- sepetak ruang kecil untuk menjadi diri sendiri -

,

Bekerja itu...

It’s been a long time before I finally get blogging again. Whatta paradise to reread my writing and catch up some comments. Yup, it’s such a paradise! And I’m going to share some paradise-things to you. Of course in my own mind :) 

First, I’d like to tell you a few things about work. I was resigned couple days ago and now I’m at my new office.  Should I have to tell you about it? No, I guess. It’s not that important. If you really want to know what I’ve been doing a years ago, please read this. But I won’t tell you what I’m doing right now and compare them. Bagi saya, lebih baik bekerja pakai hati, pakai passion. Jangan melulu soal duit.
 
Jadi begini, dulu sewaktu saya masih jadi full time mom, saya pikir bekerja itu asyik sekali. You can earn money, helps the family’s cash flow, and buy things you never bought before. But when I really get there (in my former office), things doesn’t work that good. Ada banyak hal yang harus dihadapi ketika bekerja. Satu hal yang bagi saya menjadi pertimbangan adalah: bagaimana tetap menjadi diri sendiri di tengah lingkungan yang sama sekali berbeda. Bagaimana bekerja dengan cara sendiri tanpa harus terbawa company culture yang tidak sejalan. That’s a matter of fact.
 
Karena ternyata, bekerja itu tidak bisa semata-mata dilihat sebagai money earnings. Atau kebalikannya: uang itu bukan segala-galanya dalam bekerja. Bagi saya, apa nilainya uang jika dalam proses bekerja kita setengah hati? Apa kemudian arti gaji besar kalau dalam prosesnya nilai kita sebagai manusia tercerabut? Hidup tanpa passion.
 
I was underpaid at my three months probation, but after that, the company paid me (quite) well (until I’ve got the highest salary at my latest month of working there). I was shocking. Because I never expect that much. Because at last, for me working is about passion, not money. It’s all about heart.
 
Well, meski saya yakin kita bekerja untuk menafkahi diri serta keluarga. Tapi saya pun percaya bahwa bekerja dengan tujuan kacamata kuda (hanya untuk uang), adalah sesuatu yang tawar. Plain. Karena itu, ketika tujuannya hanya uang, maka ketika bekerja pun kita selalu pilih-pilih. Picky. Engga mau mengerjakan itu lah, engga mau handle ini lah. Selalu ada alasan untuk tidak bekerja secara optimal.

Bukankah money can't buy happiness no matter how rich you are?
 
Jadi, masih mau bekerja seperti kuda? :)

,

My Farewell Writing

Kalau sedang jalan-jalan, suka memperhatikan media advertising gede-gede di pinggir jalan, engga? Saya suka. Pertama, karena kalau sedang dalam perjalanan, saya suka melamun. Dan memandangi billboard menjadi salah satu pelampiasan indah buat saya. Kedua, papan billboard itu biasanya punya gambar-gambar yang catchy. Tapi, kadang papan-papan itu dianggap mengganggu estetika tata kota. Sampai-sampai konon ada Perda untuk "menertibkan" papan iklan super besar ini. But anyway, tahu engga proses bagaimana billboard bisa sampai terpasang di pinggir jalan dan akhirnya kita nikmati gambarnya sambil berkendara? I will tell you how (based on what I'm doing over a past year).

Pertama, ada beberapa player di sini. Saya beri nama masing-masing, ya. Ada main client, sebagai pihak yang akan branding pada billboard. Ada agency yang provide data atau file desainnya. Dan ada advertising agency yang menyediakan titik-titik billboard untuk diisi. Advertising agency ini biasanya punya titik-titik billboard yang spread all over the town, bahkan sampai luar kota/pulau. Main client bisa pilih titik mana yang mau mereka kontrak selama periode tertentu. Umumnya sih, recovering titik sebulan sekali. Tapi tidak menutup kemungkinan untuk periode lebih lama dari itu (tiga atau enam bulan sekali) atau bahkan untuk periode singkat (biasanya hanya untuk masa promo tertentu saja). Detailnya saya kurang tahu, sebab saya tidak handle soal ini.

Setelah sepakat dengan harga berikut spesifikasinya (I'll describe about the specs later), main client minta desain kepada agency untuk dibuat filenya. Di luar proses gini-gitunya acc desain, nantinya file berisi desain akan diberikan kepada adv agency dan diteruskan ke tempat workshop untuk dibuat proof print. Proof print adalah semacam sampel desain yang dicetak di media yang disetujui namun dalam ukuran kecil. Proof print ini bertujuan untuk mendapatkan approval warna dari main client. Karena pada produk-produk tertentu ada warna-warna yang sudah dijadikan patokan. Harga mati, gak bisa ditawar. Dan kita harus mengikuti color rules itu. Proof print ini biasanya dibuatkan beberapa (biasanya sih tiga alternatif) supaya ada pilihannya. Setelah proof print dapat approval, barulah media cover billboard dicetak. Pada kasus tertentu sih, tidak gampang untuk langsung dapat approval. Especially for esthetic produk. Kosmetik gitu deh. Ada aja yang kurang. Skin tone talent-lah, warna icon-lah. Tapi ada juga produk minuman yang lumayan detail (instead of saying rewel :p).

