannya (baik normal maupun caesar) yaaaa sekitar harga tiket kelas ekonomi sampai bisnis dengan destinasi yang tadi saya sebutkan. Saya dulu pegang sih tabelnya, tapi sekarang entah di mana. Tapi sedikit-sedikit saya masih ingat range-nya.
 
Kalau persalinan normal spontan dengan kelas terbawah (kelas 3), estimasi MULAI 5-6 jutaan. Kalau kelas VIP-nya sekitar belasan. Persalinan normal dengan komplikasi, jelas nambah dong biayanya. Nah, dengan caesar kelas 3, MULAI belasan juta sampai hampir tigapuluhan juta (kelas VIP). Fasilitas yang membedakan kelas 3 sampai VIP adalah kamarnya. Satu kamar dengan delapan bed, tujuh bed, empat bed, dua bed, sampai kamar seperti paviliun. Biaya tersebut sudah termasuk visit dokter tapi belum termasuk alat dan obat tambahan.
 
Kami jelas tahan nafas pas baca price list-nya, hahahaha… Ohiya, kami berdua hunting daftar harga ini untuk mempersiapkan biaya persalinan dengan caesar. Jaga-jaga kalau si bayi seperti kakaknya yang rembes ketuban *naudzubillah*. Nah karena rasanya tidak mungkin melahirkan di rumah sakit itu dengan dokter yang sama, kami memutuskan mencari rumah sakit lainnya. Pertimbangan utamanya dua: dekat dari rumah (in case ada apa-apa) dan bisa cover Askes. Setelah mengumpulkan beberapa calon kandidat *halah*, akhirnya pilihan jatuh pada RS dr Suyoto, Bintaro (itu loooh yang deket sama kejadian tragedi rel Bintaro, wkwkwkwkwk).
 
Rumah sakit ini relatif dekat dengan rumah. Kalau mau kontrol, naik motor bisa 15 menitan lah sampe sana. Trus, bisa cover Askes. Pertama ke sana kami tanya-tanya dulu. Di lobby depan, ada petugas khusus yang melayani pasien dengan Askes. Jadi bisa langsung tanya-tanya. Seperti biasa, yang dibutuhkan untuk menjadi pasien Askes di sana adalah rujukan dari Puskesmas, kartu Askes (yaiyalaaaah) dan fotokopi KTP. Waktu itu saya sendiri yang ngurus surat rujukan ke Puskesmas Pondok Betung. Ngurus rujukannya gak ribet sih, kecuali pas ditanya buku kehamilan yang gak saya bawa waktu itu. Jadilah saya balik ke rumah untuk ambil dulu (mana gerimis pula, perjuangan bumil deh). Buku kehamilan itu penting buat surat rujukan itu. Jadi dilihat tuh profil kehamilannya, trus baru deh dirujuk. Cepet kok, saya langsung masuk (karena tadi udah dipanggil), bukunya dicek, suratnya juga langsung ditulis. Gak bayar pula 
 
Rujukan yang diberikan hanya rujukan untuk USG saja. Karena kalau mau rujukan melahirkan, harus ada rekomendasi dulu dari dokter Suyoto bahwa saya butuh penanganan di rumah sakit. Jadi, ibaratnya rujukan USG ini adalah tiket awal untuk dapat rujukan melahirkan. Okelah, gak masalah. Yang penting terdaftar dulu di Suyoto.
 
Dokter kandungan yang praktek di sana hanya ada dua, dua-duanya laki-laki. Kaget sih, kalo bandingin sama Muhammadiyah Taman Puring yang punya segambreng SpOG. Nah, salah satunya spesialis Askes, nih namanya dr. Teddy Rochantoro, SpOG. Maksudnya spesialis Askes adalah, beliau itu dokter SpOG yang khusus menangani pasien Askes di Suyoto. Tapi bukan berarti yang umum gak dilayani lhooo yaa… Jadi, hari praktek buat pasien Askes adalah Senin-Jumat jam 11 siang. Lalu, ada juga Sabtu jam 5 sore, namun hanya bisa pasien dengan status umum saja. Nah, awalnya kami pakai status Askes (dua kali kalo gak salah). Tapi seterusnya kontrol hari Sabtu dengan status pasien umum karena suami susah atur jadwal kalau kontrol pas jam kerja.
 
Pertama konsultasi dengan dr Teddy, waktu itu kami nunggu cukup lama. Jadwal jam 11, sampai hampir jam 12 dokternya belum juga nongol. Udah keburu gak sabar gitu, hahahhaa… SOalnya pertama kali kontrol dengan status pasien Askes. Pikirannya udah macem-macem. Biasalah, kalo pelayanan pemerintah identik dengan gak efisien dan sebagainya. Ternyata beliau sedang ada operasi. Setelah dokter datang dan saya dipanggil, langsung USG, dan liat profil kehamilanku. Waktu konsul beliau cerita cukup panjang gitulah. Enak buat konsultasi. Trus ternyata beliau juga praktek di RS Gandaria. Karena di sana ada USG 4 dimensi, kami mau coba deh. Sekalian cek macem-macem (tali pusat, keadaan janin, air ketuban dan lain-lain). First impression sama dokter Teddy sih, bagus-bagus aja. Beliau juga ngasih nomer hape yang bisa di-sms (kalo telpon biasanya gak diangkat). Dan so far kalo di-sms selalu balas.
 
