Buku, cerita, dan Chiya

Sekarang, hampir tiap mau tidur, Chiya menagih untuk diceritakan sesuatu. Biasanya dia yang memilihkan tokoh utamanya; segala jenis binatang. Sebab dalam referensi "ke-binatang-an"nya tak ada diferensiasi seperti binatang buas, jelek, liar, atau bagus. Menurutnya semua bisa dijadikan tokoh untuk memerankan peran utama. Mulai dari tokek, jangkrik, belalang, kecoa sampai nyamuk. Namun bukan berarti binatang familiar lain macam ikan paus atau kura-kura tak disebutnya. Mungkin binatang-binatang kecil-kecil itu sebagai komplemen, agar ia tak bosan.

Masalahnya, kami bercerita tidak merujuk pada buku apapun alias improve dewe!! Kalau dulu ia hanya minta cerita sebelum tidur malam, nah belakangan ini sebelum tidur siang juga. Untung kami tidak pernah kehabisan ide. Hampir semua cerita ada pesan moralnya. Meski ga sepenting "mengamalkan Pancasila". Hehehe...

Nah, kalau dipikir-pikir ke belakang, minatnya untuk mendengar cerita ternyata dimulai ketika ia mulai memiliki buku. Buku pertamanya adalah buku tentang hiu yang kami beli ketika kami di Jakarta. Buku itu murah dan menurut kami cocok untuknya yang baru berusia setahun lebih dikit. Sebab, ia masih hanya tertarik pada gambar dan belum merespon tulisan. Ketika dibelikan buku itu, ia excited bukan main. Masalahnya banyak gambar ikannya! Waktu ia bayi, kami sampai menempel potongan-potongan gambar ikan di dinding agar ia puas melihat ikan. Karena kalau kami sediakan ikan dengan airnya, bisa-bisa cuma diobok-obok dan ikannya malah mati.

Dari buku itu, kami mulai mencoba mengenalkan metode bercerita melalui gambar. Ada gambar ikan yang lagi mangap, kami lalu bilang bahwa ikan itu memiliki gigi-gigi besar dan tajam untuk melumat mangsanya (pake bahasa yang "membumi" pastinya). Ia pun merespon dengan menirukan ikan yang sedang unjuk gigi. Semakin besar, buku-buku lain berdatangan. Ada yang tentang ulang tahun (entah kenapa tema ulang tahun begitu disukainya), pergi liburan, pergi ke dokter, dan beberapa seri Disney (Miki-Mini dan Donal Bebek). Semua bukunya tak ada yang mahal. Jadi semuanya standar tak ada yang jenis pop-up atau yang lainnya. Kami, sebagai keluarga kecil kelas menengah-bawah yang susah-merangkak-ke-atas tak bisa memanjakan Chiya terlalu jauh dengan buku-buku mahal apalagi impor. Kalau ada rejeki lebih kami menjelajahi toko buku murah dan mengaduk-aduk buku-buku di sana. Mencari yang cukup bagus untuk Chiya dan masih bisa ditolerir dompet kami.

Meski begitu, kami senang ia masih tertarik pada buku, terutama jika ada gambarnya. Wong kalau liat Juz-amma saja ia berlagak ngaji. Padahal waktu itu ngomong saja belum bisa... Sekarang, ia masih suka minta diceritakan dengan buku-buku itu. Meski beberapa koleksi adalah buku bekas.

Saya percaya, ia akan terus belajar. Tidak hanya dari buku-buku murah, tapi juga dunia dan hidupnya.[]



Repost from Facebook on August 13, 2009

Comments