Are you dare enough to dare yourself?

Judulnya semoga merepresentasikan isinya, ya.

Jadi saya mau cerita yang temanya tidak jauh dari "rumput tetangga lebih hijau". Beberapa orang pasti ngerti dan kenal betul kalimat itu. 

Punya role model kan? Entah itu orang terkenal, teman sendiri, orang tua, whoever... Minimal pernah mengagumi orang lain atau dengan tak tak sadar bergumam: 

enak banget ya hidupnya...

Saya? Sering. Role model? Banyak. Ngiri sama hidup orang? I would say, yes sometimes I feel it too. Masalahnya, merasa bahwa rumput tetangga lebih hijau itu kadang lebih sering ketimbang menerima dengan lapang dada bahwa rumput sendiri (mungkin) tidak sehijau tetangga. Padahal belum tentu, lho... Bisa saja sebetulnya jenis rumputnya sama, tapi view dari jendela rumah kita membuat rumput tetangga way greener. Atau, memang jenis rumputnya sama, bedanya tetangga merawat dengan telaten sementara rumput sendiri kerap terabaikan. Jadinya fair kan, kalau rumputnya dia memang lebih hijau??

Ah, sebetulnya saya mau ngomongin apa sih ya?

Let say, saya memang sedang berefleksi terhadap diri sendiri: bahwa merasa rumput tetangga lebih hijau itu wajar, tapi the most ultimate point to think is how big our way to be grateful? Dan saya percaya, proses bersyukur itu tidak mudah.

Saya pernah baca quote (which I forget from who it is) yang more or less seperti ini:

bukan persoalan seberapa besar hujannya atau bagaimana kita menghindar/melewatinya, tapi bagaimana belajar  menikmati air hujan dan seluruh isinya.
 Tambahan: bahkan jika hujan bisa membuat sakit.

Saya, perempuan bekerja dengan suami baik hati dan satu anak perempuan yang bawel berbahasa inggris di rumah masih kerap dirundung envy. Saya sih menikmati saja, toh kalau tidak ada "lawan main" hidup ini bakal abu-abu. Iya, ndak?

Belakangan saya sedang meyakini beberapa hal. Bahwa, envy is a sign that you have to dare yourself higher and be grateful often than before. Jadi menantang diri sendiri dan bersyukur itu harus linier. Jangan pernah dipisah. Capek atau merasa tidak sanggup itu so human kok... Tetangga juga begitu. Coba sesekali tanya mereka yang selama ini dilihat rumputnya selalu lebih hijau itu. Bisa jadi mereka justru merasa rumput kita yang jauh lebih hijau. Kalau sudah begitu, rasanya ingin nyengir kuda saja :D

Ini sih analisa sederhana seorang perempuan yang juga kerap desperate karena bisa-bisanya rumput tetangga lebih hijau padahal rumput saya impor dari Cina. Dan sepertinya, kalimat "rumput tetangga lebih hijau" itu harus mulai diupgrade deh, jadi:

gadget tetangga lebih canggih

Ya ndak? []

Comments

  1. wahah... gadget tetangga lebih canggih, tapi lebih masuk akal-lah untuk zaman sekarang. lah masa iya perbandingannya rumput melulu yah... haha. kan sekarang halaman rumah pun udah pada dimarmerin. ;)
    btw, salam kenal. gimana rasanya jadi ibu pekerja? kalo mikirin itu, rasanya aku blm siap deh. program punya anaknya taun depan aja deh...
    semangat!! :D

    ReplyDelete
  2. Haaai, Mbak Dev, salam kenal yaa...Naaahh, iya kan Mbak? Analogi itu memang sudah waktunya diperbarui, ya.

    Rasanya jadi ibu pekerja? Pengen balik ngurus rumah.
    Rasanya jadi ibu rumah tangga? Bosen. Mati gaya. Ga punya duit.

    Nah, ini bisa dipake analogi segala-punya-tetangga-pokoknya-lebih-bagus itu ya, Mbak hehehhee... Ga ada puasnya. Eh, ayok cepet diprogram, biar aku ada bump buddy nih #eaaa

    ReplyDelete

Post a Comment