- sepetak ruang kecil untuk menjadi diri sendiri -


Sudah lama rasanya saya sudah tidak mengutak-atik homeschool. Entah ya, kadang persoalan pekerjaan berpengaruh terhadap mood dan performa tubuh. I mean, serious, ketika di kantor sudah lelah bekerja, apalagi pekerjaannya bertentangan dengan kata hati, jangankan mau bersemangat menggapai mimpi, bertahan supaya stay awake sampai jam sembilan malam saja rasanya susaaahh sekali. I’m telling you because I’ve been there before. Really.

Waktu itu, jangankan semangat ngajak Chiya belajar, bertahan bisa melek jam sembilan saja prestasi banget deh. Makanya suami saya suka manyun. Padahal, kalau saya lagi turn on ngajak Chiya belajar, I can do better than him. Saya punya ide belajar yang one step forward dan lebih efektif. Tapi ya itu, harus nunggu mood-nya bagus dulu :)

Setelah di kantor baru (feels the new atmosphere with new spirit), saya kadang punya waktu luang untuk browsing. Daripada browsing gak bermanfaat, jadilah saya mulai berpikir untuk kembali mengaplikasikan teknik belajar homeschool (lagi) pada Chiya. Sebenarnya untuk menerapkannya bisa sendiri sih, tapi rasanya saya butuh eksplorasi dan ide-ide baru. Tentu saja world wide web selalu punya jawabannya, heuheu…

Akhirnya, saya download beberapa lembar worksheet. Karena saya sudah tahu limit-nya Chiya, maka saya mencari yang sesuai sekaligus bisa up grade kemampuannya (berhitung, bahasa inggris dan logika). Setelah saya download, saya cek lagi worksheet-nya. Kalau sekiranya sudah sesuai, saya save dan print (nge-printnya di warnet, soalnya gak enak kalau ngeprint di kantor :p). 

Saya jadi ingat jaman masih stay at home dulu. Rajiiiiinnn banget ke warnet. Selalu bawa Chiya dan menyediakan satu komputer buat dia ngegame. Saya bukakan games Sesame Street atau games preschool yang lucu-lucu, sementara saya googling atau blogging. Saya juga sempatkan googling coloring sheet buat dia dan membawa pulang berlembar-lembar coloring sheet untuk diwarnai during her lunch. It was fun and I was feel so great to be mom. Ooowwhhh whatta paradise :)

Kalau dulu di Yogya, saya lebih sering browsing resep masakan selain soal homeschool. Pertama, untuk obat bosan sama menu yang monoton. Kedua, ya tentu saja buat up grade cooking skill dong ah. Hehehe… tapi suami sempet sebel karena katanya saya jadi tidak perhatian sama anak. Padahal saya mengajarkan banyak hal pakai metode homeschool itu ya hasil browsing juga. Yah, namanya juga bapak-bapak. Hihi…

Nah, untuk homeschool kali ini saya mulai mencari untuk First Grade, tidak lagi Kindergarten. Kenapa? Tentu saja karena Chiya harus terus up grade skill dong … Jadi kalau di umur ini dia sudah bisa describe colors and some animals, maka saya harus cari yang mengenali profesi atau activities. Kalau dia sudah bisa penjumlahan angka-angka besar, maybe she can start to learn multiple  math. Dan tidak langsung dimulai dari 1x1=1 tetapi dimulai dari logika perkaliannya.

Rencananya, lembar demi lembar ini akan saya dokumentasikan. Diberi tanggal lalu “dinilai” berdasarkan kemampuan. Owh, I love to do this. Thanks to internet! :)

ini beberapa souce yang bisa dicoba:

One afternoon we were confused to choose about what movie we’d like to watch. Our choice is between Negeri 5 Menara (N5M) and Hugo. Since we’re didn’t really know Hugo, so our choice is goes to N5M. My hubby has the novel, but we never read it yet. But I really curious after read some comments and responses from some people who have watched the film.  So, the tickets brought us to the movie.


The cinema room is not filled more than one quarter. Some audiences are kids with their mother or family. You can count some couples by the left hand. That’s including me and my hubby. It’s funny to see how a good movie (or a movie that based-on-a-novel) is not better in absorbing audience than the pocong-kuntilanak-whatsoever films. Even it has the same price, then entertaining is about relativity. Actually there are some good local movies from good movie makers too. But we have to admit that not many people who appreciate the presence of Indonesian (good) movies nowadays. Some people are tending to choose a lovey-dovey or crappy movie rather than a good one. Good, I mean, a movie with a simply human touch. A movie that can move life spirit, capturing a social reality or a movie that can give you a hard slap in your face.

About this movie, I have several things to share. First, I never had a visualization about what is pesantren before—after a man who being my husband is a santri (a person who learn and study in pesantren) and gave me some clue about it. I wasn’t growing up from a family with tight religion basis. Where take a hijab is came from your parents not from your own (by the internalizations within the family). Or how parents take over (almost of) your education—just like what happen to Alif. Call me secular or whatever, but it’s true. I’ve been study in TPA (Taman Pendidikan Al Quran) and I never get more than that. Somehow, this movie has increased my point of view about pesantren. I have to admit that I’ve underestimated most of people in pesantren. Maybe because I only get the partial story from one side (which is my hubby), so what remains in my mind is just the bad ones. Sorry to say. So, what’s thing that I’ve learned? I’ll describe later.

Second, I learn from Amak and Bapak (Alif’s parents) about care giving and being parent who can letting go peacefully (in Islam it called: ikhlas). Well, after being a mother, for me it’s a hard work to be ikhlas. A story about Alif’s struggling in pesantren cannot be separated from his parent’s hard works too. There’s a scene when Alif apart from his parents and suddenly I can feel what my parents felt about me (about ten years ago). Leaving me live independently in Jogja and far away from them. Well, for me, that’s a hard work. I just still can’t imagine if I have to felt the same way to Chiya. I just can’t! Not now.