Karena sudah merasa cocok dengan rumah sakit dan dokternya, kami memutuskan akan melahirkan si bayi di sana. Nah, masalah lain lagi muncul. Awal tahun 2014, diberlakukan kebijakan baru di ranah pelayanan kesehatan: BPJS. Askes dan sistem pelayanan kesehatan masyarakat lainnya dilebur menjadi satu. Persoalan datang karena sepertinya sistem baru ini butuh banyak koreksi dan perbaikan. Ini merupakan kesimpulan setelah kami survei ke bagian administrasi rawat inap di sana dan hasil saya googling tentang berbagai pengalaman dengan BPJS ini. Sebagian orang berhasil menjadi orang-orang yang menikmati fasilitas ini, sementara beberapa yang lainnya belum bisa seperti itu. Saya termasuk golongan yang kedua.
 
Intinya, akhirnya kami mengubah status pasien Askes (atau BPJS) menjadi pasien umum. Estimasi biaya melahirkan pun sudah dikantongi. Kalau dibandingkan dengan biaya rumah sakit yang saya sebutkan sebelumnya, jelas berbeda. Bahkan, dari biaya konsultasi dokterpun, terdapat selisih. Ibaratnya, biaya melahirkan normal VIP di rumah sakit sebelumnya sama dengan biaya caesar di Suyoto. Masih estimasi lho, yaaa…. Tapi setidaknya kami tahu berapa banyak biaya yang harus disiapkan.
 
Selain pendarahan dan flek sepanjang kehamilan, saya juga sempat mengalami batuk kering panjang yang sungguh menyiksa sampai tidak bisa tidur malam hari dan perut bagian pusar perih saat batuk. Minum SIlex, gak sembuh juga. Saya kalo batuk kering emang panjang dan lama banget buat bener-bener sembuh, sih. Akhirnya periksa dan dikasih obat sama antibiotik. Finally, I can trully sleep hehehhe…Nah, untuk flek ini, karena sepanjang hamil masih saja keluar, saya disarankan cek darah. Dulu waktu masih periksa di Klinik Permata Bintaro sempat cek darah juga untuk tokso dan rubella. Hasilnya negatif (sayang, hasil lab gak dikembalikan). Kali ini, cek darahnya umum saja, dari angka trombosit dan sebagainya. Ohiya, selain cek darah, saya juga tes urine.
 
Dari hasil lab, diketahui bahwa Laju Edar Darah (LED)  saya termasuk tinggi. LED ini kalau saya googling-gooling sih tidak berpengaruh pada penyakit. Maksudnya, bukan indikasi adanya penyakit. Tapi bisa untuk melihat adanya infeksi dalam tubuh. Angka LED saya pada cek darah pertama adalah 25, sementara yang kedua 40. Untuk kondisi kehamilan, LED pada wanita normalnya 18-70 *cmiiw*. Sebetulnya nilai LED saya termasuk normal untuk kondisi hamil, tapi karena ditakutkan bisa membahayakan janin, saya diberi antibiotik dan pengencer darah. Selain itu, saya harus banyak minum untuk menyeimbangkan LED (dan juga biar tidak dehidrasi tentunya).
 
Perlengkapan bayi sudah dibeli di akhir kehamilan 8 bulan. Lama ya? Iya, soalnya saya sempet gak boleh belanja-belanja sama Ibu saya. Tadinya heran karena beliau keukeuh gak memperbolehkan saya belanja kebutuhan bayi. Belakangan dia bilang kalo beliau parno alias paranoid sama kasus tetangga yang meninggal (ibu dan janinnya) padahal udah belanja-belanja banyak. Hadeeehh, namanya orangtua ya. Waktu itu sih, yang udah ada baru beberapa lembar kain bedong aja. Itupun hasil dari perjalanan Ibu ke Jogja. Tapi akhirnya jelang 9 bulan, si Bapak (Akung) nanya:
 
Bapak: udah disiapin semua perlengkapannya?
Saya: lah, wong belum boleh beli-beli sama Uti (Ibu)…
Ibu: iya, entar aja pas udah lahir, Uti yang beli-beli, deh…
Bapak: beli di mana?
Ibu: deket sekolahan (tempat beliau mengajar) ada toko bayi…
Saya: kalo lahirannya malam, gimana dong?
Bapak: iya tuh, kalo malem-malem mau beli di mana? Sana belanja, nanti gak sempet, baru bingung deh…
 
