- sepetak ruang kecil untuk menjadi diri sendiri -

sekolah atau belum?

Adalah hal biasa jika bertemu dengan anak usia tiga-empat tahun dan bertanya: sudah sekolah belum? Chiya juga kerap bertemu dengan pertanyaan itu. Dan tentu saja ia jawab: belum! Karena memang ia belum ikut aktivitas preshcool apapun. Bahkan PAUD. Bukan apa-apa, kami punya beberapa pertimbangan. Pertama, ia masih punya saya, bundanya, yang masih bisa menemaninya di rumah. Kedua, jujur saja, kami masih bingung dengan pilihan orientasi preshcool ini. Misalnya, apakah kami ingin memilih sekolah dengan orientasi agama atau yang konvensional saja. Lalu pertanyaan jangka panjangnya: bagaimana merancang masa studinya sampai ia masuk sekolah dasar nanti. Sebab, di Jakarta sudah ada regulasi soal limit minimum untuk usia masuk sekolah dasar. Jadi, sepintar apapun si anak, jika usianya belum genap enam setengah tahu, ia tidak akan diterima. Bahkan jika kurang sebulan saja. Maka itu, kami juga berpkir tentang antisipasi apabila nanti Chiya jenuh bersekolah. Just in case. Pertimbangan lain adalah bahwa sebetulnya Chiya tidak memaksakan kami untuk memasukkannya ke sekolah. Dan ia memang tidak pernah bersikap terlalu memaksa seperti itu. Jika sekali-dua ia berkata: aku mau sekolah, perbincangan itu akan selesai ketika kami menyahut: iya, nanti, ya. Jadi sepertinya baginya bersekolah belum menjadi sesuatu yang urgent.

Karena terlalu banyak pertimbangan, akhirnya kami pending rencana untuk menyekolahkannya tahun ini. Selain karena beberapa pilihan sekolah yang kami inginkan sulit didapat dan cenderung mahal. Saya sadar: apalah yang tidak berbayar dan mahal di Jakarta ini? Sebut saya apatis, tapi saya yakin jagad Jakarta hanya adalah semesta uang saja. Keinginan untuk menjadi bookworm atau ingin tempat bermain yang layak harus diakses dengan uang yang tidak sedikit. Dan akhirnya, setelah memutuskan untuk tetap "merumahkan" Chiya, kami mulai bersiap-siap menyediakan beberapa perlengkapan belajarnya. Ya, dia akan sekolah di rumah, bersama kami: orang tuanya.

Awalnya kami membiasakan dia untuk belajar setiap azan Magrib usai. Mulanya hanya mewarnai atau membacakan buku (yang sudah kami mulai sejak ia usia satu tahun--sebelum tidur). Kini, kami mulai memperkenalkan angka, huruf dan bahasa inggris. Lumayan, sekarang ia sudah bisa berhitung dengan tepat 1-10, membuat beberapa angka, dan hafal huruf A, S, O, I, B. Untuk kosakata bahasa inggrisnya ia sudah bisa menyebutkan warna-warna dan angka (selain are you happy dan what is your name, lengkap dengan jawabannya).

Kini, perlengkapannya bertambah. Setelah pensil warna, buku cerita serta buku mewarnai, sekarang ia juga punya software bermain sambil belajar, poster angka serta huruf, peralatan belajar buka-tutup, dan kelak papan tulis. Begitulah, kami ingin ia tetap belajar dan memaksimalkan kemampuannya meski ia hanya di rumah saja. Maka, jika di toko buku ada sales yang menawarkan berbagai alat-alat belajar, dan Chiya mencobanya, mereka kerap berkata: anaknya sudah sekolah ya, Bu? Saya cuma tersenyum dan bilang: belum, masih di rumah saja.[]

4 comments:

  1. ohoi..chiya homeschooling,,,dijamin makin cerdas chiya sayang. 4 thumbs up bwt bunda&yanda!!!

    ReplyDelete
  2. azzaaahhh... miss u so muchh!!!

    ReplyDelete
  3. belum sekolah tapi kalau di rumah bundanya dah bisa ngajarin ok banget tuh...

    ReplyDelete
  4. iya, mbak... memberdayakan bundanya nih... hihi...

    ReplyDelete

Blog Hits

Hello

"Membuat jarak paling intim antara suara hati dan memori adalah dengan menuliskannya pada sebuah tulisan. Dan kamu, sedang menuju ke tempat milikku."

Enjoy reading.

Popular Posts

Followers