- sepetak ruang kecil untuk menjadi diri sendiri -

Akhir tahun itu biasanya di tivi banyak yang mengulas kilas balik peristiwa setahun ini, ya. Nah, Pena Merah minggu ini punya tema yang mirip: kalaedoskop. Karena saya juga bukan siapa-siapa (kayak judul sinetron ya, hahaha), jadi saya cerita-cerita dikit aja yah soal what’s been happen along the year.

Kalau soal kerjaan (saya enggan menyebutnya karir, entah mengapa), tahun ini saya mengambil keputusan yang cukup signifikan, yaitu resign. Tapi sebelum ke sana, saya mau flash back sedikit, ya. Saya di kantor yang terakhir ini sudah hampir dua tahun. Jarak rumah ke kantor relatif dekat, searah dengan suami (berangkat-pulang pasti bareng kecuali salah satu lembur), dekat dengan beberapa mall juga (penting, soalnya suka makan siang, ato janjian sama temen kuliah yang sekantor sama suami buat janjian dan belanja pas after hour), belakang kantor gudang jajanan (kawasan kampus dan sekolahan Al Azhar), temen-temen dan orang seruangan baik, suasana hangat, selalu ada cemilan, sering dinas yang membuat saya belajar banyak hal… Banyak deh, pokoknya.

Trus, kenapa resign? Bisa dibaca di sini ya, alasan komplitnya. Dan saya ga akan mengulang penjelasan yang sama karena memang hanya itu jawabannya. Keputusan ini dibuat tidak dengan main-main. Banyak sih yang kemudian mencibir (literary), karena saya memutuskan untuk di rumah. Tapi ya, saya juga gak berhak menjudge mereka. Meski saya sudah jelaskan ke mereka dan mereka (seolah-olah) sudah mengerti, rasanya tidak akan pernah cukup membuat orang lain bisa paham apa yang saya pilih dan jalani sekarang.

Toh, kita ga harus jadi orang lain untuk memahami apa yang orang lain rasakan, kan? Jadi, selama mereka masih wondering, biarkan saja. That’s feed their brain, somehow. Hehehe…
 
Masih ada hubungannya dengan being at home, saya akhirnya hamil (lagi).  Ini sesuatu yang dinanti sejak tahun kemarin. Proses pengembalian siklus masa subur yang tidak sebentar ternyata membuahkan hasil baik. Alhamdulilaaaahh… Sampai saya nulis postingan ini, usia kandungan masuk 20 weeks. Semoga tetap sehat, mengingat saya sempat pendarahan dua kali dan bed rest total. USG jenis kelamin belum dilakukan soalnya belum kontrol lagi, hehehe… Tapi sangat membahagiakan salah satunya karena si janin sudah kerap menendang-meninju-menyundul dari dalam :D

Lalu, si kakak (Chiya) tahun ini masuk SD. Awalnya kelimpungan cari sekolahan karena kebijakan baru usia prioritas 7 tahun untuk masuk di sekolah negeri. Belakangan Chiya sekolah di sekolah swasta dekat rumah. Secara akademis ia bagus, kok. Semester pertama dapat ranking dua. Cukup baik untuk ukuran anak yang belajarnya santai dan sering tidak fokus sama apa yang sedang dikerjakan hehhee… Yang menurut saya paling menonjol adalah kemampuan bahasa inggrisnya. Sekarang dia relatif fasih bicara dalam bahasa inggris (tinggal memperkaya vocabulary dan membiasakan diri dengan grammar yang benar saja). Peningkatan paling terasa ketika kami mulai langganan layanan televisi berbayar. Percaya atau tidak, dia “hanya” nonton kartun. Kami tidak mengajarinya secara intens apalagi kursus. Rencananya, kursus bahasa inggris baru akan diambil kira-kira tahun depan.

Nah, beda sama ayahnya (peace ya ayah :D). Saat ini saya sedang ngompor-ngompori dia untuk kursus bahasa inggris secara serius supaya bisa sekolah lagi. Mumpung masih sehat dan mumpung dia punya bidang untuk menjadi alasan sekolah lagi. Kalau bisa sih, jangan di sini (baca: Endonesyah). Soalnya saya optimis dia punya potensi untuk bisa belajar di luar. Sayang aja sih, sebab saya salah satu yang mengamati bagaimana dia berkembang sejak awal kuliah dulu. Kendala yang dia punya menurut saya di bahasa. Selain itu, dia punya peluang yang sama dengan lainnya. Kerja keras, tekun, ulet. Kalau hanya gara-gara bahasa, dia memilih untuk tetap di sini, rasanya seperti menyerah sebelum perang benar-benar dimulai :( Terus, kenapa harus di luar negeri? Pertama, jelas perkembangan ilmunya lebih update di luar negeri. Kedua, sekolah di luar negeri (menurut saya) bisa sambil buka jaringan dan pengalaman baru. Tapiiiii, di luar itu semua, ada yang jauh lebih “berkuasa” kan ya? Jadi, biarlah kami ikhtiar dulu, baru nanti lihat bagaimana kemungkinannya.

Saya sih bukan tipe orang yang bikin resolusi buat awal tahun. Biasanya saya bikin target pencapaian waktu jelang ulang tahun atau kalau lagi on fire sama sesuatu. Overall, di tahun 2013 ini ada hal-hal yang tidak terduga yang kemudian membawa bahagia. Tapi ada juga hal-hal yang tidak sesuai dengan target hidup saya untuk tahun 2013 ini. Ada hal-hal yang saya rencanakan dan saya harapkan juga agar rencana-rencana itu mewujud sempurna pada tahun 2014 mendatang. Saya juga berdoa agar tetap diberi kekuatan apabila rencana-rencana itu pada prosesnya tidak sesuai dengan ekspektasi. Namanya hidup, pasti ada pahit, getir, gembira dan nananana.

Whether it’s good or bad, let’s take it and be happy.[]
Aroma liburan akhir tahun masih berasa, ya? Anak-anak sekolah sudah mulai libur sejak semingguan lalu. Yang bekerja sudah mulai ambil cuti. Momen akhir tahun kadang menjadi titik rehat yang selama setahun menjadi rutinitas. Saya dan keluarga kemarin sempat having a little escape juga. Saya sebut demikian karena memang sengaja menyempatkan diri untuk “pergi sejenak” dan mengambil dua-tiga hari di antara jadwal bekerja (buat mereka yang bekerja hehehhe). Bukan liburan sih, sebab ya itu tadi, cuma a little escape during work :D

Jadi tempo hari itu saya dan suami rembugan mau escape ke mana. Karena saya lagi bunting dan tidak bisa pergi terlalu jauh dengan mobil (dan takut naik pesawat), kami memutuskan untuk escape ke Cirebon. Tadinya tidak mau pergi ke mana-mana, tapi karena si Akung tidak punya waktu banyak selama akhir tahun, jadinya disempat-sempatkan pergi. Mumpung saya masih bisa diajak jalan-jalan juga hehehe…

Nah setelah rembugan bersama semua anggota keluarga, diputuskanlah ke Cirebon dan Pekalongan. Soalnya si Uti pengen banget ke Pekalongan buat belanja batik. Awalnya bingung mau naik kereta atau bawa mobil. Setelah ditimbang-timbang, bawa mobil sendiri lebih memudahkan untuk mobilisasi kalau mau jalan-jalan. Mengingat saya juga gak bisa capek-capek.

Keputusannya: escape ke Cirebon dan Pekalongan dengan membawa mobil sendiri. Yaaay!
 
Waktu mau berangkat itu saya dan suami rempong browsing hotel-hotel kecil untuk tempat kami istirahat malam. Karena Cirebon sempat jadi ulasan wisata dengan kereta api tempo hari di sebuah harian nasional, cukup banyak review hotel-hotel kecilnya. Tapi itu ternyata tidak membantu, sebab tidak semua review komplit dengan foto. Kami sempat booking hotel di Sidodadi (yang letaknya di dekat stasiun Cirebon). Tetapi oh tetapi, rate yang ditawarkan menurut kami agak tidak masuk akal. Untuk ukuran sebuah hotel kecil (let’s say Sidodadi itu bintang dua, ya) harga kamar standar yang termurah adalah Rp 330.000. Si reception bilang itu sudah diskon 40%. Kalau memang harga segitu sih kami lebih baik pilih Amaris dong yah, hehehe…

Akhirnya browsing lagi. Pertimbangan kami bukan hanya harga, tapi fasilitas seperti apakah ada air panas, kamarnya tersedia AC dan sarapan (walau hanya setangkup roti). Itu penting karena kami butuh istirahat yang cukup sehabis perjalanan. Setelah menemukan dua kandidat lain, kami putuskan untuk menginap di hotel Aurora Baru (yang baru dekat stasiun). Dari pernyataan by phone sih, mereka punya itu semua. Baca terus untuk tahu, ya :D

Hotel Aurora Baru
Waktu sudah sampai di daerah Cirebon, patokan kami adalah mencari stasiun dulu, baru kemudian hotelnya. Dan ternyata, Hotel Aurora Baru terletak persis di sebelah stasiun. Benar-benar sebelahan! Sampai hotel sudah pukul 11 malam. Padahal kami berangkat dari Jakarta jam 4 sore lho. Ketemu macet di Bintaro, Bekasi Barat dan Timur (as usual :D) dan pintu tol Cikampek selama sejam. Capeeeek rasanya. Kamar kami ada di lantai dua. Parkir mobil ada di dalam juga, jadi bisa ngecek mobil dari balkon atas. Nah kami booking tiga kamar, dua kamar standar (atau deluxe, saya lupa) dan satu VIP. Bedanya dengan yang VIP adalah bed-nya king size. Sementara lainnya twin. Air panasnya berfungsi lalu sarapan disediakan dua tangkup roti dan dua gelas teh panas tiap kamar. Buat saya ini cukup untuk kami yang butuh istirahat dan menyegarkan badan sebelum lanjut jalan-jalan lagi. Kalau mau cari sarapan sih bisa jalan ke sekitar hotel ada beberapa warung yang jual empal gentong dan nasi lengko.


