- sepetak ruang kecil untuk menjadi diri sendiri -

Saya tahu ini adalah isu yang sensitif buat sebagian orang. Oke, no offense, saya tidak sedang ingin membahas status seseorang apalagi mengcounter prinsip hidupnya. Tidak. Tapi kalau merasa tidak betah dengan judulnya, silakan baca tulisan saya yang lain saja, ya. Hehe, sungguh, saya tak mau membuat seseorang merasa tak nyaman.

Niat awalnya hanya berbagi. Sungguh, cuma itu. Selebihnya, bila terasa saya seolah-olah mau pamer atau apa: terserah. Tak apa. Semua berhak beropini.

A small story about me
Nah, begini. Saya ingin berbagi mengenai apa yang saya rasakan sejauh saya sudah menikah. For a preview, I am married with my bestfriend. A closest one. Dia adalah teman kuliah, satu fakultas, satu program studi, satu angkatan, dan tetangga kos. How great is that? Awalnya saya tak curiga, bagaimana kami bisa sedekat itu hanya dalam rentang dua bulan saja. Dia kerap mengajak saya ngobrol. Ngalor-ngidul. Soal kuliah, soal teori (yang waktu itu saya nggak ngerti), soal buku... soal perempuan. We've been shared everything. Dia terbuka dan bercerita banyak pada saya. Saya pun senang mengajaknya bercanda-canda.

Dan dari pembacaan saya, saya bukanlah tipenya. Tipikal perempuan idamannya. Bukan, sama sekali. Kalau dari cerita-cerita masa lalunya, saya berada di luar semestanya. Namun, saya keliru. Ia menyatakan cinta (yang pertama kalinya) di sebuah kelas tambahan. Wah, saya kaget bukan main. Sebab, bukan hanya saya yang tidak termasuk dalam tipenya: dia juga bukan tipe saya! Hahahaha...

Saya menolaknya dan kami jadi jauh sekali. Teman-teman ikut imbasnya. Sama-sama tak enak, mungkin. Tapi, kami (terutama saya), menyadari sesuatu. Saya butuh dirinya. Dan ia adalah lelaki baik (setidaknya untuk diri saya). Kami pun bersama. Tiga tahun lamanya dan menikah. Tak usahlah saya deskripsikan bagaimana kami menikah. Namun, apa yang telah kami lalui, begitu berbeda. Kata orang: jaman pacaran dan jaman menikah itu berbeda. Orang bisa "kelihatan" kulit aslinya ketika sudah menikah. Really??

Ada hal-hal yang selalu jadi pertimbangan saya ketika saya berhadapan dengan sebuah relasi bernama: suami-istri. Entah itu pertimbangan masa lalu atau di luar itu. Namun, entah kenapa, hubungan kami (sejauh ini) terasa seperti partnership, bukan patron-klien (dalam Antropologi). Ia bukan tipikal suami yang gengsi mencuci, tidak juga gengsi menjadi guru bagi anak kami: Chiya. Ia mau melakukan segalanya. Hal-hal yang bagi sebagian besar lelaki adalah "porsinya perempuan".

Tak banyak yang berubah, sebetulnya. Buat saya, kami hanya perlu adjust saja. Tapi bukan berarti apa yang ada pada kami adalah sempurna. Tidak. Kami juga kerap bertengkar, mempermasalahkan hal sepele lalu diem-dieman. Tetapi, sejak pacaran kami mengerti “gaya” marah masing-masing. Dan kelak ketika menikah, kami semakin tahu kadar temperamen kami dan mengerti bagaimana cara meredakannya (tetap dengan cara yang dulu kami lakukan).

So, what a marriage is all about?
Well, I have to confess, I know nothing about marriage. I’m not an marriage expert. But, just because I’ve been in a marriage for at least four years and I had thousand feelings about it, so all I want is just to share what I’ve been through so far.

Sebetulnya, pada relasi apapun, perselisihan pasti ada. Akui saja. Entah itu relasi pertemanan, relasi pekerjaan, apapun itu. Saya yakin, menjadi lajang pun pasti ada problem yang harus dikompromi. Problematika itu bukan cuma monopoli lembaga pernikahan saja. Saya pun tidak ingin mengatakan bahwa saya bebas dari masalah. Tidak. Saya punya masalah dan pasti ada masalah. Kami pernah punya masalah and we always have. Tetapi, in a marriage, cara memecahkan masalah adalah cerminan bagaimana dua orang saling berpegangan. Bagaimana proses bargain berlangsung.

Marriage “force” you to learn a very important lesson: letting go. Belajar melepaskan atau dalam istilah Islam: ikhlas. Sounds familiar or tend to “too familiar”? Ya, kedengarannya memang sangat biasa. Namun, jurus ini sangat dibutuhkan. Bahkan seolah-olah kita butuh stok dalam jumlah yang sangat banyak. Bukan hanya untuk hal-hal krusial macam keterbukaan finansial, tetapi juga pada hal-hal renik seperti misalnya kebiasaan meninggalkan piring kotor sembarangan. Sepele ya? Tetapi hal renik seperti itu bisa membuat manyun seharian. Dan manyun means: a very tiny-unimportant things could makes your day grey all day long! Nah, belajar untuk membiarkan hal-hal sepele agar tidak dibesar-besarkan adalah pelajaran dasar about letting go. Just deal with what it’s supposed to.

Then, a problem should have to be end up properly. There’s should be a dialogue, should be a bargain
. Bahkan, ketika ada porsi yang tidak sama banyak dalam sebuah relasi (pernikahan), masing-masing harus tetap punya ruang yang fair. Dan itu dibangun dengan dialog. And a dialogue requires two persons to build communication and final decision. For a pre-conclusion, marriage teach us about share everything. Well, not “everything”, actually. You know, we still deserved some spaces for our-own-self.

Selain hal-hal kecil, ada hal-hal besar dalam pernikahan yang sebetulnya sangat krusial sehingga harus dilakukan hard bargain. Masalahnya, kadang partner tidak sadar atau justru tidak mau tahu. Misal, ada hal-hal kecil yang bagi partner adalah hal besar seperti: kebiasaan merokok, “mencekik leher botol”, over-budget-shopping, mengabaikan anak, dan lain-lain. Sebetulnya, yang harus dipahami adalah pentingnya menjaga perasaan masing-masing. Dan lagi-lagi ini persoalan letting go. Belajar melepaskan hal-hal yang disenangi dan belajar menahan diri (jika memang ada “gesekan”). Tidak mudah, apalagi kalau dapat tekanan dari teman-teman yang dianggap sebagai “orang-orang penting”. Namun yang harus terus diingat adalah: relasi ini dibangun atas dua orang. Bukan ingin menafikan kehadiran orang-orang lain dalam lembaga ini, tetapi betapa masing-masing orang semestinya saling mendukung. Terutama secara psikis. This building won’t stand up straight if not supported with a strong foundation. Dan dukungan yang paling menentukan berasal dari kekuatan pikiran.

Marriage is a long life relationship. Jangan bayangkan rentang waktu yang harus dihadapi. You’ll die before you finished. In some point, marriage teach us about life lessons. Saling belajar dari diri masing-masing, belajar tentang semangat hidup, belajar menerima serta melepaskan, belajar bercermin, sampai belajar melengkapi. For me, my partner is my best friend to share minds and share a cup of coffee. We often had fight, we sometimes didn’t find a good way because of a misconception. But since you can’t hide from a trouble to come, you’re still have someways to escape, to take a rest, to find another stronger hold-on, to get a self-healing, then to come back as a new-better person. Nothing’s easy, but everything’s gonna be fine. Just fine.[]
Hm, sebetulnya tulisan ini saya mulai ketika Fathiya masih tidur. Begitu pula suami saya. I know the day is too early, tapi keinginan untuk menulis tak bisa ditunda. Namun, seberapa pun besarnya hasrat saya untuk menulis, kuasa ada pada komputer saya yang semakin hari semakin menjadi. Kalau komputer saya bisa bicara, mungkin dengan congkak ia akan berkata: i’m in charge! Padahal saya dan suami sedang giat-giatnya menulis. Malah kadang kami seperti dua orang yang “rebutan” komputer, karena kesempatan untuk leluasa menulis tak bisa datang kapanpun. Jengkel rasanya saat sudah siap di depan komputer yang “maha besar” ini, namun tiba-tiba layarnya gelap. Masih syukur kalau beberapa “tamparan” di sisi-sisi tubuhnya membuatnya kembali hidup. Nah, yang bikin tensi naik adalah ketika ia sama sekali tak mau terang lagi. Bukan cuma kesal setengah mati, kadang saya sampai mengutuk Tuhan. Maaf, bagi yang merasa Tuhan hanya untuk disembah.
 
Tadi pagi, ketika hari masih dingin dan saya tiba-tiba ingin menulis sesuatu. Sesuatu yang tentu saja dekat dengan hidup dan diri saya. Apalagi kalau bukan soal peran saya sebagai ibu. Maaf, buat yang merasa bosan soal ini setengah hidup-setengah mati. Sebagai orang yang “habitatnya” atau sebagian besar waktunya habis di rumah, saya hanya bisa mencoba survive. Saya tak lagi bisa berharap punya kehidupan seperti dulu: have a lot of spare time, jobless, dan bisa wara-wiri kesana-kemari. Saya pun tak mungkin bercermin menggunakan hidup orang lain. Seperti yang pernah saya bilang dulu: silakan menoleh kanan-kiri, but don’t let yourself drowning too deep. Salah satu cara untuk survive adalah bersyukur. Menjadi ibu adalah anugrah. Tapi ada satu privilege yang tak semua ibu mau menyadari dan menjalankannya: total buat anak. Being total yang saya maksud tentu sangat relatif dan subyektif. Buat saya, being total adalah ketika seorang ibu mau mengamati dan mencermati tiap inci pertumbuhan serta perkembangan anak, from the first day the child was born, at every single day. Mungkin tak harus menemaninya 24/7 atau “turun tangan” langsung, tapi mengontrol ritme hidup hingga menciptakan bibit baik bagi habitus-nya kelak, that seems good enough.
 
Tak banyak ibu-ibu yang totally a good mother. Tapi saya kenal seorang. Seorang perempuan yang almost-perfect mother. Dia adalah ibu rumah tangga yang boleh dibilang meninggalkan kampus untuk being total at home. Total for her daughter, total being a housewife and she is almost-totally perfect! She is my role model of being a good mother. Namun sebenarnya tak harus hanya jadi ibu rumah tangga untuk jadi ibu yang total. Sebab esensinya adalah total perhatian dan menciptakan habitus yang baik. Meski memang jika dilogikakan, ibu rumah tangga akan lebih total dalam mengontrol si anak karena punya banyak waktu bersama. There’s many type of mother: ada ibu rumah tangga yang hanya berpikir untuk mencari uang, ada ibu bekerja yang sangat perhatian, ada ibu rumah tangga yang sibuk sendiri, ada juga perempuan yang sudah menjadi ibu namun tak mau menjalani perannya dan memilih meninggalkan anaknya.
 
