- sepetak ruang kecil untuk menjadi diri sendiri -

Akhir tahun itu biasanya di tivi banyak yang mengulas kilas balik peristiwa setahun ini, ya. Nah, Pena Merah minggu ini punya tema yang mirip: kalaedoskop. Karena saya juga bukan siapa-siapa (kayak judul sinetron ya, hahaha), jadi saya cerita-cerita dikit aja yah soal what’s been happen along the year.

Kalau soal kerjaan (saya enggan menyebutnya karir, entah mengapa), tahun ini saya mengambil keputusan yang cukup signifikan, yaitu resign. Tapi sebelum ke sana, saya mau flash back sedikit, ya. Saya di kantor yang terakhir ini sudah hampir dua tahun. Jarak rumah ke kantor relatif dekat, searah dengan suami (berangkat-pulang pasti bareng kecuali salah satu lembur), dekat dengan beberapa mall juga (penting, soalnya suka makan siang, ato janjian sama temen kuliah yang sekantor sama suami buat janjian dan belanja pas after hour), belakang kantor gudang jajanan (kawasan kampus dan sekolahan Al Azhar), temen-temen dan orang seruangan baik, suasana hangat, selalu ada cemilan, sering dinas yang membuat saya belajar banyak hal… Banyak deh, pokoknya.

Trus, kenapa resign? Bisa dibaca di sini ya, alasan komplitnya. Dan saya ga akan mengulang penjelasan yang sama karena memang hanya itu jawabannya. Keputusan ini dibuat tidak dengan main-main. Banyak sih yang kemudian mencibir (literary), karena saya memutuskan untuk di rumah. Tapi ya, saya juga gak berhak menjudge mereka. Meski saya sudah jelaskan ke mereka dan mereka (seolah-olah) sudah mengerti, rasanya tidak akan pernah cukup membuat orang lain bisa paham apa yang saya pilih dan jalani sekarang.

Toh, kita ga harus jadi orang lain untuk memahami apa yang orang lain rasakan, kan? Jadi, selama mereka masih wondering, biarkan saja. That’s feed their brain, somehow. Hehehe…
 
Masih ada hubungannya dengan being at home, saya akhirnya hamil (lagi).  Ini sesuatu yang dinanti sejak tahun kemarin. Proses pengembalian siklus masa subur yang tidak sebentar ternyata membuahkan hasil baik. Alhamdulilaaaahh… Sampai saya nulis postingan ini, usia kandungan masuk 20 weeks. Semoga tetap sehat, mengingat saya sempat pendarahan dua kali dan bed rest total. USG jenis kelamin belum dilakukan soalnya belum kontrol lagi, hehehe… Tapi sangat membahagiakan salah satunya karena si janin sudah kerap menendang-meninju-menyundul dari dalam :D

Lalu, si kakak (Chiya) tahun ini masuk SD. Awalnya kelimpungan cari sekolahan karena kebijakan baru usia prioritas 7 tahun untuk masuk di sekolah negeri. Belakangan Chiya sekolah di sekolah swasta dekat rumah. Secara akademis ia bagus, kok. Semester pertama dapat ranking dua. Cukup baik untuk ukuran anak yang belajarnya santai dan sering tidak fokus sama apa yang sedang dikerjakan hehhee… Yang menurut saya paling menonjol adalah kemampuan bahasa inggrisnya. Sekarang dia relatif fasih bicara dalam bahasa inggris (tinggal memperkaya vocabulary dan membiasakan diri dengan grammar yang benar saja). Peningkatan paling terasa ketika kami mulai langganan layanan televisi berbayar. Percaya atau tidak, dia “hanya” nonton kartun. Kami tidak mengajarinya secara intens apalagi kursus. Rencananya, kursus bahasa inggris baru akan diambil kira-kira tahun depan.

Nah, beda sama ayahnya (peace ya ayah :D). Saat ini saya sedang ngompor-ngompori dia untuk kursus bahasa inggris secara serius supaya bisa sekolah lagi. Mumpung masih sehat dan mumpung dia punya bidang untuk menjadi alasan sekolah lagi. Kalau bisa sih, jangan di sini (baca: Endonesyah). Soalnya saya optimis dia punya potensi untuk bisa belajar di luar. Sayang aja sih, sebab saya salah satu yang mengamati bagaimana dia berkembang sejak awal kuliah dulu. Kendala yang dia punya menurut saya di bahasa. Selain itu, dia punya peluang yang sama dengan lainnya. Kerja keras, tekun, ulet. Kalau hanya gara-gara bahasa, dia memilih untuk tetap di sini, rasanya seperti menyerah sebelum perang benar-benar dimulai :( Terus, kenapa harus di luar negeri? Pertama, jelas perkembangan ilmunya lebih update di luar negeri. Kedua, sekolah di luar negeri (menurut saya) bisa sambil buka jaringan dan pengalaman baru. Tapiiiii, di luar itu semua, ada yang jauh lebih “berkuasa” kan ya? Jadi, biarlah kami ikhtiar dulu, baru nanti lihat bagaimana kemungkinannya.

Saya sih bukan tipe orang yang bikin resolusi buat awal tahun. Biasanya saya bikin target pencapaian waktu jelang ulang tahun atau kalau lagi on fire sama sesuatu. Overall, di tahun 2013 ini ada hal-hal yang tidak terduga yang kemudian membawa bahagia. Tapi ada juga hal-hal yang tidak sesuai dengan target hidup saya untuk tahun 2013 ini. Ada hal-hal yang saya rencanakan dan saya harapkan juga agar rencana-rencana itu mewujud sempurna pada tahun 2014 mendatang. Saya juga berdoa agar tetap diberi kekuatan apabila rencana-rencana itu pada prosesnya tidak sesuai dengan ekspektasi. Namanya hidup, pasti ada pahit, getir, gembira dan nananana.

Whether it’s good or bad, let’s take it and be happy.[]

Blog Hits

Hello

"Membuat jarak paling intim antara suara hati dan memori adalah dengan menuliskannya pada sebuah tulisan. Dan kamu, sedang menuju ke tempat milikku."

Enjoy reading.

Popular Posts

Followers