Kamar kelas "VIP" Hotel Aurora Baru Cirebon. Yang standar luasnya sama, bed-nya aja yang twin.

Kondisi kamarnya rapi dan bersih. Ada dispenser yang air panasnya berfungsi dengan baik di tiap sudut (kalau mau seperti kami, bawa kopi, minuman sarapan sampai mi instan untuk siapa saja yang butuh lebih dari sekadar teh panas :D). Trus, pegawainya pagi-pagi ada yang sigap mencucikan mobil, lho. Lumayan kan, mobilnya cakep buat diajak keliling-keliling hehhee… Tinggal kasih tip ajah buat mereka. Ohiya, rate kamar di sini untuk yang standar Rp 230.000 dan VIP Rp 260.000.

Pantai Kajawanan
Nah setelah kelar leyeh-leyehnya, kami beranjak ke Pantai Kajawanan. Waktu tempuh dengan mobil sih hanya sekitar 15 menitan (Cirebon kan ga pake acara macet hehehe). Pantai Kajawanan itu satu garis dengan pelabuhannya. Menuju ke pantainya ada barisan perahu-perahu yang diparkir di tepiannya. Waktu itu satu mobil ditarik Rp 2.000 aja, tanpa ada tarikan per-orang. Tapiiii, setelah kami sampai di sana, uhmmm jenis pantainya bukan pantai seperti Anyer atau Karimunjawa *yaiyalaaaah* Jenis pasirnya hitam dan berlumpur. Tapi Chiya ini keukeuh pengen nyebur aja. Anak ini memang ga bisa ngeliat kubangan air menganggur -________-“ 

Akhirnya dia dan ayah sewa ban besar. Mereka main dayung-dayungan sampai ke daratan di ujung satunya. Sebetulnya airnya tidak tinggi untuk sampai ke daratan di sebrang (orang dewasa hanya selutut atau paha).  Tapi airnya yang tidak jernih bikin kami tidak selera turun ke air, hehehe… Sambil menunggu mereka puas main air (dan panas-panasan), kami duduk-duduk di kios kecil pinggir pantai. Jajanannya cuma mie instan dan minuman-minuman. Karena kami kepagian, gorengannya belum dibuat. Agak lama kami duduk-duduk, ada seorang wanita paruh baya menghampiri dan menawarkan kami kerang bambu. Ia bersedia mencarikan ke pantai, kemudian kerangnya bisa dimasakkan oleh si ibu kios. Lupa harganya. Kalau tidak salah 100 buah kerang bambu dihargai 15 ribu rupiah saja. Itu belum termasuk ongkos masak sama si ibu kios, ya.

Seingat saya sih, itu pertama kali saya makan kerang bambu. Kerangnya sebetulnya hanya ditumis saja. Tapi enaaaakk… (Maaf lupa fotoin, hehehe..) Nah setelah ayah dan Chiya naik, mereka langsung mandi. Di sana air bersih seember dihargai dua ribu rupiah. Mandinya pun di bilik-bilik ditutupi terpal. Minimalis deh judulnya :D Beranjak dari pantai, kami ke tujuan selanjutnya: Keraton Kasepuhan Cirebon. Kalau dari Pantai Kajawanan mau langsung ke sana, sebetulnya dekeeeet banget. Tapi waktu itu kami kesasar sampai jauuuuhh… Pas sampai, langsung deh: ini kan jalan yang udah kita lewatin dua kali ya? Hahahha…

Keraton Kasepuhan Cirebon
Ini bukan hanya kami, lho… ternyata ada wisatawan dari negeri sebelah (baca: Indramayu hehehe) yang juga kesasar. Kesulitannya ada di petunjuk jalan. Sebetulnya kalau ada petunjuk jalan yang cukup jelas menuju keraton, kami-kami tidak akan sampai kesasar. Karena letak keraton ini tidak sulit dijangkau. Selain itu, jalan menuju ke dalam tertutup pasar kaget yang entah apakah memang sedang ada annual event atau begitulah kondisinya setiap hari. Kalau tiap hari begitu kok rasanya semrawut banget yah :|
Jalan masuk ke keraton.
Setelah sampai, ternyata keraton dengang dalam renovasi sana-sini. Tapi tetap bisa keliling kok. Ditemani seoerang guide, kami keliling beberapa bangunan yang di dalamnya ada benda-benda yang dulu digunakan sultan dan permaisuri. Saya gak ikut keliling semua, wong jalan dari pasar kaget sampai masuk keraton aja udah ngos-ngosan. Alhasil pas mau pulang, saya jalan paling belakangan, hiks… 
Renovasi sana-sini.
 Batik Trusmi
Tujuan selanjutnya sebelum ke Pekalongan adalah: belanja batik, yaaaay! Habis makan siang empal gentong (di sebuah warung kecil-gak-jelas), kami lanjut ke Batik Trusmi. Nyari tempatnya ga begitu susah kok… Gak jauh dari ring road alias jalan gede Jakarta-Semarang. Awalnya kupikir itu semacam kampung batik gitu, yang merupakan wilayah pengrajin batik Cirebon. Ternyata mirip kayak Mirota Batik di Jogja. Tapi jauuuuuuhhh lebih luas dan lega (tau kan, Mirota Batik sesempit apa :p). Trus batik-batiknya udah diblok-blok gitu. Sarimbit, kemeja, blus, gamis, sama batik yang low price sama yang high juga pisah. Uuuhh, jangan tanya ya, saya “nemu” banyak batik-batik cantik di sana. Hihihihi…


Rasanya, kalau ada rejeki lebih, lebih baik spend money beli batik-batik cantik deh. Ya kan?
 
[postingan jalan-jalan ke Pekalongan menyusul yaaa, hehehehe]

,

Cerpen gak-tau-mau-dikasih-judul-apa

Kayla
Ini sudah yang kesekian kalinya. Bram tak datang lagi. Kayla mencoba sabar. Ditariknya nafas perlahan dan membereskan tumpukan quotation. Di sini--di dalam dadanya--ada gemuruh badai nan hebat. Ia kecewa.

Bram
Bram terdiam. Ada yang salah, gumamnya. Ada yang salah pada hubungannya dengan istrinya. Namun entah kenapa, ia memilih untuk berhenti memikirkan Lusi, istrinya.

Bram-Lusi [dua bulan yang lalu]
"Kamu engga usah bersikap seolah-olah kamu ksatria, Bram!", Lusi membentaknya melalui telepon. Mereka bertengkar lagi. Berselisih paham lagi. Lusi begitu murka ketika Bram menyuruhnya mencari pekerjaan lain selain sebagai executive director di sebuah perusahaan marketing research. Sementara Lusi merasa posisinya saat ini adalah sebuah self achievement baginya. Sebab ia adalah seorang life achiever--setidaknya begitu yang dikatakan lembar hasil test IQ-nya dulu. Sementara Bram, ingin Lusi mulai memberi kelonggaran pada pekerjaannya. Pada kariernya. Bram merasa karier Lusi mulai mencekiknya.

Bram
Sore ini, Tat demam. Bram pontang-panting mencari kompres instan yang pernah dipakai Lusi untuk menangani Tatyana. Dalam remang kamar Tat, ia meraba meja, laci dan kolong meja lampu. Ia hampir saja merobohkan lampu meja kesayangan Tat. Entah mengapa ia merasa gugup sekali. Mbak Nah yang sedang menemani Tat ikut terkejut. Sudah ditelusurinya kamar Tat dalam remang, namun Bram tetap tidak menemui kompres itu. Bahkan di kotak P3K. Juga di laci kamarnya. Juga di mana-mana. Mbak Nah ikut panik. Ia hanya bisa menemani Tat yang berwajah kemerahan dan terus bergumam dalam tidurnya yang gelisah. Bram mengutuk absennya Lusi.

