- sepetak ruang kecil untuk menjadi diri sendiri -

Akhir tahun itu biasanya di tivi banyak yang mengulas kilas balik peristiwa setahun ini, ya. Nah, Pena Merah minggu ini punya tema yang mirip: kalaedoskop. Karena saya juga bukan siapa-siapa (kayak judul sinetron ya, hahaha), jadi saya cerita-cerita dikit aja yah soal what’s been happen along the year.

Kalau soal kerjaan (saya enggan menyebutnya karir, entah mengapa), tahun ini saya mengambil keputusan yang cukup signifikan, yaitu resign. Tapi sebelum ke sana, saya mau flash back sedikit, ya. Saya di kantor yang terakhir ini sudah hampir dua tahun. Jarak rumah ke kantor relatif dekat, searah dengan suami (berangkat-pulang pasti bareng kecuali salah satu lembur), dekat dengan beberapa mall juga (penting, soalnya suka makan siang, ato janjian sama temen kuliah yang sekantor sama suami buat janjian dan belanja pas after hour), belakang kantor gudang jajanan (kawasan kampus dan sekolahan Al Azhar), temen-temen dan orang seruangan baik, suasana hangat, selalu ada cemilan, sering dinas yang membuat saya belajar banyak hal… Banyak deh, pokoknya.

Trus, kenapa resign? Bisa dibaca di sini ya, alasan komplitnya. Dan saya ga akan mengulang penjelasan yang sama karena memang hanya itu jawabannya. Keputusan ini dibuat tidak dengan main-main. Banyak sih yang kemudian mencibir (literary), karena saya memutuskan untuk di rumah. Tapi ya, saya juga gak berhak menjudge mereka. Meski saya sudah jelaskan ke mereka dan mereka (seolah-olah) sudah mengerti, rasanya tidak akan pernah cukup membuat orang lain bisa paham apa yang saya pilih dan jalani sekarang.

Toh, kita ga harus jadi orang lain untuk memahami apa yang orang lain rasakan, kan? Jadi, selama mereka masih wondering, biarkan saja. That’s feed their brain, somehow. Hehehe…
 
Masih ada hubungannya dengan being at home, saya akhirnya hamil (lagi).  Ini sesuatu yang dinanti sejak tahun kemarin. Proses pengembalian siklus masa subur yang tidak sebentar ternyata membuahkan hasil baik. Alhamdulilaaaahh… Sampai saya nulis postingan ini, usia kandungan masuk 20 weeks. Semoga tetap sehat, mengingat saya sempat pendarahan dua kali dan bed rest total. USG jenis kelamin belum dilakukan soalnya belum kontrol lagi, hehehe… Tapi sangat membahagiakan salah satunya karena si janin sudah kerap menendang-meninju-menyundul dari dalam :D

Lalu, si kakak (Chiya) tahun ini masuk SD. Awalnya kelimpungan cari sekolahan karena kebijakan baru usia prioritas 7 tahun untuk masuk di sekolah negeri. Belakangan Chiya sekolah di sekolah swasta dekat rumah. Secara akademis ia bagus, kok. Semester pertama dapat ranking dua. Cukup baik untuk ukuran anak yang belajarnya santai dan sering tidak fokus sama apa yang sedang dikerjakan hehhee… Yang menurut saya paling menonjol adalah kemampuan bahasa inggrisnya. Sekarang dia relatif fasih bicara dalam bahasa inggris (tinggal memperkaya vocabulary dan membiasakan diri dengan grammar yang benar saja). Peningkatan paling terasa ketika kami mulai langganan layanan televisi berbayar. Percaya atau tidak, dia “hanya” nonton kartun. Kami tidak mengajarinya secara intens apalagi kursus. Rencananya, kursus bahasa inggris baru akan diambil kira-kira tahun depan.

Nah, beda sama ayahnya (peace ya ayah :D). Saat ini saya sedang ngompor-ngompori dia untuk kursus bahasa inggris secara serius supaya bisa sekolah lagi. Mumpung masih sehat dan mumpung dia punya bidang untuk menjadi alasan sekolah lagi. Kalau bisa sih, jangan di sini (baca: Endonesyah). Soalnya saya optimis dia punya potensi untuk bisa belajar di luar. Sayang aja sih, sebab saya salah satu yang mengamati bagaimana dia berkembang sejak awal kuliah dulu. Kendala yang dia punya menurut saya di bahasa. Selain itu, dia punya peluang yang sama dengan lainnya. Kerja keras, tekun, ulet. Kalau hanya gara-gara bahasa, dia memilih untuk tetap di sini, rasanya seperti menyerah sebelum perang benar-benar dimulai :( Terus, kenapa harus di luar negeri? Pertama, jelas perkembangan ilmunya lebih update di luar negeri. Kedua, sekolah di luar negeri (menurut saya) bisa sambil buka jaringan dan pengalaman baru. Tapiiiii, di luar itu semua, ada yang jauh lebih “berkuasa” kan ya? Jadi, biarlah kami ikhtiar dulu, baru nanti lihat bagaimana kemungkinannya.

