- sepetak ruang kecil untuk menjadi diri sendiri -

Sekarang mau cerita-cerita soal Klinik Permata Bintaro, ah. Klinik yang belakangan jadi tempat andalan ketika keluarga kami sakit. Awalnya dulu kenal klinik ini karena rekomendasi bidan waktu kami konsultasi program hamil. Dikasih tahu, bahwa di sana ada dokter kandungan perempuan, muslim dan menurutnya bagus. Telaten, katanya. Ya wis, ketika ada waktu, kami mulai menuju TKP. Waktu itu kami cari-cari klinik itu, ketemu. Tidak jauh dari STAN. Karena belum mau periksa dan hanya survey lokasi dulu, difoto-foto lah itu plang yang ada jadwal praktek dokternya dong. Pas udah niat mau ke sana, eeehh, kliniknya tutup bok! Bukan tutup dalam arti sedang tidak praktek, tapi beneran kosong. Plangnya hilang, rumahnya kosong. Wah, bangkrut jangan-jangan.. :p

Lemes yah, udah niat mau ketemu si dokter, eh belum jodoh. Ya sudah, karena kami tidak ngoyo banget, klinik itu pun terlupakan. Sampai akhirnya, kami menemukan kembali klinik itu di tempat yang baru. Dekat dengan perempatan menuju Bintaro Plaza, kalau dari arah Pondok Betung posisinya sebelah kiri. Dibaca-baca plangnya, sepertinya kini dokternya jauh lebih lengkap. Ada dokter gigi, kandungan, spesialis anak, ahli gizi, hypnotherapy, akupuntur dan skin care sampai konselor laktasi segala. Waktu itu kebetulan tidak lama Chiya butuh ke dokter gigi untuk cabut gigi. Akhirnya kami cobalah ke sana. Untuk dokter gigi (waktu itu kalau gak salah sama Bu Christine apa ya), harus by appointment dulu. Jadi, telpon untuk janjian dulu sama bu dokter dan bilang mau cabut gigi anak. Nanti si asistennya akan catat nomer telepon kita. Kalau ada pembatalan, jam diundur atau ganti hari atau gimana pasti di-sms sama mereka.

Ini adalah pengalaman pertama Chiya cabut gigi dan waktu itu hanya saya yang menemani (ayahnya lagi dinas). Bu dokternya ternyata cantik dan ga hanya itu, ia sangat persuasif. Seneng ajak ngobrol dan membujuk. Tapi bukan bujukan macem: jangan takut, gak sakit kok. Tapi begini: Chiya, udah tau kan, ke sini mau ngapain? Kalau ada gigi yang udah saatnya dicabut, harus ke dokter. Biar nanti gigi yang mau tumbuh tidak terhambat. Biar giginya tumbuhnya cantik. Nah, cabut gigi itu memang sakit. Tapi sakitnya nanti bisa dikurangi, ada obatnya. Rasanya macem-macem deh. Kamu suka rasa apa? Nanti pilih yang kamu suka, ya. Chiya kalau sudah berani ke sini, berarti sudah siap mau cabut gigi. Iya kan? Sudah siap belum? Nanti dokter kasih tempat untuk simpan gigi yang sudah dicabut, untuk kenang-kenangan. Gantungannya bentuk gigi. Giginya nanti dimasukkan ke tempat itu. Warna-warni juga lho… Chiya mau warna apa?

Begitulah. Waktu mau eksekusi (asistennya masih mempersiapkan ini-itu), si dokter sempat ngobrol sama saya juga. Cerita kenapa dulu kliniknya yang di Bintaro deket STAN itu ditutup dan lantas pindah ke sini. Nah pas eksekusi, Chiya gak nangis, cuma pas dicabut dia agak kaget gitu. Beneran dikasih kalung bentuk gigi lho… buat kenang-kenangan. Kayaknya udah ga jaman ya, buang gigi ke genteng atau dikubur di tanah :p  Kalau dari segi biaya, waktu itu habis sekitar 120rb. Setelah pernah cabut gigi di dokter dekat rumah (bukan di Klinik Permata Bintaro), dan habis hampir dua kali lipat, rasanya cabut gigi di Klinik Permata Bintaro worth aja sih. Dokternya enak, anaknya nyaman juga. Chiya sampe bilang: dokternya baik dan kalau cabut gigi lagi mau sama dokter itu aja. Pulangnya, kami mampir Bintaro Plaza, makan pizza berdua aja, hahahaha…