Kayla-Bram
Kayla menelpon Bram. Bram yang sedang panik hanya melirik ponselnya sebentar. Ia pusing, sedang konsentrasi untuk berkoordinasi dengan Mbak Nah. Dokter anak langganan Tat sudah tutup dan baru bisa melayani lagi besok pagi. Sementara ia tidak sabar. Bram menyuruh Mbak Nah memberi obat demam lagi, kalau-kalau Tat terbangun dan masih demam.
 Telpon lalu diangkat. "Hai, Bram. Ini aku, Kay. Rapat masih lama. Gimana Tat?", alih-alih menyapa, Kayla langsung menodong Bram dengan pertanyaan.
"Demam. Masih begini-begini aja." Bram melempar tubuhnya ke sofa dan mengurut-urut kedua alisnya.
"Nanti jemput saja kalau kamu mau."
"Sepertinya tidak." Bram menghela nafas. Ia melihat kamar Tat yang terbuka sedikit dan pendaran siluetnya membayang. Tat yang bergelut dalam selimut nan hangat. Seharusnya ibunya di sini, Bayu menggumam dalam hati.
"Baiklah. Tunggu ia pulang dan jaga Tat baik-baik ya."
Bram menutup teleponnya.

Bram-Lusi
Bram terjaga. Dua dini hari. Kepalanya pening melawan cahaya lampu yang bertubi-tubi merangsek indera penglihatannya. Ia lekas menengok Tat. Terhuyung menuju kamar Tat yang temaram. Demamnya sudah mulai turun, meski wajahnya masih kemerahan. Ia kecup pelan dahi Tat yang mendingin. Bram merasa jiwanya berada di tangan Tat. Seluruh jiwanya.
Mbak Nah ada di sebelahnya, tertidur juga. Lalu ia berjingkat menutup pintu. Sekelebat bayangan ada di ruang tamu, Lusi. Masih dengan baju kerjanya, tertidur di sofa. Membawa kompres instan dan sebotol obat yang masih dalam plastik. Terlambat, gumamnya dalam hati. Terlambat, Lusi.

Kayla
Kayla selalu kecewa ketika Bram tak lagi menjemput Lusi yang satu kantor dengannya. Sebab ia mendamba pernikahan Bram dengan Lusi lebih baik darinya--demi Tat. Namun, perlahan akhirnya Kayla tahu juga apa yang terjadi dalam pernikahan Bram. Lusi adalah perempuan muda yang masih sangat bergairah pada karier dan hidupnya. Ternyata ia enggan hamil (entah sampai kapan) dan enggan memilih pekerjaan dengan jam kerja yang  lebih manusiawi. Kayla amat paham bagaimana gaya hidup para executive director itu. Gaya hidup yang (dulu) amat Bram puja dan senangi.

Kayla-Bram
Kayla terkejut ketika Bram tiba-tiba hadir di rumahnya pagi itu. Sepagi ini.
"Bram? Kamu? Ngapain?" Kayla mengecek kalau-kalau Bram membawa Tat. Atau Lusi.
"Mau bicara sama kamu. Penting. Itu kalau kamu mau."
Kayla mengajaknya masuk. Apartemen kecil itu tidak berubah. Tidak banyak berubah. Bram baru menyadari ia sudah cukup lama tidak memasuki petak ruang mungil ini.
"Saya sudah bilang, Bram, kamu..."
Kayla tak sanggup menatap mata itu. Mata yang dulu membuatnya luluh dan mencair. Mata yang dulu selalu sanggup membuatnya bahagia seketika. Mata yang sama, yang dulu membuatnya berantakan. Diri dan hidupnya.
"Kay, dengar. Kamu adalah perempuan itu. Saya juga engga ngerti kenapa dulu kita gagal. Tapi akhirnya saya tahu, kamu yang terbaik."
Kayla menggeleng. "Tidak, Bram. Kamu dulu tidak pernah bilang itu pada saya. Sikap kamu pada Lusi adalah sikapmu dulu pada saya. Kamu engga berubah, Bram. Sudahlah."
Mereka terdiam. Mereka sadar bahwa dialog itu tidak akan berhasil. Bagi Bram, negosiasi untuk yang kesekian kalinya ini bakal begini-begini saja, tanpa progres yang berarti baginya. Bagi ia dan Kayla. Sementara untuk Kayla, bargain apapun tidak akan membuatnya kembali pada Bram. Sebab Bram kini sudah bersama Lusi, istri barunya. Dan ia yakin, ketika memilih untuk bersama Lusi, Bram sudah memikirkan masak-masak pilihan itu. Sebab apa yang ditempuh Bram adalah sebuah perceraian. Selesainya episode antara ia dan Bram. Dan mulainya babak baru sebuah hubungan lain di luar semesta mereka berdua.

Bram-Tatyana
“Ayah?” Tatyana berdiri di depan kamarnya. Sore itu ia sudah cukup sehat.
Bram yang sedang membereskan kopernya terhenti. “Ya, sayang?”
“Ayah jadi ke Bali?”
Bram mengangguk. “Iya jadi, sayang. Berangkatnya lusa, kok. Cuma dua hari kok, Tat. Hari Rabu ayah sudah pulang. Tat mau oleh-oleh apa?”
Tat terdiam. “Ayah, sebelum ayah pergi lagi, aku mau bilang sesuatu.”
Bram tahu apa yang dimaksud putri satu-satunya itu. Ditatapnya Tat dari tempatnya sekarang. Ia mematung, tak paham harus bagaimana. Anak perempuan itu mulai terisak. Jarak Tat dan dirinya sore itu menjadi jarak psikologis terjauh yang pernah ia alami.

Tatyana-Kayla-Bram
"Bun, aku mau sama Bunda aja ya...", Tat berkata lirih sambil menghambur dan memeluk Kayla yang baru saja masuk. Dua hari setelah pertemuan di apartemen, Bram memohon Kayla untuk datang ke rumahnya. Bram tahu, ini akan terjadi.
"Kenapa, sayang?"
Tat tidak menjawab, ia malah hampir menangis. Kayla mengelus kepala anak perempuan berusia lima tahun itu dan berdiri, menatap Bram.
"Bram... Saya..."
"Kay, Tatyana boleh tinggal sama kamu kalau dia mau. Seandainya belum mau kesini, tidak apa-apa. Saya ikhlas menungu sampai dia sendiri yang mau.  Mbak Nah, tolong siapkan barang-barang Tat dan bawa Tat ke kamar dulu."
Mbak Nah membujuk dengan sedikit berbisik. Tat menurut.
Kayla tertunduk. "Benar, tidak apa-apa?"
Bram mengangguk. "Saya mau selesaikan masalah saya sama Lusi. Tolong, kalau ada apa-apa, kamu tahu kemana harus menghubungi saya. Tolong jaga Tat. Saya sayang sama dia. Melebihi siapapun."
 
Habis itu, Kayla baru sadar bahwa itulah pertama kali ia melihat Bram menangis.

[Jakarta, 23 November 2011-00.20]


Buku ini sebetulnya dibeli sudah agak lama. Tapi lalu “terbenam” oleh buku-buku baru lain yang kelihatannya lebih menarik dan ringan untuk dibaca. Marriageable ini cukup tebal untuk sebuah novel. So instead reading a thick book, I rather choose the thin ones hehehe… Sampai akhirnya buku-buku yang lebih tipis itu sudah habis dibaca. Oh, kecuali Amba dan Pulang yang masih waiting list (maap yah). Setelah coba melihat-lihat rak buku kembali, ternyata saya sudah pernah coba baca buku ini beberapa halaman. Entah kenapa waktu itu tidak diteruskan. Dan proses membaca kembali sebetulnya tidak begitu menyenangkan karena dua hal. Pertama, harus recall kembali ingatan akan isi buku jika mau langsung lanjut ke halaman berikutnya. Sementara kedua, kalau mau afdal ya harus turn back to page one *sigh*

Karena saya pengangguran sedang banyak waktu, akhirnya meluruskan niat untuk mengkhatamkan novel ini dari halaman pertama (lagi). Overall, I gave 3 stars of 5 on Goodreads. Novel ini secara genre termasuk dalam kategori semacam Metropop (milik Gramedia), gitu. Fiksi dengan komposisi bahasa ngepop ini garis besar temanya adalah 30 something single woman yang dijodohkan oleh Ibunya. Bercerita dengan point of view orang pertama, Flory, si tokoh utamanya, bergelut dengan dirinya sendiri untuk betul-betul meyakinkan dirinya pada sebuah pernikahan. Mungkin temanya rada basi, ya? Ada beberapa judul buku juga yang menulis ini-itunya perempuan single above 25. Marriageable ini mengambil angle secara kosmopolit dengan gaya hidup serta persepsi yang relatif bebas.