Oh ya, saya punya pengalaman waktu pergi bersama suami dan Fathiya. Waktu itu saya juga janjian dengan beberapa teman perempuan saya. Kami bertemu di suatu tempat makan lesehan. Di sana hanya ada kami dan seorang ibu, dua orang anak lelaki age range 4-5 old, dan seorang perempuan muda yang saya tengarai sebagai seorang babysitter. Nah, setelah kami selesai makan dan berencana bubar, Fathiya masih harus memakai kembali sepatunya yang berada tak jauh dari rombongan ibu dan anak-anaknya itu. Salah satu anak lelaki yang lebih kecil bersikap agak agresif dan hendak memukul Fathiya atau semacamnya. Agak lama, si ibu yang berkerudung-rapi-dandan ini tidak bergeming, tidak melakukan sesuatu untuk melarang atau menegur si anak padahal kami ada di depan mejanya dan hanya berjarak kurang dari satu meter. Ia menopang dagu dan agak merengut karena mungkin si anak tak kunjung habis makannya. Ia lalu menyuruh si pengasuh untuk segera membereskan pekerjaannya. Ketika kami masih di depan, rombongan itu lalu beranjak pergi dan menuju mobil. Sampai sekarang, jika saya mengingat hal itu saya masih heran dan bertekad tidak mau seperti ibu itu. Semoga saya selalu lebih baik.
 
Well, it’s so optional. Adalah sangat menjadi pilihan: mau jadi ibu yang seperti apa. Dan menjadi ibu yang total juga pilihan. Saya menyebutnya privilege, karena pilihan ini adalah sesuatu yang istimewa dan setiap ibu berhak mendapatkan peran istimewa ini. Bagaimana tidak istimewa, bisa menemani anak sejak ia lahir, day by day, menghidupi raganya yang masih rapuh dengan ASI yang fully-immuned hingga ia tumbuh dan perlahan bisa berjalan lalu berbicara, mengenalkan banyak hal yang belum pernah ia lihat atau sentuh, hingga kelak ialah yang menemani kita. Saya sendiri masih terus belajar. Dan semoga saya belajar dari orang tepat. Dari si almost-perfect mother tadi, misalnya, bukan dari ibu yang “lari” dari peran istimewanya.
 
Mungkin saya dan teman-teman saya juga harus banyak belajar menjadi ibu yang total darinya. 

[from a file :Yogya, 12 May 2009, finished @ 09.23 am]

Yuk, masak!

[Mau resep yang lain? Sila cek Cookpad saya, ya.]

Sejak di Jakarta, saya malas masak. Entah, mungkin karena di sini provides anything, termasuk kebutuhan lauk-pauk sehari-hari, jadi keenakan tak mau susah-payah mikir mau masak apa, belanja, sampai proses masak-memasaknya. Selain itu, Mami (ibu saya) yang bekerja dari pagi sampai sore hari tak punya waktu juga untuk urusan beginian. Jadilah beliau pelanggan setia Mbak Sayur yang lewat setiap pagi. Mbak Sayur membawa banyak pilihan menu lauk-pauk. tetapi sebetulnya pilihannya itu-itu saja, jadi tetap saja harus masak untuk sekedar alternatif makanan.

Kalau di Jogja, saya benar-benar usaha untuk aktivitas yang satu ini. Mulai dari menentukan menu makanan, belanja setiap hari ke pasar naik sepeda bersama Chiya, memasak sambil multitask: menjaga jemuran, menemani Chiya main di halaman belakang dan sebagainya. Saking bingungnya, saya akhirnya memutuskan untuk mencatat tiap menu yang sudah saya masak hari ini. Sehingga jika sewaktu-waktu saya bingung bukan kepalang mau masak apa untuk menu hari ini, maka saya tinggal membuka catatan menu saya itu. Lumayan membantu. sih. Alternatif lainnya tentu saja browsing resep-resep lezat dan mudah dari internet. Waktu itu saya rajin online dan menjajal beberapa resep lezat. Tapi kali ini, resep-resep yang saya posting bukan dari internet. Beberapa adalah menu favorit yang biasa saya sajikan. Jadi, layak untuk dicoba!

GADO-GADO SIRAM
Kalau gado-gado Betawi, biasanya bumbunya diulek dan sayurannya dicampur bersama bumbunya. Demikian juga dengan panganan berbumbu kacang sejenis, macam lotek, ketoprak dan lain-lain. Resep ini saya dapat dari seorang teman yang pernah jadi juragan kantin Fakultas Hukum kampus saya. Karena kepingin, saya sms: minta bocoran resep. Dan inilah dia!

BAHAN ISI:
Sebetulnya aturan main dalam masak-memasaka adalah selera. Jadi saya juga tak ingin membatasi pilihan bahan isi untuk gado-gado ini. Kalau saya biasanya:
- Tahu cina yang dipotong one-bite-size dan digoreng sesukanya.
- Kentang yang juga dipotong seukuran satu gigitan dan digoreng (atau bisa juga kalau mau direbus atau dikukus).
- Telur ayam yang direbus lalu dikupas dan dipotong separuh bagian.
- Sayuran yang direbus/dikukus: wortel yang dipotong korek api, kecambah yang dibersihkan akar atau kepalanya, dan dau selada (bisa ditambahkan sayuran lain jika suka).
- Tambahan: kerupuk nasi uduk (yang kecil-kecil itu lho), bawang goreng dan kecap manis.

PEANUT SAUCE:
 Karena yang membuat sajian ini lezat adalah saus kacangnya, maka jangan pelit-pelit memberikan kcang tanahnya. Saya tak punya ukuran pasti dan presisi mengenai seberapa banyak kacang tanah yang dibutuhkan. Jadi dikira-kira sendiri aja, yaaa... haha!
Nah, karena ini abad 21, kita bisa mengandalkan blender atau food processor, jika punya. Kacang tanahnya digoreng bersama dengan beberapa siung bawang putih dan cabe (kalau mau pedas), tapi bawang dan cabe diangkat lebih dulu. Waktu goreng kacang, jangan meleng. Nanti kalau gosong sedikit, rasa saus kacangnya jadi pahit.
Nah, setelah kacangnya diangkat dan agak dingin, baru dimasukkan ke dalam blender bersamaan dengan bawang putih dan cabe. Lalu campurkan dengan santan kental. Jika blendernya sampai tidak bergerak, itu tandanya kurang air. Bisa ditambahkan air atau santan lagi. Kemudian sehabis melumat kacang, sausnya dididihkan. Pindah ke panci atau sauce pan, tambahkan daun jeruk yang sudah disobek-sobek. Semakin banyak daun jeruk, akan semakin sedap. Bumbui juga dengan garam dan gula jawa. Aduk-aduk terus, jangan sampai permukaan panci lengket dan gosong. Hentikan sampai sausnya mengental.

STEPS:
Karena namanya gado-gado siram, maka tata bahan isi di atas piring, lalu siram saus kacangnya. Taruh kerupuk dan tambahkan kecap manis. Voila! Bon apetite!

PANGSIT GORENG
Hehe, kalau yang ini sebetulnya resep gak-sengaja-nemu. Maksudnya, awalnya saya mau bikin sup pangsit, karena sudah agak lama, kulit pangsit yang ada di kulkas jadi mengeras. Nah, karena sudah tak mungkin buat bahan sup, akhirnya saya siasati untuk digoreng saja. Dan hasilnya? Setengah jam berkutat di dapur, tak sampai lima menit pangsit gorengnya ludes ^_^

BAHAN:
- Kulit pangsit
- Isinya bisa macam-macam, kalau saya: daging ayam yang direbus dahulu, cincangan wortel, dan daun bawang. Karena kulit pangsit tidak bisa memuat banyak isi, kalau bisa jenis isiannya juga jangan terlalu banyak.
- Bumbu: garam, merica dan kaldu bubuk (kalau mau).

STEPS:
- Kalau kulit pangsitnya kaku karena kelamaan di kulkas (seperti kasus saya itu), basahi dulu dengan percikan air. Setelah agak lemas, bisa mulai disi dengan isiannya yang sudah dicampur dengan bumbunya. Ingat, sebelumnya dicicip dulu isiannya, takut keasinan (dan disangka pingin kawin, haha).
- Setelah itu, bagian atasnya dipelintir sambil ditekan agar merekat. Kalau tadi pakai air dan masih basah, bisa langsung lekat kok.
- Goreng pada minyak panas dengan api sedang. Sajikan dengan saus, jaminan langsung ludes! Selamat mencoba!

ES LECI
Menu ini inspirasinya dari tetangga yang sedang mengadakan arisan dan menyuguhkan menu segar ini. Beneran segar lho! Yuk, coba.

BAHAN ISI:
- Buah Leci, bersihkan isinya.
- Stroberi, potong jadi delapan bagian.
- Nata de coco.
- Biji selasih.
- Agar-agar yang siap pakai. (Kalau mau agak sedikit usaha cari ke pasar, bisa nemu agar-agar yang sudah dicetak kecil-kecil. Banyak pilihannya, ada yang bentuk mawar, bundar-bundar, bentuk ikan, alfabet, dan lain-lain. Ukurannya tidak lebih besar dari ukuran kuku tangan lho! Imut kan?)
- Silakan tambah bahan lain yang disuka.

STEPS:
- Masukkan semua bahan dalam satu wadah, tambahkan sirup leci dan air matang, icip terus sampai rasanya pas, lalu masukkan es batu saat akan menyajikan.
- Sebenarnya pakai sirup rasa lain tak masalah sih, asal rasanya pas dengan isis dan buah-buahannya.


Nah, gimana? Gampang kan? Saya ini bukan cooking expertise, jadi kalau saya saja bisa, maka yang lain juga lebih jago doonngg...
"Engga mau! Pokoknya aku mau sekarang!!"

Wiuh... Ngeri banget deh... Kalimat di atas itu, mengutip apa yang pernah dilakukan Chiya, putri saya. Ketika pada kondisi ini, dia betul-betul berontak, berteriak dan sama sekali tidak bisa dibujuk. Hal ini belum lama terjadi dan itu adalah pengalaman pertama kali sejak kami menjadi orang tuanya. Kami sebagai orang tuanya pun bahkan heran: mengapa ia yang biasanya bisa dibujuk dan diberitahu secara halus, sama sekali tidak tergoyahkan? Sama sekali tidak mau mendengarkan kami, menatap mata kami, dan bersikukuh dengan keyakinannya sendiri.

Bingung kan?

Okay... Ketika pada momen itu, saya pun merasakan bingung yang mungkin cenderung pada perasaan kecewa. Mungkin saya kecewa karena Chiya tak lagi "manut" seperti dulu. But well, life goes on and she's turned to be a big girl. Mau disadari atau tidak, mau diterima atau tidak, sebetulnya pertentangan macam itu pasti muncul. Pasti ada. Namanya juga manusia, ya. Harus diakui pula, bahwa bagaimana pun, mereka punya persepsi sendiri. Mereka pun berhak berargumen pada kita, orang tuanya. Masalahnya, sekarang hanya pada tekniknya, cara mereka mengutarakan pandangan-pandangan mereka sebagai makhluk merdeka. Sebab, meskipun mereka adalah anak kita, tak selamanya mereka akan jadi anak-anak. Dan belajar melepaskan asumsi itu, butuh waktu. And so do this things.

Pada istilah parenting, apa yang dialami Chiya disebut tantrum. Saya tak tahu pasti definisi presisinya, tapi kurang lebih begini: tantrum adalah kondisi di mana anak merasa tidak nyaman dengan lingkungan atau bahkan dirinya sendiri dan diekspresikan dengan cara yang keliru, seperti teriak-teriak, marah-marah, membanting barang, dan sebagainya. Oleh sebab itu, karena sebetulnya tantrum adalah cara pengekspresian yang keliru, yang harus dilakukan orang tua adalah "meluruskannya". Metode yang bisa ditempuh ada beberapa cara, namun sebelumnya, kita pilah-pilah dulu tingkatan tantrumnya, ya...