Saya sih bukan tipe orang yang bikin resolusi buat awal tahun. Biasanya saya bikin target pencapaian waktu jelang ulang tahun atau kalau lagi on fire sama sesuatu. Overall, di tahun 2013 ini ada hal-hal yang tidak terduga yang kemudian membawa bahagia. Tapi ada juga hal-hal yang tidak sesuai dengan target hidup saya untuk tahun 2013 ini. Ada hal-hal yang saya rencanakan dan saya harapkan juga agar rencana-rencana itu mewujud sempurna pada tahun 2014 mendatang. Saya juga berdoa agar tetap diberi kekuatan apabila rencana-rencana itu pada prosesnya tidak sesuai dengan ekspektasi. Namanya hidup, pasti ada pahit, getir, gembira dan nananana.

Whether it’s good or bad, let’s take it and be happy.[]
Aroma liburan akhir tahun masih berasa, ya? Anak-anak sekolah sudah mulai libur sejak semingguan lalu. Yang bekerja sudah mulai ambil cuti. Momen akhir tahun kadang menjadi titik rehat yang selama setahun menjadi rutinitas. Saya dan keluarga kemarin sempat having a little escape juga. Saya sebut demikian karena memang sengaja menyempatkan diri untuk “pergi sejenak” dan mengambil dua-tiga hari di antara jadwal bekerja (buat mereka yang bekerja hehehhe). Bukan liburan sih, sebab ya itu tadi, cuma a little escape during work :D

Jadi tempo hari itu saya dan suami rembugan mau escape ke mana. Karena saya lagi bunting dan tidak bisa pergi terlalu jauh dengan mobil (dan takut naik pesawat), kami memutuskan untuk escape ke Cirebon. Tadinya tidak mau pergi ke mana-mana, tapi karena si Akung tidak punya waktu banyak selama akhir tahun, jadinya disempat-sempatkan pergi. Mumpung saya masih bisa diajak jalan-jalan juga hehehe…

Nah setelah rembugan bersama semua anggota keluarga, diputuskanlah ke Cirebon dan Pekalongan. Soalnya si Uti pengen banget ke Pekalongan buat belanja batik. Awalnya bingung mau naik kereta atau bawa mobil. Setelah ditimbang-timbang, bawa mobil sendiri lebih memudahkan untuk mobilisasi kalau mau jalan-jalan. Mengingat saya juga gak bisa capek-capek.

Keputusannya: escape ke Cirebon dan Pekalongan dengan membawa mobil sendiri. Yaaay!
 
Waktu mau berangkat itu saya dan suami rempong browsing hotel-hotel kecil untuk tempat kami istirahat malam. Karena Cirebon sempat jadi ulasan wisata dengan kereta api tempo hari di sebuah harian nasional, cukup banyak review hotel-hotel kecilnya. Tapi itu ternyata tidak membantu, sebab tidak semua review komplit dengan foto. Kami sempat booking hotel di Sidodadi (yang letaknya di dekat stasiun Cirebon). Tetapi oh tetapi, rate yang ditawarkan menurut kami agak tidak masuk akal. Untuk ukuran sebuah hotel kecil (let’s say Sidodadi itu bintang dua, ya) harga kamar standar yang termurah adalah Rp 330.000. Si reception bilang itu sudah diskon 40%. Kalau memang harga segitu sih kami lebih baik pilih Amaris dong yah, hehehe…

Akhirnya browsing lagi. Pertimbangan kami bukan hanya harga, tapi fasilitas seperti apakah ada air panas, kamarnya tersedia AC dan sarapan (walau hanya setangkup roti). Itu penting karena kami butuh istirahat yang cukup sehabis perjalanan. Setelah menemukan dua kandidat lain, kami putuskan untuk menginap di hotel Aurora Baru (yang baru dekat stasiun). Dari pernyataan by phone sih, mereka punya itu semua. Baca terus untuk tahu, ya :D

Hotel Aurora Baru
Waktu sudah sampai di daerah Cirebon, patokan kami adalah mencari stasiun dulu, baru kemudian hotelnya. Dan ternyata, Hotel Aurora Baru terletak persis di sebelah stasiun. Benar-benar sebelahan! Sampai hotel sudah pukul 11 malam. Padahal kami berangkat dari Jakarta jam 4 sore lho. Ketemu macet di Bintaro, Bekasi Barat dan Timur (as usual :D) dan pintu tol Cikampek selama sejam. Capeeeek rasanya. Kamar kami ada di lantai dua. Parkir mobil ada di dalam juga, jadi bisa ngecek mobil dari balkon atas. Nah kami booking tiga kamar, dua kamar standar (atau deluxe, saya lupa) dan satu VIP. Bedanya dengan yang VIP adalah bed-nya king size. Sementara lainnya twin. Air panasnya berfungsi lalu sarapan disediakan dua tangkup roti dan dua gelas teh panas tiap kamar. Buat saya ini cukup untuk kami yang butuh istirahat dan menyegarkan badan sebelum lanjut jalan-jalan lagi. Kalau mau cari sarapan sih bisa jalan ke sekitar hotel ada beberapa warung yang jual empal gentong dan nasi lengko.


