- sepetak ruang kecil untuk menjadi diri sendiri -

[Mau resep yang lain? Sila cek Cookpad saya, ya.]

Here we go!! This is my favorite part. Dulu, waktu masih full time mom saya amat mendambakan momen di mana saya harus memasak dan menyiapkan bekal untuk sekolah Chiya. Juga momen mengantar-jemput. (Kecuali rumpi sama ibu-ibu yaaa... Itu pengecualian.) Dulu, selama Chiya belum sekolah (sementara semangat ini menggebu-gebu), saya senang mengumpulkan buku-buku resep khusus cemilan untuk anak-anak atau resep-resep bekal sekolah. Sampai sekarang, ada sekitar 4 atau 5 buku resep. Dan saya sukaaa sekali! Suka bolak-balik bukunya, bukan masaknya, hahaha! Sebab, kalau mengamati perangai Chiya yang kerap “uek” kalau ketemu makanan (terutama yang fully fat atau dairy product), saya agak tidak PD untuk masak makanan yang ada di resep-resep itu. Takut dia “uek”, hehe... Nah, untuk kali ini, tidak ada ampun, deh. Saya mau tak mau harus mencoba resep-resep itu dan Chiya mau tak mau dibawakan bekal dengan menu “aneh-aneh”. Yah, kami sama-sama belajar deh! For good.
Oke, sebelum mengintip ke pilihan menunya, saya mau membagi menu ke dalam beberapa variasi. Pertama, menu berat which is nasi dan kawan-kawan. Kedua, menu ringan, seperti bangsa cemil-cemilan. Terakhir, menu yang segar-segar (ternasuk minuman segar, jelly dan puding). Oya, saya di sini tidak ingin memberi resep-resepnya yah. Saya cuma mau membagi bocoran idenya saja. Tapi kalau memang bingung dan need a help, mungkin nanti saya bisa membantu. Nah, now let's take a tour.

MENU BERAT

    NASI GORENG

untuk fillingnya bisa macam-macam, misalnya bakso, sosis, telur, sayuran beku (seperti wortel, jagung pipilan dan kacang polong), smoked beef, dan lain-lain. Beri juga irisan mentimun manis dan tomat agar nasi goreng lebih terasa segar.

    NASI + TUMIS UDANG
udangnya bisa diganti dengan ayam atau fillet ikan. Kalau anak suka pedas, bisa ditambah paprika dan lada bubuk.

    NASI + AYAM TERIYAKI
kata sahabat saya, daging ayam sebaiknya direndam di saus teriyaki selama semalaman. Supaya bumbunya lebih meresap.

    NASI + TEMPURA SEAFOOD
tinggal celupkan ke kocokan telur, lalu balur dengan tepung bumbu sebelum tepung roti. Goreng sampai kecoklatan, angkat dan tiriskan. Bawakan juga saus tomat.

    NASI + FILLET IKAN GORENG
pilih ikan yang dagingnya tebal dan durinya jarang. Misalnya, ikan salmon atau ikan tongkol putih. Kalau mau, bawakan juga sambal kecapnya.

    NASI + OSENG TEMPE
potongan tempenya jangan terlalu besar, ya.

    NASI + ORAK-ARIK TELUR
panaskan margarin, tumis bawang bombay dan bawang putih yang sudah dicacah, lada bubuk dan garam secukupnya, masukkan telur lalu orak-arik. Libatkan anak, mereka pasti suka.

    NASI + NUGGET
bisa diganti dengan nugget Cordon Bleu yang yummy atau varian lain dari nugget. Seperti kaki naga atau nugget seafood yang bentuknya lucu-lucu. Bawakan juga saus tomat atau mayonesnya.

MENU RINGAN

    ROTI PANGGANG
buat saya, roti jadi penolong yang selalu bisa diandalkan ketika morning hectic membuat saya kelimpungan. Tinggal sediakan margarin saja. Toppingnya bisa hanya gula pasir, meses, keju, selai coklat atau selai buah-buahan yang menyegarkan.