Ini lho, gantungan untuk menyimpan gigi yang sudah dicabut.
  Secara keseluruhan, Klinik Permata Bintaro ini okelah. Terutama faktor dokter-dokternya ya… Meski ruang periksanya sempit, dan kalo ngeliat bangunannya rasanya ga yakin, gitu ya secara “hanya” ruko kecil begitu hehehe… Selain dokter gigi Chiya, saya juga periksa sama dokter kandungan di sana. Pertama sih, sama dr. Dewi Rumiris SpoG (yang direkomendasikan sama bu bidan). Awalnya konsultasi soal mens dan program hamil. Enak sih sama dia. Waktu itu dia suruh aku coba dibantu pake obat hormon untuk stimulus siklus mens biar teratur lagi. And it’s worked. Tapi pernah coba periksa sama beliau lagi di rumah sakitnya, kok gak begitu telaten seperti di klinik yaa.. 

Akhirnya saya pindah ke dr. Data Angkasa SpOG. Mereka berdua sama-sama praktik di RSIA Muhamaddiyah Taman Puring (begitu juga dengan beberapa dokter kandungan yang lumayan “famous”), tapi dengan Bu Data rasanya mau konsul di klinik atau di rumah sakit beliau sama telatennya. Memang sih, beliau masih baru di RS. Waktu saya ke sana, paling hanya 4 atau 5 pasien yang ikut antri. Sementara dokter lainnya antri panjaaaaaang. Tapi mana worth, sudah antri panjang trus pas konsul hanya sebentar. Seolah-olah “kamu kan ga ada keluhan, jadi ga usah lama-lama deh”. Lah, kita dicharge dengan harga yang sama lho dok, hellooooww… Makanya saya dan suami sejauh ini sreg sama Bu Data. Ga ada keluhan pun, beliau mau senyum, kasih banyak advice, kasih kesempatan nanya-nanya dan selalu ngasih kalimat support sebelum kami keluar kamar periksa. Hal yang ga saya dapat dari dokter lain :)
Dokumen kehamilan dari Klinik Permata Bintaro. Kiri map berisi medical record beserta print USG di dalamnya. Kanan adalah buku kehamilan.
Klinik Permata Bintaro selalu jadi pilihan karena dekat sama rumah saya. Pas saya pendarahan dan dalam masa bed rest, saya mending ke sana. Dekat, trus tetap ketemu dokter langganan. Udah gitu antrinya ga kayak di RSIA. Paling banter lima orang lah, kalo lagi sial kesiangan datengnya, hehehe… Dan jadwalnya jelas, kalau ada perubahan pasti dikasih tau. Daripada sudah datang jauh-jauh ternyata sang dokter batal praktek. Belom apa-apa udah capek ya, bok. []

,

Kembali ke dapur ^^

[Mau resep yang lain? Sila cek Cookpad saya, ya.]

Masa bed rest yang lumayan membosankan dan nafsu makan akan nasi putih hangat yang melambai-lambai selalu membuat saya terkadang harus ke dapur untuk masak-masak lagi. Sebetulnya saya bukan tipe yang suka masak (apalagi tukang lauk matang siap wira-wiri depan rumah hehehe). Tapi ya itu tadi, tiba-tiba senang makan nasi, mau tidak mau lauknya harus bervariasi. Kalau sedang merasa fit dan kuat, saya belanja sayur ke depan dan masak-masak. Maklum yes, hamil kali ini membuktikan kalau faktor U sangat berpengaruh pada kondisi badan -______-"

Nah, karena nasi putih hangat itu paling cocok jika disandingkan dengan lauk kering dan lauk pedas, saat ini saya mau share resep telur balado a la bumbu Bali, sayap ayam bumbu kecap dan tempe-tahu bacem. Kebetulan tiga masakan ini ada fotonya, jadi yang dishare ya tiga resep ini deh.

