Book Review IV: Perempuan di Negeri Empat Musim

Perempuan Jawa ini terkenal dan andal membuat tempe. Tempe buatannya yang padat dan gurih banyak dipuji dan disukai, terbuat dari 100 persen kacang kedelai besar-besar. Tempe itu dibungkus plastik sandwich berukuran 18 x 15 sentimeter. Harganya 3 dolar per plastik. (hlm 123)



Adalah Tuning, perempuan asal Yogya yang “terdampar” di Kanada. Ia ikut suaminya yang sedang menempuh studi S3 di sana. Karena ia hanya ibu rumah tangga, maka di Kanada pun ia hanya mengurus rumah sekaligus suami dan putrinya. Awalnya ia bosan. Sebab tidak ada keluarga, teman atau aktivitas apapun yang dapat membunuh waktu sendirinya. Lalu tibalah ia pada penyakit yang sering menghinggapi para perantau: home sick. Termasuk rindu pada tempe, setelah sekian lama lidahnya beradu dengan rasa daging, ikan, pasta, dan lain-lain.

Sayangnya, tempe yang tersedia di sana tidak mampu mengakomodir keinginannya memakan tempe yang asli cita rasa Indonesia. Kemudian diputuskannya untuk bereksperimen membuat tempe sendiri. Dipesannya ragi dari tanah air sendiri, dicobanya meracik tempe berkali-kali, hingga akhirnya ia bisa menghidangkan tempe dengan cita rasa Indonesia, kapan saja ia mau. Popularitas tempe buatan Tuning akhirnya mulai melebar. Dari rumah sendiri, lingkungan teman dekat yang sesama Indonesia, sampai orang Asia atau orang Kanada yang vegetarian. Singkatnya, Tuning malah berbisnis tempe di Kanada.

Tuning hanyalah satu di antara begitu banyak perempuan di Kanada yang memiliki goresan sejarah hidup yang lebih baik setelah melalui perjalanan dan pembelajaran. Ia yang tadinya hanya mengandalkan gaji suaminya, akhirnya bisa merasakan nikmatnya uang hasil bekerja sendiri. Begitulah proses hidupnya. Tuning mungkin tidak berbeda dengan perempuan rumahan kebanyakan. Namun, kisahnya di Kanada dapat membuat inspirasi bagi perempuan lain. Khususnya mungkin bagi para ibu rumah tangga yang sudah merasa “cukup” dengan apa yang ada di hadapannya.

Kurang lebih, inilah yang coba disusun oleh Ida Ahdiah dalam bukunya, Teman Empat Musim. Secara global, peran dan pekerjaan perempuan mungkin sama. Menjadi istri, ibu, hingga tiap renik pekerjaan yang dilakukan dalam ranah domestik. Tetapi, kisah yang dibawa tiap perempuan pastilah berbeda-beda. Perempuan yang hidup pada masa dan konteks wilayah tertentu, latar belakang sosio-kultural hingga pengalaman masa kecil pada lingkup keluarga tertentu, akan membuat tiap perempuan memiliki rangkaian kisah hidup yang tidak sama satu sama lain.

Teman Empat Musim berusaha untuk membingkai kisah-kisah para perempuan, khususnya yang tinggal di Kanada. Para perempuan ini kebanyakan adalah imigran yang berangkat dari tempat asal mereka dengan beberapa maksud. Ada yang sekedar berimigrasi sebab ikut orang tuanya sejak kecil, ada yang ingin menjadi pengungsi karena negara asalnya bermasalah, ada pula yang memutuskan untuk hidup di sana karena ingin sekedar memperbaiki hidup. Di buku ini, ada banyak “Tuning” lain yang berasal dari beberapa negara yang tersebar di tujuh benua. Kebanyakan adalah dari negara dunia ketiga yang masih punya banyak masalah dalam banyak sektor—khususnya permasalahan yang substansial dan jadi penyakit generatif. Secara garis besar, mereka memiliki masa lalu personal yang suram di negara asalnya. Dan karena situasi politik atau ekonomi yang tidak memungkinkan untuk tetap bertahan di sana, mereka memutuskan bermigrasi ke Kanada. Meski tidak semua cerita dalam buku ini di latar belakangi alasan-alasan politis macam itu.