    SANDWICH MINI/BURGER
kalau sedang tidak punya burger bun, gunakan roti tawar saja. Rotinya bisa dipanggang dahulu baru diisi filling, atau diisi dulu baru dipanggang sebentar di microwave.

    ANEKA GORENGAN
bocorannya: kulit pangsit goreng dengan beerbagai fiiling, tahu isi bihun, kentang goreng balur bumbu.

    VARIASI COKLAT LELEH
gaya klasik: coklat leleh dalam cup dengan filling kacang mete atau permen jelly atau biskuit mini. Alternatif lain: sate pisang panggang siram kuah coklat. Atau chocolate-strawberry-freeze.

    MUFFIN
kalau yang ini sepertinya semua ibu sudah lulus ujian deh! Muffin yang klasik juga menarik kok,  buat bekal sekolah. Biar menarik, tinggal beri topping saja. Misalnya, parutan keju atau icing sugar. Menyiapkannya harus semalam sebelumnya ya. Biar esok pagi tidak terburu-buru.

MENU SEGAR

    JELLY DAN PUDING
karena sekarang sudah banyak jelly dengan berbagai varian rasa, untuk finishingnya tinggal dicampur berbagai buah potongan saja. Stroberi, leci, atau anggur yang sudah dihilangkan bijinya. Bisa juga membuat jelly susu. Masak jelly seperti biasa. Bedanya, air putihnya diganti dengan larutan susu bubuk dengan jus stroberi.

    JUS BUAH
yang paling simpel adalah air jeruk. Tinggal peras, beri sedikit gula lalu taruh di tempat minum. Kalau bisa, bikin jus tanpa es. Kecuali kalau sekolahnya dekat dan ibu bisa mengantar jus itu right in time saat bel istirahat.
    ES BUAH
sebenarnya sih, lebih tepat kalau dinamakan minuman buah. Sama seperti resep es leci yang pernah saya posting. Bedanya, tidak pakai es. Yang penting sudah sempat bermalam di kulkas atau justru tidak dingin sama sekali. Karena rasanya sudah segar, jadi tidak dingin pun tidak masalah.

    BUAH POTONG
bekal yang satu ini pasti yummy. Berbagai buah potong bercampur di kotak makannya. Biar mirip seperti ----- buah potongnya harus ditemani coklat leleh. Kelemahannya sih, bekal ini harus fresh saat akan dikonsumsi.

Bekal nasi Chiya: nasi, udang tumis bumbu kuning dan sepasang jelly stroberi. Konon habis. Tapi ia hanya mau cemilan untuk bekal berikutnya. Soalnya dia tidak biasa makan nasi di luar jam makannya. Dia itu teraturnya minta ampun. :p


Nah, gimana? Sudah brainstorm belum? Kalau sudah, sekarang tinggal ambil note, catat, dan belanja. Saya juga mau feedback dari para mommy blogger dong... Pasti ada yang punya pengalaman seputar membawa bekal ini. Karena saya masih newcomer, saya juga butuh beberapa suggest biar tidak mati gaya. Oke, thanks for reading! :)
Saya masih semangat membahas tentang first day school theme ini. Serunya gak habis-habis, hehe... Kali ini, saya mau membahas tentang sekolahannya Chiya. TK itu bukan sekolah mahal yang orientasinya global whatsoever. Sekolah itu merupakan sebuah sekolah sederhana jebolan sebuah yayasan Islam lokal di daerah Pondok Betung (Tangerang Selatan). Kami tertarik karena satu kelas hanya diisi 15 orang anak dengan 2 orang guru. Sementara di TK sebelah (yang nyaris jadi TK paling populer sejagad Pondok Betung), satu kelas diisi sekitar 40-an anak dengan dua shift jam masuk. Gile kan? Selain itu, playground space-nya sempit sekali. Bayangkan saja playground di sepetak teras rumah kecil. Dengan kuantitas anak sebanyak itu, saya ndak bisa bayangkan bagaimana nanti Chiya bermain dengan teman-temannya.
 