Dari pengalaman saya, sebelum menjadi tantrum (berteriak-teriak atau mengamuk), biasanya ada tingkatannya. Awalnya anak hanya merengek-rengek, pada level ini, soft bargain masih bisa ditempuh. Tawar menawar masih lunak. Penjelasan dalam bahasa yang sederhana masih bisa diterima oleh anak. A simple case, for example, kalau anak mau makan sendiri atau ingin melakukan sesuatu by themself, biarkan saja. Pertama, ini adalah bagaimana kita sebagai orang tua memberikan ruang bagi anak untuk belajar mandiri. Kedua, sekalipun membuat berantakan atau apa yang dikerjakannya tidak maksimal: yang harus diingat adalah bahwa ini bukan sesuatu yang krusial untuk dipermasalahkan. So let them go...

Lalu pada tingkatan selanjutnya, masuk pada level medium, di mana juga diperlukan medium bargain. Di posisi ini, orang tua harus mau melunak dan mulai memperhatikan posisi si anak juga. Jika sekiranya anak sudah memohon dengan cara yang sopan dan situasinya sebetulnya tidak begitu krusial, orang tua bisa mulai untuk mempertimbangkan tawarannya. Solusi yang ditawarkan pun sebisa mungkin adalah win-win solution. Misalnya, jika anak merengek minta permen ketika sudah saatnya makan siang. Pertama, karena ini menyangkut hal krusial (aktivitas makan), maka tawaran orang tua harus agak dinaikkan. Kedua, jika memang makan permen tidak dilarang, (dalam jumlah yang dibatasi dan kontrol kualitas permen), pilihan tawarannya adalah: orang tua bisa memberikan permen SETELAH makan siang. Ingat, jangan terlalu keras namun juga jangan gampang mengalah. Pada titik ini, proses bargain mulai sulit dan membutuhkan konsistensi orang tua. Jika kesepakatan telah tercapai, apa yang dijanjikan harus dipenuhi.

Level yang paling tinggi, tentu saja tantrum. Anak bisa mengalami tantrum ketika orang tua tetap bersikukuh pada keputusannya. Sebagai orang tua, kita memang harus mempertahankan hal-hal yang prinsipil seperti persoalan sopan-santun, jadwal makan atau hal-hal rutin lainnya. Orang tua wajib bertahan dalam hal ini. Jika anak mulai mengalami tantrum, ada beberapa hal yang bisa diperhatikan.

Mungkin ketika mencapai titik ini, orang tua mulai jengah untuk berdialog. Ya, tidak mudah memang. Apalagi jika anak mengalaminya di tengah orang banyak atau di tempat umum. Dari yang pernah saya baca, sebetulnya mengatasi tantrum bukan dengan sikap yang sama-sama keras (saling berteriak atau kasar) juga tidak dengan cara yang terlampau "lembut" seperti membujuknya. Solusinya adalah: tetap tenang ketika anak mulai marah-marah atau berteriak. Biarkan saja sampai ia tenang. Jangan melayani tantrumnya. Saat dia tidak mendapat perhatian orang tua, tantrumnya akan berhenti. Kemudian ketika ia sudah cukup tenang untuk didekati, bantu ia untuk mendeskripsikan perasaannya. Misal: kamu kenapa marah-marah? Lapar? Capek? Kalau kamu capek, kita bisa istirahat di kamar. Atau nanti Bunda ambilkan buku cerita.

Penting sekali untuk membantunya mengetahui apa yang sedang dirasakan dan memberinya pilihan jalan keluar. Saat ia sudah benar-benar tenang, orang tua bisa mendekatinya dengan hangat. Tantrum adalah suatu kondisi di mana anak belum bisa mengekspresikan perasaannya dengan kata-kata. Yang utama adalah memberinya semacam "keyword" untuk membantu mengidentifikasi emosinya. Ini membutuhkan kegigihan yang tinggi karena sebetulnya durasi tantrum pada tiap anak berbeda-beda.

Yang harus diingat:
1. Bedakan reward dengan menyuap.
Saat anak tidak mau mandi, kita menjanjikannya ice cream cone kesukaannya rasa blueberry. Well, that's tricky! Kita bisa memberikannya es krim, SETELAH aktivitas mandi selesai. Proses bagaimana membujuk dan bargain agar ia mau mandi, memang sulit. Tapi "menyuapnya" juga tidak baik. Kebiasaan ini akan membuatnya terbiasa dengan "upah" tiap kali kita menginginkan sesuatu darinya. Bad habbit!
2. Memberi alasan yang tidak logis,
hanya sekedar menakut-nakutinya. Yang ini, jangan dilakukan, ya... Biasakan anak mendengar apa yang sebenarnya. Agar logika berpikirnya juga selalu rasional. Katakan bahwa ia tidak boleh bermain di luar rumah pada malam hari karena ia seharusnya belajar di rumah dan berkumpul dengan anggota keluarga lainnya. Jangan katakan bahwa di luar sana ada setan "wewe gombel" pemakan anak kecil berkeliaran! Stay true!

*akhirnya blogging lagi*

Huaaahhh.... After so long.... Akhirnya bisa blogging juga!! Harus sangat berterima kasih pada seorang kawan yang telah sungguh berbaik hati menghibahkan modem beserta kartu baru untuk kami. Sungguh, aku berdoa untuk mereka...

Sejauh ini, saya bukan hanya absen pada aktivitas blogging, tapi juga ritual menulis refleksi. Sebetulnya ini persoalan malas. Hal-hal lain seperti modem atau waktu hanya efek sampingan saja.

Juga mengenai kontemplasi dan belajar memahami isi kepala orang lain.Susah! Dan saya masih mau mencoba, terus mencoba. Sekian dulu. Sepertinya cukup untuk recall... Kapan-kapan akan saya posting tulisan tentang tantrum pada anak. Bye!
Tulisan ini terinspirasi dari pengalaman saya menemani Chiya makan sore di luar rumah. Sembari menyuapi, biasanya dia bermain dengan beberapa temannya yang juga sedang makan sore. Kemudian ada temannya yang bernama Anggun yang tak mau makan dan terus menghindari ibunya. Ibunya dengan tergopoh-gopoh mengejar anak-anaknya yang bermain sepeda dan jalan-jalan. Selain Anggun ada adik lelakinya yang biasanya juga disuapi ibunya setiap sore. Repotnya, selain harus bergantian mengejar-ngejar anak-anaknya, si ibu juga harus meladeni permintaan mereka yang macam-macam. Seperti pada sore itu, adiknya Anggun mau makan meski dengan jalan-jalan ke sana kemari. Lalu ketika gilirannya untuk menyuap, Anggun beralasan ini-itu, dia minta dibikinkan es teh, barulah dia mau makan. Sebetulnya, pada momen inilah terjadi proses bargain atau tawar menawar.

Sang ibu ternyata tak kuasa pada rewelan anaknya itu. Mungkin karena lelah juga. Kemudian ia masuk rumah dan tak lama membawa segelas es teh dengan es batu mengambang-ambang. Setelah itu, ternyata belum selesai, setiap sekali suap, Anggun merengek minta minum es teh. Sekali lagi, ibunya pun tak kuasa. Padahal, katanya sehari kemarin dia juga begitu, dan semalaman Anggun tidak bisa tiudr karena harus bolak-balik pergi ke toilet untuk pipis. Merepotkan ya?

Selalu ada proses tawar-menawar dengan anak. Pasti ada. Sebab, selain karena anak sudah mulai bisa mengutarakan pendapatnya, itu juga tanda bahwa kita sebagai orang tua harus bisa memposisikan diri secara seimbang. Ada beberapa bargain yang harus ditolak, ada pula yang harus mengalah. Momen di mana kita bisa mengalah adalah di mana ketika apa yang diminta anak bukanlah hal yang krusial. Misalnya, persoalan memilih baju. Sebaliknya, momen di mana ada proses bargain yang harus diberikan harga mati adalah di mana anak merengek untuk hal-hal yang krusial. Misalnya, seperti Anggun tadi.

Saya mengerti, ibunya Anggun mengabulkan permintaan anaknya karena beliau ingin "main aman". Artinya, dia lelah jika harus melakukan hard bargain dengan anaknya yang akan berujung pada rengekan atau bahkan tantrum. Pun ia ingin tugas memberi makan anaknya cepat selesai tanpa harus "berperang" dengan anaknya. Meski, belakangan nanti ia akan kerepotan dan baru bisa tidur jam dua pagi.

Menurut saya, proses tawar-menawar yang dilakukan ibunya Anggun belum maksimal. Apalagi yang dihadapinya adalah persoalan krusial, yaitu: aktivitas makan. Sebetulnya proses tawar-menawar bisa dimulai dengan cara yang halus, hingga sampai pada tawaran yang mungkin agak mengancam. Misalnya: akan dibuatkan es teh setelah makannya selesai. Atau yang paling keras: tidak ada es teh kalau merengek terus. Ibu pasti bisa memahami perangai anak dan mengerti seberapa besar toleransi yang bisa diberikan padanya. Untuk itu, jangan pernah mengalah pada hal-hal yang seharusnya diperjuangkan demi kebaikan bersama. Namun, juga bukan berarti kita harus selalu bersikap keras pada mereka.
Aktivitas belajar di rumah Chiya tambah seru!! Karena saya mulai menemukan sumber belajar dan aktivitas menyenangkan untuknya. Misalnya, mewarnai. Jika sebelumnya ia mewarnai di buku-buku mewarnai yang tipis dan murah itu, maka lama-lama ia bosan dan kehabisan halaman lagi. Sebab, hampir dalam tiap aktivitas belajarnya ia mewarnai. Hingga akhirnya saya mulai mencari-cari coloring page yang printable untuknya. Dan, taadaa!! Dia tidak pernah kehabisan lembar mewarnai lagi. Selain itu, dia lebih semangat dengan lembar mewarnai yang diunduh ini. Mungkin karena dia bisa memilih sendiri gambar-gambar yang sebagian besar adalah tokoh-tokoh kartun yang dia senangi. Hasilnya, dia mau lebih telaten untuk tidak terburu-buru menyelesaikan lembar mewarnainya. Kapan-kapan saya unggah foto-fotonya.
hasil karya Chiya yang ditempel di dinding

 Lalu, tentu saja: buku. Entah, kami merasa belakangan ini Chiya makin "maniak buku". Soalnya ketika kami ke toko buku (dan masing-masing dari kami asyik sendiri melihat-lihat), ia lalu menuju tempat buku-buku anak-anak, memilih salah satu buku yang tidak dibungkus, lalu lesehan di sana. Mengoceh tidak jelas tetapi maksudnya menceritakan apa yang ada di buku itu. Belum lagi kalau ia dibelikan beberapa buku, maunya langsung dibuka dan diceritakan saat itu juga. Meski masih belum beranjak dari tempat beli buku itu. Oh ya, kami tidak pernah membelikan Chiya buku-buku mahal. Bukan pelit, namun kami yakin, ada hal lain yang lebih esensial. Yaitu: niat mewarisi kecintaan akan aktivitas membaca dan dampingan atau support orang tua dalam hal ini. Bagi kami, buku bacaan bisa diusahakan, yang lebih penting adalah bagaimana pesan untuk cinta membaca itu sampai dan diaplikasikan pada hidupnya. Tak perlu buku pop-up atau buku-buku berbasis barat lainnya. Harga untuk mendatangkannya kemari saja sudah mahal. Jadi, kami memilih untuk membeli yang sudah didiskon atau yang masih bisa dijangkau oleh dana si bapak itu, hehehe...

