- sepetak ruang kecil untuk menjadi diri sendiri -

Aktivitas belajar di rumah Chiya tambah seru!! Karena saya mulai menemukan sumber belajar dan aktivitas menyenangkan untuknya. Misalnya, mewarnai. Jika sebelumnya ia mewarnai di buku-buku mewarnai yang tipis dan murah itu, maka lama-lama ia bosan dan kehabisan halaman lagi. Sebab, hampir dalam tiap aktivitas belajarnya ia mewarnai. Hingga akhirnya saya mulai mencari-cari coloring page yang printable untuknya. Dan, taadaa!! Dia tidak pernah kehabisan lembar mewarnai lagi. Selain itu, dia lebih semangat dengan lembar mewarnai yang diunduh ini. Mungkin karena dia bisa memilih sendiri gambar-gambar yang sebagian besar adalah tokoh-tokoh kartun yang dia senangi. Hasilnya, dia mau lebih telaten untuk tidak terburu-buru menyelesaikan lembar mewarnainya. Kapan-kapan saya unggah foto-fotonya.
hasil karya Chiya yang ditempel di dinding

 Lalu, tentu saja: buku. Entah, kami merasa belakangan ini Chiya makin "maniak buku". Soalnya ketika kami ke toko buku (dan masing-masing dari kami asyik sendiri melihat-lihat), ia lalu menuju tempat buku-buku anak-anak, memilih salah satu buku yang tidak dibungkus, lalu lesehan di sana. Mengoceh tidak jelas tetapi maksudnya menceritakan apa yang ada di buku itu. Belum lagi kalau ia dibelikan beberapa buku, maunya langsung dibuka dan diceritakan saat itu juga. Meski masih belum beranjak dari tempat beli buku itu. Oh ya, kami tidak pernah membelikan Chiya buku-buku mahal. Bukan pelit, namun kami yakin, ada hal lain yang lebih esensial. Yaitu: niat mewarisi kecintaan akan aktivitas membaca dan dampingan atau support orang tua dalam hal ini. Bagi kami, buku bacaan bisa diusahakan, yang lebih penting adalah bagaimana pesan untuk cinta membaca itu sampai dan diaplikasikan pada hidupnya. Tak perlu buku pop-up atau buku-buku berbasis barat lainnya. Harga untuk mendatangkannya kemari saja sudah mahal. Jadi, kami memilih untuk membeli yang sudah didiskon atau yang masih bisa dijangkau oleh dana si bapak itu, hehehe...

Kemudian, kami juga menggunakan games di komputer sebagai aktivitas belajar yang lain. Sampai sekarang kami baru punya dua buah games dengan software. Karena mulai bosan dan hafal dengan permainan-permainannya, maka Chiya kerap saya ajak ke warnet untuk memainkan games online khusus untuk preshcool. Dan, lumayan. Dia bisa asyik sendiri dalam biliknya untuk memainkan permainan berhitung, mewarnai atau memory games. Ada beberapa alamat situs khusus preshcool games ini yang bagus-bagus dan kualitas gambarnya baik.

Ada juga aktivitas mengenalkan berhitung dengan cara yang cukup menyenangkan. Beberapa hari lalu, kami membeli sepaket alat belajar yang jujur, kami tak tahu namanya. Memang ada namanya di bukunya, tetapi jika bertanya pada si Mbak yang bertugas menjual produk-produk untuk belajar, bingung juga jadinya. Dan, paket belajar itu, lumayan mahal. Tapi kami lebih senang membelikan alat ini dari pada clay, boneka untuk didandani, buku impor, atau yang lain. Nah, dengan alat ini, Chiya yang sudah bisa berhitung dengan runut, mulai mengembangkan kemampuan berhitungnya dengan logika penjumlahan dan logika mencocokkan. Lumayan, dia menikmatinya. Kapan-kapan, kami harus melengkapi seri mengenal huruf dan membaca.

Chiya juga masih suka menonton beberapa VCD Elmo, Dora, Winnie The Pooh atau Jalan Sesama yang sudah dikoleksi sejak kami masih di Jogja. Beberapa tontonan itu cukup efektif mengenalkan kosakata dalam bahasa inggris. Dan (lagi-lagi) lumayan: Chiya mulai menambah kosakata bahasa inggrisnya. Kali ini, ia mulai minta belajar mengaji. Sebetulnya awalnya ia ingin seperti teman-temannya yang sudah belajar mengaji. Karena kami juga belum memasukkan dia pada TPA atau lembaga keagamaan lain, maka saya pikir ia akan memulainya (juga) di rumah. Yang lucu, ia suka membawa-bawa buku Yassin dan seolah-olah membaca buku itu dengan fasih (dan lantang) sekali. Saat ini, ia sedang saya ajari Al-Fathihah dan mengiming-iminginya dengan "mukena baru yang lucu" (yang sebetulnya sudah kami siapkan, hehe).

