- sepetak ruang kecil untuk menjadi diri sendiri -

Gambar dari sini
Saya sebetulnya bukan tipe movie freak. Gak usah jauh-jauh deh, saya bakal lebih memilih nungguin film diputar di tivi daripada harus ke bioskop. Pergi ke bioskop bisa dihitung deh. Belakangan kebanyakan nonton di bioskop karena ngajak anak saya. Makanya saya engga aware sama film-film baru, hehehe...

Film yang mau saya bahas adalah The Help (as seen above). Ini adalah film yang dirilis tahun 2011 dan baru saya tonton belakangan ini, hehehe... Itupun karena diputar di HBO. Kalo engga, mana saya ngerti ada film bagus macam ini :p

Diadaptasi dari sebuah novel dengan judul yang sama karya Kathryn Stockett, film ini temanya rasisme dari perspektif perempuan. Ngeri ya? :p Adalah Eugenia "Skeeter" Phelan (diperankan oleh Emma Stone), seorang jurnalis perempuan muda yang sedang merintis karir menulisnya dengan berencana menerbitkan sebuah buku. Ia adalah ikon perempuan pemberani yang tidak mengikuti jejak teman-teman sebayanya yang kuliah sembari mencari calon suami. Buku yang ingin ia tulis bukanlah buku melankoli macam novel percintaan, melainkan sebuah buku yang akan bersaksi mengenai penindasan dan diskriminasi para pembantu (refer to the title: The Help) kulit hitam terhadap para majikan mereka: siapa lagi kalau bukan para perempuan kulit putih.

Para majikan ini kerap memperlakukan pembantunya dengan semena-mena. Tidak jarang mereka melaporkan kasus pencurian skala rumah tangga hanya karena ingin membuat pembantunya tidak lagi bekerja di rumah mereka. Kasus begini jelas sebuah rahasia umum. Semua tahu polanya. Selain itu, selama bekerja menjadi kontributor di sebuah  tabloid kecil di sana, Skeeter menemui adanya kebijakan untuk memisahkan toilet bagi kulit putih dan hitam. Karena itu, Skeeter diam-diam menghubungi salah satu pembantu yang sudah "senior" untuk menjadi informan bagi data bukunya. Niat menulis buku ini salah satunya karena Skeeter pernah memiliki pembantu kulit hitam yang sudah sangat dekat dengannya.


Mengerikan sebenarnya jika mengetahui bahwa perempuan bisa menjadi pemangsa bagi sesamanya.Scene yang buat saya paling menyentuh adalah ketika si pembantu yang akhirnya harus dipecat--karena nama si majikan tercemar melalui buku yang ditulis Skeeter--harus meninggalkan anak perempuan yang selama ini ia asuh. Anak perempuan itu bahkan berkata: don't leave, Abee... (sambil menangis, ihik) Jelas terlihat bonding yang telah tercipta antara pengasuh dan anak asuhnya sudah melebihi ikatan ibu dan anaknya sendiri. Sementara, para pembantu itu tahu bahwa kelak ketika anak-anak itu dewasa, sikap mereka akan persis seperti ibu mereka. Berbeda sama sekali ketika mereka kecil dulu.

Betapa konstruksi sosial itu dahsyat sekali, ya?


Kalau lagi nonton tivi dan ada film ini, jangan diskip deh. Coba simak sampai selesai. Dari idenya udah berbobot, ditambah nilai plus tata artistik era 50an yang (menurut saya) membuat penampilan pemeran para majikan perempuan dan desain interiornya jadi sangat elegan dan klasik. Eye candy banget selagi meresapi isu sosialnya *aisyedap* :D []

Blog Hits

Hello

"Membuat jarak paling intim antara suara hati dan memori adalah dengan menuliskannya pada sebuah tulisan. Dan kamu, sedang menuju ke tempat milikku."

Enjoy reading.

Popular Posts

Followers