- sepetak ruang kecil untuk menjadi diri sendiri -

, ,

Life as a journey

Saya baru saja menempuh sebuah perjalanan panjang tempo hari. Perjalanan yang hampir separuh lebih umat muslim Indonesia ikut melakukannya. Mudik. Ritual pulang ke rumah dan membawa nostalgia masa lalu. Tapi bukan itu yang mau saya bahas, yang ingin saya bicarakan adalah esensi perjalanannya.

Entah, kadang saya begitu merindukan sebuah perjalanan. Kinda miss a very long trip or just a short vacation. Tapi yang saya rindukan justru perjalanannya, bukan tujuannya. Jadi, seandainya saya akan melakukan sebuah perjalanan untuk berlibur, bagi saya hal yang paling menarik justru bagian perjalanannya, bukan saat sampai tujuan dan liburannya. Entah kenapa, saya begitu menikmati duduk di pinggir jendela dan melamun. Mengamati kehidupan di luar sana. Menikmati posisi saya sebagai penonton semesta ini.

Ada tempat-tempat yang saya sukai ketika saya berada di pinggir jendela. Misalnya, pasar. Bagi saya pasar di sebuah kota kecil merupakan jantung perekonomian. Meski bukan mall dan hanya beberapa gedung toko serba ada (Toserba), saya senang melihat bagaimana kehidupan di sana bergerak dan melaju. Menyaksikan orang-orang berdesakan mencari baju lebaran, menyaksikan orang berpanas-panasan, dan menyaksikan bagaimana jumlah motor matik semakin banyak dan mendominasi.

Sesederhana itu. Namun, ada hal lain yang kemudian memantik saya ketika saya melamun di pinggir jendela: melakukan kontemplasi diri. Berrefleksi pada bayangan diri selama ini. Melakukan koreksi atas rancangan mimpi-mimpi. Saya bisa menghabiskan waktu selama perjalanan itu untuk kemudian membongkar-pasang kembali rencana-rencana selama ini. Dan selama itu pula, saya mencatat apa saja yang saya dapat dari hasil “melamun”itu.

Sewaktu saya masih kuliah dan kerap bolak-balik Jogja-Jakarta-Jogja, saya sering mendapat “inspirasi” ketika dalam perjalanan pergi atau pulang. Biasanya sih, inspirasi sudah mulai membayang ketika perjalanan berangkat. Dan semakin mewujud rancangannya ketika sampai tujuan. Jadi, kadang rasanya ingin cepat-cepat pulang karena tak sabar ingin mewujudkan mimpi :D

Saya akhirnya mendapatkan sebuah metafora bahwa hidup itu bagaikan sebuah perjalanan. Entah itu perjalanan mudik atau sekedar perjalanan rutin dari rumah ke kantor. Kadang pasti ada saja hambatan dalam sebuah perjalanan (hidup). Entah itu macet, jalan rusak, tersesat, atau mobil mogok. Kita bisa saja membuat target atas dasar estimasi waktu yang biasa ditempuh, namun yang ada diluar jangkauan kita adalah hal-hal yang menjadi hambatan tadi. Bisa jadi waktu tempuh kita jadi semakin molor atau bahkan tujuan kita jadi berubah. Ambil contoh dari pengalaman saya. Awalnya kami mengestimasikan waktu tempuh Jogja-Jakarta sekitar 12 jam. Siapa yang bisa menyangka, meski kami sudah menghindari macet dengan memilih jalur selatan (Bandung), kami akhirnya sampai Jakarta selama 28 jam!

Tujuan dalam hidup itu niscaya. Namun merancang back up plan juga merupakan hal yang perlu dilakukan sebab kita takkan pernah mau kehilangan mimpi hanya karena bertemu satu-dua hambatan. Back up plan juga sebagai alternatif menuju mimpi. Mungkin, kita tak harus mencapai mimpi melalui cara atau jalan utama. Jalan alternatif juga bisa ditempuh walau dengan kondisi dan jarak tempuh yang berbeda dengan yang utama.

Overall, the point is: you had to have a dream, a destiny where you will go. No matter what. Kasarnya, gaji itu hak, bekerja itu tanggung jawab dan apa yang bernama aktualisasi diri is what drives you most to life. Aktualisasi diri tidak melulu tentang bekerja kantoran. Jangan sampai hidup hanya diisi rutinitas robotik yang menjemukan. Jangan sampai aktivitas konsumtif mendominasi sehari-hari. Berdayakan diri, buat diri sendiri mandiri. Ubah tujuan yang sifatnya materi sebagai reward atas sebuah pencapaian diri. 

Life is like a journey. You have to know where is your destiny, now just mapping the way you go there.

Have a nice trip, everyone![]



[Mau resep yang lain? Sila cek Cookpad saya, ya.]

Here we go!! This is my favorite part. Dulu, waktu masih full time mom saya amat mendambakan momen di mana saya harus memasak dan menyiapkan bekal untuk sekolah Chiya. Juga momen mengantar-jemput. (Kecuali rumpi sama ibu-ibu yaaa... Itu pengecualian.) Dulu, selama Chiya belum sekolah (sementara semangat ini menggebu-gebu), saya senang mengumpulkan buku-buku resep khusus cemilan untuk anak-anak atau resep-resep bekal sekolah. Sampai sekarang, ada sekitar 4 atau 5 buku resep. Dan saya sukaaa sekali! Suka bolak-balik bukunya, bukan masaknya, hahaha! Sebab, kalau mengamati perangai Chiya yang kerap “uek” kalau ketemu makanan (terutama yang fully fat atau dairy product), saya agak tidak PD untuk masak makanan yang ada di resep-resep itu. Takut dia “uek”, hehe... Nah, untuk kali ini, tidak ada ampun, deh. Saya mau tak mau harus mencoba resep-resep itu dan Chiya mau tak mau dibawakan bekal dengan menu “aneh-aneh”. Yah, kami sama-sama belajar deh! For good.
Oke, sebelum mengintip ke pilihan menunya, saya mau membagi menu ke dalam beberapa variasi. Pertama, menu berat which is nasi dan kawan-kawan. Kedua, menu ringan, seperti bangsa cemil-cemilan. Terakhir, menu yang segar-segar (ternasuk minuman segar, jelly dan puding). Oya, saya di sini tidak ingin memberi resep-resepnya yah. Saya cuma mau membagi bocoran idenya saja. Tapi kalau memang bingung dan need a help, mungkin nanti saya bisa membantu. Nah, now let's take a tour.

MENU BERAT

    NASI GORENG

untuk fillingnya bisa macam-macam, misalnya bakso, sosis, telur, sayuran beku (seperti wortel, jagung pipilan dan kacang polong), smoked beef, dan lain-lain. Beri juga irisan mentimun manis dan tomat agar nasi goreng lebih terasa segar.