What Alif’s parents doing practically is about to prepare their son into success. The problem is, we never know the precise definition what is “success”. By parents (our own) perception or by the child? Sometimes we’re really “sok tau” of knowing what the best for our kids. Just like Alif, in some point I feel like his parents are force him to study in pesantren. Even they’re liberating Alif to choose but (as we know) bargaining position of being child is lower than being parents. =))

Third, is about what they (santri) saw and get in pesantren. I can see how hard they study in Islam basis (with strict ways too). They’re study and living in a dormitory with strong Muslim atmosphere where you have to tighten up your faith every day.  The curriculum aren’t only focus on religion basis but also global side through the English class and debate championship—which is not all public nor private schools has it. And when the lights are out every 9 PM and the boys have to find a candle or another light, its surprises me. Because they had to pay double effort just to survive and gain all the dreams.

The Pesantren Madani is a pseudonym for a very famous pesantren in this country at East Java. Almost every Muslim recognizes that to be a santri, you have to passed some tests and walk on a preview class for a year. And its means you’re learning time will be longer than another student. In the end, I can see clearly if a santri build their life into success from their first time in the pesantren and they can be proud of it. Because what they have been through is not easy. It’s kinda hard but it depends on the personal themselves. If they can make themselves into progress, so they can make it through.

Overall, the film is quite good. I have to recommend this film for you who missed your pesantren. Maybe it can relieve the yearning of your first love, ha-ha! Well, but just like another based-on-a-novel movies, N5M didn’t put all the scenes on the book into the frame. So you better read the book first then go to the cinema :)


Saya sudah lima tahun langganan kontrasepsi suntik 3 bulan. Dan saya SELALU suntik di Puskesmas. Norak? Biarin. Saya punya apresiasi lebih untuk tenaga dan fasilitas kesehatan di level puskesmas. Sebab saya pernah ikut sebuah riset kecil tentang pelayanan kesehatan (ibu dan anak) dan saya sadar betapa pemerintah sebetulnya sudah melalukan upaya-upaya untuk meningkatkan fasilitas dan pelayanan kesehatan. Kendalanya? Tentu saja di masyarakat. Tentu saja di mindset yang memposisikan Puskesmas (dan pelayanan kesehatan pemerintah lainnya) seolah-olah "tidak ada apa-apanya" dibanding pelayanan kesehatan swasta. Toh banyak orang yang secara ekonomi relatif tidak bisa meng-cover biaya kesehatan keluarga, sementara di sisi lain mereka gengsi untuk mengakses Jamkesmas atau Askes.

Honestly, saya pun tak mau mengeneralisir bahwa pelayanan kesehatan pemerintah adalah 100% lebih baik dibandingkan swasta. Tidak. Toh, saya juga mengalami beberapa hal yang tidak mengenakkan selama menjadi user pelayanan ini. Yang ingin saya bagi kali ini adalah perjalanan saya selama menjadi pengguna kontrasepsi di Puskesmas yang pada masing-masing tempat berbeda-beda pula cara penanganannya.
Kenapa Suntik (tiga bulan)?

Sehabis selapanan Chiya, saya dan dia yang masih merah diboyong ke Jakarta, ke rumah orang tua saya. Setelah masa nifas selesai, atas rekomendasi ibu saya, saya pun langsung ke Puskesmas untuk suntik KB. Saya lupa awalnya kenapa saya memilih suntik. Yang pasti, saya tidak bisa pakai pil (karena saya susahnya minta ampun kalau mau minum obat sekaligus pelupa) dan tidak mau pakai IUD. Berangkatlah saya ke Puskesmas sekalian membawa Chiya imunisasi. Di sana saya diberi suntik yang sebulan sekali. Namun setelah beberapa hari, ASI saya tiba-tiba kering. Berkurang banyak. Dan muncul flek-flek. Setelah diskusi, ternyata suntik satu bulan tidak cocok untuk ibu menyusui. Setelah berjibaku selama sebulan, saya beralih ke suntik tiga bulan. Sisanya, tidak ada keluhan apa-apa. Termasuk menstruasi.

Dari dokter kandungan yang mendampingi saya riset waktu itu, saya akhirnya tahu bahwa jika pengguna suntik KB tidak haid, maka artinya dia "baik-baik saja". Anggapan bahwa suntik hormonal bikin gemuk (sebab darah kotornya tidak disalurkan melalui haid), juga tidak logis. Yang saya baca, logikanya menstruasi terjadi karena dinding rahim yang menebal (mempersiapkan diri untuk proses pembuahan) tidak dibuahi, dan akhirnya luruh sebagai darah menstruasi. Suntik hormonal mencegah agar dinding rahim tidak menebal sehingga sama sekali tidak ada menstruasi. Dulu saya serem sih kalau dengar bahwa KB hormonal itu berpotensi bikin gemuk. Mungkin sebetulnya bukan berpotensi bikin gemuk, tapi cocok-cocokan juga. Saya juga kalau lagi kalap, bisa naik sampai 51 Kg. Dan yang pasti, perubahan berat badan bukan karena darah mens yang "menumpuk" di badan. Haduh! *tepok jidat*

Puskesmas Pesanggrahan
Di Puskesmas ini, saya pertama kali suntik KB. Dan selama di Jakarta (sebelum bekerja), saya pasti suntik di sana. Tidak enaknya,saya tidak suka sama ibu-ibu tenaga kesehatan yang melayani saya. Boro-boro ada diskusi atau obrolan ringan, senyum saja tidak! Pernah saya ada salah ucap sedikit (bukan salah ucap sih, dia yang merasa intonasi suara saya tidak menyenangkan, padahal maksudnya biar suara saya terdengar di antara speaker bagian antrian yang menggelegar itu), eh dia manyunnya minta ampun. Ya sudah, saya juga tidak ada terima kasih-terima kasihnya deh!

