- sepetak ruang kecil untuk menjadi diri sendiri -

Tentang Bagaimana Rejeki Bekerja

Sebagian orang kadang tak paham bagaimana melihat rejekinya sendiri dengan tak mengukurnya dari rejeki orang lain.

Contoh riilnya begini:

Ada seseorang dalam sebuah pertemuan keluarga yang kedapatan rejeki melalui arisan. Alih-alih memberi selamat, seorang kerabatnya malah berkata:


"Wah, dapet uang segitu mah buat makan-makan aja, Mbak. Lha situ kan udah ga butuh uang lagi, tho. Uang segitu ndak kerasa buat Mbak."
*adegan ini dimodifikasi kalimatnya dari sebuah adegan yang saya saksikan sendiri.

Sepintas, saya melihat perubahan raut mukanya yang kesannya tak menyenangkan lagi. Bahkan sampai saya pamit di akhir acara.

Sebagai informasi, latar belakang Si Mbak memang berkecukupan secara ekonomi. Ia berdua suaminya bekerja. Anak hanya satu. Ia masih tinggal bersama orang tuanya (yang sudah setua itu masih pandai mencari rejeki) karena rumahnya sendiri belum selesai dibangun developer.

Itu bukan pertama kali saya mendengar kalimat berafirmasi negatif seperti itu. Beberapa kali bahkan mendengarnya karena memang ditujukan untuk saya.


"(Kalo kamu) uang segitu kan bisa simsalabim sehari dateng."
*dalam hati: kampret amat mulutnya.

Maksud saya: perlukah mengukur rejeki orang lain dengan cara seperti itu? Bukankah kalimat yang ditujukan untuk Si Mbak itu seolah-olah jadi konfirmasi bahwa Si Kerabat merasa insecure dengan rejekinya sendiri?

Gini, lho.

Kalau ada orang yang kita lihat "lebih sukses" atau "lebih kaya", bukankah sebaiknya kita "ngaca"?

Jangan-jangan dia sudah bekerja keras jauh lebih dulu saat kita masih haha-hihi. Coba diingat-ingat, jangan-jangan dia memilih tetap bekerja keras sementara kita malah bertahan di comfort zone. Jangan-jangan kita lupa dulu dia pernah gigih jualan pulsa saat kita memilih ngemall saja.

Jangan-jangan dia yang lulusan luar negeri itu memang punya akses dan modal sosial yang memungkinkan baginya untuk punya pekerjaan jauh lebih baik.

Jangan-jangan dia benar-benar melaksanakan hidup hemat, dan bukan hanya slogan semata.

Jangan-jangan prinsip kerja kerasnya sudah ditanamkan sejak kecil oleh orang tuanya.

Jangan-jangan kita ini cuma sibuk menghitung harta dunia.

Lagipula, battle field masing-masing dari kita pastilah berbeda. Ia mungkin punya rumah sendiri, tapi tentu ia harus membayar cicilannya. Ia mungkin memiliki mobil lebih dari satu, namun siapa tahu itu hasil kerja kerasnya selama empat tahun menyisihkan gaji dan upah dari pekerjaan sampingannya.

Maksud saya, seringkali orang merasa perlu untuk mengungkapkan ini dengan cara yang tidak bijak.

Lha kalau memang uangnya banyak, terus kenapa? Mau minta?

Kalau memang sering terlihat senang-senang, lalu mau gimana? Mau diajak senang-senang terus juga?

Ini memang "hanya" perkara ekspresi sih, ya. Asal jangan merasa iri lantas malah mencuri saja. Sebab waktu tak pernah membiarkan seseorang lolos melakukan kejahatan tanpa mengungkapkannya.

Ya legowo saja kalau rejeki orang lain terlihat "wah" sementara kita masih harus kerja keras dan ngirit sana-sini. Kayak saya ini.[]
Ada dua pelajaran dalam semesta kehidupan yang rasanya sulit dilakukan. Pertama memaafkan dan kedua melepaskan. Keduanya beririsan oleh satu hal: ikhlas.

Berat, bok!

Ikhlas memaafkan dan ikhlas melepaskan.

Saya sih lebih sering memaafkan dengan format default: lebaran. Hehehehe. Dan sepertinya belum pernah juga ikhlas melepaskan. (Kalau dalam konteks kehilangan, orang tua dan mertua saya--alhamdulilah--masih komplit.)