    NASI + TUMIS UDANG
udangnya bisa diganti dengan ayam atau fillet ikan. Kalau anak suka pedas, bisa ditambah paprika dan lada bubuk.

    NASI + AYAM TERIYAKI
kata sahabat saya, daging ayam sebaiknya direndam di saus teriyaki selama semalaman. Supaya bumbunya lebih meresap.

    NASI + TEMPURA SEAFOOD
tinggal celupkan ke kocokan telur, lalu balur dengan tepung bumbu sebelum tepung roti. Goreng sampai kecoklatan, angkat dan tiriskan. Bawakan juga saus tomat.

    NASI + FILLET IKAN GORENG
pilih ikan yang dagingnya tebal dan durinya jarang. Misalnya, ikan salmon atau ikan tongkol putih. Kalau mau, bawakan juga sambal kecapnya.

    NASI + OSENG TEMPE
potongan tempenya jangan terlalu besar, ya.

    NASI + ORAK-ARIK TELUR
panaskan margarin, tumis bawang bombay dan bawang putih yang sudah dicacah, lada bubuk dan garam secukupnya, masukkan telur lalu orak-arik. Libatkan anak, mereka pasti suka.

    NASI + NUGGET
bisa diganti dengan nugget Cordon Bleu yang yummy atau varian lain dari nugget. Seperti kaki naga atau nugget seafood yang bentuknya lucu-lucu. Bawakan juga saus tomat atau mayonesnya.

MENU RINGAN

    ROTI PANGGANG
buat saya, roti jadi penolong yang selalu bisa diandalkan ketika morning hectic membuat saya kelimpungan. Tinggal sediakan margarin saja. Toppingnya bisa hanya gula pasir, meses, keju, selai coklat atau selai buah-buahan yang menyegarkan.

    SANDWICH MINI/BURGER
kalau sedang tidak punya burger bun, gunakan roti tawar saja. Rotinya bisa dipanggang dahulu baru diisi filling, atau diisi dulu baru dipanggang sebentar di microwave.

    ANEKA GORENGAN
bocorannya: kulit pangsit goreng dengan beerbagai fiiling, tahu isi bihun, kentang goreng balur bumbu.

    VARIASI COKLAT LELEH
gaya klasik: coklat leleh dalam cup dengan filling kacang mete atau permen jelly atau biskuit mini. Alternatif lain: sate pisang panggang siram kuah coklat. Atau chocolate-strawberry-freeze.

    MUFFIN
kalau yang ini sepertinya semua ibu sudah lulus ujian deh! Muffin yang klasik juga menarik kok,  buat bekal sekolah. Biar menarik, tinggal beri topping saja. Misalnya, parutan keju atau icing sugar. Menyiapkannya harus semalam sebelumnya ya. Biar esok pagi tidak terburu-buru.

MENU SEGAR

    JELLY DAN PUDING
karena sekarang sudah banyak jelly dengan berbagai varian rasa, untuk finishingnya tinggal dicampur berbagai buah potongan saja. Stroberi, leci, atau anggur yang sudah dihilangkan bijinya. Bisa juga membuat jelly susu. Masak jelly seperti biasa. Bedanya, air putihnya diganti dengan larutan susu bubuk dengan jus stroberi.

    JUS BUAH
yang paling simpel adalah air jeruk. Tinggal peras, beri sedikit gula lalu taruh di tempat minum. Kalau bisa, bikin jus tanpa es. Kecuali kalau sekolahnya dekat dan ibu bisa mengantar jus itu right in time saat bel istirahat.
    ES BUAH
sebenarnya sih, lebih tepat kalau dinamakan minuman buah. Sama seperti resep es leci yang pernah saya posting. Bedanya, tidak pakai es. Yang penting sudah sempat bermalam di kulkas atau justru tidak dingin sama sekali. Karena rasanya sudah segar, jadi tidak dingin pun tidak masalah.

    BUAH POTONG
bekal yang satu ini pasti yummy. Berbagai buah potong bercampur di kotak makannya. Biar mirip seperti ----- buah potongnya harus ditemani coklat leleh. Kelemahannya sih, bekal ini harus fresh saat akan dikonsumsi.

Bekal nasi Chiya: nasi, udang tumis bumbu kuning dan sepasang jelly stroberi. Konon habis. Tapi ia hanya mau cemilan untuk bekal berikutnya. Soalnya dia tidak biasa makan nasi di luar jam makannya. Dia itu teraturnya minta ampun. :p


Nah, gimana? Sudah brainstorm belum? Kalau sudah, sekarang tinggal ambil note, catat, dan belanja. Saya juga mau feedback dari para mommy blogger dong... Pasti ada yang punya pengalaman seputar membawa bekal ini. Karena saya masih newcomer, saya juga butuh beberapa suggest biar tidak mati gaya. Oke, thanks for reading! :)
Saya masih semangat membahas tentang first day school theme ini. Serunya gak habis-habis, hehe... Kali ini, saya mau membahas tentang sekolahannya Chiya. TK itu bukan sekolah mahal yang orientasinya global whatsoever. Sekolah itu merupakan sebuah sekolah sederhana jebolan sebuah yayasan Islam lokal di daerah Pondok Betung (Tangerang Selatan). Kami tertarik karena satu kelas hanya diisi 15 orang anak dengan 2 orang guru. Sementara di TK sebelah (yang nyaris jadi TK paling populer sejagad Pondok Betung), satu kelas diisi sekitar 40-an anak dengan dua shift jam masuk. Gile kan? Selain itu, playground space-nya sempit sekali. Bayangkan saja playground di sepetak teras rumah kecil. Dengan kuantitas anak sebanyak itu, saya ndak bisa bayangkan bagaimana nanti Chiya bermain dengan teman-temannya.
 
Pertimbangan lainnya adalah: hari Sabtu libur. Meski, jam pelajarannya jadi lebih panjang dari jam reguler TK lain. Chiya masuk jam 8 (tapi jam tujuh lewat sudah berangkat dan di sana sudah ramai anak-anak) dan pulang jam 11 dengan jeda istirahat sebanyak dua kali. Lumayan lah, buat pembiasaan nanti dia di SD.
Nah, selain itu, ada beberapa rules di sana yang bagi kami bakal membuat habit baru yang lebih baik. Pertama, orang tua tidak diperkenankan menunggui anaknya (minimal dalam jarak dekat). Waktu saya ke sana sih, ada banyak ibu-ibu yang menunggui anak-anaknya di depan teras kelas. Meski sebenarnya tidak boleh, mungkin karena masih dalam masa orientasi (conditioning), maka para ibu-ibu itu dibiarkan menunggu anak-anaknya di sana. Selain itu, semua kegiatan dilakukan di dalam kelas, termauk aktivitas makan saat istirahat. Jadi tidak ada anak yang disuapi atau ditemani makan. Peraturan yang ini tentu saja untuk menumbuhkan kebiasaan mandiri. Dan sepengetahuan kami, hanya Chiya yang tidak ditunggui dari mulai diantar sampai pulang. Waktu diantar sekolah oleh Bude (pengasuhnya), Chiya langsung minta Bude untuk pulang. Sepertinya dia memang ingin mandiri.
 
