- sepetak ruang kecil untuk menjadi diri sendiri -

Saya tahu ini adalah isu yang sensitif buat sebagian orang. Oke, no offense, saya tidak sedang ingin membahas status seseorang apalagi mengcounter prinsip hidupnya. Tidak. Tapi kalau merasa tidak betah dengan judulnya, silakan baca tulisan saya yang lain saja, ya. Hehe, sungguh, saya tak mau membuat seseorang merasa tak nyaman.

Niat awalnya hanya berbagi. Sungguh, cuma itu. Selebihnya, bila terasa saya seolah-olah mau pamer atau apa: terserah. Tak apa. Semua berhak beropini.

A small story about me
Nah, begini. Saya ingin berbagi mengenai apa yang saya rasakan sejauh saya sudah menikah. For a preview, I am married with my bestfriend. A closest one. Dia adalah teman kuliah, satu fakultas, satu program studi, satu angkatan, dan tetangga kos. How great is that? Awalnya saya tak curiga, bagaimana kami bisa sedekat itu hanya dalam rentang dua bulan saja. Dia kerap mengajak saya ngobrol. Ngalor-ngidul. Soal kuliah, soal teori (yang waktu itu saya nggak ngerti), soal buku... soal perempuan. We've been shared everything. Dia terbuka dan bercerita banyak pada saya. Saya pun senang mengajaknya bercanda-canda.

Dan dari pembacaan saya, saya bukanlah tipenya. Tipikal perempuan idamannya. Bukan, sama sekali. Kalau dari cerita-cerita masa lalunya, saya berada di luar semestanya. Namun, saya keliru. Ia menyatakan cinta (yang pertama kalinya) di sebuah kelas tambahan. Wah, saya kaget bukan main. Sebab, bukan hanya saya yang tidak termasuk dalam tipenya: dia juga bukan tipe saya! Hahahaha...

Saya menolaknya dan kami jadi jauh sekali. Teman-teman ikut imbasnya. Sama-sama tak enak, mungkin. Tapi, kami (terutama saya), menyadari sesuatu. Saya butuh dirinya. Dan ia adalah lelaki baik (setidaknya untuk diri saya). Kami pun bersama. Tiga tahun lamanya dan menikah. Tak usahlah saya deskripsikan bagaimana kami menikah. Namun, apa yang telah kami lalui, begitu berbeda. Kata orang: jaman pacaran dan jaman menikah itu berbeda. Orang bisa "kelihatan" kulit aslinya ketika sudah menikah. Really??

Ada hal-hal yang selalu jadi pertimbangan saya ketika saya berhadapan dengan sebuah relasi bernama: suami-istri. Entah itu pertimbangan masa lalu atau di luar itu. Namun, entah kenapa, hubungan kami (sejauh ini) terasa seperti partnership, bukan patron-klien (dalam Antropologi). Ia bukan tipikal suami yang gengsi mencuci, tidak juga gengsi menjadi guru bagi anak kami: Chiya. Ia mau melakukan segalanya. Hal-hal yang bagi sebagian besar lelaki adalah "porsinya perempuan".

Tak banyak yang berubah, sebetulnya. Buat saya, kami hanya perlu adjust saja. Tapi bukan berarti apa yang ada pada kami adalah sempurna. Tidak. Kami juga kerap bertengkar, mempermasalahkan hal sepele lalu diem-dieman. Tetapi, sejak pacaran kami mengerti “gaya” marah masing-masing. Dan kelak ketika menikah, kami semakin tahu kadar temperamen kami dan mengerti bagaimana cara meredakannya (tetap dengan cara yang dulu kami lakukan).

So, what a marriage is all about?
Well, I have to confess, I know nothing about marriage. I’m not an marriage expert. But, just because I’ve been in a marriage for at least four years and I had thousand feelings about it, so all I want is just to share what I’ve been through so far.

Sebetulnya, pada relasi apapun, perselisihan pasti ada. Akui saja. Entah itu relasi pertemanan, relasi pekerjaan, apapun itu. Saya yakin, menjadi lajang pun pasti ada problem yang harus dikompromi. Problematika itu bukan cuma monopoli lembaga pernikahan saja. Saya pun tidak ingin mengatakan bahwa saya bebas dari masalah. Tidak. Saya punya masalah dan pasti ada masalah. Kami pernah punya masalah and we always have. Tetapi, in a marriage, cara memecahkan masalah adalah cerminan bagaimana dua orang saling berpegangan. Bagaimana proses bargain berlangsung.

