Tentang Bagaimana Rejeki Bekerja

Sebagian orang kadang tak paham bagaimana melihat rejekinya sendiri dengan tak mengukurnya dari rejeki orang lain.

Contoh riilnya begini:

Ada seseorang dalam sebuah pertemuan keluarga yang kedapatan rejeki melalui arisan. Alih-alih memberi selamat, seorang kerabatnya malah berkata:


"Wah, dapet uang segitu mah buat makan-makan aja, Mbak. Lha situ kan udah ga butuh uang lagi, tho. Uang segitu ndak kerasa buat Mbak."
*adegan ini dimodifikasi kalimatnya dari sebuah adegan yang saya saksikan sendiri.

Sepintas, saya melihat perubahan raut mukanya yang kesannya tak menyenangkan lagi. Bahkan sampai saya pamit di akhir acara.

Sebagai informasi, latar belakang Si Mbak memang berkecukupan secara ekonomi. Ia berdua suaminya bekerja. Anak hanya satu. Ia masih tinggal bersama orang tuanya (yang sudah setua itu masih pandai mencari rejeki) karena rumahnya sendiri belum selesai dibangun developer.

Itu bukan pertama kali saya mendengar kalimat berafirmasi negatif seperti itu. Beberapa kali bahkan mendengarnya karena memang ditujukan untuk saya.


"(Kalo kamu) uang segitu kan bisa simsalabim sehari dateng."
*dalam hati: kampret amat mulutnya.

Maksud saya: perlukah mengukur rejeki orang lain dengan cara seperti itu? Bukankah kalimat yang ditujukan untuk Si Mbak itu seolah-olah jadi konfirmasi bahwa Si Kerabat merasa insecure dengan rejekinya sendiri?

Gini, lho.

Kalau ada orang yang kita lihat "lebih sukses" atau "lebih kaya", bukankah sebaiknya kita "ngaca"?

Jangan-jangan dia sudah bekerja keras jauh lebih dulu saat kita masih haha-hihi. Coba diingat-ingat, jangan-jangan dia memilih tetap bekerja keras sementara kita malah bertahan di comfort zone. Jangan-jangan kita lupa dulu dia pernah gigih jualan pulsa saat kita memilih ngemall saja.

Jangan-jangan dia yang lulusan luar negeri itu memang punya akses dan modal sosial yang memungkinkan baginya untuk punya pekerjaan jauh lebih baik.

Jangan-jangan dia benar-benar melaksanakan hidup hemat, dan bukan hanya slogan semata.

Jangan-jangan prinsip kerja kerasnya sudah ditanamkan sejak kecil oleh orang tuanya.

Jangan-jangan kita ini cuma sibuk menghitung harta dunia.

Lagipula, battle field masing-masing dari kita pastilah berbeda. Ia mungkin punya rumah sendiri, tapi tentu ia harus membayar cicilannya. Ia mungkin memiliki mobil lebih dari satu, namun siapa tahu itu hasil kerja kerasnya selama empat tahun menyisihkan gaji dan upah dari pekerjaan sampingannya.

Maksud saya, seringkali orang merasa perlu untuk mengungkapkan ini dengan cara yang tidak bijak.

Lha kalau memang uangnya banyak, terus kenapa? Mau minta?

Kalau memang sering terlihat senang-senang, lalu mau gimana? Mau diajak senang-senang terus juga?

Ini memang "hanya" perkara ekspresi sih, ya. Asal jangan merasa iri lantas malah mencuri saja. Sebab waktu tak pernah membiarkan seseorang lolos melakukan kejahatan tanpa mengungkapkannya.

Ya legowo saja kalau rejeki orang lain terlihat "wah" sementara kita masih harus kerja keras dan ngirit sana-sini. Kayak saya ini.[]

Comments