Puskesmas Minomartani
Puskesmas ini adalah Puskesmas paling sepi dan mungil yang pernah saya kunjungi. Jaraknya hanya dua blok dari kontrakan saya. Pengunjunganya paling banter sepuluh orang tiap hari. Tapi tenaga kesehatannya tidak terlalu cuek dalam hal melayani pasiennya. Setelah giliran saya, saya pun disuruh untuk menimbang dan proses suntik pun dimulai. Ibu yang akan menyuntik saya pun memberi saya kebebasan untuk memilih posisi: mau berbaring boleh, mau sambil duduk juga tidak apa-apa. Di Puskesmas ini tidak ada interaksi juga antara user KB (minimal saya lah!) dengan si ibu bidan. Dari sana saya akhirnya tahu bahwa jadwal suntik yang diberikan sudah dilebihkan minimal satu hari guna meminimalisir keterlambatan suntik. Just in case si user lupa atau seperti saya yang waktu itu kehabisan stok obat sementara besoknya tanggal merah (saya dirujuk untuk suntik di Puskesmas tempat lain yang buka).

Puskesmas Kotagede
Ini adalah Puskesmas paling bersih dan paling besar yang saya tahu (selama saya tinggal di Jogja). Di sana juga sudah tersedia pelayanan bersalin inap yang hanya dimiliki Puskesmas tertentu. Setiap saya jadwal suntik, saya bukan hanya melakukan "ritual" menimbang (yang dilakukan secara mandiri di luar ruangan) dan periksa tensi, melainkan juga "ritual" lain yang--jujur--saya hanya mengalaminya di sana. Seperti: periksa perut (dengan cara diurut/dipijat) untuk mendeteksi kehamilan awal juga asupan air putih, tanya-jawab siklus mens sampai diskusi soal kontrasepsi yang diinginkan. Saya bahkan tidak diperbolehkan untuk memilih suntik dengan posisi duduk. Mereka benar-benar menjaga prosedur standar proses kontrasepsi. Bahkan ruang untuk periksa hamil (kontrol IUD) disekat untuk menjaga privasi. Tidak seperti Puskesmas lain yang menjadi satu ruangan. Jadi, periksa IUD tidak bisa dilakukan bersamaan dengan kontrol lain (tidak efisien secara waktu). Pokoknya, nyaman kalau suntik di sana.

Bu Bidan
Setelah bekerja, saya merasa saya harus mencari tempat lain untuk suntik KB. Pertama, karena saya sudah tak lagi bisa mengikuti jadwal Puskesmas yang pagi atau sore. Kedua, saya rasa inilah saatnya saya "lepas" dari bu Bidan Puskesmas nan jutek itu. Akhirnya, setelah tanya kanan-kiri, saya memutuskan untuk pindah ke bu Bidan di sebrang jalan. Katanya sih dia bidan teladan. Saya pun mendatangi bu bidan pada malah harinya setelah pulang bekerja dan rapi jali (abis mandi, maksudnya). Tempatnya sih di "pedalaman", di antara pemukiman warga yang cukup padat. Tapi bangunannya besar, kalau diibaratkan tempat tinggal, itu seperti rumah "gedongan". Besar, dua lantai, luas, rapi dan bersih. Sempurna untuk tempat praktek bidan.

Di sana sih bisa konsultasi soal kontrasepsi sampai soal persalinan, tapi si ibu bidan ini sepertinya tidak selalu punya banyak waktu, jadi konsultasi pun tidak bisa dilakukan lama-lama. Satu lagi, dalam hal harga, suntik di Puskesmas dengan Bu Bidan selisihnya tidak banyak. Hanya sekitar 2 ribu rupiah saja. Pun harga waktu saya di Jogja, sama saja. Tidak ada perbedaan harga yang signifikan.

Jadi, mau kontrasepsi apa dan di mana? :)


[gambar diambil dari sini]
Repost from Facebook on October 3, 2011
Chiya (saat ini berumur 3 tahun 6 bulan), putri saya, punya persoalan makan dan minum susu yang tak biasa. Ia tak suka susu (bahkan dari baunya) sementara ia juga hampir-hampir tak punya makanan favorit. Heran, ya. Jika anak-anak lain bisa sangat lahap atau bergairah jika melihat kue tart, es krim atau cokelat, dia hanya biasa saja. Mungkin ekspresi awalnya sama dengan teman-temannya: bersemangat seolah-olah bisa menghabiskan berpotong-potong kue tart. Namun, coba sodorkan sepotong saja, Chiya mungkin cuma mencolek krimnya saja dan sudah. Atau yang paling banter, ya mencicipi separuh saja. Es krim pun hanya mau yang fruity flavor. Kalau diberikan yang rasa susu (meski dengan tambahan rasa stroberi atau cokelat), dia akan langsung menolak dan bilang, “aku engga mau yang ini, Bunda...”.

Namun, bagaimanapun sulitnya, kami sebagai orang tuanya harus tetap memberikan berbagai makanan dan minuman untuk memenuhi kebutuhan nutrisinya. Kami pun pernah mengalami masa sulit di mana Chiya betul-betul susah makan dan minum susu. Meski saat ini kondisi makan dan minum susunya terbilang stabil, namun semua ini tidak lepas dari usaha keras kami untuk membantunya menciptakan habbit makan yang baik. Tulisan ini akan mendeskripsikan beberapa usaha untuk tidak mengalah dan menyerah dalam menghadapi sikap picky eating pada putri kami: Chiya.

Persoalan komsumsi susu
“Bakat”nya ini sudah terlihat sejak dia bayi. Sejak dia masih menyusu ASI. Setiap dia akan saya susui, dia selalu uek (ekspresi seperti mau muntah). Padahal, mulai saja belum. Ketika dia berusia enam bulan lebih sedikit, dengan tiba-tiba dia memutus hubungan per-ASI-an kami. Meski, dalam hati saya bersyukur juga: setidaknya masa eksklusif enam bulan itu telah dilampaui. Namun yang jadi masalah adalah, selama dia masih menyusu, kami sama sekali tidak mengenalkan susu formula padanya. Padahal pada masa pertumbuhan ini, dia masih sangat butuh asupan kalsium dan berbagai nutrisi penting lainnya untuk mensupport pertumbuhannya.