Tapi sungguh. Saat kamu sakit karena seseorang, akan sulit bagimu untuk kembali melangkah dengan ringan tanpa rasa ikhlas.

Sekali lagi, ikhlas memaafkan dan ikhlas melepaskan.

Saya?

Saya ini tipe pendendam. Saya bisa menyimpan luka dan menyayanginya siang-malam agar saya ingat pelajaran apa yang saya dapat. Saya simpan semua memorinya dalam ingatan.

Buruknya, saya jadi tak mudah memaafkan--jika sakitnya keterlaluan. Tapi untuk melepaskan, demi moving on, saya masih mampu. Lebih buruknya lagi, itu jadi unfinished business antara saya dan masa lalu saya sendiri.

Namun saya berusaha memaafkan diri sendiri. Mungkin karena lalai. Atau terlalu sibuk ngopeni orang lain--anak?--jadi lupa mencintai diri sendiri. Atau mengabaikan ambisi dan merebahkan diri pada zona nyaman yang melenakan.

Yeah. Kita yang membuat persoalan dalam hidup, lalu kita sendiri yang sibuk menata hati. Demi menjalani hidup itu sendiri!

Kadang Tuhan memang hanya ingin tahu bahwa hidup ini lelucon semata.[]

We All Have Our Own Unspoken Depression

Waktu saya tahu berita kematian vokalis Linkin Park, Chester Bennington, dini hari tadi (waktu Indonesia, tentunya) awalnya muncul rasa duka yang biasa. Tapi menjelang siang, di berbagai platform medsos saya makin banjir postingan duka cita buat Chester.

Kematian Chester jelas mengguncang, bukan hanya karena dia famous person. But because the way he died. Suicide. Because of depression. Just like Robin William and Chris Cornell. It is not a new things in Hollywood life but somehow he gets the spotlight.

Pada beberapa poin, saya merasa bercermin pada diri sendiri. Bukan, bukan karena saya juga pengen bunuh diri. Tapi bahwa orang seperti Chester, who is obviously has fortune and fame, ternyata bisa menyerahkan hidupnya pada seutas tali.

Yaiyalaahh. Suicide can be happen to anyone. The poor one, so we thought he desperate because of money. And the rich, so we thought that money never truly makes people happy.

"We all have our own unspoken depression."

Sedihnya lalu menguat sebab saya merasa ada sesuatu yang relate. Tiap orang pasti menyembunyikan persoalan-persoalan dalam hidupnya. Problema itu hanya dibagi untuk beberapa orang saja.

Masalahnya, kadang beberapa orang seharusnya tak menyembunyikannya terlalu lama. Sebab ia semacam bom waktu. Menunggu momen untuk eksplosif sempurna.

Saya punya beberapa pengalaman dengan depresi. Tak pernah saya bagi ceritanya pada orang lain, sebab... saya pikir, orang yang depresi pasti sulit membuka diri.

Mereka sangat butuh dukungan dan tempat bercerita namun di sisi lain mereka pun memiliki ketakutan cukup besar akan premature judgement.

Kalaupun bisa cerita, kadang lebih banyak sesenggukannya. Atau, ya, menghabiskan air mata sendirian saja di kamar mandi. Disimpan sendiri.

Depression in my words is a state where you have unfinished business(es) with yourself while you have to cope with another bigger problems at the same time. And the frustrated feelings didn't vanish time after time.

Kadang kita tak sadar bahwa seseorang sedang dalam depresi berat sampai akhirnya bom waktu meledak menghancurkan segalanya.

Bukankah kita kerap membaca berita mengenai anak yang gantung diri seusai dibully? Atau ibu membunuh bayinya sendiri? Atau sekeluarga dibantai (hanya) demi membayar dendam karena tersinggung?

Kita ga pernah tahu seberapa berat beban di pundaknya (yang selalu coba ia sembunyikan) selama ini. Seberapa sering ia berpura-pura bahagia. Berapa banyak air mata yang hanya ditumpahkan di balik punggung. Seberapa ingin dia lari dari hidupnya...

That's why, you have to forgive yourself first after all.[]



Punya anak ketiga membuat saya makin mempersiapkan diri untuk menyongsong (((menyongsong))) masa menyusui. Berharap masa menyusui kali ini akan jauh lebih lancar-aman-terkendali macem arus mudik. Because, both my first and second child are I considered as breastfeed failed back then.

