- sepetak ruang kecil untuk menjadi diri sendiri -

Ketika saya menemukan buku atau majalah murah, saya kerap kembali diingatkan tentang mimpi membuat pondok baca untuk para ibu. Saya sebetulnya begitu bergairah untuk mewujudkan ini, namun laiknya mimpi, saya juga menemui banyak kendala. Meski masih dalam level preview awal. Kali ini, saya ingin berbagi tentang dua hal itu: passion dan tantangan Teras Bunda (saya menamakannya demikian dan saya sadar ini masih terlalu dini).

niat awal dan beberapa kemungkinan
Tentang mengapa saya sampai pada sebuah ide untuk membuat Teras Bunda, saya sudah pernah menulisnya di blog ini. Pertama, saya percaya bahwa para ibu deserved something more. They deserved an extended space except home. Saya sangat percaya bahwa mereka juga butuh untuk tetap beraktualisasi diri, meski hanya sebagai perempuan rumah. Kedua, kecintaan akan membaca harus dimulai dari sebuah kebiasaan dari rumah, dari keluarga. Dan apparatus terdekat dalam keluarga antara generasi orang tua dan anak adalah ibu. Meski peran ayah juga sama pentingnya, namun bagi keluarga yang ibunya berada di rumah, maka waktu yang dihabiskan si anak akan lebih banyak bersama ibunya. Sebab itu, sang ibu menjadi kunci bagaimana menciptakan kebiasaan bagi anaknya dan kehidupannya nanti.

Saya membayangkan bagaimana saya akan mendapatkan banyak bahan bacaan di Teras Bunda nanti. Yang pasti saya akan sangat berharap pada beberapa kenalan atau bahkan donatur yang ingin mensupport pondok baca ini kelak. Namun tentu saja saya tak bisa terus menjadi makhluk pengharap seperti itu terus. Sejauh ini saya beberapa kali menemukan bagaimana mendapatkan bacaan yang murah. Pertama, dari kegiatan bursa buku (tentu saja). Sayangnya, bursa buku ini diadakan di Jakarta hanya sekali atau dua kali setahun. Biasanya diselenggarakan di JCC Senayan. Sellain tempat itu, saya belum tahu. Meski bursa buku, harga yang ditawarkan tidak murah sekali. Selain itu, untuk masuk ke sana ada charge per-orangnya. Tapi tenang, yang kedua ini lebih menyenangkan, yaitu hunting bacaan murah di gerai buku yang "numpang" di hypermart. Biasanya, karena gerai buku ini tidak sebesar toko aslinya, maka mereka kerap memberi diskon untuk beberapa buku yang sudah tidak menarik atau tidak laku lagi. Nah, bacaan-bacaan yang sering didiskon adalah bacaan seperti buku resep atau buku tentang tips parenting. Bacaan macam itu memang tidak menarik (semua orang). Namun itu sangat menarik buat saya dan Teras Bunda nantinya. Selain itu, saya punya tempat kios majalah yang sering menjual majalah-majalah yang out of date seharga 5000 rupiah saja. Tinggal memilih kualitas majalah yang masih baik dan tema yang masih berhubungan dengan para ibu.

Bagi saya, yang paling penting adalah membangun kecintaan akan membaca lebih dulu sebelum nantinya mengkondisikan aktivitas membaca menjadi sebuah kebiasaan positif yang akan ditularkan pada anak. Bacalah apapun yang disuka. Start with anything. Bisa majalah, komik, buku-buku ringan, apapun! Bahkan saya memulai kecintaan akan membaca dari majalah Bobo lalu beranjak ke majalah remaja. Hingga saya sampai pada kesukaan saya akan fiksi dan sastra. Tidak ada yang buruk dari aktivitas membaca, kecuali konten bacaannya. Bahkan pada beberapa majalah yang segmen pembacanya adalah perempuan (perempuan bekerja atau ibu rumah tangga), meski kadang isi majalahnya agak mengintimidasi dan bias kelas menengah, buat saya tetap ada artikel-artikel menarik yang bisa tetap dibaca, dinikmati dan akhirnya (mungkin) diaplikasikan pada kehidupan sehari-hari. Walaupun majalah termasuk media dengan isu kontemporer seperti koran yang punya tanggal kadaluarsa, namun majalah tetap bisa lebih "awet" dengan artikel-artikel atau bentuk tulisan lain yang berguna. Misalnya, cerpen, hasil wawancara dengan tokoh yang inspiring, atau hanya sekedar resep masakan. Toh Teras Bunda memang mendedikasikan diri untuk menumbuhkan kecintaan akan membaca sehingga habit positif itu akan diwariskan pada anak-anak.