Selain tokoh utama, ada para tokoh pendamping yang merupakan teman-teman baiknya. Nah, mereka ini juga ikut berperan dalam “meramaikan” cerita. Kalau dipikir-pikir sih jadi seperti serial Friends atau How I Met Your Mother, gitu. Banyak dialog, banyak pertemuan dan celetukan-celetukan yang khas dan intim antarsahabat. Kekuatan novel ini sih menurut saya memang ada pada gaya bertuturnya yang begitu ceplas-ceplos. Karena ngepop, buku ini menggunakan bahasa campur indonesia-prokem dan inggris. I love how the author (Riri Sardjono) puzzle up all the conversation between the characters without feeling boring. Ada kan, novel yang kebanyakan isinya dialog tapi cenderung membosankan. Apalagi, isi perbincangannya yang sangat segar dan penuh humor. Like this one:

Vadin menurunkan kepalanya dan berganti menatapku dengan wajah antusias. ‘Kata Kakek gue, Tuhan nyiptain waktu malam untuk cinta.’
‘Kakek lo Kahlil Gibran?’ tanyaku mencemooh.

Dengan jumlah halaman sebanyak 357 yang sanggup saya selesaikan selama dua hari (yep, I also need to take a rest and do all stuff too), rasanya Marriageable ini dapat dikatakan a page turner novel. Selain ngakak, saya juga ikut mbrebes mili (bahasa prancis untuk: berlinang air mata :p) baca beberapa halaman terakhir. Tidak semua buku fiksi bisa menyeret para pembacanya untuk turut merasakan emotional bonding dengan isi cerita lho… Jadi, bolehlah saya bilang Marriageable berhasil soal ini.[]

,

Melek Huruf dan Budaya Literer

Angka buta huruf di Indonesia konon menurun. Dengan makin bertambahnya melek huruf di Indonesia, mestinya jangkauan budaya literer juga semakin luas. Tapi nyatanya tidak juga. Orang yang sudah melek huruf bahkan mendapat kesempatan sampai pendidikan tinggi pun bukan jaminan tingginya minat baca. Sebuah hal yang kontradiktif.

Menurut situs ini, melek huruf didefinisikan sebagai persentase penduduk usia 15 tahun ke atas yang bisa membaca dan menulis serta mengerti sebuah kalimat sederhana dalam hidupnya sehari-hari. Ini jelas sebuah definisi yang terlampau sederhana untuk melihat apakah melek huruf di Indonesia bisa untuk mengukur seberapa tinggi budaya literernya. Mungkin kita sudah kerap mendengar kalimat ini: kemajuan sebuah bangsa diukur dari indikasi kemajuan penduduknya. Salah satunya melek literasi.

Kalau mau dimaknai secara singkat, melek literasi sejatinya adalah kondisi keterbukaan diri akan berbagai informasi dari banyaknya media yang ada. Tapi hal ini tidak mencerminkan budaya literer berkembang baik. Sebab, ada tahapan di mana melek literasi merupakan fase setelah budaya lisan dan literer terlampaui. Informasi yang terditribusi melalui lisan, kemudian direkam dalam tulisan untuk kemudian dibaca. Namun sayang, pesatnya laju teknologi membuat kesadaran budaya literer ini tidak maksimal. Ini berlaku bahkan dalam kondisi di mana masyarakatnya sudah melek huruf sekalipun.

Usaha-usaha pemerintah untuk menekan angka buta huruf patut dihargai. Program kejar paket bagi yang belum bisa menulis dan membaca telah dimulai sejak tahun 90an bersamaan dengan perubahan batas wajib pendidikan dasar sembilan tahun. Pendekatan pendidikan non formal ini tentu sangat membantu orang-orang yang sebelumnya tidak dapat baca-tulis sementara dari segi usia sudah tidak dapat diterima di sekolah formal. Program ini banyak dilakukan oleh PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat) hingga LSM yang fokus pada pendidikan. Lalu, apakah orang-orang yang sudah melek huruf dipastikan memiliki budaya literer juga?

Miris memang, jika kita bisa mengetahui jumlah besarnya ponsel pintar yang laku terjual dibandingkan dengan jumlah buku yang pernah dibaca. Meskipun kini e-book sudah bisa dijangkau, rasanya belum semua judul buku sudah tersedia. Dan ini bukan hanya persoalan jumlah bukunya, melainkan bagaimana budaya literer atau membaca ini menjadi bagian dari gaya hidup. Minat baca inilah yang kelak harus diwariskan serta menularkannya kepada anak-anak kita dan orang-orang di sekeliling.

Rasa-rasanya perjalanan bangsa ini masihlah panjang.[]

Belum lama ini saya join grup BBM (BlackBerry Messenger) khusus orang tua murid di kelasnya Chiya. Informasi yang saya dapat antara lain info PR, kegiatan, dan pengumuman-pengumuman. Karena saya tidak bisa antar-jemput Chiya (selain itu saya bukan tipe ibu yang rela sebagian waktu digunakan hanya untuk nungguin anaknya sekolah), jujur saja saya merasa banyak terbantu karena join grup itu. Saya jadi update info terbaru, sampai keluhan-keluhan para ibu soal PR dan ulangan.

Sebagai informasi, Chiya tidak bersekolah di sekolah negeri. Kebijakan yang memprioritaskankan anak usia tujuh tahun untuk sekolah di sekolah negeri, membuat Chiya (yang kala itu masih enam setengah tahun) harus mencari sekolah swasta. Sekolah swastanya pun bukan sekolah yang mengadaptasi kurikulum internasional blablabla. Sekolah itu adalah milik yayasan institusi militer yang kami pilih karena dekat dengan rumah. Selain itu, sekolah ini hanya bergabung dengan TK saja. Tidak dengan jenjang SMP apalagi keroyokan dengan SMA.

Lalu, apa bagusnya sekolah itu?

Ya, itu tadi. Pertama, dekat dengan rumah. Kedua, sekolah itu hanya berbagi dengan TK. Ketiga, biayanya masih bisa kami tolerir untuk level sekolah dasar. Kurikulum dan lain-lain? Sama saja dengan sekolah lain. Bukan di mana sekolahnya yang penting, tapi bagaimana proses belajarnya yang harus tetap disupport. Sebab kami meyakini satu hal: pembelajaran yang paling hakiki tidak datang dari sekolah, apapun labelnya. Seorang anak akan berkembang bukan melulu karena sekolah. Kira-kira sampai kapan ya, kita akan mengasosiasikan pendidikan hanya dengan sekolah? 

Sejak masih di Jogja, Chiya sudah akrab dengan home schooling. Ah, saya sekarang lebih senang menyebutnya: belajar di rumah. Usia setahun lebih beberapa minggu, dia sudah pandai memegang pensil atau pulpen. Mencoret-coret dinding sambil blabbering segala macam. Rumah eyang di Jakarta (yang sekarang kami tempati) dindingnya penuh “mural” karyanya Chiya. Umur dua tahun sudah bisa berhitung dengan bahasa inggris dan hafal beberapa warna (juga dalam bahasa inggris). Saya tidak mengajarkan dia bicara dalam bahasa inggris, hanya mengenalkan beberapa basic english saja. Sebelum TK (dia tidak masuk playgroup) di usia empat setengah tahun, dia sudah bisa membaca meski terbata-bata. Pun berhitung matematika dasar. Saat TK, akhirnya kami mengetahui skor IQ dari psikotest di sekolahnya.

Sebagai informasi lagi, TK di mana Chiya sekolah selama dua tahun (sembari menunggu SD), bukan TK dengan bayaran jutaan rupiah. Lagi-lagi, sekolah ini dipilih karena dekat dengan rumah dan komitmen pemilik yayasan sekolah yang berbeda. Satu kelas diisi sekitar 20an anak dengan dua guru. Membandingkan dengan TK sebelah (sama-sama dekat dari rumah) yang satu kelas keroyokan 40an anak dan play ground yang hanya sepetak teras rumah di pinggiran Jakarta, kami tentu pilih TK ini.

Saya tidak mau membahas hasil. Atau prestasi, atau apalah. Karena kami sebagai orang tuanya sebetulnya tidak fokus pada itu, melainkan bagaimana anak ini bisa survive dengan kondisi sistem pendidikan bangsanya yang bobrok. Sudah banyak bukti nyata dan contoh riilnya. Dan kami, yang hanya bisa menjangkau pendidikan murah tentu tidak dapat menggantungkan nasib Chiya pada pendidikan mahal yang digaung-gaungkan bisa “menyelamatkan generasi untuk mejadi manusia global”. Bukan itu yang menjadi core value.

Jika kami tidak dapat meraih pendidikan mahal itu, apakah semestinya mengeluh?

Obrolan di BBM grup itu seolah-olah mengingatkan saya, betapa sebagian orang tua masih merasa bahwa mereka bukanlah titik penting dari proses pendidikan anak-anaknya. The school does. Ibu saya, yang juga guru di salah satu SD negeri favorit (dulu Standar Nasional), sering bercerita tentang dua-tiga anak didiknya yang masih belum lancar belajar. Beliau sudah bantu memberi les sepulang sekolah dan berbicara pada orang tua mereka agar dibantu belajar di rumah. Hasilnya? Nihil. Anak tetap tidak ada kemajuan dan orang tua seolah-olah merasa semua itu adalah beban guru di sekolah. Bahkan ada satu anak yang beberapa kali belum mandi dan sarapan ketika datang ke sekolah. Haruskah semua proses belajar dibebankan (hanya) kepada sekolah?