Kedua, anak-anak wajib membawa bekal dan dilarang membawa segala jenis chiki-chikian, permen dan mie. Yang iniiiiiii, bikin bundanya harus selalu punya ide buat bekalnya supaya tidak membosankan. Harus punya ekstra tenaga, memang. Karena tiap pagi, saya jadi punya agenda tambahan. Selain itu, saya punya bocoran beberapa menu buat bekal sekolah. Memang belum semuanya saya coba, namun bocoran menu ini lumayan buat para ibu-ibu yang takut mati gaya seperti saya. Tunggu di postingan selanjutnya ya...
 
Nah soal bekal ini, selama dua hari pertama, Chiya hanya membawa dua buah bolu kemasan dan susu kotak kemasan kecil. Mungkiiiinnn, sama Ibu Guru dikira bundanya nih ndak ngasih makan anaknya. Atau dikira ndak bisa masak. :( Soalnya, kata Chiya, Bu Gurunya bilang sama dia supaya bawa bekal nasi seperti anak-anak lainnya. Lha, padahal Chiya itu makan nasi kalau waktunya makan saja. Di luar jam makan, dia biasa ngemil-ngemil, tidak biasa makan nasi di luar jam makan. Maka dari itu, saya harus punya banyak ide untuk bawaan bekalnya setiap hari.
 
Ketiga, anak-anak dilarang bawa uang ke sekolah. Kecuali hari Jumat untuk keperluan sedekah. Padahal di hari sebelum Chiya sekolah, kami sudah membawakan sebuah dompet kecil berisi uang dua sampai tiga ribu rupiah. Just in case dia mau jajan di tengah jam sekolahnya. Tetapi ternyata di lingkungan TK itu tidak ada satu pun abang-abang tukang jualan yang beredar menjual jajanan. Kecuali ada satu warung kecil yang agak jauh dari sekolah. Selain itu untuk yang menjemput, kami juga menyiapkan satu dompet lain. Untuk jaga-jaga juga, siapa tahu di jalan ketemu tukang bakso lalu Chiya mau beli. Tapi karena peraturan ini, kami merasa agak safe karena ini bisa mengurangi habit Chiya yang sedikit-seedikit pergi ke warung. Karena, sejak pindah ke Jakarta dan teman-temannya hobi jajan semua, menularlah kebiasaan itu. Dan semoga, sejak sekolah ini, habit jajannya lama-lama hilang. Semoga.
 
Kemudian ada beberapa aktivitas di luar jam sekolah yang kemudian menjadi bahan pertimbangan kami juga dalam mengambil keputusan untuk memilih sekolah ini. Oya, saya lupa memperkenalkan sekolahnya. TK itu namanya Al Qaaf. Basisnya Islam, meski tidak mau disebut sebagai sekolah Islam. Sebab setiap hari murid-muridnya memakai seragam panjang dan berjilbab bagi yang perempuan. Ada latihan shalat dan bersedekah tiap hari Jumat. Ada kegiatan menari dan berenang (meski masih tentatif). Ada juga beberapa komputer berjajar di sana. Selain itu, kata Pak Ustad pemilik yayasan, nantinya akan ada semacam psikotes untuk anak-anak dan orang tua. Tujuannya sih untuk mengetahui arah bakat anak serta bagaimana orang tua menghadapi anaknya dalam mengarahkan anak menuju jalan bakatnya itu. For me, it sounds like a cliché. Tapi who knows, siapa tahu rencana itu memang komitmen mereka. Sebab sebuah hal baik yang membawa perubahan tak harus selalu berangkat dari institusi mahal. Dan saya percaya itu.[]
Well, my lil daughter is getting big. Salah satu parameternya tentu saja: sekolah. Sebuah institusi formal yang bisa membuat seseorang menjadi “dewasa” karena educated. Dan dia, sudah jadi “anak besar Bunda” sejak dua hari yang lalu. Saya sendiri tidak begitu “ngeh” kalau dia benar-benar jadi anak sekolahan sampai hari Minggu kami serumah riweuh menyiapkan perlengkapannya untuk pergi ke sekolah. Haha, engga juga sih... Kalau ditanya, memang perlengkapan sekolahnya apa saja sih? Jawabannya: hmm... apa yaa?? Soalnya, tas sekolah, dia masih punya dua tas baru hadiah ulang tahun dan satu tas yang dipakai untuk belajar tiap hari. Alat tulis seperti pensil warna dan tempat pinsil, juga sudah ada. Lemgkap ada di tas belajarnya itu. Dan semua masih layak pakai. Sepatu, sudah dibelikan jauh-jauh hari dan sudah pernah dipakai. Jadi, tidak bisa dibilang baru juga kan?
 
Entah kenapa, dia begitu bersemangat ketika dia tahu hari Senin besok adalah hari pertamanya bersekolah. Momen itu mengingatkan first day school saya. Kira-kira seminggu sebelumnya, orang tua saya (khususnya ibu) mengajak “belanja” perlengkapan sekolah seperti seragam, buku-buku tulis sampai sepatu. Tapi yah tergantung sih... Ibu saya takkan membelikan saya (dan adik saya) sepatu atau tas baru jika memang punya kami masih layak pakai. Tapi buat saya, momen first day school beserta semangat berangkat sekolah itu begitu berbeda. Meski mungkin hanya naik kelas, bukan pindah sekolah (atau naik grade), tapi hari-hari menjelang first day school pasti membuat saya senang bukan main. Apalagi kalau ada stationery baru. Bisa-bisa saya bawa ke tempat tidur, saya kelonin semalaman (meski itu cuma sepotong penghapus baru atau buku agenda). Dan malam sebelum first day, saya siapkan semuanya. Ya, SEMUANYA. Dari baju dalam, seragam, buku-buku, isi tempat pensil, tas, kaos kaki, sepatu. Pokoknya keesokan paginya saya tinggal mandi dan berdendang dalam hati sambil berangkat ke sekolah. Oh, menyenangkan sekali.
 