That's the way it is... Untuk sejauh ini, sepertinya memang harus memberdayakan si bunda yang masih "menganggur" di rumah. Toh, selama ini kami merasa bahwa belajar di rumah tidak terlalu buruk dan hasilnya cukup membuat kami bangga dan bahagia. []

sekolah atau belum?

Adalah hal biasa jika bertemu dengan anak usia tiga-empat tahun dan bertanya: sudah sekolah belum? Chiya juga kerap bertemu dengan pertanyaan itu. Dan tentu saja ia jawab: belum! Karena memang ia belum ikut aktivitas preshcool apapun. Bahkan PAUD. Bukan apa-apa, kami punya beberapa pertimbangan. Pertama, ia masih punya saya, bundanya, yang masih bisa menemaninya di rumah. Kedua, jujur saja, kami masih bingung dengan pilihan orientasi preshcool ini. Misalnya, apakah kami ingin memilih sekolah dengan orientasi agama atau yang konvensional saja. Lalu pertanyaan jangka panjangnya: bagaimana merancang masa studinya sampai ia masuk sekolah dasar nanti. Sebab, di Jakarta sudah ada regulasi soal limit minimum untuk usia masuk sekolah dasar. Jadi, sepintar apapun si anak, jika usianya belum genap enam setengah tahu, ia tidak akan diterima. Bahkan jika kurang sebulan saja. Maka itu, kami juga berpkir tentang antisipasi apabila nanti Chiya jenuh bersekolah. Just in case. Pertimbangan lain adalah bahwa sebetulnya Chiya tidak memaksakan kami untuk memasukkannya ke sekolah. Dan ia memang tidak pernah bersikap terlalu memaksa seperti itu. Jika sekali-dua ia berkata: aku mau sekolah, perbincangan itu akan selesai ketika kami menyahut: iya, nanti, ya. Jadi sepertinya baginya bersekolah belum menjadi sesuatu yang urgent.

Karena terlalu banyak pertimbangan, akhirnya kami pending rencana untuk menyekolahkannya tahun ini. Selain karena beberapa pilihan sekolah yang kami inginkan sulit didapat dan cenderung mahal. Saya sadar: apalah yang tidak berbayar dan mahal di Jakarta ini? Sebut saya apatis, tapi saya yakin jagad Jakarta hanya adalah semesta uang saja. Keinginan untuk menjadi bookworm atau ingin tempat bermain yang layak harus diakses dengan uang yang tidak sedikit. Dan akhirnya, setelah memutuskan untuk tetap "merumahkan" Chiya, kami mulai bersiap-siap menyediakan beberapa perlengkapan belajarnya. Ya, dia akan sekolah di rumah, bersama kami: orang tuanya.

Awalnya kami membiasakan dia untuk belajar setiap azan Magrib usai. Mulanya hanya mewarnai atau membacakan buku (yang sudah kami mulai sejak ia usia satu tahun--sebelum tidur). Kini, kami mulai memperkenalkan angka, huruf dan bahasa inggris. Lumayan, sekarang ia sudah bisa berhitung dengan tepat 1-10, membuat beberapa angka, dan hafal huruf A, S, O, I, B. Untuk kosakata bahasa inggrisnya ia sudah bisa menyebutkan warna-warna dan angka (selain are you happy dan what is your name, lengkap dengan jawabannya).

Kini, perlengkapannya bertambah. Setelah pensil warna, buku cerita serta buku mewarnai, sekarang ia juga punya software bermain sambil belajar, poster angka serta huruf, peralatan belajar buka-tutup, dan kelak papan tulis. Begitulah, kami ingin ia tetap belajar dan memaksimalkan kemampuannya meski ia hanya di rumah saja. Maka, jika di toko buku ada sales yang menawarkan berbagai alat-alat belajar, dan Chiya mencobanya, mereka kerap berkata: anaknya sudah sekolah ya, Bu? Saya cuma tersenyum dan bilang: belum, masih di rumah saja.[]

Blog Hits

Hello

"Membuat jarak paling intim antara suara hati dan memori adalah dengan menuliskannya pada sebuah tulisan. Dan kamu, sedang menuju ke tempat milikku."

Enjoy reading.

Popular Posts

Followers