Kesimpulan: akhirnya berbekal daftar belanja dari Ibu, siang itu saya dan suami belanja kebutuhan bayi di supermarket lengkap dekat rumah, hehehehe... Belanjanya pun masih dalam jumlah yang sedikit. Cukup buat sekitar 3 hari si bayi setelah lahir. Yang sudah dibeli kemarin (dalam beberapa kali belanja) antara lain:
-    Kain bedong (belinya jauh, di Jogja, hahahhaha…)
-    Popok kain
-    Baju new born (tanpa lengan, lengan pendek dan lengan panjang)
-    Celana new born (pendek dan panjang)
-    Gurita bayi
-    Sarung tangan dan sarung kaki
-    Topi
-    Selimut (pengalaman dari Chiya sih, selimut bayi ini gak begitu useful, karena hanya terpakai sampai bayi usia dua bulanan aja, itu pun hanya dipakai kalau pergi-pergi. Saranku sih, beli yang katun dan halus aja. Kemarin nemu yang katun setelah udah beli yang bahan beludru tebal itu. Soalnya kalo katun, bakal terpakai sampai bayinya agak besar.)
-    Perlak alias alas ompol dari bahan karet (saya beli perlak yang bahan karetnya tebal dan berat, rasanya mending yang biasa aja deh. Meski bagus, tapi besar jadinya gak ringkes aja.)
-    Kain flanin (sebutannya kayaknya macem-macem ya, ini kain yang jadi alas di atas perlak, bahannya tipis. Dan perasaan sekarang lebih tipis dari jamannya Chiya dulu. Soalnya masih ada satu-dua di rumah yang udah jadi mainannya dia hehehe.)
-    Kelambu (ini sama kayak selimut, kepakenya cuma sebentar hehehehe…)
-    Kasur (tadinya udah ngincer kasur yang plus kelambu dan bisa dilipet jadi sofa kecil, tapi setelah mau dibeli kok berubah pikiran. Kasurnya gak empuk-empuk amat, konstruksinya besar tapi jelas gak akan bisa provide samapai bayi gede, gulingnya built-in alias ga bisa dilepas, jadi tetep harus beli bantal dan guling lagi. Dan nilai kegunaannya meski nanti bisa jadi sofa kok rasanya gak maksimal, ya… Ayah naksir kasur yang udah nempel sama perlak waktu ke Bintaro Plaza. Eh tapi harganya separuhnya kasur-sofa itu *weew*, padahal bener-bener cuman kasur ajah. Yang kami pilih akhirnya kasur biasa dengan bantal-guling isi dacron [bukan busa] harga 50 ribuan wkwkwkwkwk… Percaya deh, kasur mahal gak fungsional juga, apalagi bayi itu tumbuh cepeeet bangeett…
-    Bantal-guling (loh, kan udah sepaket sama kasur? Iya, kami beli bantal-guling juga karena yang bawaan dari kasur gak akan awet. Jadi kami beli bantal-guling yang lebih besar dan lebih bagus.)
-    Box container (ini penting buat saya, soalnya baju-baju bayi kan banyak printilannya, jadi butuh tempat banyak juga. Karena rumahnya sempit, ya bisanya beli box container ajah. Kami beli yang susun empat. Pengalaman sebelumnya, bisa dipake sampe……anaknya dibeliin lemari beneran hahahahha!)
-    Stroller (ini udah masuk list, dan udah catet beberapa merk yang ditaksir, tapi karena keadaan perut menggelembung dan udah bener-bener ga kuat berdiri lama, dipending deh belanja stroller-nya. Eh tapi ternyata dibeliin stroller sama adikku. Alhamdulilaaahh…)
-    Diapers bag (ini yang agak susah milihnya. Tapi akhirnya nemu tas yang gambarnya Snoopy. Tasnya besar, empuk, ada alas buat diapers changing, box buat dot. Harga awalnya bikin melotot, tapi karena diskon, harganya jadi sama kayak tas-tas lain yang udah pernah dilihat. Strategi marketing deh itu :p)
Sebenernya masih ada printilan lain yang belum kebeli, kayak gendongan (yang kain ato bukan), tempat bedak yang dobel box, serta kapas bundar dan tempatnya. Yang penting sih printilan esensialnya dah siap. Oh iya, tanggal 23 April kemarin Ayah ulang tahun. Sempat mbatin sih: moga bayi ini lahir berbarengan dengan Ayahnya. Tapi apa daya, ternyata di tanggal itu dia belum mau keluar, tuh… Kami juga gak pengen melahirkannya dengan sengaja di tanggal itu, hahahahaha…. Moga tetap sehat-sehat yaaa, bayiiiii… We believe that every baby have their own date. *kiss*
 
Sampai usia kehamilan masuk 9 bulan, saya masih mendapati flek beberapa kali. Bahkan, sejak Kamis hingga hari Selasa ini (29 April 2014), flek masih muncul. Ini artinya sudah masuk hari kelima-keenam. Padahal, biasanya kalo flek, di hari kedua sudah berhenti. Nah, ini kok bisa lebih lama. Dokter kaget juga, waktu kami kontrol (waktu itu udah hari ketiga flek). Hari ini rencana kami konsul untuk jadwal caesar. Kalau kondisi janin dan saya bagus serta siap untuk operasi, tinggal pilih tanggalnya saja. Doakan yaaa… Kami mau yang terbaik. Perjalanan hamil kedua ini betul-betul “sesuatu” deh… (PS: nanti di-update lagi, kalo sempat, kalo inget dan kalo mau, hahahhaha.)

written on 29th April 2014[]
Gambar dari sini

Ada kalanya sejak masa kehamilan kedua ini tiap orang yang saya temui banyak bertanya soal kabar, kondisi kehamilan dan sebagainya. Masalah muncul ketika tiap orang bertanya hal yang sama. Bosen campur eneg. Belum lagi kalau orang yang itu-itu saja, bertanya hal yang itu-itu juga. Rada bebal sih, menurut saya. Atau dia gak punya bahan perbincangan lain. Atau dia punya short term memory loss. Atau…

Yang pasti, sebagian dari mereka entah kenapa tiba-tiba merasa lebih canggih dari cenayang dan lebih pintar dari dokter SpOG. Mereka-mereka ini adalah orang yang memberi banyak nasihat tanpa saya minta. Kesannya baik, ya? Engga juga. Karena nasihatnya justru tidak saya butuhkan. Karena isi nasihat dan sarannya malah justru berisi kalimat-kalimat negatif. Boro-boro mensupport, kadang malah menyalahkan saya atas apa yang terjadi sama saya. Saya ini ibu hamil yang bahagia, lho. Tanpa komentar-komentar mereka, tentu saja. Nah, saking saya merasa sepertinya “gempuran” pertanyaan serta tanggapan ini tidak kunjung mereda, saya buat list FAQ (Frequent-stupid-ly Asked Question) terhadap semua yang kerap saya dengar, deh. Kurang kerjaan, memang. Biarin. Beberapa kalimat jawaban sudah saya modif, di antaranya tentu biar lebih dramatis hahahaha…