Chiya, hanya menyusui sampai usia enam bulan saja. Waktu itu sempat berkali-kali nursing strike which, I didn’t notice and never did something to make it better. Stupid me, yes I know. Puncaknya, dia nursing strike for the whole night and totally refused to breastfeed. I prayed we were still alive when the dawn breaking. (Lebaynyaaaa ga kira-kira.)

I did pump breastmilk, with a simple device look like horn. It was seriously painful, by the way. Since Chiya never likes milk, yes, she also refused it. At last, she drank milk only less than sixty mililiters a day until she was two or three. And she never finished it off.

Sementara Levi, di usia dua bulan sempat dioplos (((dioplos))) susu formula. Direct breastfeed hanya beberapa hari saja, selanjutnya minum ASIP via dot. Gantian gitulah, ASIP-formula-ASIP-formula.

Awalnya saya memutuskan memberi Levi ASIP karena anak ini begadangnya gak nanggung-nanggung. Sampai bikin orang tuanya membentuk komisi khusus begadangan. Edanlah pokoknya. Sementara kalau kurang istirahat, produksi ASI gak bisa memenuhi kebutuhan oroknya Levi saat growth spurt.

Riwil begadang + growth spurt + nenen kosong = ?
Kebayanglah ya, sist.

Usia tujuh bulan mamaknya tak kuat untuk konsisten eksklusif pumping so I decided to give up. Sorry, but I am human too. L Cerita bagaimana akhirnya saya menyerah tentu bukan keputusan karena sesuatu hal yang terjadi kemarin sore. Berkali-kali saya coba menyemangati diri saat produksi ASIP berkurang karena accidentially skip pumping.

Sleep deprived + kejar tayang ASIP + restless = ?

This time, I won’t let myself give up (again). Ada banyak sekali keunggulan ASI dari pengalaman saya menyusui selama ini. Breastfeed itu praktis. Apalagi kalau bayinya begadangan. Dulu, saya gak pernah dikasih tahu gimana caranya menghadapi masa begadang dengan rileks. Ada banyak tips soal menyusui new born dengan proper latch-on etc, but there are not how to cope with breastfeeding and sleep deprived. Not also about how to be happy with that.

Kalau bayi begadang, susui dengan posisi tiduran. Jangan khawatir tersedak, payudara punya sistem output yang canggih. Dan bayi sangat jenius untuk menyusui sambil tiduran. Pada anak ketiga ini saya menyusui sambil tiduran mungkin sekitar 90%. Most of time. Apalagi dia gak begadangan. Waktu istirahat saya jadi jauh lebih banyak. Menyusui terasa lebih rileks. Bayi pun lebih rileks saat menyusui. Breastfeed always makes baby soothes and calm.

Kepraktisan juga terasa kalau bepergian. We don’t need to bring those bottles or even hot water in flask. We also don’t need to be busy when the baby is hungry. Serius deh, rempong bener kalo bayinya mimik ASIP. Kita juga harus selalu menghitung waktu konsumsi yang tepat. Jangan sampai ASIP-nya expired. Don’t ever mention about bottle addiction. Levi masih ngedot loh umur tiga tahun ini. :(

And oh, breastfeed can save you money. A lot of money. Susu bayi di bawah enam bulan itu gak ada yang murah, loh. “Semurah-murahnya”, it’s still cost you much for daily expenses. Multiply it for the whole month. Then see the number for the exact year. Well, we will say “parents will always give the best—no matter how expensive it is”, but if we can save the money for another purposes, why not?

To make it short, there are a lot of advantages of direct breastfeed. And next, I’m gonna share about why I don’t feel like I need any sort of ASI boosters.[]



Saya tak punya banyak buku fiksi yang bercerita soal anak-anak. Maksudnya bukan buku anak-anak lho, ya. Tapi buku yang bercerita tentang anak-anak. Untuk menyebut satu-dua, ada Pangeran Kecil dan Toto Chan. Itu saja.

Kalau diingat-ingat, memang buku macam itu agak jarang. Kalaupun ada, ya mungkin bercerita tentang dunia anak-anak dalam perspektif orang dewasa. Padahal, setelah membaca Pangeran Kecil dan Toto Chan, rasanya dunia anak-anak itu seru. Tak pernah kehabisan bahan untuk diceritakan.

