Anak-anak (di-)luar (ke)biasa(an)

 Belum lama ini saya melihat di televisi beberapa anak perempuan berusia antara 6-12 tahun berjajar dengan selempang menyilang di tubuh mereka dan melambai-lambaikan tangan dengan gemulainya. Wajah berdandan, rambut ditata baik, dan berpakaian semacam gaun malam panjang yang anggun. Mengingatkan saya akan pergelaran Puteri Indonesia dan semacamnya. Dan memang mereka adalah anak-anak perempuan pemenang kontes yang diadakan oleh salah satu tempat bermain anak-anak di Jakarta yang prestisius (dan agak tidak penting itu). Apapun namanya, anak-anak itu telah dipilih sebagai duta atau wakil untuk anak-anak. Bahkan Pak Presiden pun memberi penghargaan lain.
 
Hebat? Ya, mereka hebat. Tentu saja hebat. Belum memasuki usia belasan sudah punya prestasi membanggakan.

Eh, membanggakan? Hm, sepertinya tidak. Buat saya kontes seperti itu tidak terlalu “seru” atau menantang. Apalagi atas nama komodifikasi. Tempat bermain yang menyelenggarakan kontes itu sebetulnya didedikasikan untuk anak-anak yang orang tuanya sanggup membayar minimal di atas seratus ribu rupiah/anak. Yang artinya sama dengan: rich kids only. Terdengar diskriminatif? Mana ada yang tidak diskriminatif di Jakarta?

Saya akui, awalnya saya terkagum-kagum melihat anak-anak itu. Cerdas, pintar bahasa inggris, cantik, bersih,... Kurang apa coba? Dan sekarang, mereka jadi “petinggi” di tempat bermain itu. Mereka diberi jabatan, lengkap dengan job desknya, dan konon mereka juga diberi gaji. Lalu saya membayangkan Chiya, puteri saya itu, muncul juga di televisi. Berimajinasi bahwa kelak suatu hari ia bisa seperti kakak-kakak cantik itu. But hey, get real, it won’t happened on her. Karena kami tidak memiliki garis habitus yang akan menunjukkan jalan ke arah destinasi itu. Destinasi pemenang kontes anak-anak.

Tidak, sepertinya tidak akan pernah terjadi.

Bukan apa-apa, pertama, kami bukan orang tua yang sanggup membayar biaya sebesar itu HANYA untuk playing role. Atas nama apapun. Bahkan demi “menciptakan dan menumbuhkan bakat dan minat anak, bla-bla”. Dia bisa bermain peran itu bersama saya, ibunya. And it’s free, until the rest of her life. Memang tidak akan ada bermain peran sebagai dokter gigi atau pemadam kebakaran komplet dengan peralatan dental atau menyemprot obyek terbakar dengan selang dan air betulan, tetapi dia tidak perlu jauh-jauh datang ke gedung yang bergengsi se-Jakarta dan melakukan reservasi sebelum bermain. Harus sesulit itukah untuk bermain peran?

Kedua, kami sebagai orang tuanya kurang mendukung aktivitas kontestasi seperti itu. Alasannya sederhana: tidak penting. Meski skala prioritas tersebut tidak bisa disandingkan dengan parameter yang digunakan orang tua lain. Sebab bagaimana pun kami (para masing-masing orang tua) adalah masing-masing individu dengan karakteristik yang berbeda. Sesuai latar belakang keluarga, pengalaman masa kecil atau masa lalunya, hingga pembelajaran yang didapatkan sampai peran sebagai orang tua ini disematkan selamanya. Bila buat kami kontestasi itu tidak penting, tentu tidak bagi orang tua lain yang menanggap bahwa kontestasi adalah media justifikasi bakat, minat dan upaya penelusuran identitas anak.

Memang lain ceritanya bagi kakak-kakak itu. Mereka anak-anak yang besar bersama orang tua yang sibuk menggali dollar. Mereka adalah anak-anak dipersiapkan untuk menjadi generasi cemerlang. Mereka tumbuh dengan fasilitas selangit—bahkan sejak mereka baru dalam kandungan. Musik jazz, 4D ultrasonografi, yoga kehamilan, hypnobirth, water birth, Duncan baby language, pre-school, full day school, kursus Kumon, les ballet, les sempoa, bla-bla-bla...

Dan jika kelak mereka (benar-benar) menjadi generasi cemerlang, adalah memang takdirnya begitu. Adalah begitu memang seharusnya. Seorang anak usia enam tahun pandai main piano, anak usia tujuh tahun menang lomba debat bahasa inggris... that’s the way they should be. Prestasi itu menjadi tidak luar biasa ketika mengetahui background keluarganya adalah keluarga yang suportif. Keluarga yang bahkan sudah siap membekali anak-anaknya dengan banyak hal bahkan ketika anak itu belum muncul di hadapan mereka. Luar biasakah itu? Lebih menakjubkan mana dengan kisahnya Andrea Hirata? Anak-anak kampung yang berjuang (hanya) untuk bersekolah. Dan cerita anak-anak dengan kemampuan terbatas lain—lagi-lagi HANYA untuk sekolah.

Saya tidak ingin mengatakan bahwa prestasi anak-anak cemerlang itu adalah gift—seperti halnya status sosial mereka. Bahwa semua itu adalah terberi begitu saja. Tidak. Saya yakin, toh mereka juga berusaha (selain mungkin ada intervensi alasan genetis atau pewarisan intelegensia). Mereka juga “dipecut” untuk menggapai itu semua. Bedanya: modalitas. Untuk anak-anak sekaum Laskar Pelangi, pencapaian itu membutuhkan energi ganda. Selain energi untuk sekolah, energi untuk bisa lulus ujian dengan hanya belajar secara otonom, dan energi untuk memilih hal-hal yang disukai, mereka perlu mencari bahan bakarnya, yakni modalitas. Dan modalitas ini yang menjadi pembeda.

Jika mereka cinta membaca, mereka harus bersiasat untuk bisa mendapatkan bacaan yang mereka senangi. Apabila mereka senang menulis, mereka harus berputar otak agar bisa mendapatkan fasilitas mengetik—kalau bisa gratis. Mereka harus “berkelahi” dengan keadaan. Tidak ada istilah “ini-kusediakan-untukmu” yang selalu ada jika mereka menginginkannya. Bahkan orang tua mereka juga berjuang untuk bisa meneruskan jenjang penddidikan mereka agar bisa selesai. Namun, jika dengan usaha yang dua kali lipat itu mereka mampu menggapai hasil dengan sebuah prestasi, bukankah ini hal yang menakjubkan? Sebuah hal yang (di)luar (ke)biasa(an)?[]




[gambar diambil dari sini]
by Bunda Anggie on Friday, May 14, 2010 at 9:45am ·

Comments