- sepetak ruang kecil untuk menjadi diri sendiri -

I love to read, anything. I also love to read magz beside books. Biasanya saya membaca majalah ketika saya tak menemukan bacaan yang tepat saat saya sangat-sangat ingin membaca atau dalam bahasa saya: gatal membaca. Misalnya, saat saya sedang gatal membaca, sementara saya malas untuk membaca ulang koleksi buku-buku fiksi saya. Mau membeli buku baru, bingung. Saya tak mau gambling membaca tulisan fiksi penulis baru yang genrenya cenderung populer dan terlampau metropolis. Kecuali membeli buku yang masuk nominasi atau pemenang sayembara sastra. But it takes time while the itchiness can’t wait longer. Pilihannya lalu jatuh pada majalah Tempo atau Jurnal Perempuan, which is quite heavy but comes in different package. Tapi sayangnya waktu itu saya tak menemukannya di toko buku. Sementara rasa gatal membaca sudah sebegitu membuncahnya. Nah, pada saat inilah saya lalu mencari majalah populer yang isinya begitu ringan. Minimal, penyakit gatal akut itu reda karena sudah terobati.

Saya senang membaca majalah, bahkan ketika saya masih SD. Kecintaan saya akan aktivitas membaca dimulai sejak ibu saya mengenalkan kami pada majalah Bobo. Seminggu sekali majalah itu diantar pengantar majalah. Dan hari saat Bobo datang adalah saat penting di mana saya akan meluangkan waktu istimewa dengan membaca di kamar. Kesenangan ini tetap hidup sampai sekarang. Bedanya, saya tidak lagi membaca Bobo.

Tulisan ini hanya sebuah simple review terhadap kesukaan saya pada majalah dan beberapa majalah yang (pernah) saya baca dan masih saya simpan. Majalah begitu menghibur karena ia berada di tengah-tengah antara buku dan komik. Memang tidak semua majalah baik untuk dibaca, namun kuncinya ada pada kita. Kita bisa memilih majalah yang layak serta pas untuk dibaca dan tentu saja memilih isi bacaannya. Sebab saat ini substansi majalah minimal 50%nya berisi iklan yang memacu konsumerisme. Bahkan sebagian artikel ditulis untuk kepentingan promosi. Karena itu, saya juga merasa eman untuk spend money more than two thousands rupiahs just for a mag. Kecuali kasus di atas tadi, saya biasanya membeli majalah yang sudah “basi” atau out of date dan sangat jarang membeli majalah baru. Untuk sekedar bacaan ringan, buat saya itu sangat cukup. Meski kelemahan majalah mirip dengan koran, yaitu memiliki tanggal “kedaluarsa”, namun bedanya adalah pada isunya yang lebih umum. Dan majalah-majalah yang saya baca (tentu saja) adalah majalah yang target pasarnya macam saya ini: perempuan usia separuh abad lebih sedikit, married, dan sudah punya anak. Berikut ini akan saya ulas dengan sederhana beberapa majalah itu, in non alphabetically order.



COSMOPOLITAN
Ini majalah yang “enggak banget” buat saya. Selain harganya yang mahal (lebih baik untuk beli liquid eyeliner ;p), substansinya juga sangat tidak membumi. Mulai dari iklan, informasi fashion, career tips, dan lain-lain diperuntukkan bagi para sosialita yang bujet senang-senang perbulannya di atas delapan juta rupiah. And it’s absolutely not me. Namanya juga majalah franchise internasional, semua isinya berkiblat pada gaya hidup perempuan kosmopolit barat. Termasuk have fun with sex yang ada dalam artikel seksnya. Saya pernah membeli edisi terbarunya, dan saya menyesal semenyesal-menyesalnya.

COSMOGIRL, SPICE!
Dua majalah ini setipe: majalah untuk remaja perempuan yang menuju jenjang kuliah sampai yang menuju akhir studi. Isinya pun tak jauh-jauh seputar dunia kampus, pergaulan hingga (tentu saja) relationship. Selain itu ada juga ulasan tentang pembangunan jejak karier sedini mungkin. Saat ini, mahasiswa sering memulai awal kariernya ketika masih kuliah dengan bekerja paruh waktu atau magang. Dibanding Spice!, menurut saya Cosmogirl agak lebih “berbobot” karena kadang mengangkat isu-isu yang sedang in. Tetapi keduanya tetap berada di jalur majalah berbasis kosmopolit dan hura-hura.

FEMINA
Saya cukup lama “setia” pada majalah ini karena beberapa hal. Pertama, isu-isu di dalamnya yang lebih mother friendly. Kedua, faktor tata bahasa. Seingat saya, majalah ini tidak terlalu provokatif untuk mengajak konsumtif. Sebaliknya, Femina kerap memberi ide untuk mandiri secara finansial bagi para ibu rumah tangga. Meski, sebetulnya segmen pembaca Femina yang paling dituju adalah perempuan berkeluarga yang memiliki karier cukup baik, sehingga mereka independen secara finansial. Namun, sepertinya Femina mengkampanyekan kemandirian bagi perempuan. Baik secara ekonomi maupun secara personal.