Pertimbangan lainnya adalah: hari Sabtu libur. Meski, jam pelajarannya jadi lebih panjang dari jam reguler TK lain. Chiya masuk jam 8 (tapi jam tujuh lewat sudah berangkat dan di sana sudah ramai anak-anak) dan pulang jam 11 dengan jeda istirahat sebanyak dua kali. Lumayan lah, buat pembiasaan nanti dia di SD.
Nah, selain itu, ada beberapa rules di sana yang bagi kami bakal membuat habit baru yang lebih baik. Pertama, orang tua tidak diperkenankan menunggui anaknya (minimal dalam jarak dekat). Waktu saya ke sana sih, ada banyak ibu-ibu yang menunggui anak-anaknya di depan teras kelas. Meski sebenarnya tidak boleh, mungkin karena masih dalam masa orientasi (conditioning), maka para ibu-ibu itu dibiarkan menunggu anak-anaknya di sana. Selain itu, semua kegiatan dilakukan di dalam kelas, termauk aktivitas makan saat istirahat. Jadi tidak ada anak yang disuapi atau ditemani makan. Peraturan yang ini tentu saja untuk menumbuhkan kebiasaan mandiri. Dan sepengetahuan kami, hanya Chiya yang tidak ditunggui dari mulai diantar sampai pulang. Waktu diantar sekolah oleh Bude (pengasuhnya), Chiya langsung minta Bude untuk pulang. Sepertinya dia memang ingin mandiri.
 
Kedua, anak-anak wajib membawa bekal dan dilarang membawa segala jenis chiki-chikian, permen dan mie. Yang iniiiiiii, bikin bundanya harus selalu punya ide buat bekalnya supaya tidak membosankan. Harus punya ekstra tenaga, memang. Karena tiap pagi, saya jadi punya agenda tambahan. Selain itu, saya punya bocoran beberapa menu buat bekal sekolah. Memang belum semuanya saya coba, namun bocoran menu ini lumayan buat para ibu-ibu yang takut mati gaya seperti saya. Tunggu di postingan selanjutnya ya...
 
Nah soal bekal ini, selama dua hari pertama, Chiya hanya membawa dua buah bolu kemasan dan susu kotak kemasan kecil. Mungkiiiinnn, sama Ibu Guru dikira bundanya nih ndak ngasih makan anaknya. Atau dikira ndak bisa masak. :( Soalnya, kata Chiya, Bu Gurunya bilang sama dia supaya bawa bekal nasi seperti anak-anak lainnya. Lha, padahal Chiya itu makan nasi kalau waktunya makan saja. Di luar jam makan, dia biasa ngemil-ngemil, tidak biasa makan nasi di luar jam makan. Maka dari itu, saya harus punya banyak ide untuk bawaan bekalnya setiap hari.
 
Ketiga, anak-anak dilarang bawa uang ke sekolah. Kecuali hari Jumat untuk keperluan sedekah. Padahal di hari sebelum Chiya sekolah, kami sudah membawakan sebuah dompet kecil berisi uang dua sampai tiga ribu rupiah. Just in case dia mau jajan di tengah jam sekolahnya. Tetapi ternyata di lingkungan TK itu tidak ada satu pun abang-abang tukang jualan yang beredar menjual jajanan. Kecuali ada satu warung kecil yang agak jauh dari sekolah. Selain itu untuk yang menjemput, kami juga menyiapkan satu dompet lain. Untuk jaga-jaga juga, siapa tahu di jalan ketemu tukang bakso lalu Chiya mau beli. Tapi karena peraturan ini, kami merasa agak safe karena ini bisa mengurangi habit Chiya yang sedikit-seedikit pergi ke warung. Karena, sejak pindah ke Jakarta dan teman-temannya hobi jajan semua, menularlah kebiasaan itu. Dan semoga, sejak sekolah ini, habit jajannya lama-lama hilang. Semoga.
 