Semangat yang sama saya temukan kemarin pada Chiya. Meski yang mempersiapkan semuanya masih kami—orang tuanya—namun rasa bahagia nan berbunga-bunga itu tak bisa ditutupi. Ia selalu bertanya tentang sekolahnya, tentang tempat bermainnya, tentang seragamnya, bernyanyi-nyanyi, mencoba-coba sepatunya berkali-kali, menyimpan gelang dan jepit rambutnya buat dipakai besok, bertanya jam berapa ia harus bangun, dan lain-lain. Dan benar saja, ia sudah membuka mata jam setengah enam lewat dan mengajak mandi. Padahal biasanya baru bangun jam tujuh lalu nonton SpongeBob sambil tidur-tiduran. Soal first day school, Chiya (sejauh ini) tidak termasuk anak yang freak sama sekolah. There's no drama along the day. Tidak ada tangis, tidak ada minta di temani, tidak ada minta pulang. She's so happy. So excited. 
Bundanya juga semangat. Sampai-sampai lupa kalau anak perempuannya ini sekolah di TK Islam. Pakai celana jeans, blus bunga-bunga, rambut dijepit, pakai sepatu, tapi lupa kalau harus pakai baju muslim. Minimal pakai jilbab deh. Haha... Sebut saya sekuler atau apalah. Tapi bener deh, kami semangat sekali. Dan ketika saya menyempatkan untuk mampir ke sana di hari kedua sebelum berangkat kerja, rasanya gimanaaaa gitu! Sama seperti waktu hari Senin di mana anak sekolah seluruh Endonesyia Raya masuk sekolah untuk pertama kalinya (setelah libur panjang). Di pinggir jalan di tiap sekolah yang saya lewati, penuh sesak oleh kendaraan para wali murid (baca: orang tua empunya murid) yang mengantar anaknya masuk sekolah untuk pertama kalinya serta ingin melihat anaknya berdiri dengan gagahnya sambil nyanyi Indonesia Raya. Huh, rada dramatis tapi sungguh, saya jadi agak-agak terharu gimanaaa gitu! Dalam hati saya berteriak: hey, my lil daughter is a big girl now! Selain bahagia, ada satu titik di mana saya merasa bahwa euforia ini merupakan momen di mana saya merasa benar-benar sebagai orang tua. Benar-benar berperan sebagai ibu. Intinya sih,  I think I feel so old by the fact that my girl is grows up and stuff. Bukan perkara tambah tuanya, ya (soalnya saya kan baru 25++++ :p). Tapi lebih pada persoalan bahwa saya merasa benar-benar jadi orang tua.
 
Saya melihat Chiya berlarian, menemui teman-temannya, menaruh tasnya sendiri, membuka sepatu dan menaruhnya di rak sepatu. Gosh, this is such a bless for me. Saya merasa sudah “lulus” grade pertama sebagai orang tua. Level terbawah, sih. Belum apa-apa. Jalan pun masih sangat panjang. Tapi rasanya bangga, bahagia,... campur aduk lah! Apalagi saya berjanji mau membantu suami. Dan alhamdulilah, sejauh ini saya bisa. Meski hanya membantu membelikan sepasang sepatu murah saja. Meski, ada terselip semacam rasa “menyesal” karena saya tidak dapat menemani hari-harinya di sekolah. Tidak bisa mengantar-jemput, pun tak bisa maksimal memasak untuk bekalnya (sstt, soal bekal saya ada bocoran untuk ide bekal anak sekolah lho, tunggu saja ya!). Sebab, ada beberapa ibu yang begitu mengidam-idamkan momen ini seolah-olah ini adalah masa liminal yang tidak akan bisa diputar ulang atau dikembalikan. Dan saya setuju. Bagi saya, masa sekolah adalah titik baru bagi anak dan merupakan jarak kultural bagi orang tua. Keduanya harus saling belajar. Si anak belajar mandiri, sementara orang tua belajar melepas.
 
Look how happy she is...!
Doakan saja ya, Nak. Bunda selalu sehat dan masih mampu bekerja. Selalu sehat dan selalu ingat bersyukur. Supaya masih bisa mendampingimu hingga Bunda lulus grade lapis berikutnya dan lapis-lapis lainnya. Semoga kami bisa. Amien. Bunda love you, honey...[]

,

Untitled

Awalnya, karena saya jengkel. Jengkel dengan negeri ini. Negeri yang sesak oleh orang-orang. Orang-orang yang tipikal.

Kenapa orang-orang yang tinggal di jalan gang sempit itu bisa santai dengan knalpot motornya yang bising? Kenapa mereka santai bikin judgment tentang keimanan seseorang—sementara dalam undang-undang sudah jelas-jelas tertera bahwa memiliki agama atau kepercayaan adalah bagian dari hak asasi manusia? Klimaksnya, kenapa mereka bisa mencintai dan freak dengan gadget sementara fase literer tidak pernah mereka lewati? This is a very big mark question. There’s a missing link.
 
Saya tidak dibesarkan dalam lingkup kultural yang membuat saya sadar betapa pentingnya “melek membaca” sejak dini. Saya mencintai aktivitas ini dengan begitu saja. Ketika BOBO adalah “surga”bagi saya. Ketika komik jepang dan majalah remaja begitu membius saya. Namun saya tak pernah belajar bahwa aktivitas ini merupakan fase yang harus dialami tiap manusia beradab. Jika memang ia ingin menjadi beradab. Berada dalam sebuah peradaban. Saya belajar ini ketika saya di Jogja. Ketika saya ada dalam sebuah lingkungan belajar mandiri yang aura intelektualnya begitu deras. Tidak, ini bukan kalimat lain yang ingin mennyatakan bahwa saya cerdas atau intelek. Tidak sama sekali.
 
Maksud saya, saya di sana belajar bahwa ada hal yang sangat krusial dalam membangun sebuah peradaban. Membaca—dan katakanlah menulis adalah hal berikutnya. Bahwa ada fase lisan, fase literer dan kemudian fase teknologi. Dan ketika saya “menetas”dari Jogja, ternyata tidak semua orang seperti saya. Seperti teman-teman seperjuangan saya.
Ternyata banyak orang merasa buku layaknya obat tidur bagi mereka.

Ya ampun. Betapa jarak kultural di antara kami—saya dan orang-orang ini—terbentang sedemikian panjangnya. Called me a bookworm, or whatsoever you called us. Saya tidak peduli. Tetapi saya sangat peduli pada kenyataan bahwa mereka adalah bagian dari generasi negeri ini yang kelak—semoga—bisa memperbaiki atau syukur-syukur membuat perubahan. Dan saya lebih peduli pada mereka, kaum perempuan yang akan menjadi ”agent of change” pada unit sosialisasi terkecil: keluarga.
 
How could you teach your children to be happy to read, if you couldn’t be a role model for them?
 
Ada mindset yang harus diubah. That read brings them so many benefit. A very long term benefit. You can show your children about respect to each other. About seeing through their heart, not what on the surface. Teach them to care, to help, and growing emphatic side. Then you’re about give them a life lesson. Moreover, they will realize that bullying is not a genetic nor a ordinarily kiddos behaviour.
 