Kemudian, kami juga menggunakan games di komputer sebagai aktivitas belajar yang lain. Sampai sekarang kami baru punya dua buah games dengan software. Karena mulai bosan dan hafal dengan permainan-permainannya, maka Chiya kerap saya ajak ke warnet untuk memainkan games online khusus untuk preshcool. Dan, lumayan. Dia bisa asyik sendiri dalam biliknya untuk memainkan permainan berhitung, mewarnai atau memory games. Ada beberapa alamat situs khusus preshcool games ini yang bagus-bagus dan kualitas gambarnya baik.

Ada juga aktivitas mengenalkan berhitung dengan cara yang cukup menyenangkan. Beberapa hari lalu, kami membeli sepaket alat belajar yang jujur, kami tak tahu namanya. Memang ada namanya di bukunya, tetapi jika bertanya pada si Mbak yang bertugas menjual produk-produk untuk belajar, bingung juga jadinya. Dan, paket belajar itu, lumayan mahal. Tapi kami lebih senang membelikan alat ini dari pada clay, boneka untuk didandani, buku impor, atau yang lain. Nah, dengan alat ini, Chiya yang sudah bisa berhitung dengan runut, mulai mengembangkan kemampuan berhitungnya dengan logika penjumlahan dan logika mencocokkan. Lumayan, dia menikmatinya. Kapan-kapan, kami harus melengkapi seri mengenal huruf dan membaca.

Chiya juga masih suka menonton beberapa VCD Elmo, Dora, Winnie The Pooh atau Jalan Sesama yang sudah dikoleksi sejak kami masih di Jogja. Beberapa tontonan itu cukup efektif mengenalkan kosakata dalam bahasa inggris. Dan (lagi-lagi) lumayan: Chiya mulai menambah kosakata bahasa inggrisnya. Kali ini, ia mulai minta belajar mengaji. Sebetulnya awalnya ia ingin seperti teman-temannya yang sudah belajar mengaji. Karena kami juga belum memasukkan dia pada TPA atau lembaga keagamaan lain, maka saya pikir ia akan memulainya (juga) di rumah. Yang lucu, ia suka membawa-bawa buku Yassin dan seolah-olah membaca buku itu dengan fasih (dan lantang) sekali. Saat ini, ia sedang saya ajari Al-Fathihah dan mengiming-iminginya dengan "mukena baru yang lucu" (yang sebetulnya sudah kami siapkan, hehe).

That's the way it is... Untuk sejauh ini, sepertinya memang harus memberdayakan si bunda yang masih "menganggur" di rumah. Toh, selama ini kami merasa bahwa belajar di rumah tidak terlalu buruk dan hasilnya cukup membuat kami bangga dan bahagia. []

sekolah atau belum?

Adalah hal biasa jika bertemu dengan anak usia tiga-empat tahun dan bertanya: sudah sekolah belum? Chiya juga kerap bertemu dengan pertanyaan itu. Dan tentu saja ia jawab: belum! Karena memang ia belum ikut aktivitas preshcool apapun. Bahkan PAUD. Bukan apa-apa, kami punya beberapa pertimbangan. Pertama, ia masih punya saya, bundanya, yang masih bisa menemaninya di rumah. Kedua, jujur saja, kami masih bingung dengan pilihan orientasi preshcool ini. Misalnya, apakah kami ingin memilih sekolah dengan orientasi agama atau yang konvensional saja. Lalu pertanyaan jangka panjangnya: bagaimana merancang masa studinya sampai ia masuk sekolah dasar nanti. Sebab, di Jakarta sudah ada regulasi soal limit minimum untuk usia masuk sekolah dasar. Jadi, sepintar apapun si anak, jika usianya belum genap enam setengah tahu, ia tidak akan diterima. Bahkan jika kurang sebulan saja. Maka itu, kami juga berpkir tentang antisipasi apabila nanti Chiya jenuh bersekolah. Just in case. Pertimbangan lain adalah bahwa sebetulnya Chiya tidak memaksakan kami untuk memasukkannya ke sekolah. Dan ia memang tidak pernah bersikap terlalu memaksa seperti itu. Jika sekali-dua ia berkata: aku mau sekolah, perbincangan itu akan selesai ketika kami menyahut: iya, nanti, ya. Jadi sepertinya baginya bersekolah belum menjadi sesuatu yang urgent.

Karena terlalu banyak pertimbangan, akhirnya kami pending rencana untuk menyekolahkannya tahun ini. Selain karena beberapa pilihan sekolah yang kami inginkan sulit didapat dan cenderung mahal. Saya sadar: apalah yang tidak berbayar dan mahal di Jakarta ini? Sebut saya apatis, tapi saya yakin jagad Jakarta hanya adalah semesta uang saja. Keinginan untuk menjadi bookworm atau ingin tempat bermain yang layak harus diakses dengan uang yang tidak sedikit. Dan akhirnya, setelah memutuskan untuk tetap "merumahkan" Chiya, kami mulai bersiap-siap menyediakan beberapa perlengkapan belajarnya. Ya, dia akan sekolah di rumah, bersama kami: orang tuanya.

Awalnya kami membiasakan dia untuk belajar setiap azan Magrib usai. Mulanya hanya mewarnai atau membacakan buku (yang sudah kami mulai sejak ia usia satu tahun--sebelum tidur). Kini, kami mulai memperkenalkan angka, huruf dan bahasa inggris. Lumayan, sekarang ia sudah bisa berhitung dengan tepat 1-10, membuat beberapa angka, dan hafal huruf A, S, O, I, B. Untuk kosakata bahasa inggrisnya ia sudah bisa menyebutkan warna-warna dan angka (selain are you happy dan what is your name, lengkap dengan jawabannya).

Kini, perlengkapannya bertambah. Setelah pensil warna, buku cerita serta buku mewarnai, sekarang ia juga punya software bermain sambil belajar, poster angka serta huruf, peralatan belajar buka-tutup, dan kelak papan tulis. Begitulah, kami ingin ia tetap belajar dan memaksimalkan kemampuannya meski ia hanya di rumah saja. Maka, jika di toko buku ada sales yang menawarkan berbagai alat-alat belajar, dan Chiya mencobanya, mereka kerap berkata: anaknya sudah sekolah ya, Bu? Saya cuma tersenyum dan bilang: belum, masih di rumah saja.[]
Ketika saya menemukan buku atau majalah murah, saya kerap kembali diingatkan tentang mimpi membuat pondok baca untuk para ibu. Saya sebetulnya begitu bergairah untuk mewujudkan ini, namun laiknya mimpi, saya juga menemui banyak kendala. Meski masih dalam level preview awal. Kali ini, saya ingin berbagi tentang dua hal itu: passion dan tantangan Teras Bunda (saya menamakannya demikian dan saya sadar ini masih terlalu dini).

niat awal dan beberapa kemungkinan
Tentang mengapa saya sampai pada sebuah ide untuk membuat Teras Bunda, saya sudah pernah menulisnya di blog ini. Pertama, saya percaya bahwa para ibu deserved something more. They deserved an extended space except home. Saya sangat percaya bahwa mereka juga butuh untuk tetap beraktualisasi diri, meski hanya sebagai perempuan rumah. Kedua, kecintaan akan membaca harus dimulai dari sebuah kebiasaan dari rumah, dari keluarga. Dan apparatus terdekat dalam keluarga antara generasi orang tua dan anak adalah ibu. Meski peran ayah juga sama pentingnya, namun bagi keluarga yang ibunya berada di rumah, maka waktu yang dihabiskan si anak akan lebih banyak bersama ibunya. Sebab itu, sang ibu menjadi kunci bagaimana menciptakan kebiasaan bagi anaknya dan kehidupannya nanti.

Saya membayangkan bagaimana saya akan mendapatkan banyak bahan bacaan di Teras Bunda nanti. Yang pasti saya akan sangat berharap pada beberapa kenalan atau bahkan donatur yang ingin mensupport pondok baca ini kelak. Namun tentu saja saya tak bisa terus menjadi makhluk pengharap seperti itu terus. Sejauh ini saya beberapa kali menemukan bagaimana mendapatkan bacaan yang murah. Pertama, dari kegiatan bursa buku (tentu saja). Sayangnya, bursa buku ini diadakan di Jakarta hanya sekali atau dua kali setahun. Biasanya diselenggarakan di JCC Senayan. Sellain tempat itu, saya belum tahu. Meski bursa buku, harga yang ditawarkan tidak murah sekali. Selain itu, untuk masuk ke sana ada charge per-orangnya. Tapi tenang, yang kedua ini lebih menyenangkan, yaitu hunting bacaan murah di gerai buku yang "numpang" di hypermart. Biasanya, karena gerai buku ini tidak sebesar toko aslinya, maka mereka kerap memberi diskon untuk beberapa buku yang sudah tidak menarik atau tidak laku lagi. Nah, bacaan-bacaan yang sering didiskon adalah bacaan seperti buku resep atau buku tentang tips parenting. Bacaan macam itu memang tidak menarik (semua orang). Namun itu sangat menarik buat saya dan Teras Bunda nantinya. Selain itu, saya punya tempat kios majalah yang sering menjual majalah-majalah yang out of date seharga 5000 rupiah saja. Tinggal memilih kualitas majalah yang masih baik dan tema yang masih berhubungan dengan para ibu.

Bagi saya, yang paling penting adalah membangun kecintaan akan membaca lebih dulu sebelum nantinya mengkondisikan aktivitas membaca menjadi sebuah kebiasaan positif yang akan ditularkan pada anak. Bacalah apapun yang disuka. Start with anything. Bisa majalah, komik, buku-buku ringan, apapun! Bahkan saya memulai kecintaan akan membaca dari majalah Bobo lalu beranjak ke majalah remaja. Hingga saya sampai pada kesukaan saya akan fiksi dan sastra. Tidak ada yang buruk dari aktivitas membaca, kecuali konten bacaannya. Bahkan pada beberapa majalah yang segmen pembacanya adalah perempuan (perempuan bekerja atau ibu rumah tangga), meski kadang isi majalahnya agak mengintimidasi dan bias kelas menengah, buat saya tetap ada artikel-artikel menarik yang bisa tetap dibaca, dinikmati dan akhirnya (mungkin) diaplikasikan pada kehidupan sehari-hari. Walaupun majalah termasuk media dengan isu kontemporer seperti koran yang punya tanggal kadaluarsa, namun majalah tetap bisa lebih "awet" dengan artikel-artikel atau bentuk tulisan lain yang berguna. Misalnya, cerpen, hasil wawancara dengan tokoh yang inspiring, atau hanya sekedar resep masakan. Toh Teras Bunda memang mendedikasikan diri untuk menumbuhkan kecintaan akan membaca sehingga habit positif itu akan diwariskan pada anak-anak.

beberapa kendala prematur
Ini adalah asumsi awal saya. Hasil "pengamatan" saya sejauh saya berinteraksi dengan beberapa ibu-ibu di sekeliling saya dan juga anak-anak mereka. Kelihatannya kegiatan membaca memang belum menjadi sebuah kebiasaan di sini. Bahkan, beberapa orang mengindentikkan aktivitas membaca (khususnya membaca buku) dengan belajar. Dengan ujian. Hahaha!!! Ini sebetulnya menggelitik sekaligus membuat saya miris. Kenapa harus dengan menghadapi ujian, baru menyentuh buku? Ada persepsi lain lagi: bahwa jika ingin memperkaya diri dengan buku, maka harus jadi orang kaya lebih dulu. Bahasa lainnya: jadilah orang kelas menengah, baru berhubungan dengan buku. Dan entah, "hawa" Jakarta menjustifikasi persepsi ini. Padahal, saya telah belajar dari Jogja, bahwa buku murah bisa diperjuangkan. Sekarang tinggal bagaimana mental atau niat cinta membaca ini diwujudkan. Meski saya tahu, bukan hanya soal buku saja, lihat wajah yang lain: akses pendidikan layak, tempat bermain yang baik, bahkan public space di Jakarta hanya diriuhi oleh orang-orang kelas menengah yang sibuk sendiri. Namun saya yakin, Teras Bunda bisa membantu para ibu jadi lebih :melek" membaca. Amien.