Heeii Nggi, denger-denger kemarin pendarahan lagi yaa… Kehamilanmu sekarang kok rewel banget sih? Engga kayak dulu, sehat-sehat aja… Kenapa sih, emangnya? Mentang-mentang deket orang tua yaaa…
Lho, saya sendiri engga pernah minta perjalanan kehamilan saya begini, kok. Kalo emang bisa minta ya, saya pengen hamil yang sehat dan lancar, dong. Situ tau caranya minta hamil yang sehat-sehat terus? Coba kasih tau saya gimana caranya. Ga ada korelasinya juga mau deket orang tua apa engga. Situ mikirnya pake apa sih? (kalimat terakhir diucapkan dalam hati.RED)

Iyaa yaa… Beda sih hamil pertama sama yang ini, ya… Hehehe…Memang gak ada yang jaminan juga kalo hamil bakal sama terus kondisinya. Situ tau ada jaminannya?

Oh… Terus beratnya udah nambah berapa? Jangan-jangan gara-gara beratnya kurang yaaa… Beratku sekarang 60 kg, udah nambah sekitar enam kilo dari berat sebelum hamil. Berat janin so far dikontrol terus di dokter dan alhamdulilah kata dokter normal untuk usia janin sekarang. Moga tetep sehat.
 
Hehehe… Kalo beratnya kurang, harus minum susu tuuuh… Eh, kamu selama hamil ini minum susu gak? (orang ini adalah orang yang sama yang pada kehamilan pertama saya juga kerap melontarkan kalimat-kalimat retoris. Tujuh tahun berlalu isi kepalanya masih sama. Dia tau kalo saya gak suka susu.)
Engga.

Looooh, kok gak minum susu siiiiiih? Minum dooooonggg… Biar sehat tuh bayinya, hamilnya juga sehat. 
*narik napas*
 
Dari tiga dokter spesialis kandungan yang selama ini saya temui, gak ada SATUPUN yang suggest saya untuk wajib minum susu hamil. Itu optional kok (saya berdoa dia ngerti apa yang saya maksud). Mereka semua bilang, hamil tanpa minum susu gak masalah, asal support gizi dari makanan dan vitamin tercukupi. So far, perkembangan janin selalu baik. 

Alhamdulilah… Dan persoalan saya pendarahan itu lain lagi. Mau saya minum susu dua galon tiap hari kalo emang tubuh saya pendarahan, ya kejadian aja. Vice versa (berdoa lagi). Hamil pertama saya cuma minum susu beberapa kali aja. Itu pun saya merasa gak ikhlas karena sebetulnya saya benci sama susu. Kondisi hamil yang sering mual, masih harus berjibaku dengan bau dan rasa susu. Hamil sekarang saya gak mau lagi melakukan sesuatu karena doktrin. Kecuali suggest dari dokter yang udah jelas logika medisnya. Kebalikannya, hamil sekarang saya rajin minum vitamin. Tiap hari saya PASTI minum vitamin. Hamil pertama malah vitaminnya hampir selalu utuh tiap kontrol bulanan ke dokter.
 
Hehehe, iya ya, kalo bisa sehat terus… Hmm, terus nanti mau lahiran caesar lagi? Tapi kalo bisa normal kan, yaa… (nanya sendiri, dijawab sendiri)
Saya gak bisa bilang mau caesar ato normal. Dulu juga caesar karena ada alasan medisnya. Kalo nanti mau caesar juga pasti punya alasannya sendiri. Jika saya bilang “saya mau lahiran caesar” lalu takdir bilang saya persalinan normal, gimana dong? Trus kalau saya bilang “nanti saya mau normal aja” dan ternyata takdir bilang saya harus menempuh caesar, saya mau gimana? Ya udah sih, ya… Masih ada beberapa bulan juga. Yang kami fokuskan justru pada persiapan tentu keuangannya. Situ mau bantu?
 
Uhm, eh, ehem… Rrr, terus kamu sekarang ngapain ajaa? Eh itu, udah gak kerja lagiii? (pada perbincangan-perbincangan sebelumnya, dia sudah tau saya sudah tidak bekerja lagi)
Iya.

Terus ngapain aja dong? Di rumah aja?
Ya iyalah. Emang mau kemana? Timbuktu? (Orang ini mungkin belum mengerti ada jutaan hal menyenangkan yang bisa dilakukan di rumah.)
 
Yaaaa, kirain kamu kemanaa gituuu…
Situ taunya saya tinggal di mana?
 
Iiiiihh, padahal sayang banget yaaa… Kemaren udah enak kerja, sekarang di rumah aja. Emang gak bisa gitu kerja lagi, Nggi? Kamu gak sayang tuh…*this is the most often question-no matter how often you met them, they’re keep asking me this stupid question* 
Sekarang gini, ya… Saya merasa anak dan pekerjaan adalah bentuk rejeki. Dua-duanya rejeki. Saya dan suami sudah cukup lama menantikan si calon bayi ini. Gak ada yang menjamin kalau saya tetap kerja, si janin masih sehat sampai sekarang. Juga gak ada jaminan kalau saya berhenti kerja kehamilannya dilalui tanpa pendarahan lagi. Lillahi taala kan? Sekarang tinggal mau ikhtiar yang mana. Pilihan ada sama saya dan suami. Saya bed rest aja masih ngeflek. Saya gak kerja aja masih pendarahan. Saya aktivitas ringan aja masih suka ngos-ngosan. Orang lain ngerasain itu?