Untuk billboard, mesin yang dipakai untuk mencetak adalah mesin besar (XL). Bayangkan saja mesin printing untuk sebuah cover billboard berukuran 5x10 meter! Of course mesin ini besar sekali!  Namun bukan berarti bisa cetak cover besar dengan sekali jalan. Untuk ukuran lebih dari 3 meter, diperlukan tiling (pemotongan). Sebab, lebar bahan tertentu mencapai maksimal hanya 5 meter saja.

Untuk nama bahan, let me introduce you. Ada bahan untuk billboard atau baliho (midi billboard) ada juga untuk stiker. Tempat saya kerja sudah tidak jaman pake spanduk (sigh). Kami juga sudah pakai mesin digital. Maka taglinenya adalah: large format digital printing. Billboard itu ukurannya berkisar 5x10 meter ke atas. Sementara baliho kebalikannya: 5x10 meter ke bawah (lebih kecil). Untuk billboard atau baliho ini, bahan yang dipakai namanya flexi. Flexi ini, ada banyak kelasnya.

Secara hierarkhis, tingkatan flexi dari yang tipis sampai yang tebal adalah: cina, korea dan jerman. Layaknya hidup yang kadang muncul abu-abu di antara hitam dan putih, ada juga jenis flexi yang kelasnya "antara". Cina bukan, korea juga bukan. Semacam itulah. Hierarkhi ini tentu saja dipengaruhi oleh harga dan kualitas.

Ada klien yang memilih flexi bahan cina karena masa promosi yang tidak terlalu lama (biar ngirit juga lah). Namun ada juga klien kami yang royalnya minta ampun untuk urusan promosi billboard ini. Periode yang satu belum juga kelar, mereka sudah memberi materi baru untuk promo berikutnya. Jangankan begitu, vendor di luar pulau belum terima cover billboardnya, mereka sudah mulai produksi billboard untuk promo baru berikutnya. Rada sinting sih.

Nah, buat klien yang sedang memburu timeline periode promonya ini, maka dari proses produksi sampai shipping adalah pekerjaan rumah kami. Misalnya: kamis pagi ambil CD materi untuk jadwal tayang Jumat malam. Tayang adalah istilah untuk cover  yang sudah mejeng dengan manis di papan billboardnya. Ini baru satu klien. Gimana kalau dalam waktu yang sama, harus mengejar produksi beberapa unit cover berukuran besar. Salah satu pilihannya sih, harus nego. Mana yang top urgent dan mana yang masih bisa dikirim esok harinya. Biasanya sih, ada yang memprioritaskan Jabodetabek karena mengutamakan pasar Jakarta dan sekitarnya, namun ada juga yang prioritas luar kota, karena mempertimbangkan jarak tempuh ekspedisi agar jadwal tayangnya bisa serempak dalam dan luar kota.

Selain bahan untuk billboard, ada juga bahan lainnya seperti: stiker (putih, transparan, blackout, oneway vision), albatros, backlite difuse, mesh, dan lain-lain yang biasa digunakan untuk indoor branding. Berbagai teknis finishing juga beragam. Ada laminating (matte dan glossy) untuk stiker dan kawan-kawan. Mata ayam untuk banner, juga alat X banner dan roll up banner.

Gimana? Mumet kan? Hahaha... Sepertinya memang lebih baik menikmati billboard dari kejauhan saja supaya tidak ikut ribet. Oiya, anyway tulisan ini adalah sebuah farewell writing karena saya tidak lagi bekerja di sebuah workshop media advertising (digital printing) lagi.

Sebuah tanda mata bagaimana saya banyak belajar di sana. Mendapat banyak ilmu dari sana. Ilmu membaca karakter orang, ilmu mengikuti ritme kerja, ilmu negosiasi, dan tentu saja ilmu bersabar. Sebuah kalimat "selamat tinggal" yang indah dan semoga bisa bermanfaat.

Good bye fellas...
(Tangerang, jauh hari sebelum saya beneran resign)

Blog Hits

Hello

"Membuat jarak paling intim antara suara hati dan memori adalah dengan menuliskannya pada sebuah tulisan. Dan kamu, sedang menuju ke tempat milikku."

Enjoy reading.

Popular Posts

Followers