Kemudian kami mulai mencoba memberikan susu formula padanya agar imunitas tubuhnya tidak drop terlalu jauh. Tidak dengan dot, sebab dia trauma dengan payudara dan segala bentuk imitasinya. Akhirnya, setiap pagi bangun tidur, dia minum secangkir kecil susu hangat, pakai sendok. Ia awalnya mengatupkan mulutnya dan uek tiap kali sendok mau mampir ke mulutnya. Mungkin juga ia takut jika susu yang diberikan padanya itu adalah ASI perahan saya. Dengan sangat terpaksa, kami beri tambahan gula supaya susunya lebih manis. Selain itu yang awalnya turun tangan memberikan susu adalah suami saya, agar Chiya percaya bahwa itu bukan ASI. It works, dia akhirnya mau minum susu dengan cara itu.

Kami selalu mencoba menambah porsinya ketika ia mulai bisa menikmati secangkir susu itu. Selama sekitar setahun ia bisa bertahan dengan satu merek susu mahal, yaitu merek X. Namun, ternyata ia mulai menampakkan tanda-tanda bosan. Lalu kami mulai mencari merek-merek susu lain yang menyediakan beberapa rasa yang mungkin bisa “menggodanya”. Kami memutuskan untuk memilih susu rasa coklat dan menemukan beberapa merek lokal, yaitu: Y dan Z. Tetapi kedua merek itu tidak bisa “meluluhkan” kami dan cenderung mengecewakan. Karena jika ia minum susu Y, warna dan tekstur (maaf) BAB Chiya jadi coklat kehitaman dan encer. Sementara kedua merek itu punya bau khas susu yang begitu menyengat yang sensitif bagi Chiya.

Persoalan makan
Nah, jika minum susu susah, seharusnya asupan nutrisi bisa disupport dari makanan. Well, ternyata tidak begitu keadaannya. Sejak masa makan bubur susu, ia sudah kebiasaan mengatupkan mulut ketika sendok sudah berada di depan mulutnya. Untuk mensiasatinya, kami pakai kerupuk tipis yang dipotong-potong kecil untuk membuatnya membuka mulut. Harus tricky, memang. Nah, ketika sudah naik ke level bubur tim, tantangannya berbeda lagi. Kali ini adalah ngemut atau kebiasaan membiarkan makanan tidak dikunyah dalam mulut. Kebiasaan buruk ini kemudian jadi kebiasaan hingga dia besar. Waktu usia jelang satu tahun, ia tak pernah saya ajak makan ke luar rumah, melainkan berada di depan tivi. Melanggar kaidah makan yang baik, memang. Namun inilah siasatnya supaya ia bisa lancar mengunyah. Sebab, tiap kali tayangan iklan, ia akan takjub dan bisa tidak berkedip jika saking kagumnya. Apalagi jika iklan anak-anak yang menarik secara audio-visual. Inilah kesempatan saya menyuapi dan membuatnya mengunyah makanan lebih cepat.

Pada masa ini, rekor terlama pernah diraih olehnya. Selama satu setengah jam, ia hanya bisa menghabiskan separuh porsi makannya! Padahal, semua mainan sudah dikeluarkan dan tayangan tivi tetap menyala untuknya. Fiuh... Sementara itu, ketika sudah mulai makan nasi, saya kira ia akan mulai punya makanan favorit karena pada masa ini ada  berbagai macam makanan yang sudah bisa diberikan padanya. Dan ternyata tidak. Makanan favorit hanya akan jadi favorit pada momen tertentu saja. Misalnya, nasi goreng. Sekali-dua kali mungkin ia akan makan nasi goreng dengan lahap. Selebihnya, maka dia bosan dan nasi goreng bukanlah favorit lagi. Poin positifnya adalah bahwa Chiya tidak pernah menolak sayuran. Mungkin karena sejak bayi ia selalu diberi sayur-sayuran. Mungkin ada beberapa jenis sayuran yang ia tolak, seperti buncis atau batang sawi. Alasannya karena kedua sayuran itu susah dicerna dan cenderung meninggalkan ampas, apalagi jika tidak dimasak sampai lunak.

Level picky eater pada Chiya adalah persoalan bahwa ia sangat pemilih soal rasa, tampilan hingga kualitas makanan. Ia tidak mau makanan yang aroma dan bumbunya kuat dan kental misalnya dari bahan santan, seperti opor atau kari. Atau yang menurutnya buruk dari segi tampilan, seperti oseng-oseng. Sementara itu, ia juga susah makan jika makanannya bukan masakan baru (sudah dari pagi atau siang) dan juga  gampang bosan. Jadi, agendanya memang dobel: selain harus memperjuangkan menu makanannya, saya juga harus berusaha membuat kebiasaan ngemutnya hilang atau minimal berkurang.



Usaha untuk tetap mencukupi kebutuhan nutrisinya
Mulanya enggan mengganti susu lama Chiya dan mencoba merek baru. Bukan apa-apa, ini seperti gambling saja. Kami takut dia tidak cocok dengan susu barunya dan kemudian tidak mau minum susu sama sekali. Ini yang tidak mau saya pertaruhkan, saya lebih memilih diam dalam comfort zone.