Kamar kelas "VIP" Hotel Aurora Baru Cirebon. Yang standar luasnya sama, bed-nya aja yang twin.

Kondisi kamarnya rapi dan bersih. Ada dispenser yang air panasnya berfungsi dengan baik di tiap sudut (kalau mau seperti kami, bawa kopi, minuman sarapan sampai mi instan untuk siapa saja yang butuh lebih dari sekadar teh panas :D). Trus, pegawainya pagi-pagi ada yang sigap mencucikan mobil, lho. Lumayan kan, mobilnya cakep buat diajak keliling-keliling hehhee… Tinggal kasih tip ajah buat mereka. Ohiya, rate kamar di sini untuk yang standar Rp 230.000 dan VIP Rp 260.000.

Pantai Kajawanan
Nah setelah kelar leyeh-leyehnya, kami beranjak ke Pantai Kajawanan. Waktu tempuh dengan mobil sih hanya sekitar 15 menitan (Cirebon kan ga pake acara macet hehehe). Pantai Kajawanan itu satu garis dengan pelabuhannya. Menuju ke pantainya ada barisan perahu-perahu yang diparkir di tepiannya. Waktu itu satu mobil ditarik Rp 2.000 aja, tanpa ada tarikan per-orang. Tapiiii, setelah kami sampai di sana, uhmmm jenis pantainya bukan pantai seperti Anyer atau Karimunjawa *yaiyalaaaah* Jenis pasirnya hitam dan berlumpur. Tapi Chiya ini keukeuh pengen nyebur aja. Anak ini memang ga bisa ngeliat kubangan air menganggur -________-“ 

Akhirnya dia dan ayah sewa ban besar. Mereka main dayung-dayungan sampai ke daratan di ujung satunya. Sebetulnya airnya tidak tinggi untuk sampai ke daratan di sebrang (orang dewasa hanya selutut atau paha).  Tapi airnya yang tidak jernih bikin kami tidak selera turun ke air, hehehe… Sambil menunggu mereka puas main air (dan panas-panasan), kami duduk-duduk di kios kecil pinggir pantai. Jajanannya cuma mie instan dan minuman-minuman. Karena kami kepagian, gorengannya belum dibuat. Agak lama kami duduk-duduk, ada seorang wanita paruh baya menghampiri dan menawarkan kami kerang bambu. Ia bersedia mencarikan ke pantai, kemudian kerangnya bisa dimasakkan oleh si ibu kios. Lupa harganya. Kalau tidak salah 100 buah kerang bambu dihargai 15 ribu rupiah saja. Itu belum termasuk ongkos masak sama si ibu kios, ya.

Seingat saya sih, itu pertama kali saya makan kerang bambu. Kerangnya sebetulnya hanya ditumis saja. Tapi enaaaakk… (Maaf lupa fotoin, hehehe..) Nah setelah ayah dan Chiya naik, mereka langsung mandi. Di sana air bersih seember dihargai dua ribu rupiah. Mandinya pun di bilik-bilik ditutupi terpal. Minimalis deh judulnya :D Beranjak dari pantai, kami ke tujuan selanjutnya: Keraton Kasepuhan Cirebon. Kalau dari Pantai Kajawanan mau langsung ke sana, sebetulnya dekeeeet banget. Tapi waktu itu kami kesasar sampai jauuuuhh… Pas sampai, langsung deh: ini kan jalan yang udah kita lewatin dua kali ya? Hahahha…

Keraton Kasepuhan Cirebon
Ini bukan hanya kami, lho… ternyata ada wisatawan dari negeri sebelah (baca: Indramayu hehehe) yang juga kesasar. Kesulitannya ada di petunjuk jalan. Sebetulnya kalau ada petunjuk jalan yang cukup jelas menuju keraton, kami-kami tidak akan sampai kesasar. Karena letak keraton ini tidak sulit dijangkau. Selain itu, jalan menuju ke dalam tertutup pasar kaget yang entah apakah memang sedang ada annual event atau begitulah kondisinya setiap hari. Kalau tiap hari begitu kok rasanya semrawut banget yah :|
Jalan masuk ke keraton.
Setelah sampai, ternyata keraton dengang dalam renovasi sana-sini. Tapi tetap bisa keliling kok. Ditemani seoerang guide, kami keliling beberapa bangunan yang di dalamnya ada benda-benda yang dulu digunakan sultan dan permaisuri. Saya gak ikut keliling semua, wong jalan dari pasar kaget sampai masuk keraton aja udah ngos-ngosan. Alhasil pas mau pulang, saya jalan paling belakangan, hiks… 
Renovasi sana-sini.
 Batik Trusmi
Tujuan selanjutnya sebelum ke Pekalongan adalah: belanja batik, yaaaay! Habis makan siang empal gentong (di sebuah warung kecil-gak-jelas), kami lanjut ke Batik Trusmi. Nyari tempatnya ga begitu susah kok… Gak jauh dari ring road alias jalan gede Jakarta-Semarang. Awalnya kupikir itu semacam kampung batik gitu, yang merupakan wilayah pengrajin batik Cirebon. Ternyata mirip kayak Mirota Batik di Jogja. Tapi jauuuuuuhhh lebih luas dan lega (tau kan, Mirota Batik sesempit apa :p). Trus batik-batiknya udah diblok-blok gitu. Sarimbit, kemeja, blus, gamis, sama batik yang low price sama yang high juga pisah. Uuuhh, jangan tanya ya, saya “nemu” banyak batik-batik cantik di sana. Hihihihi…


Rasanya, kalau ada rejeki lebih, lebih baik spend money beli batik-batik cantik deh. Ya kan?
 