beberapa kendala prematur
Ini adalah asumsi awal saya. Hasil "pengamatan" saya sejauh saya berinteraksi dengan beberapa ibu-ibu di sekeliling saya dan juga anak-anak mereka. Kelihatannya kegiatan membaca memang belum menjadi sebuah kebiasaan di sini. Bahkan, beberapa orang mengindentikkan aktivitas membaca (khususnya membaca buku) dengan belajar. Dengan ujian. Hahaha!!! Ini sebetulnya menggelitik sekaligus membuat saya miris. Kenapa harus dengan menghadapi ujian, baru menyentuh buku? Ada persepsi lain lagi: bahwa jika ingin memperkaya diri dengan buku, maka harus jadi orang kaya lebih dulu. Bahasa lainnya: jadilah orang kelas menengah, baru berhubungan dengan buku. Dan entah, "hawa" Jakarta menjustifikasi persepsi ini. Padahal, saya telah belajar dari Jogja, bahwa buku murah bisa diperjuangkan. Sekarang tinggal bagaimana mental atau niat cinta membaca ini diwujudkan. Meski saya tahu, bukan hanya soal buku saja, lihat wajah yang lain: akses pendidikan layak, tempat bermain yang baik, bahkan public space di Jakarta hanya diriuhi oleh orang-orang kelas menengah yang sibuk sendiri. Namun saya yakin, Teras Bunda bisa membantu para ibu jadi lebih :melek" membaca. Amien.

Inilah tantangan saya. Saya berhadapan dengan hal besar yang dinamakan mind set  atau habitus, or anything in between. Tetapi bagaimana pun inilah misi Teras Bunda, merubah mind set bahwa membaca hanya monopoli anak sekolahan dan orang kaya saja. Menciptakan habitus positif baru bagi para ibu, agar mereka tetap bisa beraktualisasi diri dan memberi ruang untuk diri mereka sendiri.

Selain itu, saya juga menemui kendala teknis yang sangat klise: saya belum punya ruang untuk Teras Bunda. Sungguh, rumah orang tua saya (di mana saat ini saya tinggal) sangat tidak kondusif untuk sebuah pondok baca. Bahkan untuk mengadakan sebuah acara arisan atau reunian, saya tidak bisa membayangkannya! Semoga saja, kelak semua terjawab. Semoga mimpi ini kelak terwujud. Sampai sekarang, saya masih berdoa dan berharap. Sebab, saya percaya ini adalah sebuah mimpi besar yang baik. Dan layaknya sebuah epik nan heroik, hal baik itu memang harus menunggu waktu yang tepat. For blooming perfectly.

me, nowadays...

Sebetulnya menjadi ibu rumah tangga adalah peran dengan banyak pekerjaan. Terlalu banyak, malah. Namun, sepindahnya kami dari Jogja ke Jakarta, semua berubah. Beberapa pekerjaan yang biasa saya lalukan di Jogja, sudah tidak jadi rutinitas lagi. Misalnya, bicycling bersama Chiya ke pasar, hampir setiap hari. Juga memasak dan mondar-mandir dapur dan halaman belakang untuk mengecek jemuran. Di sini, urusan memasak sudah tidak serumit dulu. Ada penjual lauk-pauk yang setiap pagi keliling dan menghampiri rumah. Yang penting adalah makanan untuk Chiya, kalau untuk yang dewasa, apa saja mau! Kalau malas masak, bisa beli ayam goreng, soto, atau cuma bikin telur dadar saja, beres.