Pekerjaan rumah (PR) yang digarap oleh orang tua pun jadi isu klasik. Saya pun baru tahu. Di kelas Chiya, ada banyak ibu-ibu yang gemar mengerjakan PR anaknya pagi-pagi. Meski, sekolah sudah melarang keras orang tua untuk mengantar sampai kelas. Kebayang kan? Mengantar sampai kelas saja sudah dilarang, ini sampai garap PR anaknya segala. Saya sadar kok, kalau sekolah Chiya itu terlalu memberi beban kepada muridnya. Dalam sehari, bisa sampai dua-tiga mata pelajaran dengan masing-masing 5-10 nomor pertanyaan. Di antara PR itu bisa dipastikan ada satu mata pelajaran yang PR-nya harus disalin. Panjang kalimatnya tidak main-main. Kalimat yang pas untuk anak kelas satu SD adalah kalimat dengan maksimal lima kata di dalamnya, kata Ibu saya. Padahal, Ibu saya bahkan tak pernah memberi PR lebih dari lima nomor. Mereka masih butuh banyak waktu bermain, katanya memberi penjelasan.

PR yang bejibun ini tentu bukan alasan untuk lantas mengerjakan PR anak. Chiya tiap pulang sekolah lalu istirahat main-main sebentar, langsung mengerjakan PR di hari itu. Ini diterapkan justru agar ia tetap punya waktu untuk bermain. Malamnya, ia akan “les” untuk belajar pelajaran besok. Yang ini kesadaran dia sendiri. Ia akan bawa tas kecil, membopong buku-buku (yang bejibun itu) dan menenteng meja lipat ke ruang keluarga depan. Kalau sedang malas, ya sudah, kami juga tidak memaksa. Paling kami ajak baca-baca buku cerita atau main-main saja. Ia pernah berkata: bener sih kata Bunda, kalo siang ngerjain PR aku bisa santai-santai gitu. Ia tetap punya akses nonton tivi, dengan catatan PR sudah kelar, buku untuk besok sudah disiapkan dan tidak ada PR yang tertinggal.

Untuk sampai bisa memiliki kesadaran seperti itu, apakah mudah? Jelas tidak! Kami mengalami tarik-ulur juga, di mana Chiya memberontak dan malas-malasan. Saya juga bawel luar biasa untuk mengingatkan dia agar tetap fokus mengerjakan PR-nya. Oh ya, Chiya ini tipikal anak yang sulit fokus mengerjakan satu hal. Means: dia bisa tahu-tahu sudah asyik mainan dengan tempat pensilnya di saat sedang mengerjakan PR. Saya pikir semua anak pasti begitu. Mudah bosan. Tapi saya tidak serta merta mengambil alih pensilnya dan menyelesaikan apa yang menjadi tanggung jawabnya (atas nama: biar cepat selesai). Sampai akhirnya PR itu tidak kunjung selesai sampai malam (karena ditunda-tunda terus). Ia kecapekan, ssementara PR harus tetap dikerjakan.

Buat saya, PR adalah sebentuk tanggung jawab “kecil” yang sampai kapanpun akan ditemui oleh mereka, anak-anak kita. Di balik itu tentu ada ganjaran dan hukuman. Jika tidak paham logika ini, kelak mereka mungkin tak mau tahu. Tidak ada yang mudah memang, hidup di belantara negeri ini. Bahkan menjadi orang tua kaya yang bisa menyekolahkan anak ke sekolah berbiaya mahal pun, bukan jaminan bahwa kita peduli pada proses pendidikan anak-anak ini. Yang bisa dilakukan ya, bergerak. Berkomitmen untuk peduli pada tiap prosesnya.[]
Sekarang mau cerita-cerita soal Klinik Permata Bintaro, ah. Klinik yang belakangan jadi tempat andalan ketika keluarga kami sakit. Awalnya dulu kenal klinik ini karena rekomendasi bidan waktu kami konsultasi program hamil. Dikasih tahu, bahwa di sana ada dokter kandungan perempuan, muslim dan menurutnya bagus. Telaten, katanya. Ya wis, ketika ada waktu, kami mulai menuju TKP. Waktu itu kami cari-cari klinik itu, ketemu. Tidak jauh dari STAN. Karena belum mau periksa dan hanya survey lokasi dulu, difoto-foto lah itu plang yang ada jadwal praktek dokternya dong. Pas udah niat mau ke sana, eeehh, kliniknya tutup bok! Bukan tutup dalam arti sedang tidak praktek, tapi beneran kosong. Plangnya hilang, rumahnya kosong. Wah, bangkrut jangan-jangan.. :p

Lemes yah, udah niat mau ketemu si dokter, eh belum jodoh. Ya sudah, karena kami tidak ngoyo banget, klinik itu pun terlupakan. Sampai akhirnya, kami menemukan kembali klinik itu di tempat yang baru. Dekat dengan perempatan menuju Bintaro Plaza, kalau dari arah Pondok Betung posisinya sebelah kiri. Dibaca-baca plangnya, sepertinya kini dokternya jauh lebih lengkap. Ada dokter gigi, kandungan, spesialis anak, ahli gizi, hypnotherapy, akupuntur dan skin care sampai konselor laktasi segala. Waktu itu kebetulan tidak lama Chiya butuh ke dokter gigi untuk cabut gigi. Akhirnya kami cobalah ke sana. Untuk dokter gigi (waktu itu kalau gak salah sama Bu Christine apa ya), harus by appointment dulu. Jadi, telpon untuk janjian dulu sama bu dokter dan bilang mau cabut gigi anak. Nanti si asistennya akan catat nomer telepon kita. Kalau ada pembatalan, jam diundur atau ganti hari atau gimana pasti di-sms sama mereka.

Ini adalah pengalaman pertama Chiya cabut gigi dan waktu itu hanya saya yang menemani (ayahnya lagi dinas). Bu dokternya ternyata cantik dan ga hanya itu, ia sangat persuasif. Seneng ajak ngobrol dan membujuk. Tapi bukan bujukan macem: jangan takut, gak sakit kok. Tapi begini: Chiya, udah tau kan, ke sini mau ngapain? Kalau ada gigi yang udah saatnya dicabut, harus ke dokter. Biar nanti gigi yang mau tumbuh tidak terhambat. Biar giginya tumbuhnya cantik. Nah, cabut gigi itu memang sakit. Tapi sakitnya nanti bisa dikurangi, ada obatnya. Rasanya macem-macem deh. Kamu suka rasa apa? Nanti pilih yang kamu suka, ya. Chiya kalau sudah berani ke sini, berarti sudah siap mau cabut gigi. Iya kan? Sudah siap belum? Nanti dokter kasih tempat untuk simpan gigi yang sudah dicabut, untuk kenang-kenangan. Gantungannya bentuk gigi. Giginya nanti dimasukkan ke tempat itu. Warna-warni juga lho… Chiya mau warna apa?

Begitulah. Waktu mau eksekusi (asistennya masih mempersiapkan ini-itu), si dokter sempat ngobrol sama saya juga. Cerita kenapa dulu kliniknya yang di Bintaro deket STAN itu ditutup dan lantas pindah ke sini. Nah pas eksekusi, Chiya gak nangis, cuma pas dicabut dia agak kaget gitu. Beneran dikasih kalung bentuk gigi lho… buat kenang-kenangan. Kayaknya udah ga jaman ya, buang gigi ke genteng atau dikubur di tanah :p  Kalau dari segi biaya, waktu itu habis sekitar 120rb. Setelah pernah cabut gigi di dokter dekat rumah (bukan di Klinik Permata Bintaro), dan habis hampir dua kali lipat, rasanya cabut gigi di Klinik Permata Bintaro worth aja sih. Dokternya enak, anaknya nyaman juga. Chiya sampe bilang: dokternya baik dan kalau cabut gigi lagi mau sama dokter itu aja. Pulangnya, kami mampir Bintaro Plaza, makan pizza berdua aja, hahahaha…

Ini lho, gantungan untuk menyimpan gigi yang sudah dicabut.
  Secara keseluruhan, Klinik Permata Bintaro ini okelah. Terutama faktor dokter-dokternya ya… Meski ruang periksanya sempit, dan kalo ngeliat bangunannya rasanya ga yakin, gitu ya secara “hanya” ruko kecil begitu hehehe… Selain dokter gigi Chiya, saya juga periksa sama dokter kandungan di sana. Pertama sih, sama dr. Dewi Rumiris SpoG (yang direkomendasikan sama bu bidan). Awalnya konsultasi soal mens dan program hamil. Enak sih sama dia. Waktu itu dia suruh aku coba dibantu pake obat hormon untuk stimulus siklus mens biar teratur lagi. And it’s worked. Tapi pernah coba periksa sama beliau lagi di rumah sakitnya, kok gak begitu telaten seperti di klinik yaa.. 