GOGIRL!
Saya pertama kali “berkenalan” dengan majalah ini awalnya karena penasaran dengan cerpennya. Kata seorang teman, jika berhasil tembus hingga publish, bayarannya sangat lumayan: satu juta rupiah. Dan saya dibuat tercengang-cengang, takjub, sampai akhirnya merasa sangat bangga setelah membaca majalah ini. Pertama, saya jatuh cinta pada substansi tulisannya. Mereka kerap menggunakan bahasa inggris sampai istilah-istilah level slank dalam tulisan-tulisannya. Kedua, saya awalnya menduga para owner majalah ini yang adalah The Moran Family merupakan perempuan dari keluarga kaya, muda dan ingin membuat majalah yang berbeda sama sekali dengan yang pernah ada sebelumnya. Asumsi saya tidak keliru, hanya saja ada tambahannya: mereka adalah generasi dari negeri bernama Indonesia, bukan orang barat! Akhirnya, kalau saya sedang jenuh dengan bacaan berat dan sedang ingin membaca bacaan ringan, saya beli majalah ini. Tidak setiap bulan, kalau sedang ingin saja.

Isu-isunya pun tidak main-main, pernah mengulas soal feminisme (which is rarely to reveal in similar magz), keberanian untuk menjadi berbeda, sampai tentang menolak seks bebas. Sementara untuk persoalan “serius” lainnya mereka juga total dalam mengulas hingga membuat komunitas khusus. See? Selain itu, saya diajak melek mengenai hot issues seperti selebriti yang paling populer (Blake Lively, R Pattinson), in fashion (boots, ripped jeans), sampai model kiblat fashion (Alexa Chung, Agyness Deyn).  Well, I think I’ll give this mag to Chiya, someday. :)

KARTIKA, CITACINTA
Dua majalah ini termasuk new comer, karena itu dari segi fokus substansi-isunya masih belum jelas. Juga persoalan karakter tata bahasa yang masih mawut, tidak runut, tidak fokus pada tema besar, dan lain-lain. Kesalahan penulisan juga masih kerap ditemui seperti salah ketik, salah eja dan kesalah remeh-temeh lain yang seharusnya bisa diantisipasi sebelum naik cetak. Dengan tampilan mini yang menarik dan harganya yang murah, sebetulnya kedua majalah ini begitu menggoda. Hanya saja secara substansial keduanya belum menawarkan hal-hal yang berbeda dengan majalah serupa.

PARENTS GUIDE, PARENTS Indonesia, AYAHBUNDA
Ketiga majalah ini berkutat pada persoalan parenting. Namun, dua nama pertama adalah merek franchise internasional yang semua isunya berkiblat pada informasi dari barat. Baik itu isunya, riset serta hasilnya, juga solusi yang ditawarkan pun dengan western style parenting. Buat saya, Ayahbunda lebih aplikatif karena mereka menangkat isu sesuai dengan fakta yang ada di negeri ini. Misalnya dalam mengatasi persoalan picky eater, dua majalah franchise itu memberikan contoh hasil riset serta solusinya yang semata-mata berasal dari barat. Sehingga banyak nama-nama obat atau makanan yang masih asing di telinga—apalagi di lidah. Sementara Ayahbunda (masih menurut saya), cenderung realistis dengan kondisi anak-anak negeri ini, sehingga tawaran-tawaran yang diberikan bisa lebih aplikatif. Dari segi tata bahasa, Parents dan Parents Guide seolah-olah hanya copy-paste dari edisi internasionalnya. Sebab bahasanya terdengar kaku dan tidak konsisten.

Begitulah. Bagi saya, bacaan apapun layak dibaca. Sebab esensi utamanya adalah aktivitas dan kecintaan pada aktivitas membaca ini. Sekarang koleksi majalah yang terkumpul secara tidak sengaja itu tambah menumpuk. Menambah sesak rumah orang tua saya (hehe). Saya sebetulnya tak berniat membuang atau bahkan menjualnya. Sebab saya masih punya mimpi membangun Teras Bunda. Tetapi kelihatannya mimpi ini masih jauh dalam jangkauan. Padahal, saya hanya ingin para ibu tetap membaca, tetap meraih informasi apapun yang mereka mau dan mulai membangun mimpi. Lalu mewarisi kecintaan membaca ini pada anak-anaknya. Meski mereka hanya ibu rumah tangga.[]



[gambar diambil dari sini]
Repost from Facebook on August 27, 2010 

0 comments:

Post a Comment

Blog Hits

Hello

"Membuat jarak paling intim antara suara hati dan memori adalah dengan menuliskannya pada sebuah tulisan. Dan kamu, sedang menuju ke tempat milikku."

Enjoy reading.

Popular Posts

Followers