Inilah tantangan saya. Saya berhadapan dengan hal besar yang dinamakan mind set  atau habitus, or anything in between. Tetapi bagaimana pun inilah misi Teras Bunda, merubah mind set bahwa membaca hanya monopoli anak sekolahan dan orang kaya saja. Menciptakan habitus positif baru bagi para ibu, agar mereka tetap bisa beraktualisasi diri dan memberi ruang untuk diri mereka sendiri.

Selain itu, saya juga menemui kendala teknis yang sangat klise: saya belum punya ruang untuk Teras Bunda. Sungguh, rumah orang tua saya (di mana saat ini saya tinggal) sangat tidak kondusif untuk sebuah pondok baca. Bahkan untuk mengadakan sebuah acara arisan atau reunian, saya tidak bisa membayangkannya! Semoga saja, kelak semua terjawab. Semoga mimpi ini kelak terwujud. Sampai sekarang, saya masih berdoa dan berharap. Sebab, saya percaya ini adalah sebuah mimpi besar yang baik. Dan layaknya sebuah epik nan heroik, hal baik itu memang harus menunggu waktu yang tepat. For blooming perfectly.

me, nowadays...

Sebetulnya menjadi ibu rumah tangga adalah peran dengan banyak pekerjaan. Terlalu banyak, malah. Namun, sepindahnya kami dari Jogja ke Jakarta, semua berubah. Beberapa pekerjaan yang biasa saya lalukan di Jogja, sudah tidak jadi rutinitas lagi. Misalnya, bicycling bersama Chiya ke pasar, hampir setiap hari. Juga memasak dan mondar-mandir dapur dan halaman belakang untuk mengecek jemuran. Di sini, urusan memasak sudah tidak serumit dulu. Ada penjual lauk-pauk yang setiap pagi keliling dan menghampiri rumah. Yang penting adalah makanan untuk Chiya, kalau untuk yang dewasa, apa saja mau! Kalau malas masak, bisa beli ayam goreng, soto, atau cuma bikin telur dadar saja, beres.

Untuk menemani Chiya, juga sudah tidak seintens dulu. Sebagian hati saya senang, karena saya bisa mengerjakan pekerjaan lain dengan leluasa atau sekedar membaca, menulis atau ke warnet. Sebagian hati saya yang lain merindukan momen intim itu. Meski masih ada jam tidur siang yang bisa membuat saya bisa bermesraan dengannya. Namun, ia saat ini lebih senang main ke luar rumah dengan teman-temannya. Jadi setelah acara sarapan selesai, langsung ia "kabur", apalagi jika pagar depan tidak ditutup. Sudah, habislah waktu luang yang mungkin bisa saya habiskan bersamanya. Meski saya meminta, bahkan dengan agak memaksa, agar ia pulang dan berhenti bermain, ia berkeras untuk di luar rumah. Bahkan sekarang jika saya mau ajak dia pergi, dia lebih memilih tinggal. Fiuh....

Waktu di mana Chiya total berada di rumah adalah selepas waktu makan, atau waktu maghrib. Apabila waktu makan sorenya dihabiskan di luar, maka menjelang maghrib ia pulang. Kadang juga harus dibujuk-rayu dengan iming-iming "ayo, Bunda mau buka puasa, nih, mau ikut engga?" Baru dia mau pulang. Sebab, biasanya waktu berbuka adalah waktu semua orang berkumpul bersama dan tersedia beberapa makanan kecil yang dia suka. Sehabis itu, biasanya adalah "jam belajarnya" bersama ayah-bundanya. Meski bukan dalam konteks "belajar" yang sesungguhnya atau belajar yang serius, waktu itu adalah waktu di mana ia memulai pembiasaan jam belajar yang benar-benar efektif. Biasanya, jadwal belajarnya hanya mewarnai, membuat angka, pura-pura ngobrol dengan bahasa inggris, atau pura-pura wawancara. Apapun sejauh ia belum bosan.

Nah, masalahnya kini beralih pada saya. Jika Chiya sudah punya ritme sendiri dan bahkan sebentar lagi ia akan masuk sekolah, maka tidak dengan saya. Saya masih begini-begini saja. Belum ada panggilan dari beberapa perusahaan yang saya lamar. Saya juga tidakpunya kesibukan lain yang bisa menghasilkan uang. Oke, batik adalah pengecualian. Dagangan batik saya sedang dalam masa hibernasi, menunggu pemiliknya bersemangat lagi. Kapan-kapan akan saya bagi cerita sulitnya jualan off line ini.

Rutinitas saya hanya sebatas mengurus makan-mandi Chiya, membantu mencuci pakaian, menyetrika, dan lepas malam hari, ketika tugas saya sudah usai, lalu sadarlah saya betapa "kesepiannya" saya. Sadarlah saya bahwa saya butuh melakukan sesuatu. Tidak harus selalu dagang, memang. Yang pasti saya butuh bekerja dengan kemampuan yang ada. Biasanya setelah makan malam saya menonton sinetron Korea di stasiun tivi lokal Jakarta. Sinetron lucu yang temanya tentang keluarga muda. Dan saya belum pernah menonton tontonan macam ini sebelumnya. Kemudian saya menyiapkan keperluan sebelum tidur Chiya, seperti menemani menyikat gigi, menyiapkan baju tidur, membuatkan teh, dan air putih. Sehabis itu, saya teruskan dengan film-film yang diputar di tivi. Jika bagus, saya teruskan menonton. Jika tidak, saya gigit jari. Kadang, kalau mood bagus dan stok ide cukup, maka saya menulis. Tapi itu sudah jarang. Saya tidak sesemangat dulu.

Begitulah.

Mami, sebuah cerita

Saya menyebut ibu saya dengan panggilan Mami. Entah sejak kapan. Yang saya hanya ingat hanyalah bahwa saya kurang suka dengan panggilan "ibu". Jadilah saya merubah panggilan ibu dengan Mami. Dan yang penting ia tidak protes. Bahkan adik saya juga ikut-ikutan menggunakan nama panggilan itu. Meski untuk bapak, saya tetap memanggilnya Bapak. Saya pun sadar kombinasi Mami dan Bapak tidaklah cocok di dengar. namun bagaimana pun saya lebih senang memanggilnya Mami. Sampai sekarang.

Beliau masih mengajar di sebuah SD negeri di daerah Bintaro. Saya begitu senang mendengar cerita-ceritanya tentang murid-muridnya. Banyak yang lucu-lucu. Ceritanya yang paling baru adalah tentang salah seorang muridnya yang baru saja kehilangan ponsel. (Sekolah Mami memang banyak terdapat anak-anak orang kaya.) Nah, setelah anak yang kehilangan ini cerita kepada orang tuanya, lalu orang tuanya pun menyampaikannya kepada Mami. Sebagai langkah awal, Mami dan ibu dari anak itu menggeledah isi tas semua anak di kelas itu. Dan nihil. Ponsel yang hilang itu belum juga ditemukan.

Kira-kira sudah beberapa waktu berlalu, Mami lalu berdiri di tengah ruang kelas dan menyampaikan sesuatu. Katanya, 
"Ibu minta waktu kalian selama kira-kira setengah sampai satu jam. Karena ada hal penting yang mau Ibu sampaikan di sini. Karena ponsel si A belum juga ditemukan, maka kemarin Ibu mendatangi "orang pintar" untuk meminta petunjuk. Lalu "orang pintar" itu mengambil air dalam wadah. Katanya, wajah si pencuri ponsel itu bisa terlihat dari air dalam wadah itu. Setelah dibacakan mantra dan doa, air yang tadinya bening lama-lama muncul sesosok wajah. Dan Ibu kenal anak itu."
Seisi kelas lalu riuh. Banyak yang kemudian bertanya-tanya, "siapa, Bu? Siapa, Bu?" Bahkan ada yang hampir menangis. Mami melanjutkan, "kalian yang tidak merasa mengambil, tidak usah takut. Jika memang kalian tidak melakukannya, buat apa takut? Nah, sekarang yang Ibu mau adalah: tolong kembalikan ponsel teman kalian itu. Apabila merasa tidak enak, bisa temui Ibu di kantor guru. Atau datang ke rumah Ibu juga tidak apa-apa."

Dan cerita itu pun menunjukkan kekuatannya. Kira-kira dalam sebulan, ponsel itu kembali. Kembali pulang ke dalam tas pemiliknya. Saat itu pemiliknya pun sudah tidak ingat lagi. Namun, ibunya yang membereskan tasnya menemukan ponsel itu.Kata Mami, sampai sekarang anak yang pernah kehilangan ponsel itu tidak pernah membawa ponsel ke sekolah lagi. Mungkin ia takut kehilangan lagi.

Lalu saya bertanya, "memangnya Mami benar-benar ke "orang pintar"?"
"Ya enggak lah...", jawabnya santai.
"Lha? Bohong dong itu namanya."
"Ya memang bohong. Tapi itu kan siasat untuk memaksa si pencuri untuk jujur."
"Tapi memangnya Mami sebetulnya tahu siapa si pencuri?"
"Ada sih, seorang anak yang Ibu (ia tetap memanggil dirinya Ibu, meski saya memanggilnya Mami) curigai. Ia tadinya duduk sebangku dengan anak yang kehilangan ponsel. Namun setelah kejadian kehilangan ponsel itu, ia pindah tempat duduk. Selain itu, ia yang aslinya nakal dan berisik, tiba-tiba jadi diam dan anteng. Dalam hal ini, boleh dong, berbohong. Toh, ada hasilnya kan?"
Iya juga sih, Mi...

Ya Tuhan....

Mungkin berlebihan, tapi sungguh, saya mau nangis waktu nulis ini. Belakangan ini saya sedang rapuh. Entah, harus disebut apa, sepertinya sebutan rapuh juga tak tepat. Mungkin jenuh. Mungkin....

Tapi satu yang pasti: saya tak merasa bisa mengatasinya. Tak kuat. Jika mampu, saya ingin memilih sebuah tindakan eskapis atau sebangsanya. Sebuah pilihan pengecut, mungkin. Tapi mau bagaimana lagi, saya butuh sendiri. Saya perlu merenungi semua ini. Saya sangat menginginkan waktu untuk diri saya sendiri. Hanya saya dan diri saya sendiri. Tak ada orang lain. Bahkan mungkin Tuhan.

Saya mau sendiri saja. Kali ini saja. Sebab saya merasa saya sudah cukup mendedikasikan seluruh diri, jiwa, hayat, dan nafas saya untuk orang-orang di luar diri saya sendiri. Lalu diri saya protes: adakah waktu untuk dirimu sendiri? Adakah kesempatan untuk mewujudkan mimpi?