[postingan jalan-jalan ke Pekalongan menyusul yaaa, hehehehe]

,

Cerpen gak-tau-mau-dikasih-judul-apa

Kayla
Ini sudah yang kesekian kalinya. Bram tak datang lagi. Kayla mencoba sabar. Ditariknya nafas perlahan dan membereskan tumpukan quotation. Di sini--di dalam dadanya--ada gemuruh badai nan hebat. Ia kecewa.

Bram
Bram terdiam. Ada yang salah, gumamnya. Ada yang salah pada hubungannya dengan istrinya. Namun entah kenapa, ia memilih untuk berhenti memikirkan Lusi, istrinya.

Bram-Lusi [dua bulan yang lalu]
"Kamu engga usah bersikap seolah-olah kamu ksatria, Bram!", Lusi membentaknya melalui telepon. Mereka bertengkar lagi. Berselisih paham lagi. Lusi begitu murka ketika Bram menyuruhnya mencari pekerjaan lain selain sebagai executive director di sebuah perusahaan marketing research. Sementara Lusi merasa posisinya saat ini adalah sebuah self achievement baginya. Sebab ia adalah seorang life achiever--setidaknya begitu yang dikatakan lembar hasil test IQ-nya dulu. Sementara Bram, ingin Lusi mulai memberi kelonggaran pada pekerjaannya. Pada kariernya. Bram merasa karier Lusi mulai mencekiknya.

Bram
Sore ini, Tat demam. Bram pontang-panting mencari kompres instan yang pernah dipakai Lusi untuk menangani Tatyana. Dalam remang kamar Tat, ia meraba meja, laci dan kolong meja lampu. Ia hampir saja merobohkan lampu meja kesayangan Tat. Entah mengapa ia merasa gugup sekali. Mbak Nah yang sedang menemani Tat ikut terkejut. Sudah ditelusurinya kamar Tat dalam remang, namun Bram tetap tidak menemui kompres itu. Bahkan di kotak P3K. Juga di laci kamarnya. Juga di mana-mana. Mbak Nah ikut panik. Ia hanya bisa menemani Tat yang berwajah kemerahan dan terus bergumam dalam tidurnya yang gelisah. Bram mengutuk absennya Lusi.

Kayla-Bram
Kayla menelpon Bram. Bram yang sedang panik hanya melirik ponselnya sebentar. Ia pusing, sedang konsentrasi untuk berkoordinasi dengan Mbak Nah. Dokter anak langganan Tat sudah tutup dan baru bisa melayani lagi besok pagi. Sementara ia tidak sabar. Bram menyuruh Mbak Nah memberi obat demam lagi, kalau-kalau Tat terbangun dan masih demam.
 Telpon lalu diangkat. "Hai, Bram. Ini aku, Kay. Rapat masih lama. Gimana Tat?", alih-alih menyapa, Kayla langsung menodong Bram dengan pertanyaan.
"Demam. Masih begini-begini aja." Bram melempar tubuhnya ke sofa dan mengurut-urut kedua alisnya.
"Nanti jemput saja kalau kamu mau."
"Sepertinya tidak." Bram menghela nafas. Ia melihat kamar Tat yang terbuka sedikit dan pendaran siluetnya membayang. Tat yang bergelut dalam selimut nan hangat. Seharusnya ibunya di sini, Bayu menggumam dalam hati.
"Baiklah. Tunggu ia pulang dan jaga Tat baik-baik ya."
Bram menutup teleponnya.

Bram-Lusi
Bram terjaga. Dua dini hari. Kepalanya pening melawan cahaya lampu yang bertubi-tubi merangsek indera penglihatannya. Ia lekas menengok Tat. Terhuyung menuju kamar Tat yang temaram. Demamnya sudah mulai turun, meski wajahnya masih kemerahan. Ia kecup pelan dahi Tat yang mendingin. Bram merasa jiwanya berada di tangan Tat. Seluruh jiwanya.
Mbak Nah ada di sebelahnya, tertidur juga. Lalu ia berjingkat menutup pintu. Sekelebat bayangan ada di ruang tamu, Lusi. Masih dengan baju kerjanya, tertidur di sofa. Membawa kompres instan dan sebotol obat yang masih dalam plastik. Terlambat, gumamnya dalam hati. Terlambat, Lusi.