Akhirnya saya pindah ke dr. Data Angkasa SpOG. Mereka berdua sama-sama praktik di RSIA Muhamaddiyah Taman Puring (begitu juga dengan beberapa dokter kandungan yang lumayan “famous”), tapi dengan Bu Data rasanya mau konsul di klinik atau di rumah sakit beliau sama telatennya. Memang sih, beliau masih baru di RS. Waktu saya ke sana, paling hanya 4 atau 5 pasien yang ikut antri. Sementara dokter lainnya antri panjaaaaaang. Tapi mana worth, sudah antri panjang trus pas konsul hanya sebentar. Seolah-olah “kamu kan ga ada keluhan, jadi ga usah lama-lama deh”. Lah, kita dicharge dengan harga yang sama lho dok, hellooooww… Makanya saya dan suami sejauh ini sreg sama Bu Data. Ga ada keluhan pun, beliau mau senyum, kasih banyak advice, kasih kesempatan nanya-nanya dan selalu ngasih kalimat support sebelum kami keluar kamar periksa. Hal yang ga saya dapat dari dokter lain :)
Dokumen kehamilan dari Klinik Permata Bintaro. Kiri map berisi medical record beserta print USG di dalamnya. Kanan adalah buku kehamilan.
Klinik Permata Bintaro selalu jadi pilihan karena dekat sama rumah saya. Pas saya pendarahan dan dalam masa bed rest, saya mending ke sana. Dekat, trus tetap ketemu dokter langganan. Udah gitu antrinya ga kayak di RSIA. Paling banter lima orang lah, kalo lagi sial kesiangan datengnya, hehehe… Dan jadwalnya jelas, kalau ada perubahan pasti dikasih tau. Daripada sudah datang jauh-jauh ternyata sang dokter batal praktek. Belom apa-apa udah capek ya, bok. []

,

Kembali ke dapur ^^

[Mau resep yang lain? Sila cek Cookpad saya, ya.]

Masa bed rest yang lumayan membosankan dan nafsu makan akan nasi putih hangat yang melambai-lambai selalu membuat saya terkadang harus ke dapur untuk masak-masak lagi. Sebetulnya saya bukan tipe yang suka masak (apalagi tukang lauk matang siap wira-wiri depan rumah hehehe). Tapi ya itu tadi, tiba-tiba senang makan nasi, mau tidak mau lauknya harus bervariasi. Kalau sedang merasa fit dan kuat, saya belanja sayur ke depan dan masak-masak. Maklum yes, hamil kali ini membuktikan kalau faktor U sangat berpengaruh pada kondisi badan -______-"

Nah, karena nasi putih hangat itu paling cocok jika disandingkan dengan lauk kering dan lauk pedas, saat ini saya mau share resep telur balado a la bumbu Bali, sayap ayam bumbu kecap dan tempe-tahu bacem. Kebetulan tiga masakan ini ada fotonya, jadi yang dishare ya tiga resep ini deh.

TELUR BALADO A LA BUMBU BALI
kenapa ada "a la-nya" segala? Karena saya sendiri tidak yakin ini masakan Bali. Nyontek dari beberapa buku resep kemudian dimodifikasi, jadilah masakan ini. Yang tidak suka pakai kecap, bisa diabaikan saja. Kalau saya, karena punya tahu cina yang nganggur di kulkas, saya ikutsertakan dalam keriaan ini *hayah

Ini dia, masih dalam wajan, belum matang ^^
Bahan:
5 butir telur ayam, rebus, kupas (bisa dibelah atau utuh) lalu goreng sampai berkulit, sisihkan
Bumbu (ulek):
5 siung bawang merah
5 siung bawang putih
6 buah cabai merah
3 buah cabai rawit merah (bisa disesuaikan)
sedikit asam jawa
terasi, gula merah, garam, secukupnya
Bahan lainnya:
minyak goreng untuk menumis
2 lembar daun salam
3 lembar daun jeruk

 1 sdm kecap manis
sedikit air
Cara memasak:
tumis semua bumbu ulek sampai harum, masukkan daun salam dan daun jeruk, tumis-tumis sampai daun layu. Tambah sedikit air dan kecap, masukkan telur lalu tunggu sampai mendidih. Icip kuahnya sampai rasanya sesuai. Masak sampai airnya asat, matikan kompor, hidangkan.

TEMPE-TAHU BACEM
Jadi ceritanya entah kenapa pengen makan baceman ini. Waktu itu lagi masak sayur asem, lumayan nyambung lah kalau sama baceman. Kalo saya gak pake air kelapa, secara susah dapetinnya. Tapi ga masalah, rasanya tetap bisa gurih kok. Selesai menggoreng, baceman habis buat cemilan (seorang diri). *lah -____-

Pake cabe rawit enak, lho ^^
Bahan:
Tempe dan tahu (sesuaikan kebutuhan) potong-potong
Bumbu ulek:
4 siung bawang puting
4 siung bawang merah
2 butir kemiri
1 sdt ketumbar
Bahan lainnya:
3 lembar daun salam
lengkuas seruas jari, geprek
gula merah secukupnya
kecap manis (optional)
garam dan air secukupnya
Minyak untuk menggoreng
Cara memasak:
masukkan tempe dan tahu dalam panci, campur dengan bumbu ulek dan bahan-bahan lainnya, tambahkan air serta garam. Masak hingga mendidih dan air asat. Tempe dan tahu siap digoreng. (Kalau aku sama anakku suka tahu yang dimakan panas-panas tanpa digoreng ^^)
PS: Air yang dimasukkan jangan terlalu banyak sampai bikin tempe-tahu "berenang", secukupnya saja. Karena kalau kelamaan dimasak, si tahu bisa hancur.

SAYAP AYAM BUMBU KECAP
Sebetulnya ini semacam semur, sih. Tapi spesialisasi pakai sayap. Semacam spicy wings versi manisnya. Bumbunya itu finger licking banget loh! Anakku suka kalo sayap baru matang trus maem pakai nasi hangat. Emaknya juga, hhihhihi ^^

Kalo lagi masak ini, side dish buat yang tua adalah sambel terasi. Yumm!
Bahan:
1/2 kg sayap ayam, rebus dulu sebentar supaya empuk, sisihkan
Bumbu ulek:
4 siung bawang putih
1 butir kemiri
seruas jahe
beberapa butir lada
Bahan lainnya:
minyak goreng untuk menumis
air secukupnya
garam dan kecap manis secukupnya
Cara memasak:
tumis bumbu ulek sampai harum, lalu tambahkan air secukupnya. Masukkan sayap ayam dan lumuri dengan kecap manis secukupnya. Aduk-aduk sebentar, icip kuahnya kemudian tunggu sampai air mendidih dan bumbu menjadi asat.
PS: saya biasanya tidak menambahkan garam terlalu banyak karena kecap manis sudah memberi rasa asin yang seimbang.

Gimana? Gimana? Gampang kan yak? Apalagi si sayap manis ituh. Nyontek ibu masak semur, ternyata bumbunya cuma itu doang, gampang bingit! Itu sudah sedap dan wanginya kemana-mana. Kapan-kapan pengen share resep lagi ah. Tapi janji, harus dicoba yah.. ^^[]
Entah saya yang lagi sensi berat atau memang perempuan itu seneng banget bikin orang kelihatan terluka karena ucapannya, ya?

What I’m trying to say is: please stop make judgment. Whatever it is. 

Konteksnya? Klise: ibu rumah tangga dan (should I follow them to add “versus”?) ibu bekerja. Kenapa klise? Karena di mana-mana saya pasti nemu perempuan yang sinis berkomentar tentang itu. Kalau ia ibu rumah tangga, berkomentarnya tidak jauh dari: buat apa punya uang banyak tapi keluarga terlantar? Jika ia ibu bekerja, kira-kira seperti ini: itu ijazah buat apa kalau tidak dipakai? Atau kalo saking kurang kerjaannya, suka bawel nanya ke orang yang ga begitu dekat tentang kapan nikah. Kapan hamil. Atau kapan nambah anak. #pfft

I”ll tell you, I was a stay at hom mom and once I had a fabulous experience to be a working mother. And now (yes, NOW) I’m being a stay at home mom again. And if you asked me whether I had to choose one of them, I’ll say: both are great roles. You’ll never know how beautiful and painful at the same time if you never know how it was.

Kalau sekarang saya di rumah lagi, bukan karena juga saya merasa bekerja itu gak bermakna. I had some complicated experience when I’m pregnant right now. Saya seneng di rumah karena bonding dengan anak makin rekat. Tapi dengan bekerja, pada beberapa titik saya merasa dihargai dan menghargai diri sendiri. Kalo disuruh milih mana yang lebih baik, ya itu personal decision. Sama seperti alasan saya kembali ke rumah itu tadi. Sayangnya, sebagian perempuan merasa pilihan hidup perempuan lain harus dilihat dari di mana ia berdiri. Sulit untuk membiarkan perempuan lain berlalu dengan kehidupannya.