Buku ini menjadi semacam album bagi potret para teman-teman perempuan yang ditemui oleh penulis selama ia tinggal di Kanada dan berbagi cerita hidup. Salah satu alasan mengapa mereka memilih Kanada adalah karena negara itu memliki prosedur ketat (dan cukup manusiawi) mengenai keimigrasian, seperti adanya bantuan dari pemerintah yang dapat diajukan oleh para imigran yang punya anak dan belum memiliki pekerjaan (hlm 34).

Maka para perempuan ini bertekad untuk memperbaiki hidup mereka dan keluarganya dengan penuh perjuangan. Kebanyakan dari mereka memutuskan untuk bekerja keras dan berusaha mencari uang dari pagi hingga malam hari. Semua mereka lakukan demi kesejahteraan dan kebahagiaan keluarga. Meski, pada akhirnya, sebetulnya uang bukanlah segalanya. Bekerja adalah bagian dari upaya aktualisasi diri. Apapun tujuannya—uang untuk menghidupi anak-anak atau sekedar cara membunuh waktu yang positif—bekerja adalah sebuah pencapaian bagi seorang perempuan. Dan dengan bekerja, para perempuan yang sebagian besar berperan sebagai ibu ini juga berniat untuk memberi kehidupan yang jauh lebih baik untuk keluarga, khususnya bagi anak-anak mereka.

Kerja keras ini demi memfasilitasi kebutuhan pendidikan yang lebih baik, tempat tinggal yang sehat dan layak, tabungan, dan tentu saja demi pengalaman masa lalu yang tak ingin ditorehkan lagi sebagai sejarah kepada anak-anak mereka. Perjuangan demi a better living ini tidak melulu mendapat dukungan. Kadang, tentu juga mengorbankan beberapa hal, misalnya perceraian karena suami yang tidak mengijinkan istrinya untuk kembali belajar atau bekerja di luar rumah. Seperti yang dialami oleh Farah, seorang perempuan Iran yang setelah menikah selama dua tahun memutuskan untuk bermigrasi ke Kanada bersama keluarganya (“Hidup Farah Patah”, hlm 39-49).

Migrasi itu dilakukan karena Revolusi Iran dirasa tidak aman bagi kedua putranya. Setelah beradaptasi dengan segala ritme kehidupan di Kanada, kondisi finansial keluarga yang ditopang oleh suaminya semakin mencukupi serta kedua anak-anaknya telah besar, Farah mulai kehilangan perannya sebagai ibu yang sebelumnya sibuk mengurus anak-anak dan rumah. Mulailah ia membenahi diri dengan melakukan aktivitas di luar rumah, seperti merawat diri di salon, bertemu teman-temannya di kafe hingga mengambil kursus bakery—sebagai jalan untuk mewujudkan mimpinya memiliki toko roti. Namun kesibukan barunya juga turut merubah rutinitasnya seperti memasak untuk keluarga hingga pulang malam untuk mengerjakan tugas.

Namun, halangan atau penolakan apapun ternyata tak mampu memadamkan gairah dan energi mereka yang menggelegak untuk mendapatkan independensi—meskipun yang harus dilepas adalah ikatan perkawinan. Hingga akhirnya Farah harus menceraikan suaminya karena terus bersikukuh untuk melarangnya beraktivitas di luar rumah. Katanya, “Bayangkan, di abad ini ada suami yang rela istrinya bengong di rumah, sementara dia dan anak-anaknya menghirup hiruk-pikuk kehidupan” (hal 48).

Kesamaan rasa yang dialami baik oleh Tuning maupun Farah sepertinya menjadi motivasi utama bagi penulis untuk mengumpulkan pengalaman serupa para perempuan di Kanada. Sebetulnya tidak banyak buku yang tergolong non-fiksi yang mengisahkan perjuangan dari banyak perempuan. Apalagi dengan konteks wilayah tertentu—yang secara otomatis membawa konteks sosio-kultural yang berbeda juga. Meski dituturkan secara datar, tetapi makin ke dalam lembar-lembar cerita berikutnya ada banyak kisah yang mengejutkan dan juga inspiratif. Buku ini merupakan potret yang menangkap profil hidup beberapa perempuan, sehingga tidak ada cerita yang konstan sampai akhir halaman.

Inilah cara lain untuk berbagi pengetahuan mengenai perjuangan perempuan di negeri empat musim, yang mungkin juga bisa dijadikan inspirasi para perempuan di Indonesia untuk memajukan diri, keluarga, dan kaumnya.[]


[gambar diambil dari sini]
by Bunda Anggie on Tuesday, September 21, 2010 at 7:59pm ·

Comments