Sebab itu saya bermimpi tentang Teras Bunda. Mimpi yang masih sebuah mimpi. Namun mimpi itu berangkat dari sebuah kegelisahan sekaligus kritikan. Meski saya sendirii sempat tidak yakin: apakah benar para ibu-ibu ini HANYA memerlukan fasilitas saja? Sebab sepertinya mereka bukan hanya butuh buku atau majalah untuk dibaca, melainkan juga butuh penggugah agar persepsi mengenai buku tidak lagi bagaikan obat tidur bagi mereka. Walaupun, berbicara mengenai mindset berarti juga kita sedang membahas soal generasi sebelum kita atau: orang tua. Bagaimana mereka sejauh ini mendidik kita. Bagaimana mereka membangun karakter dan kehidupan kanak-kanak kita. Meski begitu, sebenarnya masa lalu kita juga tidak hanya berada di tangan orang tua saja, tetapi juga pada institusi pendidikan: guru pada posisi agen, dan pemerintah pada posisi institusi.
 
Coba ingat-ingat bagaimana dulu kita bersekolah. Kita, yang hampir dua belas tahun wajib belajar dihabiskan pada masa orde baru yang otoriter. Masa wajib bersekolah yang  hanya mmebuat kita mahir menunduk dan terdiam. Membuat kita menelan bulat-bulat apa yang disampaikan guru. Membuat kita hanya bisa berkutat pada ruang kelas yang senyap. Dan tentu saja buku pelajaran wajib.
 
Saya pun demikian. Ruang kelas tidak pernah mengajari saya belajar berani berbicara di depan orang banyak. Orang tua pun tidak pernah mengajari saya untuk berargumen sesuai apa yang saya yakini—bukankah mereka hanya mengenal bahwa berargumen adalah membantah?. Tidak pernah ada eksplorasi cara belajar. Apalagi yang bisa dilakukan?
Bagi saya, apa yang saya—berikut individu lain dalam generasi saya—alami haruslah diubah. Menjadi orang tua tidaklah harus otoriter, tidak juga permisif. Saya yakin, apa yang diterapkan sebuah keluarga dalam cara atau pola pengasuhannya adalah cara terbaik yang mereka pilih. Berdasarkan masa lalu atau tidak. Sebab itu, saya pun enggan menyatakan bahwa apa yang saya ketahui adalah yang terbaik—sehingga apa yang ada pada keluarga lain menjadi tidak penting. Bukan.
 
Jika memang ini mau disamakan dengan sebuah kampanye sosial, maka dengan senang hati saya menyatakan bahwa saya setuju absolut jika buku dan sastra adalah indikator peradaban sebuah bangsa (mengutip kalimat sebuah harian nasional belakangan ini).

all about birthday presents...

Suka merasa bingung, waktu mau ngasih kado buat anak tetangga, anak temen kantor, atau teman sekolah anak? Saya sering. Dan kemarin waktu ke iseng-iseng ke toko buku, saya dapat tulisan soal hadiah ulang tahun sesuai usia anak. Tapi ternyata isinya standar, hehe... Di sini saya hanya ingin berbagi all about gift stuff yang saya dapat dari pengalaman saya memberi kado juga pengalaman Chiya waktu dapat kado ulang tahun. Semoga cukup komplit dan membantu yaa...
Kadang, kita bingung dengan dua jenis hadiah: yang seperti souvenir atau yang useful ya? Kalaupun hadiah tanda mata, yang seperti apa? Kalau yang useful, juga seperti apa? Yang lebih membingungkan adalah persoalan budget (iya kan, mommies?). Ingin memberi yang bagus, tapi kok mahal? Padahal kita ingin memberi hadiah yang kesannya istimewa.

Pentingnya hunting
Jika ingin memberi sesuatu yang spesial, ada baiknya spare time untuk hunting hadiah. Siapa tahu, dapat yang bagus namun tidak terlalu mahal. Siasatnya? Mengingat hari ulang tahun. Sederhana ya? Tetapi itulah kunci utamanya. Kalau sudah ingat kapan ulang tahunnya, tinggal dipikirkan hadiahnya, siapkan budgetnya, lalu hunting barangnya. Dan tentu saja, kalau bisa dilakukan jauh-jauh hari yaa...
Namun sebetulnya kalau sudah mepet hari H dan tidak sempat memikirkan soal hadiah, kita bisa kapan saja mencari hadiah, asal sudah punya tempat atau toko “incaran”. Hunting hadiah tidak harus ke mall, tidak wajib online, dan tidak mesti jauh-jauh kok. Coba deh, kalau sempat, jalan-jalan keliling wilayah sekitar tempat tinggal. Atau misalnya waktu pulang kantor, atau pulang dari rumah sepupu. Kalau ada toko kecil, supermarket atau minimarket, coba mampir dan lihat-lihat: kira-kira benda apa saja yang mereka jual dan layak buat hadiah. Tak harus didapat di satu tempat. Kita bisa mencari di beberapa tempat. Namanya juga hunting, berburu itu harus seperti petualangan kan?

Baby (Nu-born sampai 1 tahun)
Hadiah untuk nu-born biasanya adalah kado formalitas sebagai “tanda mata” atas selebrasi datangnya si bayi dalam sebuah keluarga. Untuk hadiah bagi bayi baru lahir sebenarnya tidak harus selalu ditujukan untuk sang bayi. Kita juga bisa memilih beberapa benda yang dapat digunakan bagi sang nu-mom. Sekarang kan sudah banyak produk khusus nu-mom yang berupa package, itu bisa dijadikan pilihan. Biasanya, produk-produk khusus itu berisi krim untuk strech mark, lotion, dan lain-lain. Kalau mau variasi, kita bisa mencari perlengkapan menyusui seperti rompi untuk menuyusui, breast pump, atau barang-barang kesukaan si ibu untuk mengisi me-timenya. Sementara kalau ada waktu dan ingin hadiah yang sedikit personal, kita bisa membuatkan baju untuk si bayi, selimutnya, atau sebuah personal planner, baby-scrapbook, dan lain-lain. Apabila ingin yang useful, kita bisa memilihkan barang yang bisa digunakan bayi sampai ia berusia hampir satu tahun. Misalnya, teether, pre-walker shoes, perlengkapan makan (mangkuk sampai serbet), atau soft book.

Batita (1-3 tahun)

Sebetulnya untuk memberikan hadiah untuk bayi, kita bisa menyesuaikan dengan usia dan jenis kelamin si bayi. Kalau yang sesuai usia, kita bisa cari barang-barang seperti perlengkapan mandi (babies-first toothbrush, sabun cair, sampo,dan lain-lain). Sementara untuk yang sesuai jenis kelamin, ada pilihan baju atau mainan. Kalau mau cari mainan yang unisex, cari mainan musikal seperti xylophone. Atau sesuai kebutuhan dan kebiasaan si bayi, misalnya si bayi terbiasa dibawa ke kantor oleh orang tuanya, kita bisa memberikan perlengkapan on the road seperti bantal atau tas popok. Contoh lain, kalau si bayi biasa diajak berenang, perlengkapan berenang bisa jadi pilihan (swin suit, kacamata, baby sunblock, atau kimono). Berbagai perlengkapan pengenalan huruf dan angka juga sudah bisa diberikan pada anak di usia ini. Apalagi jika lingkungan keluarganya memang sudah mulai mengenalkan buku sedini mungkin pada anak mereka.