Untuk menemani Chiya, juga sudah tidak seintens dulu. Sebagian hati saya senang, karena saya bisa mengerjakan pekerjaan lain dengan leluasa atau sekedar membaca, menulis atau ke warnet. Sebagian hati saya yang lain merindukan momen intim itu. Meski masih ada jam tidur siang yang bisa membuat saya bisa bermesraan dengannya. Namun, ia saat ini lebih senang main ke luar rumah dengan teman-temannya. Jadi setelah acara sarapan selesai, langsung ia "kabur", apalagi jika pagar depan tidak ditutup. Sudah, habislah waktu luang yang mungkin bisa saya habiskan bersamanya. Meski saya meminta, bahkan dengan agak memaksa, agar ia pulang dan berhenti bermain, ia berkeras untuk di luar rumah. Bahkan sekarang jika saya mau ajak dia pergi, dia lebih memilih tinggal. Fiuh....

Waktu di mana Chiya total berada di rumah adalah selepas waktu makan, atau waktu maghrib. Apabila waktu makan sorenya dihabiskan di luar, maka menjelang maghrib ia pulang. Kadang juga harus dibujuk-rayu dengan iming-iming "ayo, Bunda mau buka puasa, nih, mau ikut engga?" Baru dia mau pulang. Sebab, biasanya waktu berbuka adalah waktu semua orang berkumpul bersama dan tersedia beberapa makanan kecil yang dia suka. Sehabis itu, biasanya adalah "jam belajarnya" bersama ayah-bundanya. Meski bukan dalam konteks "belajar" yang sesungguhnya atau belajar yang serius, waktu itu adalah waktu di mana ia memulai pembiasaan jam belajar yang benar-benar efektif. Biasanya, jadwal belajarnya hanya mewarnai, membuat angka, pura-pura ngobrol dengan bahasa inggris, atau pura-pura wawancara. Apapun sejauh ia belum bosan.

Nah, masalahnya kini beralih pada saya. Jika Chiya sudah punya ritme sendiri dan bahkan sebentar lagi ia akan masuk sekolah, maka tidak dengan saya. Saya masih begini-begini saja. Belum ada panggilan dari beberapa perusahaan yang saya lamar. Saya juga tidakpunya kesibukan lain yang bisa menghasilkan uang. Oke, batik adalah pengecualian. Dagangan batik saya sedang dalam masa hibernasi, menunggu pemiliknya bersemangat lagi. Kapan-kapan akan saya bagi cerita sulitnya jualan off line ini.

Rutinitas saya hanya sebatas mengurus makan-mandi Chiya, membantu mencuci pakaian, menyetrika, dan lepas malam hari, ketika tugas saya sudah usai, lalu sadarlah saya betapa "kesepiannya" saya. Sadarlah saya bahwa saya butuh melakukan sesuatu. Tidak harus selalu dagang, memang. Yang pasti saya butuh bekerja dengan kemampuan yang ada. Biasanya setelah makan malam saya menonton sinetron Korea di stasiun tivi lokal Jakarta. Sinetron lucu yang temanya tentang keluarga muda. Dan saya belum pernah menonton tontonan macam ini sebelumnya. Kemudian saya menyiapkan keperluan sebelum tidur Chiya, seperti menemani menyikat gigi, menyiapkan baju tidur, membuatkan teh, dan air putih. Sehabis itu, saya teruskan dengan film-film yang diputar di tivi. Jika bagus, saya teruskan menonton. Jika tidak, saya gigit jari. Kadang, kalau mood bagus dan stok ide cukup, maka saya menulis. Tapi itu sudah jarang. Saya tidak sesemangat dulu.

Begitulah.

Blog Hits

Hello

"Membuat jarak paling intim antara suara hati dan memori adalah dengan menuliskannya pada sebuah tulisan. Dan kamu, sedang menuju ke tempat milikku."

Enjoy reading.

Popular Posts

Followers