Kayla
Kayla selalu kecewa ketika Bram tak lagi menjemput Lusi yang satu kantor dengannya. Sebab ia mendamba pernikahan Bram dengan Lusi lebih baik darinya--demi Tat. Namun, perlahan akhirnya Kayla tahu juga apa yang terjadi dalam pernikahan Bram. Lusi adalah perempuan muda yang masih sangat bergairah pada karier dan hidupnya. Ternyata ia enggan hamil (entah sampai kapan) dan enggan memilih pekerjaan dengan jam kerja yang  lebih manusiawi. Kayla amat paham bagaimana gaya hidup para executive director itu. Gaya hidup yang (dulu) amat Bram puja dan senangi.

Kayla-Bram
Kayla terkejut ketika Bram tiba-tiba hadir di rumahnya pagi itu. Sepagi ini.
"Bram? Kamu? Ngapain?" Kayla mengecek kalau-kalau Bram membawa Tat. Atau Lusi.
"Mau bicara sama kamu. Penting. Itu kalau kamu mau."
Kayla mengajaknya masuk. Apartemen kecil itu tidak berubah. Tidak banyak berubah. Bram baru menyadari ia sudah cukup lama tidak memasuki petak ruang mungil ini.
"Saya sudah bilang, Bram, kamu..."
Kayla tak sanggup menatap mata itu. Mata yang dulu membuatnya luluh dan mencair. Mata yang dulu selalu sanggup membuatnya bahagia seketika. Mata yang sama, yang dulu membuatnya berantakan. Diri dan hidupnya.
"Kay, dengar. Kamu adalah perempuan itu. Saya juga engga ngerti kenapa dulu kita gagal. Tapi akhirnya saya tahu, kamu yang terbaik."
Kayla menggeleng. "Tidak, Bram. Kamu dulu tidak pernah bilang itu pada saya. Sikap kamu pada Lusi adalah sikapmu dulu pada saya. Kamu engga berubah, Bram. Sudahlah."
Mereka terdiam. Mereka sadar bahwa dialog itu tidak akan berhasil. Bagi Bram, negosiasi untuk yang kesekian kalinya ini bakal begini-begini saja, tanpa progres yang berarti baginya. Bagi ia dan Kayla. Sementara untuk Kayla, bargain apapun tidak akan membuatnya kembali pada Bram. Sebab Bram kini sudah bersama Lusi, istri barunya. Dan ia yakin, ketika memilih untuk bersama Lusi, Bram sudah memikirkan masak-masak pilihan itu. Sebab apa yang ditempuh Bram adalah sebuah perceraian. Selesainya episode antara ia dan Bram. Dan mulainya babak baru sebuah hubungan lain di luar semesta mereka berdua.

Bram-Tatyana
“Ayah?” Tatyana berdiri di depan kamarnya. Sore itu ia sudah cukup sehat.
Bram yang sedang membereskan kopernya terhenti. “Ya, sayang?”
“Ayah jadi ke Bali?”
Bram mengangguk. “Iya jadi, sayang. Berangkatnya lusa, kok. Cuma dua hari kok, Tat. Hari Rabu ayah sudah pulang. Tat mau oleh-oleh apa?”
Tat terdiam. “Ayah, sebelum ayah pergi lagi, aku mau bilang sesuatu.”
Bram tahu apa yang dimaksud putri satu-satunya itu. Ditatapnya Tat dari tempatnya sekarang. Ia mematung, tak paham harus bagaimana. Anak perempuan itu mulai terisak. Jarak Tat dan dirinya sore itu menjadi jarak psikologis terjauh yang pernah ia alami.

Tatyana-Kayla-Bram
"Bun, aku mau sama Bunda aja ya...", Tat berkata lirih sambil menghambur dan memeluk Kayla yang baru saja masuk. Dua hari setelah pertemuan di apartemen, Bram memohon Kayla untuk datang ke rumahnya. Bram tahu, ini akan terjadi.
"Kenapa, sayang?"
Tat tidak menjawab, ia malah hampir menangis. Kayla mengelus kepala anak perempuan berusia lima tahun itu dan berdiri, menatap Bram.
"Bram... Saya..."
"Kay, Tatyana boleh tinggal sama kamu kalau dia mau. Seandainya belum mau kesini, tidak apa-apa. Saya ikhlas menungu sampai dia sendiri yang mau.  Mbak Nah, tolong siapkan barang-barang Tat dan bawa Tat ke kamar dulu."
Mbak Nah membujuk dengan sedikit berbisik. Tat menurut.
Kayla tertunduk. "Benar, tidak apa-apa?"
Bram mengangguk. "Saya mau selesaikan masalah saya sama Lusi. Tolong, kalau ada apa-apa, kamu tahu kemana harus menghubungi saya. Tolong jaga Tat. Saya sayang sama dia. Melebihi siapapun."
 
Habis itu, Kayla baru sadar bahwa itulah pertama kali ia melihat Bram menangis.