Melihat keadaan cucunya yang susah minum susu, Ibu saya menyarankan untuk mengganti susu Chiya dengan merk P. Awalnya, saya ragu. Sebab ini tidak main-main, sekali Chiya menolak susu yang tidak ia sukai, akan butuh usaha lebih keras lagi untuk mengembalikan kebiasaannya. Beliau ternyata telaten membaca komposisi dari beberapa produk susu ketika belanja di supermarket. Menurutnya, komposisi dalam merk P tepat dengan kebutuhan yang diperlukan Chiya. Merk P yang memiliki nutrisi tepat dan seimbang dirasa cocok dengan kesulitan kami dalam memberi susu dan mengatasi kesulitan makannya.
Kemudian, ketika beliau datang ke Jogja, beliau membawa merk P untuk Chiya. Ketika saya buka kalengnya, ternyata aroma susunya tidak sekuat produk susu yang pernah kami coba. Aromanya cenderung lebih manis. Porsi susu yang diminum Chiya tergolong sangat sedikit, bahkan frekuensinya malah berkurang. Sebelumnya dua kali sehari, saat ini hanya sekali sehari. Meski demikian, minimal beberapa nutrisi yang dibutuhkan Chiya telah dipenuhi melalui merk P. Bagaimana pun, saya merasa tenang telah memilih merk P.

Ketika beranjak pada level nasi dan makanan yang lebih padat, inilah saatnya memvariasikan makanan agar ia lebih tertarik pada aktivitas makan. Saya akhirnya mendedikasikan diri untuk belajar dan bereksperimen masak. Memang bukan jaminan Chiya jadi doyan makan. Tetapi setidaknya makanan yang ia makan setiap hari jadi lebih bermacam-macam, mengingat ia seorang yang gampang bosan. Dan doa saya, semoga minimal ada satu makanan yang jadi favoritnya. Chiya memang tidak pernah terlihat lahap ketika makan, kecuali pada beberapa kondisi. Pertama, ketika ia lapar sangat. Dan kedua, ketika makanannya dirasa cocok. Ketika dua kondisi itu bertemu, maka keajaiban muncul: ia mau makan sendiri dengan lahap dan menolak disuapi. Meski mungkin jika makan sendiri tidak sampai suapan terakhir, namun bahagia sekali rasanya melihat itu.

Untuk mengatasi rasa bosan jika menu makanan siang sama dengan menu sore, maka saya bersiasat untuk mengajaknya makan sore di luar, sambil bersepeda dengan teman-temannya lainnya yang juga sama-sama sedang disuapi juga. Kadang, kebersamaan bisa menstimulus dia untuk makan lebih cepat dan mau mengunyah makanannya. Selain itu, bagaimana pun juga, ia butuh bersosialisasi dan memiliki kehidupan sosial di luar rumah. Selain itu, saya selalu mengingatkannya untuk mengunyah di tiap suapan, juga memberinya pujian jika ia makan cepat. Usaha ini penting dalam membantunya membentuk kebiasaan makan yang baik hingga kelak ia tambah besar.

Saat ini, hasrat makannya sudah jauh lebih baik. Seiring aktivitas hariannya yang bertambah banyak, maka kesadarannya akan pemenuhan rasa lapar semakin tinggi. Kadang, sehabis pulang bermain (antara pukul 09.30-10.00), ia mulai mencari cemilan yang ada di rumah. Sebetulnya, apapun yang ia minta akan selalu saya berikan, asal baik dan cukup bernutrisi. Porsi makan pun selalu saya tambah, walau sedikit demi sedikit. Begitu pula dengan susunya. Meski tidak pernah melebihi porsi normalnya, setidaknya sesekali porsinya saya tambah. Kadang ia juga minta dibuatkan susu dingin dari susu kental cokelat. Tidak banyak, tentu saja. Hanya sekitar 1/3 bagian dari ukuran gelas mungil. Kebiasaan ini didapat setelah melihat temannya minum susu kental. Tetapi, merk P tetap saya berikan pada pagi hari. Nah, untuk persoalan bau susu, masih tidak ia sukai sampai sekarang. Meski sebetulnya susu merk P baunya tidak terlalu menyengat seperti susu-susu lainnya. Walau begitu, saat minum susu tetap harus dengan sedotan dan ditutup agar baunya tidak sampai dihirup.

PENUTUP
Buat saya, aktivitas makan adalah aktivitas penting karena di dalam aktivitas tersebut ada sikap-sikap yang akan jadi kebiasaan sampai mereka kelak dewasa. Misalnya, penjadwalan makan yang konsisten setiap hari. Apakah hanya dua kali sehari atau tiga. Atau, apakah mulai makan siang jam 12 atau jam 2. Atau persoalan pembiasaan aktivitas makan yang selalu dilakukan di luar rumah. Atau apakah akan diberi makan jika anak memintanya saja. Semua itu akan menjadi kebiasaan bahkan sampai ia besar.

Di luar pembentukan habbit tersebut, tentu saja ada hal-hal yang jadi tantangan para orang tua. Misalnya kesulitan yang datang dari para anak, seperti masalah picky eater. Walau sulit, tetap berusaha dan jangan pernah mengalah pada sikap anak. Namun bukan berarti kita sebagai orang tua bersikap lebih keras. Lakukan dialog dan cari cara lain untuk mengatasinya. Jika perlu, kontak beberapa teman dan share keadaan yang sedang dihadapi. Kadang, berbagi cerita mampu memberikan beberapa masukan atau setidaknya meringankan beban yang ada dalam pikiran. Tetaplah berusaha, sebab tak ada yang tak mungkin.[]



[gambar diambil dari sini]
Repost from Facebook on October 5, 2010
*dalam rangka ikut sayembara berbagi cerita menghadapi si picky eater yang dislelenggarakan oleh susu merk P.
Perempuan Jawa ini terkenal dan andal membuat tempe. Tempe buatannya yang padat dan gurih banyak dipuji dan disukai, terbuat dari 100 persen kacang kedelai besar-besar. Tempe itu dibungkus plastik sandwich berukuran 18 x 15 sentimeter. Harganya 3 dolar per plastik. (hlm 123)



Adalah Tuning, perempuan asal Yogya yang “terdampar” di Kanada. Ia ikut suaminya yang sedang menempuh studi S3 di sana. Karena ia hanya ibu rumah tangga, maka di Kanada pun ia hanya mengurus rumah sekaligus suami dan putrinya. Awalnya ia bosan. Sebab tidak ada keluarga, teman atau aktivitas apapun yang dapat membunuh waktu sendirinya. Lalu tibalah ia pada penyakit yang sering menghinggapi para perantau: home sick. Termasuk rindu pada tempe, setelah sekian lama lidahnya beradu dengan rasa daging, ikan, pasta, dan lain-lain.