Marriage “force” you to learn a very important lesson: letting go. Belajar melepaskan atau dalam istilah Islam: ikhlas. Sounds familiar or tend to “too familiar”? Ya, kedengarannya memang sangat biasa. Namun, jurus ini sangat dibutuhkan. Bahkan seolah-olah kita butuh stok dalam jumlah yang sangat banyak. Bukan hanya untuk hal-hal krusial macam keterbukaan finansial, tetapi juga pada hal-hal renik seperti misalnya kebiasaan meninggalkan piring kotor sembarangan. Sepele ya? Tetapi hal renik seperti itu bisa membuat manyun seharian. Dan manyun means: a very tiny-unimportant things could makes your day grey all day long! Nah, belajar untuk membiarkan hal-hal sepele agar tidak dibesar-besarkan adalah pelajaran dasar about letting go. Just deal with what it’s supposed to.

Then, a problem should have to be end up properly. There’s should be a dialogue, should be a bargain
. Bahkan, ketika ada porsi yang tidak sama banyak dalam sebuah relasi (pernikahan), masing-masing harus tetap punya ruang yang fair. Dan itu dibangun dengan dialog. And a dialogue requires two persons to build communication and final decision. For a pre-conclusion, marriage teach us about share everything. Well, not “everything”, actually. You know, we still deserved some spaces for our-own-self.

Selain hal-hal kecil, ada hal-hal besar dalam pernikahan yang sebetulnya sangat krusial sehingga harus dilakukan hard bargain. Masalahnya, kadang partner tidak sadar atau justru tidak mau tahu. Misal, ada hal-hal kecil yang bagi partner adalah hal besar seperti: kebiasaan merokok, “mencekik leher botol”, over-budget-shopping, mengabaikan anak, dan lain-lain. Sebetulnya, yang harus dipahami adalah pentingnya menjaga perasaan masing-masing. Dan lagi-lagi ini persoalan letting go. Belajar melepaskan hal-hal yang disenangi dan belajar menahan diri (jika memang ada “gesekan”). Tidak mudah, apalagi kalau dapat tekanan dari teman-teman yang dianggap sebagai “orang-orang penting”. Namun yang harus terus diingat adalah: relasi ini dibangun atas dua orang. Bukan ingin menafikan kehadiran orang-orang lain dalam lembaga ini, tetapi betapa masing-masing orang semestinya saling mendukung. Terutama secara psikis. This building won’t stand up straight if not supported with a strong foundation. Dan dukungan yang paling menentukan berasal dari kekuatan pikiran.

Marriage is a long life relationship. Jangan bayangkan rentang waktu yang harus dihadapi. You’ll die before you finished. In some point, marriage teach us about life lessons. Saling belajar dari diri masing-masing, belajar tentang semangat hidup, belajar menerima serta melepaskan, belajar bercermin, sampai belajar melengkapi. For me, my partner is my best friend to share minds and share a cup of coffee. We often had fight, we sometimes didn’t find a good way because of a misconception. But since you can’t hide from a trouble to come, you’re still have someways to escape, to take a rest, to find another stronger hold-on, to get a self-healing, then to come back as a new-better person. Nothing’s easy, but everything’s gonna be fine. Just fine.[]
Hm, sebetulnya tulisan ini saya mulai ketika Fathiya masih tidur. Begitu pula suami saya. I know the day is too early, tapi keinginan untuk menulis tak bisa ditunda. Namun, seberapa pun besarnya hasrat saya untuk menulis, kuasa ada pada komputer saya yang semakin hari semakin menjadi. Kalau komputer saya bisa bicara, mungkin dengan congkak ia akan berkata: i’m in charge! Padahal saya dan suami sedang giat-giatnya menulis. Malah kadang kami seperti dua orang yang “rebutan” komputer, karena kesempatan untuk leluasa menulis tak bisa datang kapanpun. Jengkel rasanya saat sudah siap di depan komputer yang “maha besar” ini, namun tiba-tiba layarnya gelap. Masih syukur kalau beberapa “tamparan” di sisi-sisi tubuhnya membuatnya kembali hidup. Nah, yang bikin tensi naik adalah ketika ia sama sekali tak mau terang lagi. Bukan cuma kesal setengah mati, kadang saya sampai mengutuk Tuhan. Maaf, bagi yang merasa Tuhan hanya untuk disembah.
 