TELUR BALADO A LA BUMBU BALI
kenapa ada "a la-nya" segala? Karena saya sendiri tidak yakin ini masakan Bali. Nyontek dari beberapa buku resep kemudian dimodifikasi, jadilah masakan ini. Yang tidak suka pakai kecap, bisa diabaikan saja. Kalau saya, karena punya tahu cina yang nganggur di kulkas, saya ikutsertakan dalam keriaan ini *hayah

Ini dia, masih dalam wajan, belum matang ^^
Bahan:
5 butir telur ayam, rebus, kupas (bisa dibelah atau utuh) lalu goreng sampai berkulit, sisihkan
Bumbu (ulek):
5 siung bawang merah
5 siung bawang putih
6 buah cabai merah
3 buah cabai rawit merah (bisa disesuaikan)
sedikit asam jawa
terasi, gula merah, garam, secukupnya
Bahan lainnya:
minyak goreng untuk menumis
2 lembar daun salam
3 lembar daun jeruk

 1 sdm kecap manis
sedikit air
Cara memasak:
tumis semua bumbu ulek sampai harum, masukkan daun salam dan daun jeruk, tumis-tumis sampai daun layu. Tambah sedikit air dan kecap, masukkan telur lalu tunggu sampai mendidih. Icip kuahnya sampai rasanya sesuai. Masak sampai airnya asat, matikan kompor, hidangkan.

TEMPE-TAHU BACEM
Jadi ceritanya entah kenapa pengen makan baceman ini. Waktu itu lagi masak sayur asem, lumayan nyambung lah kalau sama baceman. Kalo saya gak pake air kelapa, secara susah dapetinnya. Tapi ga masalah, rasanya tetap bisa gurih kok. Selesai menggoreng, baceman habis buat cemilan (seorang diri). *lah -____-

Pake cabe rawit enak, lho ^^
Bahan:
Tempe dan tahu (sesuaikan kebutuhan) potong-potong
Bumbu ulek:
4 siung bawang puting
4 siung bawang merah
2 butir kemiri
1 sdt ketumbar
Bahan lainnya:
3 lembar daun salam
lengkuas seruas jari, geprek
gula merah secukupnya
kecap manis (optional)
garam dan air secukupnya
Minyak untuk menggoreng
Cara memasak:
masukkan tempe dan tahu dalam panci, campur dengan bumbu ulek dan bahan-bahan lainnya, tambahkan air serta garam. Masak hingga mendidih dan air asat. Tempe dan tahu siap digoreng. (Kalau aku sama anakku suka tahu yang dimakan panas-panas tanpa digoreng ^^)
PS: Air yang dimasukkan jangan terlalu banyak sampai bikin tempe-tahu "berenang", secukupnya saja. Karena kalau kelamaan dimasak, si tahu bisa hancur.

SAYAP AYAM BUMBU KECAP
Sebetulnya ini semacam semur, sih. Tapi spesialisasi pakai sayap. Semacam spicy wings versi manisnya. Bumbunya itu finger licking banget loh! Anakku suka kalo sayap baru matang trus maem pakai nasi hangat. Emaknya juga, hhihhihi ^^

Kalo lagi masak ini, side dish buat yang tua adalah sambel terasi. Yumm!
Bahan:
1/2 kg sayap ayam, rebus dulu sebentar supaya empuk, sisihkan
Bumbu ulek:
4 siung bawang putih
1 butir kemiri
seruas jahe
beberapa butir lada
Bahan lainnya:
minyak goreng untuk menumis
air secukupnya
garam dan kecap manis secukupnya
Cara memasak:
tumis bumbu ulek sampai harum, lalu tambahkan air secukupnya. Masukkan sayap ayam dan lumuri dengan kecap manis secukupnya. Aduk-aduk sebentar, icip kuahnya kemudian tunggu sampai air mendidih dan bumbu menjadi asat.
PS: saya biasanya tidak menambahkan garam terlalu banyak karena kecap manis sudah memberi rasa asin yang seimbang.

Gimana? Gimana? Gampang kan yak? Apalagi si sayap manis ituh. Nyontek ibu masak semur, ternyata bumbunya cuma itu doang, gampang bingit! Itu sudah sedap dan wanginya kemana-mana. Kapan-kapan pengen share resep lagi ah. Tapi janji, harus dicoba yah.. ^^[]
Entah saya yang lagi sensi berat atau memang perempuan itu seneng banget bikin orang kelihatan terluka karena ucapannya, ya?

What I’m trying to say is: please stop make judgment. Whatever it is. 