Sayangnya, tempe yang tersedia di sana tidak mampu mengakomodir keinginannya memakan tempe yang asli cita rasa Indonesia. Kemudian diputuskannya untuk bereksperimen membuat tempe sendiri. Dipesannya ragi dari tanah air sendiri, dicobanya meracik tempe berkali-kali, hingga akhirnya ia bisa menghidangkan tempe dengan cita rasa Indonesia, kapan saja ia mau. Popularitas tempe buatan Tuning akhirnya mulai melebar. Dari rumah sendiri, lingkungan teman dekat yang sesama Indonesia, sampai orang Asia atau orang Kanada yang vegetarian. Singkatnya, Tuning malah berbisnis tempe di Kanada.

Tuning hanyalah satu di antara begitu banyak perempuan di Kanada yang memiliki goresan sejarah hidup yang lebih baik setelah melalui perjalanan dan pembelajaran. Ia yang tadinya hanya mengandalkan gaji suaminya, akhirnya bisa merasakan nikmatnya uang hasil bekerja sendiri. Begitulah proses hidupnya. Tuning mungkin tidak berbeda dengan perempuan rumahan kebanyakan. Namun, kisahnya di Kanada dapat membuat inspirasi bagi perempuan lain. Khususnya mungkin bagi para ibu rumah tangga yang sudah merasa “cukup” dengan apa yang ada di hadapannya.

Kurang lebih, inilah yang coba disusun oleh Ida Ahdiah dalam bukunya, Teman Empat Musim. Secara global, peran dan pekerjaan perempuan mungkin sama. Menjadi istri, ibu, hingga tiap renik pekerjaan yang dilakukan dalam ranah domestik. Tetapi, kisah yang dibawa tiap perempuan pastilah berbeda-beda. Perempuan yang hidup pada masa dan konteks wilayah tertentu, latar belakang sosio-kultural hingga pengalaman masa kecil pada lingkup keluarga tertentu, akan membuat tiap perempuan memiliki rangkaian kisah hidup yang tidak sama satu sama lain.

Teman Empat Musim berusaha untuk membingkai kisah-kisah para perempuan, khususnya yang tinggal di Kanada. Para perempuan ini kebanyakan adalah imigran yang berangkat dari tempat asal mereka dengan beberapa maksud. Ada yang sekedar berimigrasi sebab ikut orang tuanya sejak kecil, ada yang ingin menjadi pengungsi karena negara asalnya bermasalah, ada pula yang memutuskan untuk hidup di sana karena ingin sekedar memperbaiki hidup. Di buku ini, ada banyak “Tuning” lain yang berasal dari beberapa negara yang tersebar di tujuh benua. Kebanyakan adalah dari negara dunia ketiga yang masih punya banyak masalah dalam banyak sektor—khususnya permasalahan yang substansial dan jadi penyakit generatif. Secara garis besar, mereka memiliki masa lalu personal yang suram di negara asalnya. Dan karena situasi politik atau ekonomi yang tidak memungkinkan untuk tetap bertahan di sana, mereka memutuskan bermigrasi ke Kanada. Meski tidak semua cerita dalam buku ini di latar belakangi alasan-alasan politis macam itu.

Buku ini menjadi semacam album bagi potret para teman-teman perempuan yang ditemui oleh penulis selama ia tinggal di Kanada dan berbagi cerita hidup. Salah satu alasan mengapa mereka memilih Kanada adalah karena negara itu memliki prosedur ketat (dan cukup manusiawi) mengenai keimigrasian, seperti adanya bantuan dari pemerintah yang dapat diajukan oleh para imigran yang punya anak dan belum memiliki pekerjaan (hlm 34).

Maka para perempuan ini bertekad untuk memperbaiki hidup mereka dan keluarganya dengan penuh perjuangan. Kebanyakan dari mereka memutuskan untuk bekerja keras dan berusaha mencari uang dari pagi hingga malam hari. Semua mereka lakukan demi kesejahteraan dan kebahagiaan keluarga. Meski, pada akhirnya, sebetulnya uang bukanlah segalanya. Bekerja adalah bagian dari upaya aktualisasi diri. Apapun tujuannya—uang untuk menghidupi anak-anak atau sekedar cara membunuh waktu yang positif—bekerja adalah sebuah pencapaian bagi seorang perempuan. Dan dengan bekerja, para perempuan yang sebagian besar berperan sebagai ibu ini juga berniat untuk memberi kehidupan yang jauh lebih baik untuk keluarga, khususnya bagi anak-anak mereka.

Kerja keras ini demi memfasilitasi kebutuhan pendidikan yang lebih baik, tempat tinggal yang sehat dan layak, tabungan, dan tentu saja demi pengalaman masa lalu yang tak ingin ditorehkan lagi sebagai sejarah kepada anak-anak mereka. Perjuangan demi a better living ini tidak melulu mendapat dukungan. Kadang, tentu juga mengorbankan beberapa hal, misalnya perceraian karena suami yang tidak mengijinkan istrinya untuk kembali belajar atau bekerja di luar rumah. Seperti yang dialami oleh Farah, seorang perempuan Iran yang setelah menikah selama dua tahun memutuskan untuk bermigrasi ke Kanada bersama keluarganya (“Hidup Farah Patah”, hlm 39-49).