Buat saya, yang utama SAAT INI adalah bagaimana biar kehamilan ini lancar sampai persalinan nanti. Keputusan berhenti kerja memang ga main-main kok. Yang harus mereka pikirkan adalah bahwa mereka punya ekspektasi yang berlebihan. Kadang mind set bahwa perempuan yang jadi ibu rumah tangga adalah perempuan yang terpasung. Terpasung hak-haknya, terpasung pada kewajiban mengurus rumah dan keluarga dan lain-lain. Saya justru kasihan sama mereka. Betapa sempitnya pikiran itu. Betapa sempitnya dunia rumahan mereka. Jadi ketika ada perempuan yang bisa bekerja, mereka mungkin merasa alangkah hebatnya perempuan itu. Dan kelak saat si perempuan meninggalkan pekerjaannya, mereka bagai penonton yang kehilangan sinar si artis sinetron. (Ajiiiib, mengandaikan diri sendiri arteeesss wkwkwkwkwk.) Gak punya tontonan. Pelampiasannya ya neror dengan pertanyaan-pertanyaan ajaib bin oneng deh…
 
Waaah kalo kamu sih, gak butuh duit kali yaa… (ada orang yang beneran pernah ngomong kalimat ini ke saya. Dan ya, dia katanya masih kerabat sama saya)
*cuma bisa bengong*
 
Udah lama juga yaa nungguin hamilnya… Waaah, nanti bedanya sama kakaknya tujuh tahun, nih… Kasian si kakaknya…
Kok bisa? Saya justru kasihan sama anak yang jaraknya terlampau dekat sama adiknya. Bukan sama anaknya sih, lebih kasihan lagi sama ibunya. Gak usah munafik, ngurus anak satu aja capek, apalagi dua. Dengan rentang umur yang berdekatan pula. Yang satu baru bisa jalan, sementara satunya new born yang masih kerap bangun malam untuk mimik. Kalau dibilang “sekalian capeknya”, saya dari dulu gak pernah percaya kalimat itu. Itu kalimat yang dilontarkan si ibu untuk pembelaan diri aja. Saya gak pernah dengar kaum bapak mengucapkan demikian. Karena memang yang habis-habisan capek ya jelas si ibu. Jadi memang tiap perempuan punya persoalan masing-masing, kok.
 
Proses hamil saya memang lama. Sekitar satu setengah tahun dari lepas KB sampai hamil lagi. Rahim saya sama orang lain jelas beda. Proses memutuskan mau hamil lagi juga rumit. Saya jelas gak mau share sama orang yang gak paham diri saya.
 
Ooohh, hehe… Yaaa jangan judes-judes dooongg… Inget, kamu tuh lagi hamil. Harus jaga omongan, jaga sikap. Gimana nanti bayinya, kalo ibunya aja sikapnya begini…? Banyak-banyak berdoa gih… Banyakin makan dan beraktivitas biar sehat… Jangan males-males…
Eh, tunggu! Saya ngerasa baik-baik aja sampai situ dateng dan mulai ngomong yang bernada negatif, ya. Jadi yang harus jaga sikap dan omongan hanya perempuan yang lagi hamil aja? Terus orang yang suka gak bisa jaga sikap dan omongan ke ibu hamil, dirasa gak perlu kontrol diri? Situ udah kayak cenayang, yang hamil saya, yang ngerasa tau yang terbaik kok situ? Dan oh, saya makannya udah sebakul dan saya gak mau banyak-banyak aktivitas karena memang harus ngurangin aktivitas. Kalo soal males sih, ada jutaan orang di luar sana yang punya penyakit males tanpa harus hamil dulu. Sana gih, situ kampanye aja buat mereka.
 
*case closed*
 
Pertanyaan-pertanyaan di atas 100% berasal dari perbincangan di dunia nyata. Buat kasus orang lain mungkin bisa terlontar dari teman, tetangga, kakak ipar atau entah siapa. Jawabannya saya modif karena lupa kurang-lebih bagaimana susunan kalimatnya. Kebanyakan sih udah direkayasa terutama di kalimat terakhirnya, hehehe… Dan, pertanyaan itu juga datang 100% dari orang-orang yang (katanya) saudara/kerabat saya. 

Pada akhirnya, saya kerap memberi jawaban skak mat. Jawaban defensif yang saya berharap mereka tidak akan mempertanyakan hal yang sama ketika bertemu lagi (tapi gagal). Sekaligus tidak akan ketemu lagi dengan mereka (ngumpet maksudnya). Bertahun-tahun, sikap dan pola pikir yang kemudian terefleksikan dalam pertanyaan dan pernyataan itu tetap saja sama. Tidak banyak berubah. Coba bayangkan, bahkan ada orang yang ketika seorang ibu yang baru caesar dan bayinya belum ada seumuran selapan, sudah digunjing-gunjingkan kenapa dia tidak memcuci baju (termasuk mengangkat ember) sendiri. Dikiranya caesar itu sama dengan lahiran di dukun beranak kali ya, hahahahaha…
 
Saya sendiri akhirnya tidak pernah berinisiatif membuka perbincangan lebih dulu dengan mereka. Karena, saya sudah tahu kehidupan mereka secara sepintas dan saya tidak berminat mencari tahu lebih jauh melalui obrolan panjang. Kenapa? Karena satu dan lain hal sudah tercermin dari deretan pertanyaan di atas.
 
Sekali lagi, I’m a happy pregnant mother, without them.[]
Gambar dari sini
Saya sebetulnya bukan tipe movie freak. Gak usah jauh-jauh deh, saya bakal lebih memilih nungguin film diputar di tivi daripada harus ke bioskop. Pergi ke bioskop bisa dihitung deh. Belakangan kebanyakan nonton di bioskop karena ngajak anak saya. Makanya saya engga aware sama film-film baru, hehehe...