Konteksnya? Klise: ibu rumah tangga dan (should I follow them to add “versus”?) ibu bekerja. Kenapa klise? Karena di mana-mana saya pasti nemu perempuan yang sinis berkomentar tentang itu. Kalau ia ibu rumah tangga, berkomentarnya tidak jauh dari: buat apa punya uang banyak tapi keluarga terlantar? Jika ia ibu bekerja, kira-kira seperti ini: itu ijazah buat apa kalau tidak dipakai? Atau kalo saking kurang kerjaannya, suka bawel nanya ke orang yang ga begitu dekat tentang kapan nikah. Kapan hamil. Atau kapan nambah anak. #pfft

I”ll tell you, I was a stay at hom mom and once I had a fabulous experience to be a working mother. And now (yes, NOW) I’m being a stay at home mom again. And if you asked me whether I had to choose one of them, I’ll say: both are great roles. You’ll never know how beautiful and painful at the same time if you never know how it was.

Kalau sekarang saya di rumah lagi, bukan karena juga saya merasa bekerja itu gak bermakna. I had some complicated experience when I’m pregnant right now. Saya seneng di rumah karena bonding dengan anak makin rekat. Tapi dengan bekerja, pada beberapa titik saya merasa dihargai dan menghargai diri sendiri. Kalo disuruh milih mana yang lebih baik, ya itu personal decision. Sama seperti alasan saya kembali ke rumah itu tadi. Sayangnya, sebagian perempuan merasa pilihan hidup perempuan lain harus dilihat dari di mana ia berdiri. Sulit untuk membiarkan perempuan lain berlalu dengan kehidupannya.

Pertanyaannya: WHAT”S WRONG WITH YOUR LIFE, LADIES?

Ibu bekerja itu juga kerap merasa bersalah ketika harus dinas sementara anaknya sakit. Atau anaknya ulang tahun. Atau wedding anniversary. You name it. Ibu rumah tangga bukan tanggung jawab yang mudah. I called it a 24/7 job. Jam istirahat ga jelas, ga ada libur apalagi cuti, dan oh THR, menurut lo? Saya punya beberapa role model stay at home mom yang beneran total. Dan mereka jadi role model saya karena saya ga pernah lihat mereka NYINYIR. 

Gak perlu ngerasa besar kepala deh, hanya karena sudah nikah dan punya anak komplit lalu nyinyir kepada teman yang masih single. Apalagi pake ngebawelin ibu baru yang masih kesulitan ngasih ASI—without being asked. Mind your own breast, please. There’s million ways to show that you care. Yes, CARE.

Masih ngerasa harus nyindir ibu bekerja yang tidak pernh ikut rapat komite sekolah? Go stop it and mind that “nongkrong-nongkrong” at school is your own choice. Don’t ever blame others. Oh, and stop doing your kids homework in the class too. They won’t realize what is responsibility unless you let them learn about it.
 
Saya sih gak lagi kampanye biar pada gak menggonggong, ya. Itu sih pilihan lah. Mungkin mereka sedang kurang piknik.[]

Hamil [lagi]!

So, I'm pregnant again. Kali ini memang sudah lama dinanti :D. Jadi waktu itu saya merasa sedang dalam fase PMS (pre menstrual syndrome), tapi kok ada beberapa gejala sebelum mens yang tidak muncul ya? Karena siklus mens saya sudah mulai teratur dalam empat-lima bulan terakhir, saya mulai curiga meski masih cuek. Soalnya, sebelumnya ketipu juga. Saya kalau mau mens pasti mual. Mirip kayak orang hamil kan? Nah, kali itu saya masih cuek, sampai telatnya sudah mendekati seminggu. Tapi dalam hati merasa sepertinya saya hamil. Saya sempat pakai test pack, tapi hasilnya ga valid karena saya tidak pakai cawan dan saya basahi begitu saja waktu pipis, hahahaha... Jadinya itu test pack basah sampai separuhnya.

Lalu ketika kami melewati toko obat, suami bilang: "sana gih beli test pack lagi. Tapi sekarang kamu yang beli, siapa tahu kalau kamu yang beli positif." (Logika dari mana coba? -_____-') Akhirnya saya yang turun dan beli itu test pack. Beli dua sekalian dan minta yang pakai cawan. Sampai rumah, saya baca-baca di kemasan test pack bahwa test pack ini bisa dipakai kapan saja. Wah, asik! Udah pake cawan, bisa dipake kapan saja pula. Langsunglah eike pipis dan memberdayakan si test pack untuk mendeteksi apakah eike tekdung tralala lagi atau belum. Dan, dua garis! Yaaaaayy...