[Jakarta, 23 November 2011-00.20]


Buku ini sebetulnya dibeli sudah agak lama. Tapi lalu “terbenam” oleh buku-buku baru lain yang kelihatannya lebih menarik dan ringan untuk dibaca. Marriageable ini cukup tebal untuk sebuah novel. So instead reading a thick book, I rather choose the thin ones hehehe… Sampai akhirnya buku-buku yang lebih tipis itu sudah habis dibaca. Oh, kecuali Amba dan Pulang yang masih waiting list (maap yah). Setelah coba melihat-lihat rak buku kembali, ternyata saya sudah pernah coba baca buku ini beberapa halaman. Entah kenapa waktu itu tidak diteruskan. Dan proses membaca kembali sebetulnya tidak begitu menyenangkan karena dua hal. Pertama, harus recall kembali ingatan akan isi buku jika mau langsung lanjut ke halaman berikutnya. Sementara kedua, kalau mau afdal ya harus turn back to page one *sigh*

Karena saya pengangguran sedang banyak waktu, akhirnya meluruskan niat untuk mengkhatamkan novel ini dari halaman pertama (lagi). Overall, I gave 3 stars of 5 on Goodreads. Novel ini secara genre termasuk dalam kategori semacam Metropop (milik Gramedia), gitu. Fiksi dengan komposisi bahasa ngepop ini garis besar temanya adalah 30 something single woman yang dijodohkan oleh Ibunya. Bercerita dengan point of view orang pertama, Flory, si tokoh utamanya, bergelut dengan dirinya sendiri untuk betul-betul meyakinkan dirinya pada sebuah pernikahan. Mungkin temanya rada basi, ya? Ada beberapa judul buku juga yang menulis ini-itunya perempuan single above 25. Marriageable ini mengambil angle secara kosmopolit dengan gaya hidup serta persepsi yang relatif bebas.

Selain tokoh utama, ada para tokoh pendamping yang merupakan teman-teman baiknya. Nah, mereka ini juga ikut berperan dalam “meramaikan” cerita. Kalau dipikir-pikir sih jadi seperti serial Friends atau How I Met Your Mother, gitu. Banyak dialog, banyak pertemuan dan celetukan-celetukan yang khas dan intim antarsahabat. Kekuatan novel ini sih menurut saya memang ada pada gaya bertuturnya yang begitu ceplas-ceplos. Karena ngepop, buku ini menggunakan bahasa campur indonesia-prokem dan inggris. I love how the author (Riri Sardjono) puzzle up all the conversation between the characters without feeling boring. Ada kan, novel yang kebanyakan isinya dialog tapi cenderung membosankan. Apalagi, isi perbincangannya yang sangat segar dan penuh humor. Like this one:

Vadin menurunkan kepalanya dan berganti menatapku dengan wajah antusias. ‘Kata Kakek gue, Tuhan nyiptain waktu malam untuk cinta.’
‘Kakek lo Kahlil Gibran?’ tanyaku mencemooh.

Dengan jumlah halaman sebanyak 357 yang sanggup saya selesaikan selama dua hari (yep, I also need to take a rest and do all stuff too), rasanya Marriageable ini dapat dikatakan a page turner novel. Selain ngakak, saya juga ikut mbrebes mili (bahasa prancis untuk: berlinang air mata :p) baca beberapa halaman terakhir. Tidak semua buku fiksi bisa menyeret para pembacanya untuk turut merasakan emotional bonding dengan isi cerita lho… Jadi, bolehlah saya bilang Marriageable berhasil soal ini.[]

,

Melek Huruf dan Budaya Literer

Angka buta huruf di Indonesia konon menurun. Dengan makin bertambahnya melek huruf di Indonesia, mestinya jangkauan budaya literer juga semakin luas. Tapi nyatanya tidak juga. Orang yang sudah melek huruf bahkan mendapat kesempatan sampai pendidikan tinggi pun bukan jaminan tingginya minat baca. Sebuah hal yang kontradiktif.

Menurut situs ini, melek huruf didefinisikan sebagai persentase penduduk usia 15 tahun ke atas yang bisa membaca dan menulis serta mengerti sebuah kalimat sederhana dalam hidupnya sehari-hari. Ini jelas sebuah definisi yang terlampau sederhana untuk melihat apakah melek huruf di Indonesia bisa untuk mengukur seberapa tinggi budaya literernya. Mungkin kita sudah kerap mendengar kalimat ini: kemajuan sebuah bangsa diukur dari indikasi kemajuan penduduknya. Salah satunya melek literasi.

Kalau mau dimaknai secara singkat, melek literasi sejatinya adalah kondisi keterbukaan diri akan berbagai informasi dari banyaknya media yang ada. Tapi hal ini tidak mencerminkan budaya literer berkembang baik. Sebab, ada tahapan di mana melek literasi merupakan fase setelah budaya lisan dan literer terlampaui. Informasi yang terditribusi melalui lisan, kemudian direkam dalam tulisan untuk kemudian dibaca. Namun sayang, pesatnya laju teknologi membuat kesadaran budaya literer ini tidak maksimal. Ini berlaku bahkan dalam kondisi di mana masyarakatnya sudah melek huruf sekalipun.