Pertanyaannya: WHAT”S WRONG WITH YOUR LIFE, LADIES?

Ibu bekerja itu juga kerap merasa bersalah ketika harus dinas sementara anaknya sakit. Atau anaknya ulang tahun. Atau wedding anniversary. You name it. Ibu rumah tangga bukan tanggung jawab yang mudah. I called it a 24/7 job. Jam istirahat ga jelas, ga ada libur apalagi cuti, dan oh THR, menurut lo? Saya punya beberapa role model stay at home mom yang beneran total. Dan mereka jadi role model saya karena saya ga pernah lihat mereka NYINYIR. 

Gak perlu ngerasa besar kepala deh, hanya karena sudah nikah dan punya anak komplit lalu nyinyir kepada teman yang masih single. Apalagi pake ngebawelin ibu baru yang masih kesulitan ngasih ASI—without being asked. Mind your own breast, please. There’s million ways to show that you care. Yes, CARE.

Masih ngerasa harus nyindir ibu bekerja yang tidak pernh ikut rapat komite sekolah? Go stop it and mind that “nongkrong-nongkrong” at school is your own choice. Don’t ever blame others. Oh, and stop doing your kids homework in the class too. They won’t realize what is responsibility unless you let them learn about it.
 
Saya sih gak lagi kampanye biar pada gak menggonggong, ya. Itu sih pilihan lah. Mungkin mereka sedang kurang piknik.[]

Hamil [lagi]!

So, I'm pregnant again. Kali ini memang sudah lama dinanti :D. Jadi waktu itu saya merasa sedang dalam fase PMS (pre menstrual syndrome), tapi kok ada beberapa gejala sebelum mens yang tidak muncul ya? Karena siklus mens saya sudah mulai teratur dalam empat-lima bulan terakhir, saya mulai curiga meski masih cuek. Soalnya, sebelumnya ketipu juga. Saya kalau mau mens pasti mual. Mirip kayak orang hamil kan? Nah, kali itu saya masih cuek, sampai telatnya sudah mendekati seminggu. Tapi dalam hati merasa sepertinya saya hamil. Saya sempat pakai test pack, tapi hasilnya ga valid karena saya tidak pakai cawan dan saya basahi begitu saja waktu pipis, hahahaha... Jadinya itu test pack basah sampai separuhnya.

Lalu ketika kami melewati toko obat, suami bilang: "sana gih beli test pack lagi. Tapi sekarang kamu yang beli, siapa tahu kalau kamu yang beli positif." (Logika dari mana coba? -_____-') Akhirnya saya yang turun dan beli itu test pack. Beli dua sekalian dan minta yang pakai cawan. Sampai rumah, saya baca-baca di kemasan test pack bahwa test pack ini bisa dipakai kapan saja. Wah, asik! Udah pake cawan, bisa dipake kapan saja pula. Langsunglah eike pipis dan memberdayakan si test pack untuk mendeteksi apakah eike tekdung tralala lagi atau belum. Dan, dua garis! Yaaaaayy...

Wiiii, we're both happy deh pokoknya... Suami kaget dan seneng banget. Hamil ini memang direncanakan, mengingat faktor U, sodara-sodara. U saya dan suami, juga U si kakak nantinya. Nyahahahaha… Selain itu, untuk akhirnya bisa positif ini memang takes time sejak saya lepas KB suntik 3 bulanan (selama pemakaian ± 5 tahun!).

Lepas KB dan penormalan siklus mens
Dalam proses setelah lepas KB menuju penormalan siklus mens, saya akhirnya tahu bahwa penggunaan KB hormonal itu kalau bisa diberi jarak. For the sake of health of the womb, mamma. Misalnya, pakai selama satu setengah tahun, beri jeda “kosong” dengan tidak pakai KB jenis apapun (kecuali kondom). Setelah itu coba usahakan pindah KB jenis lainnya, kalau bisa sih jangan yang hormonal juga. Nah pemakaian jangka panjang seperti saya itu membuat normalisasi siklus mens jadi lama. (PS: kebutuhan tiap perempuan untuk menormalkan siklus mens beda-beda.) Butuh enam bulan untuk mens, selama lepas KB itu saya betul-betul “kosong”, flek pun tidak. Setelah mens pun siklusnya amburadul. Pernah waktu itu mens ketika bulan Ramadhan, awalnya normal selama seminggu. Di akhir minggu flek-flek menjelang habis mens, darah malah keluar lagi dan justru makin banyak dan darahnya makin segar. Total dua minggu saya “libur” puasa.

Kami lalu memutuskan ke dokter kandungan di RSIA Muhammadiyah Taman Puring. Di sana saya diberi obat untuk pendarahan. FYI, waktu itu saya ketemunya dengan dr. Agus SpOG, beliau kesannya buru-buru dan tidak ada tanya-jawab yang intens. Jadi seolah-olah dia tahu saya pendarahan, dikasih resep, lalu selesai. Bener deh, gak worth rasanya antri lamaaaa lalu di dalam ruang praktek cuma less than 10 minutes. Mungkin begitu ya, beberapa dokter favorit yang praktek di RS. 

Lalu, setelah diberi obat, pendarahan berhenti, namun siklus mens berikutnya masih tidak menentu. Flek setelah mens sampai benar-benar bersih bisa lamaaaa sekali. Akhirnya, saya mencoba konsultasi ke bidan dekat rumah. Bidan itu bidan teladan, praktek di rumah sendiri dan sudah punya kamar-kamar untuk rawat inap. Namanya Bidan Enok (Pondok Betung). Dia cukup telaten menanggapi pertanyaan-pertanyaan saya yang bingung pingin hamil lagi. Meski “hanya konsultasi”, bu bidan mau menjelaskan beberapa hal dan merekomendasikan dokter kandungan bagus sekitar Bintaro, yaitu dr. Dewi Rumiris SpOG. Dokter ini praktek di RSIA Muhammadiyah dan sebuah klinik di Bintaro. Karena alasan efisiensi, kami coba kejar yang jam praktek di klinik. Setelah mendapat cukup info, kami memutuskan untuk mencari klinik yang dimaksud.

Singkatnya (nanti ada versi panjangnya di postingan sendiri), akhirnya kami konsul dengan beliau. Beliau menganjurkan untuk menormalkan siklus dengan bantuan stimulus hormon. Jadi, waktu itu saya diberi pil hormon untuk sepuluh hari berturut-turut (saya lupa merk obatnya). Cara kerjanya mirip pil KB, harus diminum persis di jam yang sama. Tidak boleh telat dan tidak boleh lupa. Nanti setelah pil habis, tunggu sampai mens. Mungkin agak lama, katanya, tapi tetap ditunggu saja sampai mens lagi. Nah nanti dalan mens berikutnya sudah bisa dihitung masa suburnya. 

Waktu itu beliau kasih pilihan: mau alami atau dibantu? Karena kami masih optimis bisa, akhirnya kami coba yang alami. Katanya: coba dulu dalam waktu tiga bulan, nanti siklus akan mulai normal lagi. Dihitung saja masa suburnya. Manut sama bu dokter, setelah masa pil hormon dan mens lagi, saya belum ngeh kalau siklus mens sebetulnya sudah mulai normal (meski flek setelah mens kadang agak panjang). Tapi overall, mens-nya sudah teratur. Saya baru ngeh setelah empat bulanan gitu, sekitar bulan Mei atau Juni. Sejak itu, saya mulai belajar menghitung masa subur. Awal-awal sih belum kelihatan hasilnya, ya. Dan jujur, mulai agak bete juga tuh.

Pendarahan dua kali
Betenya adalah karena gejala hamil dan PMS itu mirip. Hampir ga ada bedanya. Dan saya suka ketipu, huhuhu… Baca-baca soal trik cepet hamil lagi, ada artikel yang menyebutkan supaya jangan lekas bangun ketika selesai berhubungan. Saya pikir-pikir, tips ini layak dicoba, hehehe… Sekitar sebulan setelah “praktek” tips itu, datanglah momen dua garis di atas tadi. Karena hamil kedua, saya relatif santai. Kelewat santai malah. Motoran ke Tigaraksa (which is takes about couple hours to get there!), dinas luar kota (lari-larian di bandara ngejar flight *omaigat) sampai kursus full seharian penuh membuat saya sempat bleeding dua kali.