Wiiii, we're both happy deh pokoknya... Suami kaget dan seneng banget. Hamil ini memang direncanakan, mengingat faktor U, sodara-sodara. U saya dan suami, juga U si kakak nantinya. Nyahahahaha… Selain itu, untuk akhirnya bisa positif ini memang takes time sejak saya lepas KB suntik 3 bulanan (selama pemakaian ± 5 tahun!).

Lepas KB dan penormalan siklus mens
Dalam proses setelah lepas KB menuju penormalan siklus mens, saya akhirnya tahu bahwa penggunaan KB hormonal itu kalau bisa diberi jarak. For the sake of health of the womb, mamma. Misalnya, pakai selama satu setengah tahun, beri jeda “kosong” dengan tidak pakai KB jenis apapun (kecuali kondom). Setelah itu coba usahakan pindah KB jenis lainnya, kalau bisa sih jangan yang hormonal juga. Nah pemakaian jangka panjang seperti saya itu membuat normalisasi siklus mens jadi lama. (PS: kebutuhan tiap perempuan untuk menormalkan siklus mens beda-beda.) Butuh enam bulan untuk mens, selama lepas KB itu saya betul-betul “kosong”, flek pun tidak. Setelah mens pun siklusnya amburadul. Pernah waktu itu mens ketika bulan Ramadhan, awalnya normal selama seminggu. Di akhir minggu flek-flek menjelang habis mens, darah malah keluar lagi dan justru makin banyak dan darahnya makin segar. Total dua minggu saya “libur” puasa.

Kami lalu memutuskan ke dokter kandungan di RSIA Muhammadiyah Taman Puring. Di sana saya diberi obat untuk pendarahan. FYI, waktu itu saya ketemunya dengan dr. Agus SpOG, beliau kesannya buru-buru dan tidak ada tanya-jawab yang intens. Jadi seolah-olah dia tahu saya pendarahan, dikasih resep, lalu selesai. Bener deh, gak worth rasanya antri lamaaaa lalu di dalam ruang praktek cuma less than 10 minutes. Mungkin begitu ya, beberapa dokter favorit yang praktek di RS. 

Lalu, setelah diberi obat, pendarahan berhenti, namun siklus mens berikutnya masih tidak menentu. Flek setelah mens sampai benar-benar bersih bisa lamaaaa sekali. Akhirnya, saya mencoba konsultasi ke bidan dekat rumah. Bidan itu bidan teladan, praktek di rumah sendiri dan sudah punya kamar-kamar untuk rawat inap. Namanya Bidan Enok (Pondok Betung). Dia cukup telaten menanggapi pertanyaan-pertanyaan saya yang bingung pingin hamil lagi. Meski “hanya konsultasi”, bu bidan mau menjelaskan beberapa hal dan merekomendasikan dokter kandungan bagus sekitar Bintaro, yaitu dr. Dewi Rumiris SpOG. Dokter ini praktek di RSIA Muhammadiyah dan sebuah klinik di Bintaro. Karena alasan efisiensi, kami coba kejar yang jam praktek di klinik. Setelah mendapat cukup info, kami memutuskan untuk mencari klinik yang dimaksud.

Singkatnya (nanti ada versi panjangnya di postingan sendiri), akhirnya kami konsul dengan beliau. Beliau menganjurkan untuk menormalkan siklus dengan bantuan stimulus hormon. Jadi, waktu itu saya diberi pil hormon untuk sepuluh hari berturut-turut (saya lupa merk obatnya). Cara kerjanya mirip pil KB, harus diminum persis di jam yang sama. Tidak boleh telat dan tidak boleh lupa. Nanti setelah pil habis, tunggu sampai mens. Mungkin agak lama, katanya, tapi tetap ditunggu saja sampai mens lagi. Nah nanti dalan mens berikutnya sudah bisa dihitung masa suburnya. 

