- sepetak ruang kecil untuk menjadi diri sendiri -

Movie Review: Moana

 
(Pict from here)


Sudah nonton Moana, belum? Saya sudah nonton waktu masih awal launching. Tumben sih, soalnya waktu itu gak ada agenda weekend lainnya. Karena Chiya sudah beli bukunya sejak filmnya belum diputar, kami sudah dapet spoiler deh. Walau ikutan baca bukunya (meski tak sampai habis), filmnya tetap gak mengecewakan, kok. Mari saya ceritakan.

Moana ini adalah proyek film anak-anak karya rumah produksi besar, Disney. Disney kadang memproduksi film anak-anak yang menurut saya gak terlalu anak-anak. Well, ini sih subyektif, ya. Misalnya, The Croods yang menghadirkan sosok anak lelaki yang too obvious to see bahwa dia ditaksir—atau, diidolakan lah—sama anak perempuannya Crood. Falling in love is human, but I think those scene shouldn’t be put in kids movie.  Minimal di film remaja, deh. Alasan ini yang kadang bikin males ngajak Chiya nonton film-film tema princess. Selain parno sama Cinderella complex, sih.

Selain itu, film anak-anaknya pun kebanyakan girl or female centered. Jarang kan ya, film anak-anak yang tokoh utamanya laki-laki atau nuansa “maskulin”. Kalaupun tidak girl centered, palingan filmnya fabel (tokohnya hewan, maksud saya). Menurut saya sih, preferensi ini semata persoalan pasar. Akan lebih mudah menjual film yang tokohnya eye candy dengan jalan cerita menghibur dan—ehm—mainstream.

Masih ingat demam Frozen kan, ya? Dan sepertinya di mana-mana masih banyak anak perempuan yang kecanduan Elsa dan Anna sisterhood. Why? Ya simply because they’re both princesses, adoreable, live in a big castle, have super power and admired by two princes charming. Gak susah lah mau ngebayanginnya, ya.
 

Nah, Moana is totally different from those girls. Sori nih, disclaimer dulu ya, maap kalo bakal banyak spoiler alert. Namanya juga amateur movie review :p So, Moana is a girl from a tiny island in pacific ocean named Motunui. She is the only daughter of the chief and will be replace her daddy as the next leader someday. Sound familiar, huh? Well, let me continue.

Disini, konfliknya justru bukan pada proses serah-terima posisi kepala sukunya, tetapi tentang memperjuangkan dan membuktikan identitas kesukuannya—jika bisa disebut begitu—melalui eksplorasi dan petualangan yang dialami Moana. Ceritanya jadi rada berat sih, menurut saya. Apalagi ada tokoh yang setengah dewa yang harus ditemui Moana. Tapi mirip dengan cerita yang girl centered lainnya, tentu karakter Moana juga memiliki girl power yang gigih dan keras kepala mendengarkan inner voice-nya.

Garis cerita yang membuat Moana berbeda adalah, pertama, prorotipe para tokohnya yang non Kaukasian. Moana ini diilustrasikan berkulit cokelat, berambut keriting tebal, berbibir tebal, berhidung pendek dan bergaris wajah keras. Entah, itu prototipe orang Pasifik betulan atau bukan. Yang pasti, Moana mengingatkan saya pada Pocahontas, Jasmine, dan tokoh Disney berkulit “eksotis” lainnya.

Kedua, latar ceritanya. Karena settingnya di kepulauan Pasifik, maka di film ini, you’ll find a lot of blue-wavey-crystal clear sea with sunny and windy weather. Bikin pengen liburan ke Maldives gitu, deh! :p Belum lagi pulaunya yang subur dengan banyak sekali pohon kelapa menjulang, bunga-bunga tropis yang cantik dan rumah kayu yang hangat.

Selanjutnya, tentang petualangan Moana dan mitos yang melatar belakanginya. Kegigihan Moana untuk pergi melampaui batas laut yang dilarang oleh Ayahnya—berdasarkan mitos di sana—adalah atas nama kecintaannya pada akar leluhurnya. Pun, beberapa tokoh-tokoh mitosnya menurut saya adalah representasi dari fenomena alam. Misalnya TeKa yang diilustrasikan sebagai monster lava yang merepresentasikan letupan lava dari gunung berapi. Lalu Te Fiti sebagai representasi pulau cantik yang sedang “sekarat”. Jadi kalau akhirnya terungkap bahwa Te Ka adalah Te Fiti yang berubah wujud, agaknya memang masuk akan kan, ya? (Monster lava itu akhirnya menjelma menjadi pulau yang kembali hidup dan subur kembali setelah sebelumnya sekarat karena gersang.)

Terakhir, there’s no lovey-dovey thingy! Yaayy. So I can say Moana is pure kids movie you can enjoy with your toddler. Mind to watch it too, maybe?[]

Blog Hits

Hello

"Membuat jarak paling intim antara suara hati dan memori adalah dengan menuliskannya pada sebuah tulisan. Dan kamu, sedang menuju ke tempat milikku."

Enjoy reading.

Popular Posts

Followers