Kemudian ada beberapa aktivitas di luar jam sekolah yang kemudian menjadi bahan pertimbangan kami juga dalam mengambil keputusan untuk memilih sekolah ini. Oya, saya lupa memperkenalkan sekolahnya. TK itu namanya Al Qaaf. Basisnya Islam, meski tidak mau disebut sebagai sekolah Islam. Sebab setiap hari murid-muridnya memakai seragam panjang dan berjilbab bagi yang perempuan. Ada latihan shalat dan bersedekah tiap hari Jumat. Ada kegiatan menari dan berenang (meski masih tentatif). Ada juga beberapa komputer berjajar di sana. Selain itu, kata Pak Ustad pemilik yayasan, nantinya akan ada semacam psikotes untuk anak-anak dan orang tua. Tujuannya sih untuk mengetahui arah bakat anak serta bagaimana orang tua menghadapi anaknya dalam mengarahkan anak menuju jalan bakatnya itu. For me, it sounds like a cliché. Tapi who knows, siapa tahu rencana itu memang komitmen mereka. Sebab sebuah hal baik yang membawa perubahan tak harus selalu berangkat dari institusi mahal. Dan saya percaya itu.[]
Well, my lil daughter is getting big. Salah satu parameternya tentu saja: sekolah. Sebuah institusi formal yang bisa membuat seseorang menjadi “dewasa” karena educated. Dan dia, sudah jadi “anak besar Bunda” sejak dua hari yang lalu. Saya sendiri tidak begitu “ngeh” kalau dia benar-benar jadi anak sekolahan sampai hari Minggu kami serumah riweuh menyiapkan perlengkapannya untuk pergi ke sekolah. Haha, engga juga sih... Kalau ditanya, memang perlengkapan sekolahnya apa saja sih? Jawabannya: hmm... apa yaa?? Soalnya, tas sekolah, dia masih punya dua tas baru hadiah ulang tahun dan satu tas yang dipakai untuk belajar tiap hari. Alat tulis seperti pensil warna dan tempat pinsil, juga sudah ada. Lemgkap ada di tas belajarnya itu. Dan semua masih layak pakai. Sepatu, sudah dibelikan jauh-jauh hari dan sudah pernah dipakai. Jadi, tidak bisa dibilang baru juga kan?
 
Entah kenapa, dia begitu bersemangat ketika dia tahu hari Senin besok adalah hari pertamanya bersekolah. Momen itu mengingatkan first day school saya. Kira-kira seminggu sebelumnya, orang tua saya (khususnya ibu) mengajak “belanja” perlengkapan sekolah seperti seragam, buku-buku tulis sampai sepatu. Tapi yah tergantung sih... Ibu saya takkan membelikan saya (dan adik saya) sepatu atau tas baru jika memang punya kami masih layak pakai. Tapi buat saya, momen first day school beserta semangat berangkat sekolah itu begitu berbeda. Meski mungkin hanya naik kelas, bukan pindah sekolah (atau naik grade), tapi hari-hari menjelang first day school pasti membuat saya senang bukan main. Apalagi kalau ada stationery baru. Bisa-bisa saya bawa ke tempat tidur, saya kelonin semalaman (meski itu cuma sepotong penghapus baru atau buku agenda). Dan malam sebelum first day, saya siapkan semuanya. Ya, SEMUANYA. Dari baju dalam, seragam, buku-buku, isi tempat pensil, tas, kaos kaki, sepatu. Pokoknya keesokan paginya saya tinggal mandi dan berdendang dalam hati sambil berangkat ke sekolah. Oh, menyenangkan sekali.
 