Usaha-usaha pemerintah untuk menekan angka buta huruf patut dihargai. Program kejar paket bagi yang belum bisa menulis dan membaca telah dimulai sejak tahun 90an bersamaan dengan perubahan batas wajib pendidikan dasar sembilan tahun. Pendekatan pendidikan non formal ini tentu sangat membantu orang-orang yang sebelumnya tidak dapat baca-tulis sementara dari segi usia sudah tidak dapat diterima di sekolah formal. Program ini banyak dilakukan oleh PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat) hingga LSM yang fokus pada pendidikan. Lalu, apakah orang-orang yang sudah melek huruf dipastikan memiliki budaya literer juga?

Miris memang, jika kita bisa mengetahui jumlah besarnya ponsel pintar yang laku terjual dibandingkan dengan jumlah buku yang pernah dibaca. Meskipun kini e-book sudah bisa dijangkau, rasanya belum semua judul buku sudah tersedia. Dan ini bukan hanya persoalan jumlah bukunya, melainkan bagaimana budaya literer atau membaca ini menjadi bagian dari gaya hidup. Minat baca inilah yang kelak harus diwariskan serta menularkannya kepada anak-anak kita dan orang-orang di sekeliling.

Rasa-rasanya perjalanan bangsa ini masihlah panjang.[]

Belum lama ini saya join grup BBM (BlackBerry Messenger) khusus orang tua murid di kelasnya Chiya. Informasi yang saya dapat antara lain info PR, kegiatan, dan pengumuman-pengumuman. Karena saya tidak bisa antar-jemput Chiya (selain itu saya bukan tipe ibu yang rela sebagian waktu digunakan hanya untuk nungguin anaknya sekolah), jujur saja saya merasa banyak terbantu karena join grup itu. Saya jadi update info terbaru, sampai keluhan-keluhan para ibu soal PR dan ulangan.

Sebagai informasi, Chiya tidak bersekolah di sekolah negeri. Kebijakan yang memprioritaskankan anak usia tujuh tahun untuk sekolah di sekolah negeri, membuat Chiya (yang kala itu masih enam setengah tahun) harus mencari sekolah swasta. Sekolah swastanya pun bukan sekolah yang mengadaptasi kurikulum internasional blablabla. Sekolah itu adalah milik yayasan institusi militer yang kami pilih karena dekat dengan rumah. Selain itu, sekolah ini hanya bergabung dengan TK saja. Tidak dengan jenjang SMP apalagi keroyokan dengan SMA.

Lalu, apa bagusnya sekolah itu?

Ya, itu tadi. Pertama, dekat dengan rumah. Kedua, sekolah itu hanya berbagi dengan TK. Ketiga, biayanya masih bisa kami tolerir untuk level sekolah dasar. Kurikulum dan lain-lain? Sama saja dengan sekolah lain. Bukan di mana sekolahnya yang penting, tapi bagaimana proses belajarnya yang harus tetap disupport. Sebab kami meyakini satu hal: pembelajaran yang paling hakiki tidak datang dari sekolah, apapun labelnya. Seorang anak akan berkembang bukan melulu karena sekolah. Kira-kira sampai kapan ya, kita akan mengasosiasikan pendidikan hanya dengan sekolah? 

Sejak masih di Jogja, Chiya sudah akrab dengan home schooling. Ah, saya sekarang lebih senang menyebutnya: belajar di rumah. Usia setahun lebih beberapa minggu, dia sudah pandai memegang pensil atau pulpen. Mencoret-coret dinding sambil blabbering segala macam. Rumah eyang di Jakarta (yang sekarang kami tempati) dindingnya penuh “mural” karyanya Chiya. Umur dua tahun sudah bisa berhitung dengan bahasa inggris dan hafal beberapa warna (juga dalam bahasa inggris). Saya tidak mengajarkan dia bicara dalam bahasa inggris, hanya mengenalkan beberapa basic english saja. Sebelum TK (dia tidak masuk playgroup) di usia empat setengah tahun, dia sudah bisa membaca meski terbata-bata. Pun berhitung matematika dasar. Saat TK, akhirnya kami mengetahui skor IQ dari psikotest di sekolahnya.

Sebagai informasi lagi, TK di mana Chiya sekolah selama dua tahun (sembari menunggu SD), bukan TK dengan bayaran jutaan rupiah. Lagi-lagi, sekolah ini dipilih karena dekat dengan rumah dan komitmen pemilik yayasan sekolah yang berbeda. Satu kelas diisi sekitar 20an anak dengan dua guru. Membandingkan dengan TK sebelah (sama-sama dekat dari rumah) yang satu kelas keroyokan 40an anak dan play ground yang hanya sepetak teras rumah di pinggiran Jakarta, kami tentu pilih TK ini.

Saya tidak mau membahas hasil. Atau prestasi, atau apalah. Karena kami sebagai orang tuanya sebetulnya tidak fokus pada itu, melainkan bagaimana anak ini bisa survive dengan kondisi sistem pendidikan bangsanya yang bobrok. Sudah banyak bukti nyata dan contoh riilnya. Dan kami, yang hanya bisa menjangkau pendidikan murah tentu tidak dapat menggantungkan nasib Chiya pada pendidikan mahal yang digaung-gaungkan bisa “menyelamatkan generasi untuk mejadi manusia global”. Bukan itu yang menjadi core value.