Balita (3-5 tahun)
Bagi si balita yang sudah mulai masuk sekolah (atau hanya full day school), barang-barang seperti fancy lunchbox atau water bottle bisa jadi pilihan yang useful. Atau bisa juga memilih tas boneka yang karakternya disukai si anak. Barang-barang ini akan terpakai dan membuat si anak bersemangat untuk berangkat ke sekolah. Selain itu, sama seperti di atas, buku anak-anak dapat juga dijadikan pilihan kado. Untuk usia ini, buku cerita atau buku dongeng mulai bisa jadi pilihan juga. Kalau mau yang agak lucu dan unik, pilihan seperti pop-up books atau buku-buku aktivitas lainnya akan menambah kegembiraan the birthday kid.

Usia sekolah (antara 4-6 tahun)
Untuk anak-anak usia sekolah (Pre-school atau TK), mungkin hadiah kebutuhan sekolah sudah biasa. Namun, bukan berarti perlengkapan sekolah tidak bisa diberikan sebagai hadiah. Kita bisa mencari alternatif barang-barang yang useful namun tetap diminati anak-anak itu. Misalnya alat tulis dengan boneka di atasnya atau paket alat-alat tulis lengkap. Selain itu, kita bisa juga mencari hadiah yang sesuai dengan aktivitas ekstrakurikuler di sekolahnya yang juga menjadi kegemarannya, seperti berenang atau melukis. Pilihan VCD atau DVD film anak-anak juga bisa menjadi alternatif lain. Mengingat mereka sudah mulai bisa menikmati durasi film yang relatif panjang. Tinggal browsing tentang info film-film anak, lalu search atau hunting barangnya. Ingat, tak perlu film komersil lho, pilihan film dokumenter anak juga bisa sebagai pilihan baik. Oya, jangan pernah memberi hadiah game seperti PSP atau pendukungnya. Pertama, orang tua si anak belum tentu suka kalau anaknya memiliki game player (apapun bentuknya), meski mungkin mereka sanggup untuk membelikan. Kedua, bukankah memberi fasilitas bermain secara personal seperti memberi kunci kebebasan bagi mereka? Efek buruk (kecanduan game) jangka panjangnya mengerikan lhoo...

The wrapped thing...
Nah, sudah dapat barang untuk kadonya? So now the gift-wrapped take turns. Tampilan gift-wrapped kadang membuat sebuah hadiah atau kado jadi terkesan begitu istimewa. Tak peduli apa isinya. Apalagi buat anak-anak. Mendapat hadiah dengan tampilan yang menggemaskan akan membuat mereka senang bukan main.
Ada beberapa cara untuk membungkus kado, namun sebagai awalan, seperti bagus juga apabila barang yang akan dibungkus, dihias terlebih dahulu. Misalnya buku, yang dililit dan diikat dengan pita fancy (pita warna-warni/pita dengan motif karakter/pita berglitter). Atau misalnya baju yang dimasukkan gift box, dihias dengan potongan kertas warna-warni (jangan banyak-banyak, nanti malah seperti sampah :)) dan ditutup dengan kertas roti/kertas hias.
Nah, beberapa pilihan membungkus kado antara lain:
  • - bungkus kado biasa, maksudnya dengan paper wrap. Sebetulnya agar cantik ada banyak modifikasinya, misalnya bentuk permen, kotak dgn kipas, dan lain-lain.
  • - dengan paper or plastic bag. Ini cara yang paling saya suka dan sering saya gunakan. Biasanya cara ini untuk hadiah yang shapeless dan sulit dibungkus dengan paper wrap, seperti boneka berukuran medium. Hadiahnya tinggal dicemplungin ke paper/plastic bag-nya. Plung! Beres deh. Usaha yang agak rumit hanya mencari paper/plastic bag dengan gambar yang fancy saja. Kalau bisa sih, yang motif/gambar/warnanya match dengan hadiah di dalamnya.
  • - pakai gift box, namun mahal :) hehe... Tapi worthed, kalau hadiahnya memang istimewa. Selain itu, gift box ini masih bisa useful untuk hal lain. Misalnya menyimpan benda-benda atau mainan si anak.

simple guidance for your simple goodie bag

Biasanya, momen ulang tahun anak adalah suatu momen yang membahagiakan. Sebagai ibu, bertambahnya usia anak, juga berarti bertambah pula tantangan kita sebagai orang tua. Di satu sisi, kita bahagia karena sudah “membesarkan” anak sampai sekarang. Di sisi lain, agak murung soalnya, itu juga pertanda kita tambah tua. Agree?

Nah, soal ulang tahun, kadang kita ingin membuat sebuah perayaan yang berkesan. Supaya bukan hanya dikenang oleh kita sendiri, tetapi juga oleh anak, kan? Tetapi (seperti biasa), pada beberapa titik, perayaan ulang tahun impian kadang terbentur biaya. Iya tho, ibu-ibu? Kalau saya sih, sedari dulu memang tidak pernah berminat pada jenis perayaan ulang tahun yang dilaksanakan di mall atau restoran fast food kesukaan anak. Yang penuh dengan balon, plus badut, MC, thematic party (plus dress code-nya), dan si anak yang kemudian tenggelam dalam tumpukan kado. It’s big no no! Sebabnya mungkin karena saya sendiri sejak kecil tidak dibiasakan merayakan ulang tahun dengan cara jor-joran macam itu, kali ya? Jadi bisa dibilang, ini merupakan persoalan habitus atau internalisasi yang diperoleh tiap anak. Dan saya ingin memberikan pembiasaan yang sederhana saja.
Bagi saya, yang penting adalah esensinya: berbagi kebahagiaan. Si anak yang sedang bahagai karena sedang ulang tahun, (menurut saya) tak perlu juga “menanti-nanti” datangnya kado. Kalau dari orang tua dan eyang-eyangnya, bolehlah. Toh mereka kan, orang-orang terdekat. Namun tak perlu sampai pesta-pesta ke mall, deh! Cukup dengan nasi kuning buatan rumah. Ya kan?
Nah, saya sendiri punya konsep ulang tahun “impian”, untuk ulang tahun Chiya yang ke empat nanti (25 Januari 2011). Konsep ini juga tidak aneh-aneh kok. Yang berbeda cuma persoalan goodie bag saja. Pada hari H-nya, kami hanya ingin selebrasi tiup lilin sederhana di rumah. Mungkin juga dengan memberikan kado seadanya.