Suatu waktu, saya sedang Insta-walking (ya macam blog walking gitulah) di beberapa curated book shops. Lalu saya ketemu postingan NaWilla ini. Buku yang sampulnya berwarna kecoklatan ini belum pernah sekalipun saya lihat di toko buku (setidaknya di satu toko buku besar berinisial G itu). Satu-dua foto masih saya skip. Tapi lalu fotonya makin banyak. Di book shop sebelah juga ada. Wah, seberapa menarik sih buku ini, sampai banyak dijual di Instagram? Sementara saya tak pernah tahu sebelumnya.

Penulis NaWilla adalah Reda Gaudiamo. Nama penulisnya tak asing. Saya sering lihat nama beliau di beberapa majalah wanita sebagai redaktur atau juri pada event menulis. Tapi saya belum pernah punya satupun buku yang ditulisnya. Saat saya search menggunakan hasgtag NaWilla, semua responnya positif. Nah, makin penasaran, deh. Lalu saya belilah itu buku. Plus, satu buku lagi dari penulis yang sama, judulnya: AKu, Meps dan Beps. Karena sudah mengintip beberapa testimoni dari pembaca, saya jadi berekspektasi bahwa buku ini bakal jadi page turner. Bisa khatam dalam sehari.

Buku jenis page turner sebenarnya menyenangkan sekaligus menyebalkan. Di satu sisi ia semacam adiksi, namun di sisi lain harus rela bukunya cepat khatam. Bookgasm. Iya, itu memuaskan dan menyebalkan buat saya. Sebab saya jadi tak punya bacaan bagus lagi. Dan harus mencari buku lainnya.

Long story short, dua hari sejak dipesan, sampailah dua buah buku Reda di rumah. Wah, bukunya tipis ternyata. Kalau benar ia adalah page turner book, alamat rampung dalam dua jam ini (plus nenenin, ngemil dan pipis). Saya bahkan menunda melanjutkan buku yang sedang saya baca. Kemudian membulatkan tekad untuk membaca NaWilla saja.

NaWilla ditulis dalam format fragmen-fragmen pendek. (Sumpah, bahasa tuturnya enak banget!) Di tiap halaman ada sisipan ilustrasi seperti sketsa yang dibuat oleh Cecilia Hidayat. Fragmennya dibuat beralur. Di awal, tiap fragmen menceritakan siapa saja tokoh-tokoh yang dekat dengan Willa. Juga bercerita tentang rumah sebagai latar cerita.

Buku ini berkisah dari perspektif “aku” sebagai Willa. Seperti kebanyakan makhluk mungil yang belum lama hadir di bumi, banyak hal dipertanyakan eksistensinya. Seperti,

“Kalau aku jadi anak laki-laki, aku bisa seperti Mak?”

“Ya bisa,” kata Mbok.

“Kalau begitu aku mau jadi anak laki-laki saja,” kataku.

“Bagaimana? Kamu anak perempuan. Sampai kapan juga anak perempuan!”

“Nanti aku pakai celana terus.”

“Tidak bisa, Noni. Kamu perempuan. Perempuan!” (hlm 10)

Selain kerap mempertanyakan hal-hal di sekitarnya, Willa pun memiliki keingintahuan yang begitu membuncah. Misalnya saat Willa akhirnya menaiki buffet dan membongkar radio untuk melihat apakah di dalamnya ada orang kecil yang bernyanyi atau tidak. Seperti anak usia prasekolah lainnya, Willa tetap melakukannya meski sudah diperingatkan oleh Mak.
Aku mencoba memegang lampu yang menyala itu, ketika tiba-tiba Mak sudah berdiri di sampingku. Sekali rengkuh, Mak memelukku, menggendong dan menurunkan aku dari buffet. Papan tipis itu masih menyangkut di jari telunjukku.
Aku dengar Mak menggeram. Seperti kucing yang sedang marah.  (hlm 61)
Mak, layaknya mayoritas ibu di dunia ini, sering mengomel dan sangat protektif kepada anak semata wayangnya itu. Namun di balik “kegarangannya”, di mata Willa Mak adalah perempuan manis dan cantik. Relasi ibu dan anak ini juga relatif harmonis.
Sementara Pak, sebagai kepala keluarga dan Ayah Willa, ia jarang dimunculkan dalam cerita. Bekerja sebagai pelaut membuatnya absen dari banyaknya cerita. Bahkan, cenderung tidak banyak diberi ruang untuk dikisahkan.