Waktu itu beliau kasih pilihan: mau alami atau dibantu? Karena kami masih optimis bisa, akhirnya kami coba yang alami. Katanya: coba dulu dalam waktu tiga bulan, nanti siklus akan mulai normal lagi. Dihitung saja masa suburnya. Manut sama bu dokter, setelah masa pil hormon dan mens lagi, saya belum ngeh kalau siklus mens sebetulnya sudah mulai normal (meski flek setelah mens kadang agak panjang). Tapi overall, mens-nya sudah teratur. Saya baru ngeh setelah empat bulanan gitu, sekitar bulan Mei atau Juni. Sejak itu, saya mulai belajar menghitung masa subur. Awal-awal sih belum kelihatan hasilnya, ya. Dan jujur, mulai agak bete juga tuh.

Pendarahan dua kali
Betenya adalah karena gejala hamil dan PMS itu mirip. Hampir ga ada bedanya. Dan saya suka ketipu, huhuhu… Baca-baca soal trik cepet hamil lagi, ada artikel yang menyebutkan supaya jangan lekas bangun ketika selesai berhubungan. Saya pikir-pikir, tips ini layak dicoba, hehehe… Sekitar sebulan setelah “praktek” tips itu, datanglah momen dua garis di atas tadi. Karena hamil kedua, saya relatif santai. Kelewat santai malah. Motoran ke Tigaraksa (which is takes about couple hours to get there!), dinas luar kota (lari-larian di bandara ngejar flight *omaigat) sampai kursus full seharian penuh membuat saya sempat bleeding dua kali.

Ini beneran pendarahan, bukan flek biasa di underwear. Tapi sudah mengalir berdarah-darah segar (bahkan yang terakhir, saya mendapatkan gumpalan darah keciiil *astagfirullahaladzim). Pendarahan itu saya alami tepat ketika saya pulang dinas dan pulang kursus. Hati rasanya hancuuuuuuurr, terutama ketika mengalami yang kedua kali. Waktu yang pertama, saya ke dokter Dewi Rumiris lagi dan diberi penguat. Tidak disuruh bed rest sama beliau. Entah, mungkin karena saya bilang tidak begitu banyak darah yang keluar atau bagaimana. Sementara yang kedua, karena dokter Dewi ketika itu tidak praktek di Klinik Permata Bintaro, kami bertemu dengan dr. Data Angkasa SpOG.

Bu Dokter Data ini kaget, karena ini adalah pendarahan kedua dan sempat ada gumpalan kecilnya. Di USG Transvaginal, si janin masih berdetak jantungnya *fiuh. Beliau minta aku bed rest total dan tetap berusaha demi si janin. Dia sempet bilang gini: kita tidak boleh menyerah, ya. Janinnya tadi masih bagus, jadi harus coba dipertahankan. Rileks aja. Semua sudah diatur, Mbak. Yang sudah lahir, besar, tua saja bisa diambil kapan saja sama Allah, apalagi yang kecil begini. Pokoknya gak boleh dibawa pikiran.

Intinya, beliau minta kami ikhtiar, sementara harus tetap ikhlas. Respon saya? Nangis laaaah, wkwkwkwkwk… Semaleman ga bisa tidur, jelas sulit untuk tidak memikirkan ini. Tapi saya paham maksud bu dokter adalah agar saya rileks, tidak terbebani secara psikis. Pertemuan pertama ini membuat saya dan suami memutuskan “pindah ke lain hati”, hehehehe… Dari dr. Dewi Rumiris ke dr. Data angkasa. Kapan-kapan saya posting khusus soal perdokter-dokteran ini.

Selama bed rest itu, saya masih flek. Padahal obat penguat sudah atas-bawah (oral dan vaginal).  Ketika obat oral habis, kontrol ke dr. Data lagi dan diberi obat yang lebih “kuat”. Bed rest tetap diteruskan sampai benar-benar tidak flek sama sekali. Karena pertimbangan ini-itu, akhirnya saya memutuskan berhenti ngantor. Kondisi hamil kedua ini berbeda dengan yang pertama. Kami ingin ikhtiar demi si calon bayi. Soal resign postingan lain aja ya.. 

Walau sempat pendarahan dua kali dan harus total bed rest, kami berdua ikhtiar supaya si baby nanti sehat. Doakan saja agar semua sehat dan lancar yaaa... Aamiiin…[]

Blog Hits

Hello

"Membuat jarak paling intim antara suara hati dan memori adalah dengan menuliskannya pada sebuah tulisan. Dan kamu, sedang menuju ke tempat milikku."

Enjoy reading.

Popular Posts

Followers