Saya cuma bisa menunduk. Saya memang pernah menawarkan banyak hal-hal indah untuk diri saya. Saya memang tambah sabar, tetapi di sisi lain saya juga jadi liar. Saya hanya butuh waktu untuk sendiri. Sendiri saja.

Saya tak kuat............

a liltte adventure of Chiya

Banyak sudah yang berubah dari Chiya. Selain ia tambah tinggi, ada beberapa hal positif yang ia perlihatkan pada kami dari hari ke hari. Menyenangkan, bisa melihatnya terus tumbuh dan terus menunjukkan perkembangan yang baik. Seperti yang ada belakangan ini. Kelihatannya ia memang sedang menunjukkan bahwa ia sedang bertransformasi ke dalam fase "anak gede", seperti yang sering ia katakan pada kami. inilah beberapa progress things yang sedang ia alami belakangan ini...

kosakata yang ia ketahui semakin banyak. Ini dapat diketahui tiap ia ngoceh setiap saat, kapan pun... Contoh kosakata yang sering ia gunakan belakangan ini antara lain: produk, berfungsi, masyarakat, dan lain-lain (banyak sekali, saya sampai lupa!). Yang pasti, kata-kata tersebut merupakan diksi yang jarang saya dengar dari mulut mungil seorang anak tiga tahun. And I dont have any idea about where's did she get those words from...still wondering...

ia butuh sesuatu yang lebih menantang, seperti naik kuda (sendirian), makan pakai saus, berenang dan ke pantai, dan lain-lain. Tampaknya ia memang ingin memperluas zona nyamannya, one kind of sign that she's getting older... Dan kadang ia memintanya dengan memaksa, sebuah cara yang khas anak-anak.

an adult wanna-be. Ia mulai berinisiatif untuk membereskan tempat tiudr selepas tidur, mencuci piring sendiri di wastafel (tentu masih dengan bantuan saya dan kursi tambahan), membereskan peralatan makan yang sudah kering di wastafel untuk dikembalikan ke rak piring, ikut membereskan ruang keluarga sebelum naik tempat tidur pada malam hari. Beberapa hal lain seperti ikut berpartisipasi di dapur atau memilih baju untuk ia pakai setelah mandi, sudah ia lakukan jauh sebelum ini.

tentang angka, ia sudah bisa menulis angka satu sampai tiga, angka empat masih susah untuknya. Sementara untuk menyebutkan angka, sejak usia dua tahun ia sudah bisa menyebutkan (menghafal) angka satu sampai sepuluh dalam bahasa indonesia dan inggris. Nah, sekarang tambah bahasa jawa, hehehe...

Begitulah, kira-kira... semacam progress report tentang Chiya. Saya bahagia bisa terus ada di sampingnya. Menjadi ibu yang mengasuhnya secara positif. Dan semoga seterusnya lebih baik. Juga semoga hal positif ini "menulari" orang-orang sekitar saya...[]
Satir memang. Namun, begitulah kurang lebih kenyataannya. Hari Kartini seharusnya tidak lagi diresapi sebagai hari di mana para anak perempuan memakai konde, berkebaya dan bergincu. Tetapi sebagai hari di mana kesadaran gender semakin diyakini dan diaplikasikan setiap hari. Judul ini pun, punya arti buat saya. Hasil sedikit kontemplasi. Bahwa, laki-laki sebenarnya membutuhkan perempuan untuk membuat mereka kuat. Sementara para perempuan bisa independen di atas kaki mereka sendiri--bahkan dapat memberi energi lebih bagi laki-laki. Saya pernah membaca bahwa perempuan memiliki suatu hormon yang mampu membuat mereka mencintai secara total. Hal ini kemudian dapat membuat perempuan dapat melakukan banyak hal dengan total dan maksimal, karena perempuan bisa mencintai apa yang dilakukannya dengan sepenuh hati.

Tetapi, bagaimana pun juga, kekuatan perempuan ini bisa jadi bumerang bagi diri mereka sendiri. Tak jarang para lelaki iri atau bahkan tidak suka dengan kemajuan perempuan (dalam hal kepemimpinan atau organisasional). Laki-laki (mau diakui atau tidak), sebenarnya punya ketakutan akan hal ini. Pengalaman saya merekamnya. Saya punya beberapa teman yang memiliki suami (secara langsung atau tidak) melarang para istrinya beraktivitas di luar rumah. Ada yang "hanya" melarang bekerja (lalu memberi "pekerjaan rumah" lain sebagai dispensasi) hingga yang ekstrem: tidak boleh melanjutkan kuliah dan berhubungan dengan teman-temannya. Teman-teman saya pun ada yang menanggapi dengan "senang hati", ada pula yang akhirnya menjadi pemberontak (karena sejak awal ia punya bara feminisme dalam dirinya).

Nah, yang merasa "senang hati" being at home while she got her own certificate which it's not easy to get it somehow, ini yang saya heran. Mereka punya ijazah, dan tentu saja punya kesempatan, namun mereka lebih memilih "patuh" pada suaminya untuk "mengurus anak, karena urusan cari uang adalah bagian suami". Saya pikir, sepertinya semangat Kartini belum sampai ke keluarga mereka.

mengapa si suami membiarkan ijazah istrinya dirusak jamur, dan mengapa si istri tidak menginginkan aktualisasi diri di luar rumah?
Saya pernah cerita tentang ini pada suami saya. Lalu ia menjelaskan hal-hal yang mungkin logis bagi mereka. Pertama, bisa saja si istri memang tidak menginginkan untuk bekerja atau beraktivitas lain di luar rumah. Kedua, ada kemungkinan bekerja di lingkungan wilayah di mana mereka tinggal cukup sulit--terutama untuk perempuan. Mengingat tempat tinggal mereka memang di sebuah wilayah yang jauh dari kota-kabupaten. Well, maybe he's right. Tapi saya sebenarnya pernah bertanya secara langsung pada si istri: apakah kamu tidak mau bekerja? Jawabannya adalah: malas, lagipula suamiku tidak mengijinkanku untuk bekerja. Kata(suami)nya, kalau aku bekerja, siapa yang mengurus anak? Dalam hati, saya curiga jangan-jangan layanan pembantu tidak sampai ke kota mereka.

Saya mengerti bagamana si suami dan keluarganya punya beberapa usaha untuk kelak sanggup menghidupi mereka sampai tua. Namun, baut saya ini bukan tentang uang, ini tentang jiwa, tentang semangat, tentang... mengisi hidup! Perempuan akan punya kekuatan dengan menjadi diri sendiri, dengan membuat hidup mereka lebih hidup, dengan beraktualisasi diri. Saya selalu ingat apa yang dikatakan ibu saya bahwa (bagaimana pun) saya harus bekerja. Apalagi ijazah sudah digenggaman. Pengalaman beliau sebagai ibu bekerja membuatnya sadar bahwa dengan bekerja, istri dapat berperan dalam sebuah keluarga. Bukan hanya membantu kondisi finansial, tetapi juga akan dapat banyak pengalaman dan (yang penting) kemandirian. Dan saya pun meyakininya.

Kalau begini, rasanya kemenangan semangat perempuan yang ingin diwariskan Kartini ada di tangan kaum perempuan sendiri. Mau maju, ayo. Tidak mau, yo monggo...
Kalau ada yang bilang, love is about ask nothing in return, buat saya itu bullshit. Maaf, saya hanya merasa kalimat itu terdengar hipokrit. Jika memang benar tidak butuh sesuatu atas nama resiprositas, lalu kenapa begitu banyak orang yang tidak terima dengan poligami? Mengapa juga ada konsep bernama durhaka--dalam konstelasi cinta yang universal? Bukankah (setidaknya pada beberapa orang dan pada beberapa titik) itu berarti cinta membutuhkan respon dua arah? Hell, bagi saya, tentu saja iya! Tetapi hanya dua, tidak lebih...

Dalam kehidupan cinta tentu juga ada pahit-manisnya. Semoga saja keduanya seimbang, karena jika tidak... Neraka itu namanya. Sebagaimana hal-hal klise lainnya: menjadi positif lebih sulit dari pada menjadi negatif. Membuat kecewa lebih gampang ketimbang menyenangkan hati orang. Disadari atau tidak, ada hal-hal di mana kadang kita mengecewakan partner. Saya hanya menemukan tiga, sejauh pengalaman saya menelan hal-hal pahit. Here we go...

First, sering membuat kesalahan. Terlalu sering, malah. Dan kesalahan yang dibuat sudah bikin mata merah. Entah physical abuse, grey rape, sampai cheating. Dan ini dilakukan over and over again. Sampai capek memaafkan, sampai lelah melupakan. Lalu niat untuk tidak mengulanginya sampai mirip lipservice. Manis di depan doang.
Second, tidak belajar mendengarkan. Ada banyak hal yang disenangi dan dibenci dari partner. But it's so human, and they comes in one-sweet package. Selain belajar menerima, (seharusnya) juga belajar mendengarkan. Jangan sampai partner tidak didengarkan, sementara kita lebih memilih mendengarkan suara teman atau orang lain. Remember, being ignored is really hurt.
Third, tidak menyenangkannya di momen-momen berharga, such as birthday, anniversary or another precious moments. Masalahnya, momen-momen ini penting karena tidak terjadi atau dialami setiap hari. Dan sebetulnya di momen penting inilah kadang kita bisa menunjukkan how much that we care...

Begitulah... Perlu evaluasi dan dialog selalu. Tetapi, jika merasa dikecewakan, introspeksi diri juga: apakah kita pernah melalukan hal-hal yang mengecewakan partner? Jangan-jangan, secara sadar atau tidak, disengaja atau tidak, kita pernah (atau sering?) membuat kecewa... Ingat juga, diam bukan berarti selalu bisa sabar. Suatu saat kejengkelan bisa terakumulasi dan meledak. Lalu jadi karma yang buruk...

baik-buruknya seatap dengan eyang...

Saat ini keluarga mungil kami (yang terdiri dari ayah-bunda-Chiya) hidup bersama dengan orang tua saya di Jakarta. Sebelumnya kami tinggal di Jogja. Setelah kuliah lalu menikah, kami memutuskan untuk tetap stay di sana karena beberapa alasan. Dan satu alasan besarnya adalah: we both love that city so much! Saya sendiri memilih "minggat" dari Jakarta dan memilih kuliah di sana karena saya muak dengan kota ini (beserta segala isinya!). Karena sejak saya kecil saya kerap diajak ke Jogja, saya percaya: saya akan meneruskan hidup saya di kota mungil itu. Then everything was changed. Maybe my fate isn't there. Alih-alih sangat rindu dan selalu berharap suatu hari bisa tinggal di sana lagi, saya mencoba menikmati harihari "panas" saya di sini. Well, i have to admit that something in my life was changes: into a progress one. Tetapi, di sini saya malah tertantang oleh pola pengasuhan yang selama di Jogja "baik-baik" saja.

Entah, sewaktu saya dan Chiya sering mondar-mandir Jakarta-Jogja, saya dan suami sering melihat perbedaan sikap yang cukup kentara pada Chiya. Sepulang dari Jakarta ia biasanya sering ngambek, rewel, dan tidak mau mendengar perkataan kami, orang tuanya. Padahal, Chiya termasuk anak yang gampang mengerti maksud omongan kami. Ia pun tidak pernah protes atau melawan jika kami beritahu secara baik-baik. Namun, itu semua berubah jika ia pergi ke Jakarta. Nah, ketika sekarang ia tinggal (selamanya) di Jakarta, bisa kebayang kan, se-signifikan apa perubahan sikapnya?