Semangat yang sama saya temukan kemarin pada Chiya. Meski yang mempersiapkan semuanya masih kami—orang tuanya—namun rasa bahagia nan berbunga-bunga itu tak bisa ditutupi. Ia selalu bertanya tentang sekolahnya, tentang tempat bermainnya, tentang seragamnya, bernyanyi-nyanyi, mencoba-coba sepatunya berkali-kali, menyimpan gelang dan jepit rambutnya buat dipakai besok, bertanya jam berapa ia harus bangun, dan lain-lain. Dan benar saja, ia sudah membuka mata jam setengah enam lewat dan mengajak mandi. Padahal biasanya baru bangun jam tujuh lalu nonton SpongeBob sambil tidur-tiduran. Soal first day school, Chiya (sejauh ini) tidak termasuk anak yang freak sama sekolah. There's no drama along the day. Tidak ada tangis, tidak ada minta di temani, tidak ada minta pulang. She's so happy. So excited. 
Bundanya juga semangat. Sampai-sampai lupa kalau anak perempuannya ini sekolah di TK Islam. Pakai celana jeans, blus bunga-bunga, rambut dijepit, pakai sepatu, tapi lupa kalau harus pakai baju muslim. Minimal pakai jilbab deh. Haha... Sebut saya sekuler atau apalah. Tapi bener deh, kami semangat sekali. Dan ketika saya menyempatkan untuk mampir ke sana di hari kedua sebelum berangkat kerja, rasanya gimanaaaa gitu! Sama seperti waktu hari Senin di mana anak sekolah seluruh Endonesyia Raya masuk sekolah untuk pertama kalinya (setelah libur panjang). Di pinggir jalan di tiap sekolah yang saya lewati, penuh sesak oleh kendaraan para wali murid (baca: orang tua empunya murid) yang mengantar anaknya masuk sekolah untuk pertama kalinya serta ingin melihat anaknya berdiri dengan gagahnya sambil nyanyi Indonesia Raya. Huh, rada dramatis tapi sungguh, saya jadi agak-agak terharu gimanaaa gitu! Dalam hati saya berteriak: hey, my lil daughter is a big girl now! Selain bahagia, ada satu titik di mana saya merasa bahwa euforia ini merupakan momen di mana saya merasa benar-benar sebagai orang tua. Benar-benar berperan sebagai ibu. Intinya sih,  I think I feel so old by the fact that my girl is grows up and stuff. Bukan perkara tambah tuanya, ya (soalnya saya kan baru 25++++ :p). Tapi lebih pada persoalan bahwa saya merasa benar-benar jadi orang tua.
 
Saya melihat Chiya berlarian, menemui teman-temannya, menaruh tasnya sendiri, membuka sepatu dan menaruhnya di rak sepatu. Gosh, this is such a bless for me. Saya merasa sudah “lulus” grade pertama sebagai orang tua. Level terbawah, sih. Belum apa-apa. Jalan pun masih sangat panjang. Tapi rasanya bangga, bahagia,... campur aduk lah! Apalagi saya berjanji mau membantu suami. Dan alhamdulilah, sejauh ini saya bisa. Meski hanya membantu membelikan sepasang sepatu murah saja. Meski, ada terselip semacam rasa “menyesal” karena saya tidak dapat menemani hari-harinya di sekolah. Tidak bisa mengantar-jemput, pun tak bisa maksimal memasak untuk bekalnya (sstt, soal bekal saya ada bocoran untuk ide bekal anak sekolah lho, tunggu saja ya!). Sebab, ada beberapa ibu yang begitu mengidam-idamkan momen ini seolah-olah ini adalah masa liminal yang tidak akan bisa diputar ulang atau dikembalikan. Dan saya setuju. Bagi saya, masa sekolah adalah titik baru bagi anak dan merupakan jarak kultural bagi orang tua. Keduanya harus saling belajar. Si anak belajar mandiri, sementara orang tua belajar melepas.
 
Look how happy she is...!
Doakan saja ya, Nak. Bunda selalu sehat dan masih mampu bekerja. Selalu sehat dan selalu ingat bersyukur. Supaya masih bisa mendampingimu hingga Bunda lulus grade lapis berikutnya dan lapis-lapis lainnya. Semoga kami bisa. Amien. Bunda love you, honey...[]

Blog Hits

Hello

"Membuat jarak paling intim antara suara hati dan memori adalah dengan menuliskannya pada sebuah tulisan. Dan kamu, sedang menuju ke tempat milikku."

Enjoy reading.

Popular Posts

Followers