- sepetak ruang kecil untuk menjadi diri sendiri -

baik-buruknya seatap dengan eyang...

Saat ini keluarga mungil kami (yang terdiri dari ayah-bunda-Chiya) hidup bersama dengan orang tua saya di Jakarta. Sebelumnya kami tinggal di Jogja. Setelah kuliah lalu menikah, kami memutuskan untuk tetap stay di sana karena beberapa alasan. Dan satu alasan besarnya adalah: we both love that city so much! Saya sendiri memilih "minggat" dari Jakarta dan memilih kuliah di sana karena saya muak dengan kota ini (beserta segala isinya!). Karena sejak saya kecil saya kerap diajak ke Jogja, saya percaya: saya akan meneruskan hidup saya di kota mungil itu. Then everything was changed. Maybe my fate isn't there. Alih-alih sangat rindu dan selalu berharap suatu hari bisa tinggal di sana lagi, saya mencoba menikmati harihari "panas" saya di sini. Well, i have to admit that something in my life was changes: into a progress one. Tetapi, di sini saya malah tertantang oleh pola pengasuhan yang selama di Jogja "baik-baik" saja.

Entah, sewaktu saya dan Chiya sering mondar-mandir Jakarta-Jogja, saya dan suami sering melihat perbedaan sikap yang cukup kentara pada Chiya. Sepulang dari Jakarta ia biasanya sering ngambek, rewel, dan tidak mau mendengar perkataan kami, orang tuanya. Padahal, Chiya termasuk anak yang gampang mengerti maksud omongan kami. Ia pun tidak pernah protes atau melawan jika kami beritahu secara baik-baik. Namun, itu semua berubah jika ia pergi ke Jakarta. Nah, ketika sekarang ia tinggal (selamanya) di Jakarta, bisa kebayang kan, se-signifikan apa perubahan sikapnya?

Saya lalu mulai mendiagnosis: kira-kira kondisi atau situasi apa di Jakarta yang membuat dia begitu? Lalu ketemulah jawabannya. Eyang kakungnya yang jadi "tersangka". Beliau ini sangat sayang pada Chiya. Mungkin karena Chiya adalah cucu pertama (klise, lah...). Namun, kadang, pemanjaannya terhadap Chiya jadi kelewatan, sehingga Chiya sendiri merasa terus ada yang "melindungi", atau ada seseorang yang siap memenuhi segala keinginannya. Apapun itu.

Inilah, dualisme situasi kami selama tinggal seatap dengan orang tua. Sisi baiknya, saya dan Chiya tidak sendiri lagi di rumah. Ada eyang kakung, uti dan si om yang ada setiap hari (kecuali pada jam-jam bekerja, ya). Sesekali, saya bisa menimati me-time yang memanjakan selagi Chiya bermain dengan yang lain. Atau, saya tidak lagi pusing karena berkutat dengan urusan daily menu untuk semua anggota keluarga. Di sini untuk urusan makan ada tukang makanan yang menjual lauk-pauk untuk sehari-hari. Saya pun tak perlu bicyling tiap hari. Jadi tidak punya aktivitas fisik yang agak signifikan sih, tapi bagaimana pun saya senang karena tak lagi harus capek-capek untuk urusan makan setiap hari ini.

Namun, bukan berarti saya jadi "ongkang-ongkang" kaki lho... Saya tetap mengurusi Chiya dari mulai ia bangun pagi hingga tidur di malam hari. Semua masih saya, meski banyak orang di rumah. Ini memang agak enak-tidak enak, tapi masih ada yang lebih tidak enak. Dan ini dia yang tidak enak: ketika saya sebagai orang tua, harus berjibaku dengan si eyang yang gemar memanjakan anak saya. Sementara ketika kami masih di Jogja, saya tidak pernah terlampau lepas kendali begitu. Saya ajak dia jajan dan jalan-jalan sebagaimana mestinya. Di sini, setiap hari ia jajan dengan rata-rata lima ribu rupiah, belum termasuk beli mainan yang harganya minimal sepuluh ribu rupiah. Saya tidak protes tentang nominalnya, saya tidak suka pembentukan habitus buruk itu!

Chiya jadi sangat bergantung pada aktivitas jajan yang tidak produktif itu. Masalahnya, ia sering mengajak ke luar rumah dengan dalih "mau main" tetapi nanti ujung-ujungnya ia (memaksa) ke warung dan membeli sesuatu yang tidak jelas. Apa yang biasanya ia pilih adalah sesuatu yang bukan makanan namun juga bukan mainan yang bisa berumur panjang. Selain itu, mainan-mainan itu nantinya hanya akan teronggok di rak mainan dan akan jadi calon sampah.

Ada beberapa hal buruk dari pembiasaan ini. Pertama, Chiya jadi tidak "ketulungan" manja dan konsumtifnya. Terutama kalau eyangnya ada di rumah. Tiap tukang jualan lewat minta dibeli. Ampun deh....
Kedua, saya sebagai ibunya seolah-olah seperti kehilangan kontrol atas dirinya. Saya dan suami pun seperti tidak lagi konsisten pada apa yang selama ini kami lakukan sebagai orang tuanya.
Ketiga, sebagai imbas yang paling signifikan tentu saja boros! Padahal, ayahnya belum terima gaji pertama, yang artinya, kami belum punya pola finansial yang tetap.

Begitulah, enak-tidak enaknya hidup bersama orang tua. Saya harus terus berusaha membimbing Chiya supaya mau mengurangi aktivitas komsumtifnya itu. Dan semoga ia mau...

0 comments:

Post a Comment

Blog Hits

Hello

"Membuat jarak paling intim antara suara hati dan memori adalah dengan menuliskannya pada sebuah tulisan. Dan kamu, sedang menuju ke tempat milikku."

Enjoy reading.

Popular Posts

Followers