Jika kami tidak dapat meraih pendidikan mahal itu, apakah semestinya mengeluh?

Obrolan di BBM grup itu seolah-olah mengingatkan saya, betapa sebagian orang tua masih merasa bahwa mereka bukanlah titik penting dari proses pendidikan anak-anaknya. The school does. Ibu saya, yang juga guru di salah satu SD negeri favorit (dulu Standar Nasional), sering bercerita tentang dua-tiga anak didiknya yang masih belum lancar belajar. Beliau sudah bantu memberi les sepulang sekolah dan berbicara pada orang tua mereka agar dibantu belajar di rumah. Hasilnya? Nihil. Anak tetap tidak ada kemajuan dan orang tua seolah-olah merasa semua itu adalah beban guru di sekolah. Bahkan ada satu anak yang beberapa kali belum mandi dan sarapan ketika datang ke sekolah. Haruskah semua proses belajar dibebankan (hanya) kepada sekolah?

Pekerjaan rumah (PR) yang digarap oleh orang tua pun jadi isu klasik. Saya pun baru tahu. Di kelas Chiya, ada banyak ibu-ibu yang gemar mengerjakan PR anaknya pagi-pagi. Meski, sekolah sudah melarang keras orang tua untuk mengantar sampai kelas. Kebayang kan? Mengantar sampai kelas saja sudah dilarang, ini sampai garap PR anaknya segala. Saya sadar kok, kalau sekolah Chiya itu terlalu memberi beban kepada muridnya. Dalam sehari, bisa sampai dua-tiga mata pelajaran dengan masing-masing 5-10 nomor pertanyaan. Di antara PR itu bisa dipastikan ada satu mata pelajaran yang PR-nya harus disalin. Panjang kalimatnya tidak main-main. Kalimat yang pas untuk anak kelas satu SD adalah kalimat dengan maksimal lima kata di dalamnya, kata Ibu saya. Padahal, Ibu saya bahkan tak pernah memberi PR lebih dari lima nomor. Mereka masih butuh banyak waktu bermain, katanya memberi penjelasan.

PR yang bejibun ini tentu bukan alasan untuk lantas mengerjakan PR anak. Chiya tiap pulang sekolah lalu istirahat main-main sebentar, langsung mengerjakan PR di hari itu. Ini diterapkan justru agar ia tetap punya waktu untuk bermain. Malamnya, ia akan “les” untuk belajar pelajaran besok. Yang ini kesadaran dia sendiri. Ia akan bawa tas kecil, membopong buku-buku (yang bejibun itu) dan menenteng meja lipat ke ruang keluarga depan. Kalau sedang malas, ya sudah, kami juga tidak memaksa. Paling kami ajak baca-baca buku cerita atau main-main saja. Ia pernah berkata: bener sih kata Bunda, kalo siang ngerjain PR aku bisa santai-santai gitu. Ia tetap punya akses nonton tivi, dengan catatan PR sudah kelar, buku untuk besok sudah disiapkan dan tidak ada PR yang tertinggal.

Untuk sampai bisa memiliki kesadaran seperti itu, apakah mudah? Jelas tidak! Kami mengalami tarik-ulur juga, di mana Chiya memberontak dan malas-malasan. Saya juga bawel luar biasa untuk mengingatkan dia agar tetap fokus mengerjakan PR-nya. Oh ya, Chiya ini tipikal anak yang sulit fokus mengerjakan satu hal. Means: dia bisa tahu-tahu sudah asyik mainan dengan tempat pensilnya di saat sedang mengerjakan PR. Saya pikir semua anak pasti begitu. Mudah bosan. Tapi saya tidak serta merta mengambil alih pensilnya dan menyelesaikan apa yang menjadi tanggung jawabnya (atas nama: biar cepat selesai). Sampai akhirnya PR itu tidak kunjung selesai sampai malam (karena ditunda-tunda terus). Ia kecapekan, ssementara PR harus tetap dikerjakan.

Buat saya, PR adalah sebentuk tanggung jawab “kecil” yang sampai kapanpun akan ditemui oleh mereka, anak-anak kita. Di balik itu tentu ada ganjaran dan hukuman. Jika tidak paham logika ini, kelak mereka mungkin tak mau tahu. Tidak ada yang mudah memang, hidup di belantara negeri ini. Bahkan menjadi orang tua kaya yang bisa menyekolahkan anak ke sekolah berbiaya mahal pun, bukan jaminan bahwa kita peduli pada proses pendidikan anak-anak ini. Yang bisa dilakukan ya, bergerak. Berkomitmen untuk peduli pada tiap prosesnya.[]

Blog Hits

Hello

"Membuat jarak paling intim antara suara hati dan memori adalah dengan menuliskannya pada sebuah tulisan. Dan kamu, sedang menuju ke tempat milikku."

Enjoy reading.

Popular Posts

Followers