Melek Huruf dan Budaya Literer

Angka buta huruf di Indonesia konon menurun. Dengan makin bertambahnya melek huruf di Indonesia, mestinya jangkauan budaya literer juga semakin luas. Tapi nyatanya tidak juga. Orang yang sudah melek huruf bahkan mendapat kesempatan sampai pendidikan tinggi pun bukan jaminan tingginya minat baca. Sebuah hal yang kontradiktif.

Menurut situs ini, melek huruf didefinisikan sebagai persentase penduduk usia 15 tahun ke atas yang bisa membaca dan menulis serta mengerti sebuah kalimat sederhana dalam hidupnya sehari-hari. Ini jelas sebuah definisi yang terlampau sederhana untuk melihat apakah melek huruf di Indonesia bisa untuk mengukur seberapa tinggi budaya literernya. Mungkin kita sudah kerap mendengar kalimat ini: kemajuan sebuah bangsa diukur dari indikasi kemajuan penduduknya. Salah satunya melek literasi.

Kalau mau dimaknai secara singkat, melek literasi sejatinya adalah kondisi keterbukaan diri akan berbagai informasi dari banyaknya media yang ada. Tapi hal ini tidak mencerminkan budaya literer berkembang baik. Sebab, ada tahapan di mana melek literasi merupakan fase setelah budaya lisan dan literer terlampaui. Informasi yang terditribusi melalui lisan, kemudian direkam dalam tulisan untuk kemudian dibaca. Namun sayang, pesatnya laju teknologi membuat kesadaran budaya literer ini tidak maksimal. Ini berlaku bahkan dalam kondisi di mana masyarakatnya sudah melek huruf sekalipun.

Usaha-usaha pemerintah untuk menekan angka buta huruf patut dihargai. Program kejar paket bagi yang belum bisa menulis dan membaca telah dimulai sejak tahun 90an bersamaan dengan perubahan batas wajib pendidikan dasar sembilan tahun. Pendekatan pendidikan non formal ini tentu sangat membantu orang-orang yang sebelumnya tidak dapat baca-tulis sementara dari segi usia sudah tidak dapat diterima di sekolah formal. Program ini banyak dilakukan oleh PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat) hingga LSM yang fokus pada pendidikan. Lalu, apakah orang-orang yang sudah melek huruf dipastikan memiliki budaya literer juga?

Miris memang, jika kita bisa mengetahui jumlah besarnya ponsel pintar yang laku terjual dibandingkan dengan jumlah buku yang pernah dibaca. Meskipun kini e-book sudah bisa dijangkau, rasanya belum semua judul buku sudah tersedia. Dan ini bukan hanya persoalan jumlah bukunya, melainkan bagaimana budaya literer atau membaca ini menjadi bagian dari gaya hidup. Minat baca inilah yang kelak harus diwariskan serta menularkannya kepada anak-anak kita dan orang-orang di sekeliling.

Rasa-rasanya perjalanan bangsa ini masihlah panjang.[]