Ini beneran pendarahan, bukan flek biasa di underwear. Tapi sudah mengalir berdarah-darah segar (bahkan yang terakhir, saya mendapatkan gumpalan darah keciiil *astagfirullahaladzim). Pendarahan itu saya alami tepat ketika saya pulang dinas dan pulang kursus. Hati rasanya hancuuuuuuurr, terutama ketika mengalami yang kedua kali. Waktu yang pertama, saya ke dokter Dewi Rumiris lagi dan diberi penguat. Tidak disuruh bed rest sama beliau. Entah, mungkin karena saya bilang tidak begitu banyak darah yang keluar atau bagaimana. Sementara yang kedua, karena dokter Dewi ketika itu tidak praktek di Klinik Permata Bintaro, kami bertemu dengan dr. Data Angkasa SpOG.

Bu Dokter Data ini kaget, karena ini adalah pendarahan kedua dan sempat ada gumpalan kecilnya. Di USG Transvaginal, si janin masih berdetak jantungnya *fiuh. Beliau minta aku bed rest total dan tetap berusaha demi si janin. Dia sempet bilang gini: kita tidak boleh menyerah, ya. Janinnya tadi masih bagus, jadi harus coba dipertahankan. Rileks aja. Semua sudah diatur, Mbak. Yang sudah lahir, besar, tua saja bisa diambil kapan saja sama Allah, apalagi yang kecil begini. Pokoknya gak boleh dibawa pikiran.

Intinya, beliau minta kami ikhtiar, sementara harus tetap ikhlas. Respon saya? Nangis laaaah, wkwkwkwkwk… Semaleman ga bisa tidur, jelas sulit untuk tidak memikirkan ini. Tapi saya paham maksud bu dokter adalah agar saya rileks, tidak terbebani secara psikis. Pertemuan pertama ini membuat saya dan suami memutuskan “pindah ke lain hati”, hehehehe… Dari dr. Dewi Rumiris ke dr. Data angkasa. Kapan-kapan saya posting khusus soal perdokter-dokteran ini.

Selama bed rest itu, saya masih flek. Padahal obat penguat sudah atas-bawah (oral dan vaginal).  Ketika obat oral habis, kontrol ke dr. Data lagi dan diberi obat yang lebih “kuat”. Bed rest tetap diteruskan sampai benar-benar tidak flek sama sekali. Karena pertimbangan ini-itu, akhirnya saya memutuskan berhenti ngantor. Kondisi hamil kedua ini berbeda dengan yang pertama. Kami ingin ikhtiar demi si calon bayi. Soal resign postingan lain aja ya.. 

Walau sempat pendarahan dua kali dan harus total bed rest, kami berdua ikhtiar supaya si baby nanti sehat. Doakan saja agar semua sehat dan lancar yaaa... Aamiiin…[]
Judulnya semoga merepresentasikan isinya, ya.

Jadi saya mau cerita yang temanya tidak jauh dari "rumput tetangga lebih hijau". Beberapa orang pasti ngerti dan kenal betul kalimat itu. 

Punya role model kan? Entah itu orang terkenal, teman sendiri, orang tua, whoever... Minimal pernah mengagumi orang lain atau dengan tak tak sadar bergumam: 

enak banget ya hidupnya...

Saya? Sering. Role model? Banyak. Ngiri sama hidup orang? I would say, yes sometimes I feel it too. Masalahnya, merasa bahwa rumput tetangga lebih hijau itu kadang lebih sering ketimbang menerima dengan lapang dada bahwa rumput sendiri (mungkin) tidak sehijau tetangga. Padahal belum tentu, lho... Bisa saja sebetulnya jenis rumputnya sama, tapi view dari jendela rumah kita membuat rumput tetangga way greener. Atau, memang jenis rumputnya sama, bedanya tetangga merawat dengan telaten sementara rumput sendiri kerap terabaikan. Jadinya fair kan, kalau rumputnya dia memang lebih hijau??

Ah, sebetulnya saya mau ngomongin apa sih ya?

Let say, saya memang sedang berefleksi terhadap diri sendiri: bahwa merasa rumput tetangga lebih hijau itu wajar, tapi the most ultimate point to think is how big our way to be grateful? Dan saya percaya, proses bersyukur itu tidak mudah.

Saya pernah baca quote (which I forget from who it is) yang more or less seperti ini:

bukan persoalan seberapa besar hujannya atau bagaimana kita menghindar/melewatinya, tapi bagaimana belajar  menikmati air hujan dan seluruh isinya.
 Tambahan: bahkan jika hujan bisa membuat sakit.

Saya, perempuan bekerja dengan suami baik hati dan satu anak perempuan yang bawel berbahasa inggris di rumah masih kerap dirundung envy. Saya sih menikmati saja, toh kalau tidak ada "lawan main" hidup ini bakal abu-abu. Iya, ndak?

Belakangan saya sedang meyakini beberapa hal. Bahwa, envy is a sign that you have to dare yourself higher and be grateful often than before. Jadi menantang diri sendiri dan bersyukur itu harus linier. Jangan pernah dipisah. Capek atau merasa tidak sanggup itu so human kok... Tetangga juga begitu. Coba sesekali tanya mereka yang selama ini dilihat rumputnya selalu lebih hijau itu. Bisa jadi mereka justru merasa rumput kita yang jauh lebih hijau. Kalau sudah begitu, rasanya ingin nyengir kuda saja :D

Ini sih analisa sederhana seorang perempuan yang juga kerap desperate karena bisa-bisanya rumput tetangga lebih hijau padahal rumput saya impor dari Cina. Dan sepertinya, kalimat "rumput tetangga lebih hijau" itu harus mulai diupgrade deh, jadi:

gadget tetangga lebih canggih

Ya ndak? []

Kalau ada penulis yang suka menulis dari perspektif cinta yang sederhana, salah satunya pastilah Ieda Teddy. Aktif ikutan FF (fan fiction) dan berpuisi di timeline-nya membuat kemampuan berbahasanya yang (menurut saya) menjadi begitu khas. Kalau memperhatikan timenlinenya, Neng Ieda ini selalu ngetweet dengan bahasa yang lembut, even she’s on a bad mood

Buku pertamanya, Cinta Setengah Tiang yang diterbitkan secara indie, adalah buku kumpulan cerita pendek yang sebagian di antaranya adalah beberapa tulisan yang pernah diunggah ke tumblr-nya. Di bukunya ini, kebanyakan cerita berangkat dari setting cerita yang sederhana, cenderung menggunakan frame kehidupan sosial seperti kisah waria, pelacur, dan potongan kecil cerita orang-orang miskin. Walau setting yang dipakai mirip-mirip, Neng selalu memilih inti cerita dari angle yang berbeda-beda. Misalnya, dalam cerita Tuhanku Selaput Dara dan Kutang Merah yang keduanya berkisah mengenai kehidupan pelacur. 

Selain itu, Neng ini sepertinya suka sekali dengan setting atau penokohan dengan latar belakang kultur Jawa. Ada beberapa tokoh dengan nama yang bercita rasa Jawa dan dialog-dialog dengan bahasa yang sama. Walau, ada satu-dua cerita yang mengambil setting lain, seperti dalam Tentangmu Yang Selalu Manis.
 
Well, kalau saya, dari semua cerita suka sekali dengan cerita Cinta Tahi Kucing. Cerita itu satu-satunya cerita pendek yang panjang (bingung ya, hehehe). Tapi benar, saat baca, saya berharap ceritanya benar-benar panjang. Cerita itu buat saya page turner banget. Breath taker juga. Dan saat selesai membacanya, lega. Breathtaking is over, hehe. 

Secara detail, dalam cerita itu Neng berhasil merangkai plot cerita dengan baik. Bagaimana kehidupan si tokoh awalnya hingga kemudian menemukan titik akhir untuk menyelesaikan cerita sekaligus nasib si tokoh utama, semua rasanya selaras. Saya paling suka ketika pendeskripsian kamar kos yang pengap. Berikut sekelumit petikannya:

Gadis berwajah ayu itu kebingungan dengan kamar sederhana 6x8 meter yang berisi tiga orang gadis seumurannya tidur berjajar seperti ikan asin. Sebuah lemari plastik miring ke kanan seperti hendak menimpa siapa saja di dekatnya. Udara kamar terasa pengap semenjak pintu dibuka.

Kalau melihat kecenderungan isi cerita, mungkin Neng butuh mengeksplorasi tema serta setting cerita-cerita berikutnya. Misalnya dengan membuat cerita berlatar belakang masyarakat Toraja atau Thailand. Atau kisah-kisah Jawa masa lalu, sepertinya asyik juga. Ini sih ekspektasi pembaca, ya. Hehehee… Di luar itu, saya salut dengan konsistensi menulisnya yang kerap menyempatkan diri menulis dari fitur notes di smartphone-nya. Salah satu yang harus dipunya bagi penulis.[]
  


PS:
kalau beli sama orangnya langsung, selain dapet tanda tangan, bisa dikasih puisi singkat juga lhoo ^^ (kindly mention her @iedateddy on twitter)



Blog Hits

Hello

"Membuat jarak paling intim antara suara hati dan memori adalah dengan menuliskannya pada sebuah tulisan. Dan kamu, sedang menuju ke tempat milikku."

Enjoy reading.

Popular Posts

Followers