Migrasi itu dilakukan karena Revolusi Iran dirasa tidak aman bagi kedua putranya. Setelah beradaptasi dengan segala ritme kehidupan di Kanada, kondisi finansial keluarga yang ditopang oleh suaminya semakin mencukupi serta kedua anak-anaknya telah besar, Farah mulai kehilangan perannya sebagai ibu yang sebelumnya sibuk mengurus anak-anak dan rumah. Mulailah ia membenahi diri dengan melakukan aktivitas di luar rumah, seperti merawat diri di salon, bertemu teman-temannya di kafe hingga mengambil kursus bakery—sebagai jalan untuk mewujudkan mimpinya memiliki toko roti. Namun kesibukan barunya juga turut merubah rutinitasnya seperti memasak untuk keluarga hingga pulang malam untuk mengerjakan tugas.

Namun, halangan atau penolakan apapun ternyata tak mampu memadamkan gairah dan energi mereka yang menggelegak untuk mendapatkan independensi—meskipun yang harus dilepas adalah ikatan perkawinan. Hingga akhirnya Farah harus menceraikan suaminya karena terus bersikukuh untuk melarangnya beraktivitas di luar rumah. Katanya, “Bayangkan, di abad ini ada suami yang rela istrinya bengong di rumah, sementara dia dan anak-anaknya menghirup hiruk-pikuk kehidupan” (hal 48).

Kesamaan rasa yang dialami baik oleh Tuning maupun Farah sepertinya menjadi motivasi utama bagi penulis untuk mengumpulkan pengalaman serupa para perempuan di Kanada. Sebetulnya tidak banyak buku yang tergolong non-fiksi yang mengisahkan perjuangan dari banyak perempuan. Apalagi dengan konteks wilayah tertentu—yang secara otomatis membawa konteks sosio-kultural yang berbeda juga. Meski dituturkan secara datar, tetapi makin ke dalam lembar-lembar cerita berikutnya ada banyak kisah yang mengejutkan dan juga inspiratif. Buku ini merupakan potret yang menangkap profil hidup beberapa perempuan, sehingga tidak ada cerita yang konstan sampai akhir halaman.

Inilah cara lain untuk berbagi pengetahuan mengenai perjuangan perempuan di negeri empat musim, yang mungkin juga bisa dijadikan inspirasi para perempuan di Indonesia untuk memajukan diri, keluarga, dan kaumnya.[]


[gambar diambil dari sini]
by Bunda Anggie on Tuesday, September 21, 2010 at 7:59pm ·

I love to read, anything. I also love to read magz beside books. Biasanya saya membaca majalah ketika saya tak menemukan bacaan yang tepat saat saya sangat-sangat ingin membaca atau dalam bahasa saya: gatal membaca. Misalnya, saat saya sedang gatal membaca, sementara saya malas untuk membaca ulang koleksi buku-buku fiksi saya. Mau membeli buku baru, bingung. Saya tak mau gambling membaca tulisan fiksi penulis baru yang genrenya cenderung populer dan terlampau metropolis. Kecuali membeli buku yang masuk nominasi atau pemenang sayembara sastra. But it takes time while the itchiness can’t wait longer. Pilihannya lalu jatuh pada majalah Tempo atau Jurnal Perempuan, which is quite heavy but comes in different package. Tapi sayangnya waktu itu saya tak menemukannya di toko buku. Sementara rasa gatal membaca sudah sebegitu membuncahnya. Nah, pada saat inilah saya lalu mencari majalah populer yang isinya begitu ringan. Minimal, penyakit gatal akut itu reda karena sudah terobati.

Saya senang membaca majalah, bahkan ketika saya masih SD. Kecintaan saya akan aktivitas membaca dimulai sejak ibu saya mengenalkan kami pada majalah Bobo. Seminggu sekali majalah itu diantar pengantar majalah. Dan hari saat Bobo datang adalah saat penting di mana saya akan meluangkan waktu istimewa dengan membaca di kamar. Kesenangan ini tetap hidup sampai sekarang. Bedanya, saya tidak lagi membaca Bobo.

Tulisan ini hanya sebuah simple review terhadap kesukaan saya pada majalah dan beberapa majalah yang (pernah) saya baca dan masih saya simpan. Majalah begitu menghibur karena ia berada di tengah-tengah antara buku dan komik. Memang tidak semua majalah baik untuk dibaca, namun kuncinya ada pada kita. Kita bisa memilih majalah yang layak serta pas untuk dibaca dan tentu saja memilih isi bacaannya. Sebab saat ini substansi majalah minimal 50%nya berisi iklan yang memacu konsumerisme. Bahkan sebagian artikel ditulis untuk kepentingan promosi. Karena itu, saya juga merasa eman untuk spend money more than two thousands rupiahs just for a mag. Kecuali kasus di atas tadi, saya biasanya membeli majalah yang sudah “basi” atau out of date dan sangat jarang membeli majalah baru. Untuk sekedar bacaan ringan, buat saya itu sangat cukup. Meski kelemahan majalah mirip dengan koran, yaitu memiliki tanggal “kedaluarsa”, namun bedanya adalah pada isunya yang lebih umum. Dan majalah-majalah yang saya baca (tentu saja) adalah majalah yang target pasarnya macam saya ini: perempuan usia separuh abad lebih sedikit, married, dan sudah punya anak. Berikut ini akan saya ulas dengan sederhana beberapa majalah itu, in non alphabetically order.



COSMOPOLITAN
Ini majalah yang “enggak banget” buat saya. Selain harganya yang mahal (lebih baik untuk beli liquid eyeliner ;p), substansinya juga sangat tidak membumi. Mulai dari iklan, informasi fashion, career tips, dan lain-lain diperuntukkan bagi para sosialita yang bujet senang-senang perbulannya di atas delapan juta rupiah. And it’s absolutely not me. Namanya juga majalah franchise internasional, semua isinya berkiblat pada gaya hidup perempuan kosmopolit barat. Termasuk have fun with sex yang ada dalam artikel seksnya. Saya pernah membeli edisi terbarunya, dan saya menyesal semenyesal-menyesalnya.