Tadi pagi, ketika hari masih dingin dan saya tiba-tiba ingin menulis sesuatu. Sesuatu yang tentu saja dekat dengan hidup dan diri saya. Apalagi kalau bukan soal peran saya sebagai ibu. Maaf, buat yang merasa bosan soal ini setengah hidup-setengah mati. Sebagai orang yang “habitatnya” atau sebagian besar waktunya habis di rumah, saya hanya bisa mencoba survive. Saya tak lagi bisa berharap punya kehidupan seperti dulu: have a lot of spare time, jobless, dan bisa wara-wiri kesana-kemari. Saya pun tak mungkin bercermin menggunakan hidup orang lain. Seperti yang pernah saya bilang dulu: silakan menoleh kanan-kiri, but don’t let yourself drowning too deep. Salah satu cara untuk survive adalah bersyukur. Menjadi ibu adalah anugrah. Tapi ada satu privilege yang tak semua ibu mau menyadari dan menjalankannya: total buat anak. Being total yang saya maksud tentu sangat relatif dan subyektif. Buat saya, being total adalah ketika seorang ibu mau mengamati dan mencermati tiap inci pertumbuhan serta perkembangan anak, from the first day the child was born, at every single day. Mungkin tak harus menemaninya 24/7 atau “turun tangan” langsung, tapi mengontrol ritme hidup hingga menciptakan bibit baik bagi habitus-nya kelak, that seems good enough.
 
Tak banyak ibu-ibu yang totally a good mother. Tapi saya kenal seorang. Seorang perempuan yang almost-perfect mother. Dia adalah ibu rumah tangga yang boleh dibilang meninggalkan kampus untuk being total at home. Total for her daughter, total being a housewife and she is almost-totally perfect! She is my role model of being a good mother. Namun sebenarnya tak harus hanya jadi ibu rumah tangga untuk jadi ibu yang total. Sebab esensinya adalah total perhatian dan menciptakan habitus yang baik. Meski memang jika dilogikakan, ibu rumah tangga akan lebih total dalam mengontrol si anak karena punya banyak waktu bersama. There’s many type of mother: ada ibu rumah tangga yang hanya berpikir untuk mencari uang, ada ibu bekerja yang sangat perhatian, ada ibu rumah tangga yang sibuk sendiri, ada juga perempuan yang sudah menjadi ibu namun tak mau menjalani perannya dan memilih meninggalkan anaknya.
 
Oh ya, saya punya pengalaman waktu pergi bersama suami dan Fathiya. Waktu itu saya juga janjian dengan beberapa teman perempuan saya. Kami bertemu di suatu tempat makan lesehan. Di sana hanya ada kami dan seorang ibu, dua orang anak lelaki age range 4-5 old, dan seorang perempuan muda yang saya tengarai sebagai seorang babysitter. Nah, setelah kami selesai makan dan berencana bubar, Fathiya masih harus memakai kembali sepatunya yang berada tak jauh dari rombongan ibu dan anak-anaknya itu. Salah satu anak lelaki yang lebih kecil bersikap agak agresif dan hendak memukul Fathiya atau semacamnya. Agak lama, si ibu yang berkerudung-rapi-dandan ini tidak bergeming, tidak melakukan sesuatu untuk melarang atau menegur si anak padahal kami ada di depan mejanya dan hanya berjarak kurang dari satu meter. Ia menopang dagu dan agak merengut karena mungkin si anak tak kunjung habis makannya. Ia lalu menyuruh si pengasuh untuk segera membereskan pekerjaannya. Ketika kami masih di depan, rombongan itu lalu beranjak pergi dan menuju mobil. Sampai sekarang, jika saya mengingat hal itu saya masih heran dan bertekad tidak mau seperti ibu itu. Semoga saya selalu lebih baik.
 
Well, it’s so optional. Adalah sangat menjadi pilihan: mau jadi ibu yang seperti apa. Dan menjadi ibu yang total juga pilihan. Saya menyebutnya privilege, karena pilihan ini adalah sesuatu yang istimewa dan setiap ibu berhak mendapatkan peran istimewa ini. Bagaimana tidak istimewa, bisa menemani anak sejak ia lahir, day by day, menghidupi raganya yang masih rapuh dengan ASI yang fully-immuned hingga ia tumbuh dan perlahan bisa berjalan lalu berbicara, mengenalkan banyak hal yang belum pernah ia lihat atau sentuh, hingga kelak ialah yang menemani kita. Saya sendiri masih terus belajar. Dan semoga saya belajar dari orang tepat. Dari si almost-perfect mother tadi, misalnya, bukan dari ibu yang “lari” dari peran istimewanya.
 
Mungkin saya dan teman-teman saya juga harus banyak belajar menjadi ibu yang total darinya. 

[from a file :Yogya, 12 May 2009, finished @ 09.23 am]

Blog Hits

Hello

"Membuat jarak paling intim antara suara hati dan memori adalah dengan menuliskannya pada sebuah tulisan. Dan kamu, sedang menuju ke tempat milikku."

Enjoy reading.

Popular Posts

Followers