Saya lalu mulai mendiagnosis: kira-kira kondisi atau situasi apa di Jakarta yang membuat dia begitu? Lalu ketemulah jawabannya. Eyang kakungnya yang jadi "tersangka". Beliau ini sangat sayang pada Chiya. Mungkin karena Chiya adalah cucu pertama (klise, lah...). Namun, kadang, pemanjaannya terhadap Chiya jadi kelewatan, sehingga Chiya sendiri merasa terus ada yang "melindungi", atau ada seseorang yang siap memenuhi segala keinginannya. Apapun itu.

Inilah, dualisme situasi kami selama tinggal seatap dengan orang tua. Sisi baiknya, saya dan Chiya tidak sendiri lagi di rumah. Ada eyang kakung, uti dan si om yang ada setiap hari (kecuali pada jam-jam bekerja, ya). Sesekali, saya bisa menimati me-time yang memanjakan selagi Chiya bermain dengan yang lain. Atau, saya tidak lagi pusing karena berkutat dengan urusan daily menu untuk semua anggota keluarga. Di sini untuk urusan makan ada tukang makanan yang menjual lauk-pauk untuk sehari-hari. Saya pun tak perlu bicyling tiap hari. Jadi tidak punya aktivitas fisik yang agak signifikan sih, tapi bagaimana pun saya senang karena tak lagi harus capek-capek untuk urusan makan setiap hari ini.

Namun, bukan berarti saya jadi "ongkang-ongkang" kaki lho... Saya tetap mengurusi Chiya dari mulai ia bangun pagi hingga tidur di malam hari. Semua masih saya, meski banyak orang di rumah. Ini memang agak enak-tidak enak, tapi masih ada yang lebih tidak enak. Dan ini dia yang tidak enak: ketika saya sebagai orang tua, harus berjibaku dengan si eyang yang gemar memanjakan anak saya. Sementara ketika kami masih di Jogja, saya tidak pernah terlampau lepas kendali begitu. Saya ajak dia jajan dan jalan-jalan sebagaimana mestinya. Di sini, setiap hari ia jajan dengan rata-rata lima ribu rupiah, belum termasuk beli mainan yang harganya minimal sepuluh ribu rupiah. Saya tidak protes tentang nominalnya, saya tidak suka pembentukan habitus buruk itu!

Chiya jadi sangat bergantung pada aktivitas jajan yang tidak produktif itu. Masalahnya, ia sering mengajak ke luar rumah dengan dalih "mau main" tetapi nanti ujung-ujungnya ia (memaksa) ke warung dan membeli sesuatu yang tidak jelas. Apa yang biasanya ia pilih adalah sesuatu yang bukan makanan namun juga bukan mainan yang bisa berumur panjang. Selain itu, mainan-mainan itu nantinya hanya akan teronggok di rak mainan dan akan jadi calon sampah.

Ada beberapa hal buruk dari pembiasaan ini. Pertama, Chiya jadi tidak "ketulungan" manja dan konsumtifnya. Terutama kalau eyangnya ada di rumah. Tiap tukang jualan lewat minta dibeli. Ampun deh....
Kedua, saya sebagai ibunya seolah-olah seperti kehilangan kontrol atas dirinya. Saya dan suami pun seperti tidak lagi konsisten pada apa yang selama ini kami lakukan sebagai orang tuanya.
Ketiga, sebagai imbas yang paling signifikan tentu saja boros! Padahal, ayahnya belum terima gaji pertama, yang artinya, kami belum punya pola finansial yang tetap.

Begitulah, enak-tidak enaknya hidup bersama orang tua. Saya harus terus berusaha membimbing Chiya supaya mau mengurangi aktivitas komsumtifnya itu. Dan semoga ia mau...

well, finally...

Akhirnya, bisa menulis lagi... Saya memang sedang kena penyakit gatal-gatal. gatal nulis, gatal baca, gatal earn money, pokoknya gatal do something. Dan sejauh ini, ada beberapa personal project yang mau saya jalankan. Tetapi karena bagaimana pun juga saya tetap harus memprioritaskan peran saya sebagai housewife, maka baru beberapa hal yang saya jalankan. Itu pun seolah-olah baru previewnya saja. Toh saya tidak ngoyo dan tidak terburu-buru. Saya masih seorang ibu dan saya tetap bermimpi.

Do both things equally, and i'd still be happy!!

welcome to this a brand new blog!!

Sebetulnya tidak ingin mendua. Tapi apa boleh buat, blog saya yang pertama dan tercinta, mess up. Karena satu dan banyak hal, saya sebenarnya tidak ingin menghapusnya. Macam cinta pertama, saya begitu ingin anthrogynous tetap di sana, Menemani saya menikmati sepetak ruang, hanya untuk saya sendiri saja.

Tapi, apa boleh buat. Kami harus berpisah secepat ini. Saya harus belajar melepaskannya... Sedih rasanya. Mengingat sudah cukup banyak tulisan saya di sana. Juga nama yang (menurut saya) begitu lucu. Sebuah nama yang saya temukan bertahun-tahun lalu dan hanya saya simpan dalam hati saja. Sampai akhirnya saya merasa ada waktu yang tepat untuk menggunakannya.

Bye anthrogynous... Kelak, jika saya masih bisa "menyelamatlanmu", saya akan menghidupkan kamu kembali... Sebab bagaimana pun juga nama dizzy anggie terasa begitu aneh...
Tidak banyak buku yang benar-benar saya senangi. Apalagi jika penulisnya laki-laki. No offense, tidak bermaksud seksis, tapi kenyataannya saya lebih cenderung suka tulisan-tulisan penulis perempuan. Dan penulis-penulis yang saya gemari itu standar saja, maksudnya, mereka adalah nama-nama yang kerap didengar dalam ranah sastra. Sebut saja: Dewi Lestari, Ayu Utami, atau Djenar. Tapi bukan berati saya betul-betul menutup mata pada karya-karya penulis lelaki--meski jumlahnya tidak sebanyak penulis perempuan. Seperti banyak penikmat buku lain, saya suka membaca karya Pramoedya. Dan saya sampai saat ini belum pernah membaca tertraloginya. Haha! Saya agak susah membaca tulisan bagus seperti itu. Tetralogi terlampau apik untuk seorang penikmat buku (sangat) biasa seperti saya. Saya sudah sering mendengar betapa Pram lihai membuat cerita yang berlatar sejarah Indonesia. Terutama dari suami saya--si kutu buku itu, hehe. Alih-alih tetap ingin "menikmati Pram", saya memilih buku-bukunya yang lain. Yang lebih tipis, tentu saja. ^_^

Lalu, bertemulah saya dengan Gadis Pantai. Yang kemudian menjadi salah satu buku yang buat saya sangat "feminis". Atau, sangat membakar semangat ke-perempuan-an. Buku itu betul-betul berhasil menggambarkan betapa aristokrasi kebudayaan Jawa sangat menindas perempuan (setidaknya dalam konteks waktu saat itu). Pram pun mendeskripsikan ketertindasan si Gadis Pantai tidak secara eksplisit, melainkan dengan cara yang cenderung metaforis.

Kemudian yang membuat saya merasa bahwa Pram memliki kesadaran gender yang cukup tinggi dan sensitif akan isu perempuan ini. Dari caranya bertutur dan memilih sebagai orang pertama sebagai angle cerita, tampaknya Pram paham betul bagaimana perihnya menjadi perempuan (baca: Gadis Pantai). Padahal, ia seorang lelaki, yang dalam paham feminisme dianggap sebagai counter bagi para perempuan. Tetapi buktinya, selain Gadis Pantai (yang menurut saya paling kerasa sense ke-perempuan-annya), beliau juga menulis beberapa buku lain yang tokoh utamanya adalah perempuan. Misalnya Midah, si cantik bergigi emas, dan Larasati. Ini satu bukti bahwa Pram bukan penulis yang male oriented.

Buat saya, menemukan buku yang ditulis oleh laki-laki namun "wangi" perempuan (dalam arti: sadar gender), adalah menakjubkan. Sebab, sejauh saya membaca beberapa karya penulis lelaki, tidak banyak yang menunjukkan sense ke-perempuan-an yang kuat. Mungkin banyak penulis lelaki yang menjadikan isu ke-perempuan-an (baca: ketertindasan perempuan) sebagai tema besar. Namun, bagaimana cerita itu dibangun untuk menumbuhkan kesadaran gender, tidaklah banyak. Bahkan jika ada, saya rasa tidak ada yang sanggup menandingi keberhasilan Pram "menghidupkan" Gadis Pantai. Berhasil menghidupkan dari sisi cerita, konstruksi latar cerita, hingga yang sisi paling dalam: sisi humanisnya.

Saya rasa, tidak ada.

namanya (juga) mimpi

Saya, sama halnya dengan banyak orang lain, juga punya mimpi. Punya cita-cita. Mimpi saya yang paling kini sudah ada sejak tahun-tahun terakhir di kampus. Layaknya menulis, mimpi yang sudah naik cetak dan sedang dalam perjalanan untuk diwujudkan, juga mengalami fase edit, koreksi atau ralat. Namun, koreksi itu dilakukan bukan karena (tiba-tiba) saya berubah pikiran dan menginginkan mimpi lain, melainkan dalam perjalanan tersebut, si mimpi harus melakukan serangkaian mimikri. Ia harus menyesuaikan diri terhadap keadaan hidup saya dan berbagai kendala yang merintangi. Ya, mimpi saya itu HARUS fleksibel. Sebab di satu sisi saya tak ingin disorientasi, sementara di sisi lain, saya juga tak mau menyerah dan mengganti mimpi saya hanya karena kondisi saya yang belum memungkinkan.

Sejauh ini, saya masih menggenggam kuat mimpi saya itu. Mimpi lawas, namun terus saya perbarui metode dan jangka waktunya. Tak harus terikat deadline. Sebab saya masih ingin hidup yang lama (amien). Juga saya sangat menghargai bahwa hidup ini harus disikapi dengan dinamis. Tahun ini (mungkin) belum terwujud. Berarti tahun depan harus lebih gigih. Lakukan satu per-satu. Mimpi saya banyak, jadi harus berbagi ruang dan waktu dalam pikiran. Yang penting harus terus punya mimpi. Asal jangan hanya terus bermimpi.

Ada satu mimpi besar saya. Sangat besar, hingga saya kerap berpikir "apakah saya mampu?". Tetapi, bahkan dulu kuliah di UGM pun adalah mimpi saya. Jadi, mimpi ini bukan tidak mungkin untuk jadi nyata. Meski saya masih suka "ngeri" membayangkannya. Haha... kalau ngeri begini, mimpi buruk, dong namanya...

Tetapi, mimpi harus dibangun atas ketidak mungkinan. Sebab, jika kita bermimpi untuk mencapai sesuatu yang sebetulnya hanya berjarak dua depa dari tempat kita berpijak, itu bukan mimpi, melainkan "rencana". Bandingkan: jika ada dua orang yang berhasil menulis buku. Keduanya menulis hasil otodidak, namun yang satu difasilitasi sejak kecil dan satunya berjuang bahkan hanya untuk mengetik lembar demi lembar. Mungkin keduanya sama-sama memiliki mimpi menjadi penulis. Tetapi kegetihan si orang kedua yang berjuang sejak memulai mimpinya akan lebih dirasa sebagai "mimpi". Karena apa yang ia cita-citakan terasa lebih "jauh" dan tidak terengkuh dibanding dengan orang pertama yang sepertinya menjadi penulis bukanlah hal yang sulit dicapai. Apalagi seandainya orang pertama punya koneksi dekat dengan orang penerbitan. Semua ada digenggaman tangan, kan?

