it's easy to make ur partner felling down

Kalau ada yang bilang, love is about ask nothing in return, buat saya itu bullshit. Maaf, saya hanya merasa kalimat itu terdengar hipokrit. Jika memang benar tidak butuh sesuatu atas nama resiprositas, lalu kenapa begitu banyak orang yang tidak terima dengan poligami? Mengapa juga ada konsep bernama durhaka--dalam konstelasi cinta yang universal? Bukankah (setidaknya pada beberapa orang dan pada beberapa titik) itu berarti cinta membutuhkan respon dua arah? Hell, bagi saya, tentu saja iya! Tetapi hanya dua, tidak lebih...

Dalam kehidupan cinta tentu juga ada pahit-manisnya. Semoga saja keduanya seimbang, karena jika tidak... Neraka itu namanya. Sebagaimana hal-hal klise lainnya: menjadi positif lebih sulit dari pada menjadi negatif. Membuat kecewa lebih gampang ketimbang menyenangkan hati orang. Disadari atau tidak, ada hal-hal di mana kadang kita mengecewakan partner. Saya hanya menemukan tiga, sejauh pengalaman saya menelan hal-hal pahit. Here we go...

First, sering membuat kesalahan. Terlalu sering, malah. Dan kesalahan yang dibuat sudah bikin mata merah. Entah physical abuse, grey rape, sampai cheating. Dan ini dilakukan over and over again. Sampai capek memaafkan, sampai lelah melupakan. Lalu niat untuk tidak mengulanginya sampai mirip lipservice. Manis di depan doang.
Second, tidak belajar mendengarkan. Ada banyak hal yang disenangi dan dibenci dari partner. But it's so human, and they comes in one-sweet package. Selain belajar menerima, (seharusnya) juga belajar mendengarkan. Jangan sampai partner tidak didengarkan, sementara kita lebih memilih mendengarkan suara teman atau orang lain. Remember, being ignored is really hurt.
Third, tidak menyenangkannya di momen-momen berharga, such as birthday, anniversary or another precious moments. Masalahnya, momen-momen ini penting karena tidak terjadi atau dialami setiap hari. Dan sebetulnya di momen penting inilah kadang kita bisa menunjukkan how much that we care...

Begitulah... Perlu evaluasi dan dialog selalu. Tetapi, jika merasa dikecewakan, introspeksi diri juga: apakah kita pernah melalukan hal-hal yang mengecewakan partner? Jangan-jangan, secara sadar atau tidak, disengaja atau tidak, kita pernah (atau sering?) membuat kecewa... Ingat juga, diam bukan berarti selalu bisa sabar. Suatu saat kejengkelan bisa terakumulasi dan meledak. Lalu jadi karma yang buruk...

Comments

  1. Sedikit menjawab postingan 'ketika kata maaf dipermainkan'. thx ya Bun,,,

    ReplyDelete
  2. kelebihan lelaki hingga saat ini adalah mematahkan kemampuan perempuan untuk bisa menunjukkan kesalahan lelakinya, melemahkan posisi perempuan dengan argumen-argumennya yang menindas, dan tidak pernah memiliki pilihan yang adil. if he was a girl. he :D

    ReplyDelete
  3. eh kayaknya aku salah masuk kamar deh.. maksudnya komen ini buat kamar atasnya. hehehe

    ReplyDelete
  4. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  5. eh jadi penasaran ama komendi atasku.
    kok di removeya jenk?
    apa ada yang tidak berkenan?
    maaf yah..
    tapi walaupun komenku gitu aku tetep suka laki-laki dengan kelebihannya itu. coz this thing is never ending case. hehehe

    *peace buat yang laki

    ReplyDelete
  6. eh, gak diremove kok prit....gak ada satu pun yang aku remove, semua masih ada pd tempatnya... aq kan menghargai apapun apresiasi orang...hihihi.....

    ReplyDelete
  7. Solusinya gmn Bunda Anggie?
    Sampai kapankah, atau seberapa banyak amunisi maaf yang harus disiapkan?

    Kalau meledak dan yang kena ledakan cuma orng dewasanya sih mungkin masih bisa sembuh, lha kalo meledak dan ledakannya melukai si kecil, bisa2 lukanya gak akan sembuh sampe dia dewasa.. :)

    ReplyDelete
  8. betulll, Ran... Karena itu, orang tua tetap butuh ruang privat. Sesempit apapun itu. Ada yang menyebutnya "me-time". Tapi konkretnya sih, apapun masalahnya, harus diselesaikan dengan cara dan gaya penyelesaian masing-masing. Tiap couple punya problem solving yang berbeda-beda kan? Ada yang diem-dieman dulu, baru diomongin. Ada yang langsung "tembak di tempat". Ada juga gaya yang melengos aja.

    Dan, seperti kamu bilang, "ledakan" itu beresiko (sengaja atau tidak) memercik ke anak. Poin pentingnya sebetulnya adalah: jangan jengkel kelamaan. Pertama, it's so waste! Merugikan deh, gak ada benefit-nya sama sekali. Kedua, somehow, kiddos could feel what their parents feeling. You know, semacam ikatan batin gitu. It's proven :)

    ReplyDelete

Post a Comment