COSMOGIRL, SPICE!
Dua majalah ini setipe: majalah untuk remaja perempuan yang menuju jenjang kuliah sampai yang menuju akhir studi. Isinya pun tak jauh-jauh seputar dunia kampus, pergaulan hingga (tentu saja) relationship. Selain itu ada juga ulasan tentang pembangunan jejak karier sedini mungkin. Saat ini, mahasiswa sering memulai awal kariernya ketika masih kuliah dengan bekerja paruh waktu atau magang. Dibanding Spice!, menurut saya Cosmogirl agak lebih “berbobot” karena kadang mengangkat isu-isu yang sedang in. Tetapi keduanya tetap berada di jalur majalah berbasis kosmopolit dan hura-hura.

FEMINA
Saya cukup lama “setia” pada majalah ini karena beberapa hal. Pertama, isu-isu di dalamnya yang lebih mother friendly. Kedua, faktor tata bahasa. Seingat saya, majalah ini tidak terlalu provokatif untuk mengajak konsumtif. Sebaliknya, Femina kerap memberi ide untuk mandiri secara finansial bagi para ibu rumah tangga. Meski, sebetulnya segmen pembaca Femina yang paling dituju adalah perempuan berkeluarga yang memiliki karier cukup baik, sehingga mereka independen secara finansial. Namun, sepertinya Femina mengkampanyekan kemandirian bagi perempuan. Baik secara ekonomi maupun secara personal.

GOGIRL!
Saya pertama kali “berkenalan” dengan majalah ini awalnya karena penasaran dengan cerpennya. Kata seorang teman, jika berhasil tembus hingga publish, bayarannya sangat lumayan: satu juta rupiah. Dan saya dibuat tercengang-cengang, takjub, sampai akhirnya merasa sangat bangga setelah membaca majalah ini. Pertama, saya jatuh cinta pada substansi tulisannya. Mereka kerap menggunakan bahasa inggris sampai istilah-istilah level slank dalam tulisan-tulisannya. Kedua, saya awalnya menduga para owner majalah ini yang adalah The Moran Family merupakan perempuan dari keluarga kaya, muda dan ingin membuat majalah yang berbeda sama sekali dengan yang pernah ada sebelumnya. Asumsi saya tidak keliru, hanya saja ada tambahannya: mereka adalah generasi dari negeri bernama Indonesia, bukan orang barat! Akhirnya, kalau saya sedang jenuh dengan bacaan berat dan sedang ingin membaca bacaan ringan, saya beli majalah ini. Tidak setiap bulan, kalau sedang ingin saja.

Isu-isunya pun tidak main-main, pernah mengulas soal feminisme (which is rarely to reveal in similar magz), keberanian untuk menjadi berbeda, sampai tentang menolak seks bebas. Sementara untuk persoalan “serius” lainnya mereka juga total dalam mengulas hingga membuat komunitas khusus. See? Selain itu, saya diajak melek mengenai hot issues seperti selebriti yang paling populer (Blake Lively, R Pattinson), in fashion (boots, ripped jeans), sampai model kiblat fashion (Alexa Chung, Agyness Deyn).  Well, I think I’ll give this mag to Chiya, someday. :)

KARTIKA, CITACINTA
Dua majalah ini termasuk new comer, karena itu dari segi fokus substansi-isunya masih belum jelas. Juga persoalan karakter tata bahasa yang masih mawut, tidak runut, tidak fokus pada tema besar, dan lain-lain. Kesalahan penulisan juga masih kerap ditemui seperti salah ketik, salah eja dan kesalah remeh-temeh lain yang seharusnya bisa diantisipasi sebelum naik cetak. Dengan tampilan mini yang menarik dan harganya yang murah, sebetulnya kedua majalah ini begitu menggoda. Hanya saja secara substansial keduanya belum menawarkan hal-hal yang berbeda dengan majalah serupa.

PARENTS GUIDE, PARENTS Indonesia, AYAHBUNDA
Ketiga majalah ini berkutat pada persoalan parenting. Namun, dua nama pertama adalah merek franchise internasional yang semua isunya berkiblat pada informasi dari barat. Baik itu isunya, riset serta hasilnya, juga solusi yang ditawarkan pun dengan western style parenting. Buat saya, Ayahbunda lebih aplikatif karena mereka menangkat isu sesuai dengan fakta yang ada di negeri ini. Misalnya dalam mengatasi persoalan picky eater, dua majalah franchise itu memberikan contoh hasil riset serta solusinya yang semata-mata berasal dari barat. Sehingga banyak nama-nama obat atau makanan yang masih asing di telinga—apalagi di lidah. Sementara Ayahbunda (masih menurut saya), cenderung realistis dengan kondisi anak-anak negeri ini, sehingga tawaran-tawaran yang diberikan bisa lebih aplikatif. Dari segi tata bahasa, Parents dan Parents Guide seolah-olah hanya copy-paste dari edisi internasionalnya. Sebab bahasanya terdengar kaku dan tidak konsisten.

Begitulah. Bagi saya, bacaan apapun layak dibaca. Sebab esensi utamanya adalah aktivitas dan kecintaan pada aktivitas membaca ini. Sekarang koleksi majalah yang terkumpul secara tidak sengaja itu tambah menumpuk. Menambah sesak rumah orang tua saya (hehe). Saya sebetulnya tak berniat membuang atau bahkan menjualnya. Sebab saya masih punya mimpi membangun Teras Bunda. Tetapi kelihatannya mimpi ini masih jauh dalam jangkauan. Padahal, saya hanya ingin para ibu tetap membaca, tetap meraih informasi apapun yang mereka mau dan mulai membangun mimpi. Lalu mewarisi kecintaan membaca ini pada anak-anaknya. Meski mereka hanya ibu rumah tangga.[]



[gambar diambil dari sini]
Repost from Facebook on August 27, 2010 

Blog Hits

Hello

"Membuat jarak paling intim antara suara hati dan memori adalah dengan menuliskannya pada sebuah tulisan. Dan kamu, sedang menuju ke tempat milikku."

Enjoy reading.

Popular Posts

Followers