- sepetak ruang kecil untuk menjadi diri sendiri -

Saya masih semangat membahas tentang first day school theme ini. Serunya gak habis-habis, hehe... Kali ini, saya mau membahas tentang sekolahannya Chiya. TK itu bukan sekolah mahal yang orientasinya global whatsoever. Sekolah itu merupakan sebuah sekolah sederhana jebolan sebuah yayasan Islam lokal di daerah Pondok Betung (Tangerang Selatan). Kami tertarik karena satu kelas hanya diisi 15 orang anak dengan 2 orang guru. Sementara di TK sebelah (yang nyaris jadi TK paling populer sejagad Pondok Betung), satu kelas diisi sekitar 40-an anak dengan dua shift jam masuk. Gile kan? Selain itu, playground space-nya sempit sekali. Bayangkan saja playground di sepetak teras rumah kecil. Dengan kuantitas anak sebanyak itu, saya ndak bisa bayangkan bagaimana nanti Chiya bermain dengan teman-temannya.
 
Pertimbangan lainnya adalah: hari Sabtu libur. Meski, jam pelajarannya jadi lebih panjang dari jam reguler TK lain. Chiya masuk jam 8 (tapi jam tujuh lewat sudah berangkat dan di sana sudah ramai anak-anak) dan pulang jam 11 dengan jeda istirahat sebanyak dua kali. Lumayan lah, buat pembiasaan nanti dia di SD.
Nah, selain itu, ada beberapa rules di sana yang bagi kami bakal membuat habit baru yang lebih baik. Pertama, orang tua tidak diperkenankan menunggui anaknya (minimal dalam jarak dekat). Waktu saya ke sana sih, ada banyak ibu-ibu yang menunggui anak-anaknya di depan teras kelas. Meski sebenarnya tidak boleh, mungkin karena masih dalam masa orientasi (conditioning), maka para ibu-ibu itu dibiarkan menunggu anak-anaknya di sana. Selain itu, semua kegiatan dilakukan di dalam kelas, termauk aktivitas makan saat istirahat. Jadi tidak ada anak yang disuapi atau ditemani makan. Peraturan yang ini tentu saja untuk menumbuhkan kebiasaan mandiri. Dan sepengetahuan kami, hanya Chiya yang tidak ditunggui dari mulai diantar sampai pulang. Waktu diantar sekolah oleh Bude (pengasuhnya), Chiya langsung minta Bude untuk pulang. Sepertinya dia memang ingin mandiri.
 
Kedua, anak-anak wajib membawa bekal dan dilarang membawa segala jenis chiki-chikian, permen dan mie. Yang iniiiiiii, bikin bundanya harus selalu punya ide buat bekalnya supaya tidak membosankan. Harus punya ekstra tenaga, memang. Karena tiap pagi, saya jadi punya agenda tambahan. Selain itu, saya punya bocoran beberapa menu buat bekal sekolah. Memang belum semuanya saya coba, namun bocoran menu ini lumayan buat para ibu-ibu yang takut mati gaya seperti saya. Tunggu di postingan selanjutnya ya...
 
Nah soal bekal ini, selama dua hari pertama, Chiya hanya membawa dua buah bolu kemasan dan susu kotak kemasan kecil. Mungkiiiinnn, sama Ibu Guru dikira bundanya nih ndak ngasih makan anaknya. Atau dikira ndak bisa masak. :( Soalnya, kata Chiya, Bu Gurunya bilang sama dia supaya bawa bekal nasi seperti anak-anak lainnya. Lha, padahal Chiya itu makan nasi kalau waktunya makan saja. Di luar jam makan, dia biasa ngemil-ngemil, tidak biasa makan nasi di luar jam makan. Maka dari itu, saya harus punya banyak ide untuk bawaan bekalnya setiap hari.
 
Ketiga, anak-anak dilarang bawa uang ke sekolah. Kecuali hari Jumat untuk keperluan sedekah. Padahal di hari sebelum Chiya sekolah, kami sudah membawakan sebuah dompet kecil berisi uang dua sampai tiga ribu rupiah. Just in case dia mau jajan di tengah jam sekolahnya. Tetapi ternyata di lingkungan TK itu tidak ada satu pun abang-abang tukang jualan yang beredar menjual jajanan. Kecuali ada satu warung kecil yang agak jauh dari sekolah. Selain itu untuk yang menjemput, kami juga menyiapkan satu dompet lain. Untuk jaga-jaga juga, siapa tahu di jalan ketemu tukang bakso lalu Chiya mau beli. Tapi karena peraturan ini, kami merasa agak safe karena ini bisa mengurangi habit Chiya yang sedikit-seedikit pergi ke warung. Karena, sejak pindah ke Jakarta dan teman-temannya hobi jajan semua, menularlah kebiasaan itu. Dan semoga, sejak sekolah ini, habit jajannya lama-lama hilang. Semoga.
 
Kemudian ada beberapa aktivitas di luar jam sekolah yang kemudian menjadi bahan pertimbangan kami juga dalam mengambil keputusan untuk memilih sekolah ini. Oya, saya lupa memperkenalkan sekolahnya. TK itu namanya Al Qaaf. Basisnya Islam, meski tidak mau disebut sebagai sekolah Islam. Sebab setiap hari murid-muridnya memakai seragam panjang dan berjilbab bagi yang perempuan. Ada latihan shalat dan bersedekah tiap hari Jumat. Ada kegiatan menari dan berenang (meski masih tentatif). Ada juga beberapa komputer berjajar di sana. Selain itu, kata Pak Ustad pemilik yayasan, nantinya akan ada semacam psikotes untuk anak-anak dan orang tua. Tujuannya sih untuk mengetahui arah bakat anak serta bagaimana orang tua menghadapi anaknya dalam mengarahkan anak menuju jalan bakatnya itu. For me, it sounds like a cliché. Tapi who knows, siapa tahu rencana itu memang komitmen mereka. Sebab sebuah hal baik yang membawa perubahan tak harus selalu berangkat dari institusi mahal. Dan saya percaya itu.[]

2 comments:

  1. Bundaa ceritain soal temen2 chiya dooong, ketagihan baca kisah seru keluarga mini bunda anggie deh :) dulu azh cuma sempet TK beberapa bulan, trus langsung SD meski baru 5 th. makanya suka nyesel ngapain dulu buru2 pengen pake seragam merah putih.hehe

    ReplyDelete
  2. kapan-kapan ku posting tulisan soal aktivitasnya Chiya di sekolah deh (kalo sempet, heheh). lucunya, dia itu susah kalo ditanya nama-nama temennya. entah lupa, entah gak ngeh sama temen-temennya.

    wah, pantes tante Azzah pinter, lima tahun udah SD!! hebaattt...!

    ReplyDelete

Blog Hits

Hello

"Membuat jarak paling intim antara suara hati dan memori adalah dengan menuliskannya pada sebuah tulisan. Dan kamu, sedang menuju ke tempat milikku."

Enjoy reading.

Popular Posts

Followers