Pada pembagian nasi kuning itu, saya ingin membagikan goodie bag buat beberapa teman-teman mainnya Chiya. Beberapa hari sebelumnya saya sudah mulai memikirkan seperti apa kiranya goodie bag itu nanti. Kalau yang sudah-sudah, biasanya goodie bagi itu adalah bingkisan plastik fancy berpita yang isinya adalah snack khas anak-anak. Dari chiki sampai minuman berperisa. Sementara saya pingin yang beda. Saya pernah dapat goodie bag dengan isi lunch box kosong dengan jajanan. Goodie bag dengan lunch box sebetulnya sudah beda, tetapi saya pikir: kenapa lucnh box-nya tidak diisi sekalian saja ya? Setelah mendengar cerita seorang sahabat yang juga membuat goodie bag untuk ulang tahun anaknya, saya pikir ini sebenarnya memang memungkinkan. Tinggal berstartegi saja supaya tidak over budget. Caranya? Saya akan coba mendeskripsikannya, ya.

Buat name list
Sebagai awalan, buatlah daftar nama anak-anak yang akan diberi goodie bag. Buat sedetail mungkin, supaya tidak ada yang missed. Ini gunanya agar kita mendapatkan angka perkiraan untuk budgetnya. Kalaupun sudah detail, kita tetap harus melebihkan goodie bag sebanyak satu atau dua buah (atau sesuai keinginan), just in case ada teman atau kerabat yang datang dadakan dengan anaknya.

Tentukan budget
Kalau sudah jelas angkanya, sekarang saatnya menentukan budgetnya. Tidak harus tepat betul, yang penting sudah dihitung dengan cermat. Dan penghitungan budget bisa tergantung pada jenis goodie bag dan isinya. Kalau mau yang isinya seperti snack, minuman, atau alat tulis, maka budgetnya bisa dihitung per-goodie bag. Sementara kalau seperti saya, hitungan budgetnya tidak semuanya bisa dihitung per-goodie bag. Kalau tas, lucnh box, dan puding jelly stroberi, masih bisa dihitung per-goodie bag, tetapi untuk isinya (nasi kuning dan nugget) hanya bisa dihitung secara keseluruhan.
Dan kenapa harus menghitung dengan budget? Sebab dengan hitungan ini, kita bisa menentukan isi goodie bag-nya dengan presisi. Misalnya, budget-nya adalah 20 ribu per-goodie bag. Dengan 20 ribu itu, kita bisa mengira-ngira isi goodie bag dan jenis goodie bag-nya. Sehingga overbudget bisa dihindari.

Memilih goodie bag
Setelah mendapat budget untuk per-goodie bag, sekarang saatnya memilih isi dan jenis goodie bag yang mau dipakai. Untuk jenis goodie bag, ada beberapa macam, misalnya:    Goodie bag kantung plastik, yaitu goodie bag yang umum dan paling praktis, sebab tinggal membeli kantung plastik fancy lalu diisi dan diikat dengan pita.
  • Goodie bag kantung kertas, bedanya dengan yang plastik hanya bahannya saja. Namun, yang ini bisa bikin sendiri dari kertas kado, sehingga tampilannya bisa cantik dan lucu. Selain itu bisa dihias dengan pita fancy juga.
  • Goodie bag tas kain, yang lebih “ribet” dari goodie bag lainnya. Bisa beli jadi atau beli bahan kain dan jahit sendiri sesuai model yang diinginkan. Ribet, tetapi nantinya bisa useful.
  • Goodie bag simple wrap, adalah cara membungkus isi goodie bag dengan hanya mempercantiknya dengan untaian pita fancy, renda, atau tali berpayet. Cara ini hanya bisa apabila isi goodie bag berbentuk compact, misalnya buku atau lunch box.
  • Waktu saya ke Pasar Asemka, saya bisa puas memilih goodie bag yang bagus dan lucu. Dan paling penting bisa sesuai budget, hehe.

Menentukan isi goodie bag
Setelah semua sudah pasti, maka sekarang saatnya memilih isi goodie bag-nya. Memang, saking excite-nya kadang kita sudah membayangkan isi goodie bag sebelum membuat perhitungan budgetnya. Sementara, jika budgetnya sudah ditentukan akan lebih aman untuk memilih isi goodie bag agar tidak overbudget.
Kalau saya misalnya, memilih mengisi goodie bag dengan lunch box dan jelly. Lunch box-nya akan saya isi dengan nasi kuning dan nugget. Sementara cemilannya saya pilih puding jelly strawberry. Namun, sebetulnya jika budgetnya memadai dan memungkinkan, saya ingin mengisi lunch box dengan nasi+chicken teriyaki. Dan cemilannya ada muffin, puding dan coklat cup. Namun, agar tidak overbudget, saya memilih untuk tetap berada di “jalur aman”.
Ini dia jelly rasa leci yang diberi irisan stroberi segar.
Ini dia isi goodie bag-nya.


Sementara itu, saya tidak memilih snack senagai isi utamanya, karena pertama, saya sendiri tidak begitu suggest jajanan untuk anak-anak. Kedua, saya ingin sesuatu yang home made untuk hantaran ini. Tetapi pilihan ada di tangan kita. Mau yang praktis atau memilih yang agak ribet.

Setelah makin dekat hari H, isi goodie bag yang sudah dirancang jauh-jauh hari malah ada perubahan. Misalnya, untuk minumanya. Tadinya mau Mr. Jussie, karena Chiya suka minuman itu. Namun ternyata sudah banyak agen snack dan minuman yang kami datangi, merek itu tidak ketemu juga. Kata salah satu Mbak-nya sih, merek itu memang tidak ada di agen alias susah dicari. Finally (dengan agak tergesa), pilihan jatuh pada Mountea rada Blueberry (sebab Chiya suka dua hal itu). Juga soal Oreo softcake yang kami dapat dari seorang kerabat yang berkunjung beberapa hari sebelum Chiya ulang tahun. Karena jumlahnya kurang sedikit, kami tinggal menggenapinya saja. Permennya juga akhirnya kami ikut sertakan karena kami masih punya stok yang sangat cukup untuk masuk goodie bag. Dan inilah dia:
Isi goodie bag-nya.
Setelah masuk plastik.
Ready to give away!