Menurut saya, keunggulan NaWilla adalah cara bertutur yang apik dan perspektif cerita yang jarang dipilih penulis ketika menulis buku mengenai anak-anak. Selain itu, hal lain yang menurut saya sangat impresif adalah latar belakang dan garis besar cerita yang bagai buaian ibu sendiri. Saya diingatkan masa kecil saat main dengan teman sebelah rumah. Atau tidur siang dengan Ibu saya. Atau saat bulan puasa tiba. Rasanya perlu membaca ulang Willa untuk sekadar klangenan masa kecil saya.
Dan barangkali, ini adalah buku cerita tentang anak-anak terbaik yang pernah saya baca.[]


 
Kok akuh tersinggung, ya? Kamu?

I was scrolling my Instagram account as I looked for anything cute to buy. Yes, anything. I would buy a nice blouse or an outerwear or a pair of nice flips, you named it. I will buy it. After gave “love” tags to some pictures here and there, I moved to my virtual bank account to check whether it is quite enough to buy one or two stuffs. There, the moment I saw the number blurry.

Gasp, I was broke.

My money just enough to pay the admission fee next month. No nice blouse nor a cute flips. And I turned pale. Where did all my money go? Yes, where ALL OF THEM? Is there anyone stolen my money?

The other day, I started to “investigate” through the transaction history. And I found out I was a spendthrift the whole month. Not to mention months before, because I can check the history the current month only. So, it was me who stolen my own? Wow. I mean: W-O-W.

Well, I wasn’t a rich girl who has billions on my account. But spending those amount for only a month still terrified me. Then I took a note and listed down every single payment I’ve done. After that, I tried to figure it out what did I spend on. It took me forever to remember, by the way.

It such a hit on my face. I feel disappointed because of my own self. I lose all of my money, I didn’t have any for savings and of course I have to hiatus from shopping and all until I-don’t-know-when. Sigh.

Anyway, the stuff I’ve bought is (as you can guess) around clothes and make ups. Oh, there also several clothes for my kids but it is not comparable to numbers I had. So I dragged them out and count. Yes, they were so many. I even forgot I have a new black blouse—which I almost wanted to buy it AGAIN. Oh, and that lipstick too. How can I picked that bright red shade which I never like?

I could hear my evil self laughing out there.

I bet you, woman,—yes, I’m pointing at you, YOU—ever experiencing this too. You bought a blouse which you already had on your closet. Or you let a pair of pointed shoes with 7 centimeters heels on the box until your feet getting bigger. Or a tube of serum until it reach  date of expired. Or went to the coffee shop twice a week with the same old apology: you need a proper treat to relieve your pre menstrual syndrome.

For some people, all those unused stuff cab be thrown away to a garage sale. You can reselling them and it turns out to be money again. But how much money you can get? Preloved stuff usually sold at ten to fifty percent cheaper from the original price. Furthermore, it takes sometime until all the stuffs is sold. Not to mention the space you need to keep them all.

I agree about the point that we have the rights to indulge our self anytime. But spending too much money and too many times self treatment is not acceptable. It’s an apology and we often denial about this.

Well, I don’t want this to be happen again to me. So from that moment, before I buy something unnecessary—it’s usually clothes or anything but tempting enough—I always have myself run to the closet to check whether I really need it or not.

Since I prefer minimalist fashion style, I don’t need so many kind of clothes. It’s usually monochrome in color and simply nice in style. And I want all the clothes to rejuvenate only once in three or four years. One thing to notice, the clothes have to be good in quality so it will be live longer. It doesn’t require any brand, but make sure it’s really made fine.

I even have one black sweater that I’ve bought on 2009 with my first salary. Yes, it’s been eight years. But it’s still in shape, not faded a bit (still deep black just as I bought it at the first time) and IT’S NOT A BRANDED STUFF. But it’s not cheap tho. When I touched it, I could feel it’s a good quality knit sweater. And it is.

It’s also applied to make up things. I have a foundation which I wear it in daily basis. It’s a foundation with serum and it’s so good. I even don’t need to wear face powder anymore. And yes, it’s a foundation from a branded cosmetic. It’s better before you buy a cosmetic to try the tester on you to find out whether it’s good or if you have an allergic on it. And don’t forget about lipstick. Don’t buy it if you don’t really like it.

So it’s better to buy something good with finest quality. But first, make sure you are really need it. I know how tempting all the cute clothes on Instagram. And how hard it is to keep yourself straight on—and maybe you surrender many times. If you need, list down all the clothes you have and try to figure it out what kind of clothes you still need to buy. You also can try to mix and match to find out. For example, if you already have three pieces of jacket, then skip all the jacket sections.