Film yang mau saya bahas adalah The Help (as seen above). Ini adalah film yang dirilis tahun 2011 dan baru saya tonton belakangan ini, hehehe... Itupun karena diputar di HBO. Kalo engga, mana saya ngerti ada film bagus macam ini :p

Diadaptasi dari sebuah novel dengan judul yang sama karya Kathryn Stockett, film ini temanya rasisme dari perspektif perempuan. Ngeri ya? :p Adalah Eugenia "Skeeter" Phelan (diperankan oleh Emma Stone), seorang jurnalis perempuan muda yang sedang merintis karir menulisnya dengan berencana menerbitkan sebuah buku. Ia adalah ikon perempuan pemberani yang tidak mengikuti jejak teman-teman sebayanya yang kuliah sembari mencari calon suami. Buku yang ingin ia tulis bukanlah buku melankoli macam novel percintaan, melainkan sebuah buku yang akan bersaksi mengenai penindasan dan diskriminasi para pembantu (refer to the title: The Help) kulit hitam terhadap para majikan mereka: siapa lagi kalau bukan para perempuan kulit putih.

Para majikan ini kerap memperlakukan pembantunya dengan semena-mena. Tidak jarang mereka melaporkan kasus pencurian skala rumah tangga hanya karena ingin membuat pembantunya tidak lagi bekerja di rumah mereka. Kasus begini jelas sebuah rahasia umum. Semua tahu polanya. Selain itu, selama bekerja menjadi kontributor di sebuah  tabloid kecil di sana, Skeeter menemui adanya kebijakan untuk memisahkan toilet bagi kulit putih dan hitam. Karena itu, Skeeter diam-diam menghubungi salah satu pembantu yang sudah "senior" untuk menjadi informan bagi data bukunya. Niat menulis buku ini salah satunya karena Skeeter pernah memiliki pembantu kulit hitam yang sudah sangat dekat dengannya.


Mengerikan sebenarnya jika mengetahui bahwa perempuan bisa menjadi pemangsa bagi sesamanya.Scene yang buat saya paling menyentuh adalah ketika si pembantu yang akhirnya harus dipecat--karena nama si majikan tercemar melalui buku yang ditulis Skeeter--harus meninggalkan anak perempuan yang selama ini ia asuh. Anak perempuan itu bahkan berkata: don't leave, Abee... (sambil menangis, ihik) Jelas terlihat bonding yang telah tercipta antara pengasuh dan anak asuhnya sudah melebihi ikatan ibu dan anaknya sendiri. Sementara, para pembantu itu tahu bahwa kelak ketika anak-anak itu dewasa, sikap mereka akan persis seperti ibu mereka. Berbeda sama sekali ketika mereka kecil dulu.

Betapa konstruksi sosial itu dahsyat sekali, ya?


Kalau lagi nonton tivi dan ada film ini, jangan diskip deh. Coba simak sampai selesai. Dari idenya udah berbobot, ditambah nilai plus tata artistik era 50an yang (menurut saya) membuat penampilan pemeran para majikan perempuan dan desain interiornya jadi sangat elegan dan klasik. Eye candy banget selagi meresapi isu sosialnya *aisyedap* :D []
Saat ini durian medan bukan hanya bisa dinikmati oleh orang Medan saja. Orang di berbagai wilayah di Indonensia pun sudah bisa ikut menikmatinya. Jalur perdagangan via dunia maya (online) kini memungkinan siapa saja bisa membeli barang dari mana saja. Bahkan, siapa saja bisa turut menjual barang dari mana saja.

Bisnis berbasis internet kini semakin ramai dan merebak dari tahun ke tahun. Kemudahan yang didapat oleh kedua pihak (baik pembeli maupun penjual) semakin meneguhkan bahwa bisnis online dapat memiliki prospek bagus ke depannya. Di Indonesia sendiri, bisa dikatakan bisnis online dikelola oleh hampir semua kalangan. Pelajar, mahasiswa, ibu rumah tangga, pegawai kantoran, hampir semua orang bisa melakukannya. Bagaimana tidak, yang diperlukan (selain modal tentunya) hanya satu: akses internet. Dan akses internet ini bukan lagi hal baru di muka bumi ini.

Sejak masuknya smartphone ke Indonesia, sebetulnya saat itulah embrio bisnis online sudah dimulai. Akses 24 jam terhadap informasi penjualan barang hingga jangkauan kepada calon pembeli yang semakin intens, membuat peluang pengembangan bisnis semakin terbuka lebar. Berbagai media pun diberdayakan. Bukan hanya situs berbayar, ada banyak media sosial online gratis yang bisa menyediakan akses penuh kepada calon pembeli. Sebutlah beberapa di antaranya: Facebook, Twitter, Instagram, serta blog gratisan. Media messenger pun kini lebih ramai dagangan ketimbang personal.

Sejalan dengan perkembangannya, sistem yang ada dalam bisnis online semakin banyak dan variatif. Ada isilah re-seller, dropship, COD, first hand supplier¸endorsement dan sebagainya. Para penjual ini bahkan tidak perlu membeli barang untuk stok dagangannya. Yang ia butuhkan hanyalah menyebar gambar atau foto dagangannya melalui media-media tadi. Kemudian memberi informasi lengkap mengenai apa yang ia jual dan bagaimana para calon pembeli dapat menjangkau si penjual jika ingin membeli dagangannya. Tidak ada lagi tumpukan barang di gudang.