So, this is the day!
Nah, inilah saatnya. Hari bahagia bagi si anak juga terutama keluarga dekat. Kalau kami, mengadakan selebrasi tiup lilin sederhana di rumah hanya dengan orang-orang rumah. Yang penting Chiya merasakan hangatnya kebersamaan dan doa untuknya. Hadiah hanya pelengkap acara saja. Dan empat hari setelah hari ulang tahunnya, baru kami membuat nasi kuning dan membagi-bagikannya ke tetangga dekat dan teman-teman bermainnya Chiya saja. Selebrasinya memang tidak istimewa, yang penting Chiya tahu bahwa ia adalah anak perempuan yang sangat dicintai orang tuanya.[]

Pasar Asemka


Kemarin (Minggu, 9 januari 2011), saya dan keluarga pergi ke Pasar Asemka, berniat membeli beberapa barang untuk keperluan goodie bag ulang tahunnya Chiya. Sebetulnya kami sendiri tak tahu Pasar Asemka di mana, namun dari hasil tanya-tanya dan sedikit mencari info di Google, akhirnya kami tahu kalau Pasar Asemka ada di dekat Kota tua. Tidak dekat-dekat amat sih, tetapi karena ancer-ancer yang kami tahu adalah kota Tua dan sekitarnya (Glodok, Museum Bank Mandiri), maka clue sederhana itu sudah cukuplah untuk kami.

Kemudian setelah melewati wilayah Glodok yang muacet (maklum, hari Minggu), ternyata ada plang rute Pasar Asemka menunjuk belok kiri (dari arah Glodok itu). Karena masih bingung, kami memutuskan lewat bawah jembatan layang, tidak melewati atasnya. Dan ternyata, itu memang jalan ke sana dan pasarnya ada tepat di bawah jembatan layang. Namanya pasar, situasinya ramai dan padat, tetapi untungnya kami dapat tempat parikir tepat di depan pasar. Jadi tak perlu jalan jauh. And the adventure is just begin.

Melihat barang-barang yang dijual, wuih, langsung semangat deh. Pasar Asemka adalah sentra penjualan alat tulis (pensil, pulpen, rautan, dan lain-lain), perlengkapan sekolah dan kantor (berbagai macam tas, map, dan sebagainya). Selain itu banyak juga yang menjual aksesoris (seperti kalung, gelang, jam tangan), perlengkapan handphone (seperti gantungan sampai dompet HP), serta suovenir pernikahan. Kalau mau tanya harga, pedagang di sana pasti menyebut harga lusinan. Jadi kalau saya mau beli satuan, saya harus menegaskan: ini harga satuannya berapa? Tetapi boleh saja jika hanya membeli satuan, dengan resiko harganya jadi agak mahal daripada membeli lusinan. Meski begitu, sebenarnya harga satuan pun tetap lebih murah kok. (Apalagi kalau komparasinya dengan harga mall, hehe.)

Beberapa barang yang saya taksir di online shop ada di sana. Tentu saja dengan harga yang selisih beberapa rupiah. Tadinya kami sudah gembira karena akhirnya bisa menemukan barang yang sudah kami incar selama beberapa hari browsing ke beberapa online store dengan harga yang lebih murah. Namun, setelah menyusup ke dalam pasar, ternyata kami bisa menemukan lebih banyak pilihan lain. Ini misalnya:

•    Goodie bag.
Ada banyak pilihan jenis goodie bag di sini. Rata-rata bahannya sama: spoundbond. Bentuknya yang bermacam-macam dengan variasi gambar. Ada tas tenteng, tas ransel, atau yang bentuknya seperti paper bag. Selain bahan spoundbond, ada juga yang bahan plastik dengan model seperti paper bag. Semuanya, kebanyakan motif gambarnya untuk anak-anak. Ada princess (Snow White and the gank), Upin dan Ipin, Spiderman, Pooh, dan lain-lain. Ada juga yang polos dengan tambahan aksen pita. Yang ini cocok buat semua umur. Rata-rata harganya Rp 6000/lusin. Tergantung jenis dan besarnya goodie bag.

Kalau saya akhirnya memilih goodie bag jenis ransel serut. Bedanya dengan yang lain, pilihan saya ini tanpa tutup dengan dan bagian depan ada gambar sablonnya. Besarnya sekitar 36cmX28cm, yang menurut saya cukup untuk isi goodie bagnya nanti. Saya memilih goodie bag jenis tas ini karena saya ingin goodie bag ini tetap terpakai dan useful. Selain persoalan tampilan, tas ini dipilih karena tidak overbudget (harga satuannya mencapai Rp 6000an).



•    Lunch box.
Dari depan pasar sudah bisa ditemukan paket lunch box lengkap sepasang dengan tempat minumnya. Keduanya serasi, satu motif. Ada yang motif Mr. Smile, sampai yang karakter seperti Strawberry Shortcake atau yang lain. Paket yang ini biasanya sudah dimasukkan dalam plastik goodie bag tersendiri. Harga perpaketnya rata-rata Rp 10.000/lusin. Cukup murah, mengingat kualitas masing-masing tidak mengecewakan.

Karena rencananya memang hanya ingin menggunakan lunch box saja tanpa tempat minum, akhirnya kami mencari kios yang bisa membeli lunch box saja tanpa tempat minumnya. Soalnya kebanyakan memang sudah sepaket dengan tempat minum dan tidak bisa membeli lunch box-nya saja. Setelah berjalan sampai ke dalam, akhirnya kami menemukan satu kios kecil yang lebih banyak menjual lunch box. Di sana ada lunch box yang harga satuannya mencapai Rp 4000. Secara tampilan dan kualitas bagus, tetapi budget kami di bawah itu. Saya lalu melirik ke arah rak yang ada lunch box polos dengan tutup warna pink dan biru. Sederhana, memang. Dan ternyata harganya juga sama sederhanyanya. Satuannya kurang dari Rp 2500. Hebat kan, hehe. Wadahnya lebih kecil dari lunch box lainnya, tetapi tingginya lebih dalam. Jadi mungkin sebetulnya volumenya tidak jauh berbeda dengan lunch box yang biasa (ukurannya kurang-lebih 12cmX12cmX7cm).





Bonusnya, saya menemukan semacam tas kecil yang selama ini saya cari. Tas mungil yang cukup muat untuk dompet dan handphone saya, ukurannya sekitar 20cm X12cmX6cm. Biasanya, saya hanya menemukan semacam dompet dengan dobel kantung yang tidak muat untuk dompet. Sementara selama ini kalau mau belanja ke supermarket saya bingung mau bawa tas atau tidak. Kalau bawa tas, terlalu besar, sementara hanya membawa dompet dan HP tanpa tas, rasanya repot juga karena harus menenteng keranjang belanjaan serta menengok checklist di HP. Dan untuk harga satuannya, di atas Rp 30.000 tapi tidak sampai Rp 40.000. Lumayan, daripada bingung jahit segala.



Nah, kalau sudah dapat tasnya, tinggal bersiasat mengisi goodie bagnya deh! Buat inspirasi, ada beberapa tips di sini.[]


PS: check out toko onlineku di sini yuk! Ada berbagai lunch box lucu buat bento atau goodie bag dengan harga murah!!

Blog Hits

Hello

"Membuat jarak paling intim antara suara hati dan memori adalah dengan menuliskannya pada sebuah tulisan. Dan kamu, sedang menuju ke tempat milikku."

Enjoy reading.

Popular Posts

Followers