Anak petani yang jadi dosen. Anak tukang sayur yang jadi manajer. Anak miskin yang sukses berwirausaha. Tetapi bukan berarti saya sedang ingin berkata bahwa orang yang non-tidak mampu tak boleh bermimpi lho... Maksud saya: mulailah bermimpi dari yang tidak mungkin! Jangan bermimpi maju dua langkah, bermimpilah untuk melompat! Saya, seorang perempuan rumahan juga punya mimpi besar. Yang jika orang lain mengetahinya, ia mungkin mencibir: kamu? Mau melompat sejauh itu?

Dan, saya, seorang pemimpi akan menjawab: ya! Saya mau melompat sejauh itu. Melompati bukit itu. Sebab saya seorang liliput berjiwa raksasa yang ingin merengkuh dunia!
Pengalaman pribadi saya saat menjadi stay at home mom, membuat saya belajar banyak hal. Selain belajar menjadi istri dan ibu yang (lebih) baik, saya juga belajar untuk tetap menghargai diri saya. Menjadi ibu, bagaimana pun adalah sebuah kontrak seumur hidup. Tidak ada hari libur atau cuti bagi peran ini. Justru itu, peran ini membutuhkan komitmen yang kuat agar ada keseimbangan yang bisa dicapai antara kebahagiaan bersama juga kebahagiaan personal. Kebahagiaan personal ini juga penting untuk para ibu agar secara psikis mereka bisa tetap menjadi diri sendiri serta tetap bisa mewujudkan mimpi yang selama ini mereka punya.

Jika para ibu tidak memiliki orang lain yang membantu mereka di rumah (helper, babysitter, atau orang tua/mertua), maka rencana untuk mewujudkan mimpi mungkin tetap akan hanya memjadi mimpi. Cita-cita itu terkekang di dalam ruang bernama rumah. Pengecualian bila partner hidup masih bisa diajak kompromi. Misalnya dengan bergantian mengurus rumah atau anak, atau lebih baik lagi jika memberi waktu untuk si ibu melakukan hal-hal yang ia sukai. A me-time. Ini dia yang sulit didapat atau dirasakan kebanyakan ibu. Adalah sebuah privilage bila ibu bisa "bersenang-senang" sejenak. Apalagi jika senang-senang yang dilakukan merupakan sesuatu yang positif, seperti membaca, misalnya.

Inilah pengalaman saya sepanjang menjadi ibu yang hanya berkutat dengan pekerjaan rumah tangga dan peran saya sebagai istri dan ibu. Pikiran saya seolah-olah tumpul untuk sekedar bermimpi menjadi orang yang lebih baik. Saya pun meyakini, saya tidak sendirian. Banyak juga ibu-ibu di luar sana yang mungkin juga memiliki pengalaman seperti ini. Dan saat ini, inilah (salah satu) mimpi besar saya: ingin membangun dan menggugah hasrat para ibu-ibu akan sesuatu yang positif melalui sebuah pondok baca (khusus untuk para ibu).

kenapa pondok baca, dan kenapa buat ibu-ibu?
Pertama: karena membaca itu sebuah habit positif. Tidak ada yang negatif dalam aktivitas membaca. Kecuali bacaannya yang negatif. Kedua, habit positif ini belum menular secara masif di negeri ini. Ketiga--guna menjawab pertanyaan sebelumnya secara paralel--salah satu cara guna menularkan habit ini adalah melalui "role model" terdekat, yakni: orang tua. Dan karena peran ibu lebih intens terhadap anak-anaknya, maka pondok baca bagi ibu adalah penting. Buat saya, bahkan lebih penting dari pondok baca untuk anak-anak. Sebab, jika orang tua sudah sadar akan pentingnya membaca, maka akses buku-buku bagi anak-anak bisa diusahakan. Bahkan bukan hanya akses akan buku, namun juga bagaimana orang tua mulai mengenalkan aktivitas membaca sejak dini melalui dongeng, misalnya.

Selain itu, korelasinya dengan persoalan me-time untuk ibu di atas adalah: belum banyak ibu-ibu yang bisa mengakses bacaan baik untuk dirinya sendiri--sebagai person atau sebagai ibu dan istri yang perlu juga untuk beraktualisasi diri. Sebab aktualisasi diri sebetulnya bukan cuma monopoli para "wanita karier" yang setiap hari pergi ke kantor. Believe me, berpikir keras untuk menyediakan menu makanan yang variatif dan bergizi tiap hari atau mampu multitask antara memasak sambil mengangkat jemuran, bagi saya itu juga bagian dari aktualisasi diri. Aktualisasi diri tak harus berbentuk profesi atau menghasilkan uang. Total mendidik anak dan menjadi a reliable housewife, adalah aktualisasi diri yang riil dari seorang ibu. Dan untuk menunjang proses ini, asupan informasi melalui berbagai bacaan juga cukup penting. Para ibu-ibu juga deserved a good reads, isn't it?

Jika aktivitas membaca diandaikan sebagai input, maka bagaimana para ibu bisa memberi output yang baik dan berkualitas jika ia tidak mencari atau memiliki input yang sama baiknya?

bagaimana caranya?
Pondok baca ini masih berupa cetak biru. Masih ada dalam bayangan saja. Saya sendiri membayangkan pondok baca ini sebagai tempat di mana para ibu bisa mendapatkan banyak bacaan baik tentang parenting, kehamilan, sastra, sampai soal feminisme. Pondok baca ini terbuka buat ibu-ibu siapapun dan dimungkinkan ada aktivitas lain selain membaca. Diskusi, misalnya. Bahan bacaan pun (mungkin) bisa datang dari donatur atau uang hasil iuran yang terjangkau. Selain itu, bacaan bukan hanya buku, bisa juga majalah. Sebab, kadang untuk menumbuhkan hasrat membaca harus dimulai dari hal-hal yang disukai dulu atau melalui bacaan yang menyenangkan. Yang penting, tema bacaan tidak keluar dari tema besar "keluarga" atau women empowered. Bahkan, jika ada yang tidak bisa meninggalkan anaknya, bisa dibawa ke pondok baca ini. (Semoga memungkinkan ^_^) Idealnya, saya juga menginginkan pondok baca yang mobile. Agar subyek dari target pembaca bisa semakin ekstensif. Sebab, tujuan utama yang paling penting adalah pengenalan aktivitas membaca agar hasrat membaca menjadi habit.

Saat ini saya belum memulainya. Mungkin nanti, secara perlahan-lahan akan terwujud. Saya juga masih mencoba mencari "partner" yang bisa saya ajak sharing tentang proyek ini. Namun, sejauh yang saya amati, sepertinya para ibu-ibu (muda, terutama) di daerah tempat tinggal saya, tidak terlihat begitu berhasrat terhadap buku atau membaca. Semoga saya salah menilai. Karena jika benar, mimpi besar ini akan hanya menjadi mimpi saja...
Semalaman saya browsing segala sesuatu tentang homeschooling (selanjutnya disingkat HS). Dulu, waktu di Jogja, saya sudah pernah mencoba digging tentang tema ini. Tapi karena saya yakin bahwa dalam HS, parameter yang digunakan adalah anak kita sendiri, maka semua yang saya dapat hanya untuk second opinion saja. Satu-satunya yang mampu membaca parameter itu adalah orang tua si anak. Meski, dalam beberapa hal, sharing juga penting dalam proses evaluasi dalam pembelajaran.

Ketika kami masih di Jogja, semua terasa kondusif. Saya punya banyak waktu bersama Chiya dan kami sehari-hari di rumah hanya berdua saja. Repot, memang--tentu saja! Namun, saya bebas mengatur semuanya sesuai keinginan dan kemampuan saya. Saya bisa memasak dan menyetrika di hari ini. Tetapi saja juga bisa absen dari semua pekerjaan rumah, dan hanya fokus menemani Chiya bermain. Nah, pada masa-masa free itulah saya mencoba untuk menerapkan metode HS pada Chiya. Sebetulnya sekedar main-main saja. Tapi hasil dari main-main itu, waktu umur dua tahun, dia sudah bisa berhitung satu sampai sepuluh dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Meski masih hafalan dan menghitungnya masih suka melompat-lompat... Misalnya waktu main-main di dapur, ia suka berhitung sendiri: satu, tiga, enam... Hehe..

Di sini, di Jakarta, ada banyak kendala. Pertama, Chiya sudah punya banyak teman. Yang artinya: dia bisa lebih memilih bermain di luar daripada di rumah. Selain itu, ada eyang-eyangnya yang selalu siap "menampung" kebosanannya dengan jajan di luar. Fiuh... Kedua, pada umurnya sekarang, rasanya lebih sulit untuk menjadi guru untuknya. Apalagi Chiya punya sifat yang senang "menjadi orang lain". Maksudnya, jika sedang bermain, dia akan berganti-ganti peran dengan teman mainnya. Masalahnya, kalau sedang belajar dan diajari, dia senang untuk "mengajari balik" orang yang sedang jadi gurunya. Ribet deh!

Seperti yang sedang saya coba lagi belakangan ini. Aduh, anak itu... Diajari bikin angka empat, malah bikin bentuk spiral (mirip angka tiga tapi keterusan). Katanya, "aku bikin bunga aja ya, Bunda". Capek kaann??

Tapi seperti yang telah disampaikan pada berbagai webpage yang mengulas soal HS, konsistensi memang sangat dibutuhkan demi menjalankan metode ini. Dalam kasus saya, saya sebagai orang yang berperan sebagai "guru" Chiya, harus menguji kesabaran terhadap metode belajar yang berfokus pada eksplorasi cara belajar ini. Saya sebagai orang tua dan sekaligus guru Chiya, selain harus bisa membaca kemampuan belajarnya dan ketertarikan dirinya terhadap proses ini, juga jangan sampai memaksakan dirinya untuk terus fokus. Sebab esensi dari HS adalah fun learning. Tidak boleh ada paksaan. Tidak boleh ada kata "harus". Semua harus fleksibel, semua harus menyenangkan. Dan jika anak mulai bosan, tantangan berikutnya adalah: find another fun way to learn. Namanya juga metode pendidikan alternatif, jangan sampai cara yang digunakan sama atau mirip dengan metode pendidikan formal biasa, kan?

Begitulah, kadang, sebagai orang tua si anak itu sendiri, justru proses belajar menjadi lebih sulit. Sebab, kita sebagai orang tua sebetulnya paham kemampuan anak, dan si anak itu sendiri menganggap bahwa "guru" yang merupakan orang tuanya sendiri bisa dijadikan "tameng" untuk lebih santai atau meminta cara yang lebih longgar. Misalnya soal punishment, dan lain-lain. Kelak, saya ingin metode HS ini terus saya terapkan. Melalui bermain, melalui aktivitas kesehariannya, melalui cara yang lebih menyenangkan. Dan semoga, saya bisa konsisten dengan komitmen ini.

Semoga.

Blog Hits

Blog Archive

Hello

"Membuat jarak paling intim antara suara hati dan memori adalah dengan menuliskannya pada sebuah tulisan. Dan kamu, sedang menuju ke tempat milikku."

Enjoy reading.

Popular Posts

Followers