Ada banyak hal yang harus diperhatikan sebelum memulai bisnis online. Hal ini jelas sudah banyak dibahas oleh para pakar bisnis terkemuka. Business plan yang kuat, modal serta kegigihan merupakan tiga hal utama dalam memulai bisnis online. Selain itu, dibutuhkan juga untuk membuat jaringan terhadap pelaku bisnis lainnya agar dapat berbagi mengenai kendala yang dihadapi. Apapun bisa terjadi, termasuk dalam menjalani bisnis online. Jangankan bisnis kemarin sore, yang sudah bertahun-tahun pun bisa saja mengalami kemandegan. Namun, kendala ini harus dilihat sebagai sebuah tantangan. Tidak ada yang mudah, memang. Selalu ada solusi untuk setiap masalah yang dihadapi.

Berjualan lintas wilayah kini dapat dilakukan sembari menonton televisi. Komunikasi dapat berjalan setiap saat. Daripada media sosial hanya digunakan untuk time killer, mungkin ini saatnya memberdayakan media sosial sebagai akses terhadap rejeki baru.[]

Escape to Pekalongan

Nyambung postingan soal little escape ke Cirebon-Pekalongan, sekarang saatnya bahas perjalanan ke Pekalongan yah. Nah, untuk menuju Pekalongan, dari arah Cirebon kita bisa lewat tol Pejagan. Jalan tol yang konon dibuat oleh salah satu pengusaha dan petinggi parpol ini (tahun 2014 ini nyalon presiden juga bok!) menurut saya adalah jalan tol termahal yang pernah saya lewati. Jaraknya memang panjang, tapi material jalan yang menggunakan beton ini bisa bikin kondisi ban mobil lebih cepat tipis dan berisik. Ini jadi bahan gosip sepanjang perjalanan kami di mobil, hehehe…

Dari Cirebon kami berangkat sekitar pukul 3 atau 4 sore. Sampai di Pekalongan pukul 9 malam. Ada beberapa titik yang lalulintasnya agak padat, sih. Dengan kecepatan maksimum (ada emak-emak bunting soalnya hehehe), relatif agak lama juga sampainya. Kami menginap di Hotel Hayam Wuruk Pekalongan. Kondisi kamarnya lebih baik hotel yang di Cirebon sih. Lantainya tidak bersih. Sebetulnya hotel ini kami pilih karena waktu itu mau booking Hotel Pekalongan tapi teleponnya tidak pernah diangkat. Besok paginya, baru tahu kalau Hotel Pekalongan itu sebelahan sama Hotel Hayam Wuruk, hahaha… Lain kali lebih baik ke Hotel Pekalongan, deh. Sebab, menurut bapak tukang becak yang mengantar Uti-Akung waktu mau jalan-jalan pagi ke pasar, Hotel Pekalongan lebih baik daripada Hayam Wuruk. Yah, kapan-kapan boleh dicoba lagi deh :D
 
Esok paginya, setelah kami mandi dan sarapan (hasil hunting Uti-Akung ke pasar yang ternyata hanya berjarak 500 meter dari hotel), kami menuju ke Museum Batik lalu belanja batik. Sarapan dari hotel sebetulnya ada: dua gelas the manis hangat dan dua tangkup roti panggang. Sayangnya, waktu itu sarapan tidak kunjung diantar sampai akhirnya si ayah bilang ke staf hotel bahwa kami belum dapat jatah sarapan. Nah hari itu kami bergegas karena siang hari harus sudah dalam perjalanan pulang ke Jakarta. Sebab si ayah harus dinas ke Jogja besok malamnya *what a journey ya, Ayah hehehe*

Mencari Museum Batik ini lumayan susah. Tapi akhirnya ketemu juga (dengan tidak sengaja hahaha). Waktu itu sepi, mengingat tanggal 25 Desember dan masih pagi pula. Tapi malah leluasa, sih. Tidak berisik, hehehe… Harga tiket masuk dewasa Rp 5.000 dan anak-anak Rp 2.000. Ada satu guide yang mengajak berkeliling dan menjelaskan satu per-satu display yang ada. Oh ya, di dalam ruang koleksi tidak boleh foto-foto, lho. Terutama foto pada motif-motif batiknya. Di luar itu, silakan saja foto sepuasnya, hehehe…

Sampai di akhir kunjungan, ada dua orang mbak-mbak yang duduk di sebuah ruangan terbuka. Ruangan itu ternyata adalah ruangan untuk praktek membatik. Sebetulnya di sana ada workshop membatik dan setiap orang yang mau ikut dikenakan biaya (lupa berapa). Karena waktu itu sedang libur, jadinya kami diajari mencanting saja (tanpa proses celup-celup). Gratis sih, ga dikenakan biaya hehehe… Truuus, di depan museum ada toko kecil yang jual berbagai produk batik. Dari baju, sandal, tas, pensil, sampaaaiiii helm batik! Harganya menurut saya relatif lebih murah daripada waktu kami belanja di Cirebon. Blus lengan panjang waktu itu harganya 160 ribu saja. Padahal waktu di Cirebon sampai 200an. Sebelum cuuus belanja batik, kami sempatkan foto-foto dulu di abjad B-A-T-I-K di depan museum.

