- sepetak ruang kecil untuk menjadi diri sendiri -

Hm, sebetulnya tulisan ini saya mulai ketika Fathiya masih tidur. Begitu pula suami saya. I know the day is too early, tapi keinginan untuk menulis tak bisa ditunda. Namun, seberapa pun besarnya hasrat saya untuk menulis, kuasa ada pada komputer saya yang semakin hari semakin menjadi. Kalau komputer saya bisa bicara, mungkin dengan congkak ia akan berkata: i’m in charge! Padahal saya dan suami sedang giat-giatnya menulis. Malah kadang kami seperti dua orang yang “rebutan” komputer, karena kesempatan untuk leluasa menulis tak bisa datang kapanpun. Jengkel rasanya saat sudah siap di depan komputer yang “maha besar” ini, namun tiba-tiba layarnya gelap. Masih syukur kalau beberapa “tamparan” di sisi-sisi tubuhnya membuatnya kembali hidup. Nah, yang bikin tensi naik adalah ketika ia sama sekali tak mau terang lagi. Bukan cuma kesal setengah mati, kadang saya sampai mengutuk Tuhan. Maaf, bagi yang merasa Tuhan hanya untuk disembah.
 
Tadi pagi, ketika hari masih dingin dan saya tiba-tiba ingin menulis sesuatu. Sesuatu yang tentu saja dekat dengan hidup dan diri saya. Apalagi kalau bukan soal peran saya sebagai ibu. Maaf, buat yang merasa bosan soal ini setengah hidup-setengah mati. Sebagai orang yang “habitatnya” atau sebagian besar waktunya habis di rumah, saya hanya bisa mencoba survive. Saya tak lagi bisa berharap punya kehidupan seperti dulu: have a lot of spare time, jobless, dan bisa wara-wiri kesana-kemari. Saya pun tak mungkin bercermin menggunakan hidup orang lain. Seperti yang pernah saya bilang dulu: silakan menoleh kanan-kiri, but don’t let yourself drowning too deep. Salah satu cara untuk survive adalah bersyukur. Menjadi ibu adalah anugrah. Tapi ada satu privilege yang tak semua ibu mau menyadari dan menjalankannya: total buat anak. Being total yang saya maksud tentu sangat relatif dan subyektif. Buat saya, being total adalah ketika seorang ibu mau mengamati dan mencermati tiap inci pertumbuhan serta perkembangan anak, from the first day the child was born, at every single day. Mungkin tak harus menemaninya 24/7 atau “turun tangan” langsung, tapi mengontrol ritme hidup hingga menciptakan bibit baik bagi habitus-nya kelak, that seems good enough.
 
Tak banyak ibu-ibu yang totally a good mother. Tapi saya kenal seorang. Seorang perempuan yang almost-perfect mother. Dia adalah ibu rumah tangga yang boleh dibilang meninggalkan kampus untuk being total at home. Total for her daughter, total being a housewife and she is almost-totally perfect! She is my role model of being a good mother. Namun sebenarnya tak harus hanya jadi ibu rumah tangga untuk jadi ibu yang total. Sebab esensinya adalah total perhatian dan menciptakan habitus yang baik. Meski memang jika dilogikakan, ibu rumah tangga akan lebih total dalam mengontrol si anak karena punya banyak waktu bersama. There’s many type of mother: ada ibu rumah tangga yang hanya berpikir untuk mencari uang, ada ibu bekerja yang sangat perhatian, ada ibu rumah tangga yang sibuk sendiri, ada juga perempuan yang sudah menjadi ibu namun tak mau menjalani perannya dan memilih meninggalkan anaknya.
 
Oh ya, saya punya pengalaman waktu pergi bersama suami dan Fathiya. Waktu itu saya juga janjian dengan beberapa teman perempuan saya. Kami bertemu di suatu tempat makan lesehan. Di sana hanya ada kami dan seorang ibu, dua orang anak lelaki age range 4-5 old, dan seorang perempuan muda yang saya tengarai sebagai seorang babysitter. Nah, setelah kami selesai makan dan berencana bubar, Fathiya masih harus memakai kembali sepatunya yang berada tak jauh dari rombongan ibu dan anak-anaknya itu. Salah satu anak lelaki yang lebih kecil bersikap agak agresif dan hendak memukul Fathiya atau semacamnya. Agak lama, si ibu yang berkerudung-rapi-dandan ini tidak bergeming, tidak melakukan sesuatu untuk melarang atau menegur si anak padahal kami ada di depan mejanya dan hanya berjarak kurang dari satu meter. Ia menopang dagu dan agak merengut karena mungkin si anak tak kunjung habis makannya. Ia lalu menyuruh si pengasuh untuk segera membereskan pekerjaannya. Ketika kami masih di depan, rombongan itu lalu beranjak pergi dan menuju mobil. Sampai sekarang, jika saya mengingat hal itu saya masih heran dan bertekad tidak mau seperti ibu itu. Semoga saya selalu lebih baik.
 
Well, it’s so optional. Adalah sangat menjadi pilihan: mau jadi ibu yang seperti apa. Dan menjadi ibu yang total juga pilihan. Saya menyebutnya privilege, karena pilihan ini adalah sesuatu yang istimewa dan setiap ibu berhak mendapatkan peran istimewa ini. Bagaimana tidak istimewa, bisa menemani anak sejak ia lahir, day by day, menghidupi raganya yang masih rapuh dengan ASI yang fully-immuned hingga ia tumbuh dan perlahan bisa berjalan lalu berbicara, mengenalkan banyak hal yang belum pernah ia lihat atau sentuh, hingga kelak ialah yang menemani kita. Saya sendiri masih terus belajar. Dan semoga saya belajar dari orang tepat. Dari si almost-perfect mother tadi, misalnya, bukan dari ibu yang “lari” dari peran istimewanya.
 
Mungkin saya dan teman-teman saya juga harus banyak belajar menjadi ibu yang total darinya. 

[from a file :Yogya, 12 May 2009, finished @ 09.23 am]

0 comments:

Post a Comment

Blog Hits

Hello

"Membuat jarak paling intim antara suara hati dan memori adalah dengan menuliskannya pada sebuah tulisan. Dan kamu, sedang menuju ke tempat milikku."

Enjoy reading.

Popular Posts

Followers