Now, I feel way more relax when I take a look at my closet. Declutterd also very helping when you want to eliminate unused clothes. I feel have no problems if I have to wear those kind of clothes over and over. I can match them and the important point is I feel comfortable with it. No big deal.[]


(*credit pict from here)

Itu adalah Jumat pagi yang sejuk dan damai. Sebetulnya. Hingga tangisku yang menggelegar—seperti biasanya—pecah dan membangunkan adik bayi. Para Orang Dewasa kemudian jengkel. Sebab sebagaimana kau tahu, anak kecil yang menangis adalah gangguan. Apalagi jika suaranya kencang, panjang tak terputus.


Memang begitu gaya tangisku. Tangis yang membuat semua orang ingin berpaling sebab suaranya menyebalkan. Tapi tangis tetaplah tangis. Aku menangis sebab aku sedih. Aku menangis kerap kali karena aku kecewa. Kecewa pada diriku sendiri yang tak mampu mengendalikan diriku. Sementara, para Orang Dewasa semua menuntutku untuk segera diam.


Bagaimana caranya untuk menghentikan tangis ini? Bagaimana cara agar aku tidak sedih lagi? Adakah cara supaya aku bisa tertawa dan bermain lagi? Tahukah kalian, para Orang Dewasa? Maukah kalian memberitahuku bagaimana caranya?


Sayangnya, mereka, para Orang Dewasa, kerap tak menemukan cara yang tepat untuk memberitahuku. Untuk menunjukkan padaku bagaimana meredakan tangisku ini. Beberapa kali aku meminta satu-dua pelukan yang ternyata belum benar-benar bisa menghilangkan sedihku ini. Walau, para Orang Dewasa pun kadang enggan memelukku ketika aku menangis.


Para Orang Dewasa biasanya terus berkata “diam”. Selalu menyuruhku untuk diam. Mungkin mereka tak mengerti rasanya menangis karena sedih dan harus segera menghentikan tangisnya. Apapun alasannya. Bagaimanapun caranya. Mereka sangat terganggu dengan tangisku. Tak jarang pula mereka berkata, “malu kalau nangis keras-keras.”


Sekali-dua aku menangis karena kesakitan. Jatuh atau terjerembab. Namun aku cukup sering menangis karena kesakitan dipukul, disiram atau dilempar barang-barang. Iya, semua itu jelas menyakitkan untuk makhluk mungil seperti aku. Dan lebih menyedihkan karena dilakukan oleh kalian, para Orang Dewasa, yang begitu aku sayangi.


Tangisku akan semakin menjadi saat para Orang Dewasa berteriak membalas tangiskanku yang sangat kencang. Menyebut satu-dua nama hewan atau kotoran. Aku tak paham mengapa mereka harus menyebut itu semua sambil berteriak. Aku semakin tak paham sebab mereka tak membantuku meredakan tangis ini. Dan begitulah aku merasa sendiri.


Mauku tak banyak. Inginku biasanya hanya sederhana. Tapi semua itu seringkali terbentur maunya para Orang Dewasa. Aku ingin pegang benda yang sering mereka pegang, tapi ditolak. Aku mau memainkan benda yang banyak gambarnya itu, namun dilarang. Biasanya para Orang Dewasa akan bilang, “jangan, nanti rusak.” Apakah barang itu takkan rusak jika mereka yang pegang atau mainkan?


Aku kerap teguh pada kemauanku. Pada pendirianku akan sesuatu. Aku punya keyakinan sendiri akan keinginanku. Dan ini juga menjadi masalah pada para Orang Dewasa. Mereka mau aku tidur cepat. Mereka mau aku segera mandi. Semakin aku keras kepala, kadang makin keras pula pukulannya.


Saat ini aku, tak ingin apa-apa. Aku ingin dipeluk saja.


Tulisan ini didedikasikan untuk anakku, Levi Zaidan WIsanggeni. Selamat ulang tahun, Le. Semoga kau selalu bahagia dengan apapun yang kau miliki.
- Bunda

Blog Hits

Hello

"Membuat jarak paling intim antara suara hati dan memori adalah dengan menuliskannya pada sebuah tulisan. Dan kamu, sedang menuju ke tempat milikku."

Enjoy reading.

Popular Posts

Followers