Untuk belanja batiknya, kami memutuskan belanja di Pasar Sentono. Pasar itu sudah pernah disinggahi si Uti, dan Uti pengen belanja di sana lagi. Ternyata Pasarnya besar, parkirnya luas dan terdiri dari banyak kios-kios. Ga enaknya sih, aku pegel harus muter-muter cari kios yang jual batik bagus. Kalau di Trusmi kan satu tempat, tuh. Pegel tinggal duduk, hehehe… Kayaknya kami menghabiskan waktu sekitar dua jam-an di sana deh. Rada kalap juga setelah nemu satu kios yang jualannya sreg buatku. Soal harga, sudah relatif lebih murah sih. Tapi pedagangnya peliiiiit, ga mau turun harga banyak-banyak. Hihihihi…

Setelah puas belanja, kami langsung menuju mobil dan pulang. Akhirnya, little escape berakhir sudah. Seru dan menyenangkan! Kapan-kapan pengen main lagi ke kota-kota kecil yang ga butuh waktu tempuh lama, ah… Eksplorasi destinasi wisata baru, hehehe…[]

,

#PuasaMediaSosial

Gambar dari sini
Dulu saya pikir orang yang tidak punya akun Facebook (FB) dan Twitter adalah makhluk nestapa di jagad dunia digital ini, hahahaha… Belakangan saya merasa justru mereka adalah orang-orang yang “punya kehidupan yang sebenarnya” di tengah pergumulan dunia maya sekarang. Mereka yang tidak peduli apa yang terjadi di media sosial, saya rasa adalah orang-orang yang memiliki kesibukan, pekerjaan dan banyak hal untuk dilakukan tanpa merasa orang lain harus mengetahui apa yang ia lakukan.
 
Bukankah memang salah satu makna media sosial adalah itu? Menunjukkan apapun kepada penghuni dunia media sosial tentang apa yang kita rasakan, kita lakukan. Melalui kata-kata, serangkaian kalimat ataupun foto. Sayangnya, batas antara “menunjukkan” dengan “pamer” menjadi lebur. Ukuran “ekspresif” dengan “hobi memaki” menjadi tidak ada bedanya. Hubungan yang awalnya hangat malah tergerus karena ada pilihan dalam media sosial untuk “menjadi mata-mata” tanpa diketahui pemilik akun.
 
Saat ini saya sedang pada titik di mana saya merasa media sosial itu tidak memberikan kontribusi positif. Bukan berarti sama sekali negatif, ya. Ada kok, positifnya, seperti: saya jadi tahu kabar terbaru teman-teman lama yang sudah berpencar daerah dan pulau. Pun saya jadi mengerti isu terbaru bahkan ketika televisi belum memberitakannya (lha wong sekarang beberapa televisi itu dapat bahan berita dari media sosial, kok, hihihi).
 
 Tapi yang saya rasakan kini adalah semacam rasa muak. Pernah merasa muak sama media sosial gak? Bukan bosan, ya. Karena rasa bosan bisa disiasati dengan hal baru. Kalau dianalogikan dengan pacaran yaaaaa, lagi jengah pengen break gitu deh *hayah* Dulu, saya menemukan keasyikan dalam pengalihan dengan bermain game yang disediakan oleh salah satu media sosial itu. Lama-lama, setelah kembali bosan, saya tidak menemukan hal lain yang lebih menggembirakan. Bosan yang makin akut lalu jadi muak.
 
Saya pernah deactivate akun Facebook dan lock akun Twitter beberapa saat yang lalu, namun akhirnya tetap sign ini dan unlock lagi. Kali ini, rasanya saya mau #PuasaMediaSosial deh. #PuasaMediaSosial ini bukan pengalihan, lho ya. Misalnya berhenti dari FB tapi tetep nge-Path, hehehe… Ya semacam berhenti sejenak (kalau sanggup ya berhenti total) dari media-media sosial itu. Kecuali blog! Blog menurut saya bukan kategori media sosial semacam itu dengan basis jaringan pertemanan. Blog adalah wadah menulis berbasis digital. Sistemnya jelas jauh berbeda dengan media sosial yang saya maksud. Blog lebih bertujuan untuk memberi informasi—tanpa tendensi untuk memperoleh jempol atau mengumpulkan komentar banyak-banyak. Berbeda ketika kita update status panjang-lebar di media sosial dengan posting di blog. Jelas, kan bedanya?

Saya percaya, akun media sosial awalnya dibuat untuk mencicipi media baru. Lalu dipakai sebagai time killer. Sembari menunggu antrian, mengisi waktu saat macet dan lain-lain. Tapi lama-lama media sosial yang sudah terunduh dalam smartphone kita membuat sebagian orang terdistraksi dari kehidupan yang sebenarnya. Ibu rumah tangga seperti saya ini sangat rentan mengabaikan anak jika sudah menggengam smartphone (mau diakui atau tidak). Seberapa sering kita mengalami pertemuan-pertemuan dengan teman lama tapi dalam pertemuan itu si teman kebanyakan mencuri lihat ponselnya? Atau berkunjung ke rumah sauadara dan kita berbincang di antara ponsel yang menutupi wajah? Atau kita harus bertanya berkali-kali kepada seseorang hanya karena ia tidak dapat melepaskan pandangannya dari ponselnya? 

Gambar dari sini

Mendekatkan yang jauh kemudian malah menjauhkan yang dekat, adalah perpanjangan dari yang sedang saya coba untuk uraikan kali ini. So far, saya baru bisa “menengok” media sosial sesekali dalam sehari. Belum sampai pada tahap delete account, hehehe… bagaimanapun, saya rasa lebih baik banyak menulis di blog daripada di kolom status.[]

Blog Hits

Hello

"Membuat jarak paling intim antara suara hati dan memori adalah dengan menuliskannya pada sebuah tulisan. Dan kamu, sedang menuju ke tempat milikku."

Enjoy reading.

Popular Posts

Followers