- sepetak ruang kecil untuk menjadi diri sendiri -

a liltte adventure of Chiya

Banyak sudah yang berubah dari Chiya. Selain ia tambah tinggi, ada beberapa hal positif yang ia perlihatkan pada kami dari hari ke hari. Menyenangkan, bisa melihatnya terus tumbuh dan terus menunjukkan perkembangan yang baik. Seperti yang ada belakangan ini. Kelihatannya ia memang sedang menunjukkan bahwa ia sedang bertransformasi ke dalam fase "anak gede", seperti yang sering ia katakan pada kami. inilah beberapa progress things yang sedang ia alami belakangan ini...

kosakata yang ia ketahui semakin banyak. Ini dapat diketahui tiap ia ngoceh setiap saat, kapan pun... Contoh kosakata yang sering ia gunakan belakangan ini antara lain: produk, berfungsi, masyarakat, dan lain-lain (banyak sekali, saya sampai lupa!). Yang pasti, kata-kata tersebut merupakan diksi yang jarang saya dengar dari mulut mungil seorang anak tiga tahun. And I dont have any idea about where's did she get those words from...still wondering...

ia butuh sesuatu yang lebih menantang, seperti naik kuda (sendirian), makan pakai saus, berenang dan ke pantai, dan lain-lain. Tampaknya ia memang ingin memperluas zona nyamannya, one kind of sign that she's getting older... Dan kadang ia memintanya dengan memaksa, sebuah cara yang khas anak-anak.

an adult wanna-be. Ia mulai berinisiatif untuk membereskan tempat tiudr selepas tidur, mencuci piring sendiri di wastafel (tentu masih dengan bantuan saya dan kursi tambahan), membereskan peralatan makan yang sudah kering di wastafel untuk dikembalikan ke rak piring, ikut membereskan ruang keluarga sebelum naik tempat tidur pada malam hari. Beberapa hal lain seperti ikut berpartisipasi di dapur atau memilih baju untuk ia pakai setelah mandi, sudah ia lakukan jauh sebelum ini.

tentang angka, ia sudah bisa menulis angka satu sampai tiga, angka empat masih susah untuknya. Sementara untuk menyebutkan angka, sejak usia dua tahun ia sudah bisa menyebutkan (menghafal) angka satu sampai sepuluh dalam bahasa indonesia dan inggris. Nah, sekarang tambah bahasa jawa, hehehe...

Begitulah, kira-kira... semacam progress report tentang Chiya. Saya bahagia bisa terus ada di sampingnya. Menjadi ibu yang mengasuhnya secara positif. Dan semoga seterusnya lebih baik. Juga semoga hal positif ini "menulari" orang-orang sekitar saya...[]
Satir memang. Namun, begitulah kurang lebih kenyataannya. Hari Kartini seharusnya tidak lagi diresapi sebagai hari di mana para anak perempuan memakai konde, berkebaya dan bergincu. Tetapi sebagai hari di mana kesadaran gender semakin diyakini dan diaplikasikan setiap hari. Judul ini pun, punya arti buat saya. Hasil sedikit kontemplasi. Bahwa, laki-laki sebenarnya membutuhkan perempuan untuk membuat mereka kuat. Sementara para perempuan bisa independen di atas kaki mereka sendiri--bahkan dapat memberi energi lebih bagi laki-laki. Saya pernah membaca bahwa perempuan memiliki suatu hormon yang mampu membuat mereka mencintai secara total. Hal ini kemudian dapat membuat perempuan dapat melakukan banyak hal dengan total dan maksimal, karena perempuan bisa mencintai apa yang dilakukannya dengan sepenuh hati.

Tetapi, bagaimana pun juga, kekuatan perempuan ini bisa jadi bumerang bagi diri mereka sendiri. Tak jarang para lelaki iri atau bahkan tidak suka dengan kemajuan perempuan (dalam hal kepemimpinan atau organisasional). Laki-laki (mau diakui atau tidak), sebenarnya punya ketakutan akan hal ini. Pengalaman saya merekamnya. Saya punya beberapa teman yang memiliki suami (secara langsung atau tidak) melarang para istrinya beraktivitas di luar rumah. Ada yang "hanya" melarang bekerja (lalu memberi "pekerjaan rumah" lain sebagai dispensasi) hingga yang ekstrem: tidak boleh melanjutkan kuliah dan berhubungan dengan teman-temannya. Teman-teman saya pun ada yang menanggapi dengan "senang hati", ada pula yang akhirnya menjadi pemberontak (karena sejak awal ia punya bara feminisme dalam dirinya).

Nah, yang merasa "senang hati" being at home while she got her own certificate which it's not easy to get it somehow, ini yang saya heran. Mereka punya ijazah, dan tentu saja punya kesempatan, namun mereka lebih memilih "patuh" pada suaminya untuk "mengurus anak, karena urusan cari uang adalah bagian suami". Saya pikir, sepertinya semangat Kartini belum sampai ke keluarga mereka.

mengapa si suami membiarkan ijazah istrinya dirusak jamur, dan mengapa si istri tidak menginginkan aktualisasi diri di luar rumah?
Saya pernah cerita tentang ini pada suami saya. Lalu ia menjelaskan hal-hal yang mungkin logis bagi mereka. Pertama, bisa saja si istri memang tidak menginginkan untuk bekerja atau beraktivitas lain di luar rumah. Kedua, ada kemungkinan bekerja di lingkungan wilayah di mana mereka tinggal cukup sulit--terutama untuk perempuan. Mengingat tempat tinggal mereka memang di sebuah wilayah yang jauh dari kota-kabupaten. Well, maybe he's right. Tapi saya sebenarnya pernah bertanya secara langsung pada si istri: apakah kamu tidak mau bekerja? Jawabannya adalah: malas, lagipula suamiku tidak mengijinkanku untuk bekerja. Kata(suami)nya, kalau aku bekerja, siapa yang mengurus anak? Dalam hati, saya curiga jangan-jangan layanan pembantu tidak sampai ke kota mereka.

Saya mengerti bagamana si suami dan keluarganya punya beberapa usaha untuk kelak sanggup menghidupi mereka sampai tua. Namun, baut saya ini bukan tentang uang, ini tentang jiwa, tentang semangat, tentang... mengisi hidup! Perempuan akan punya kekuatan dengan menjadi diri sendiri, dengan membuat hidup mereka lebih hidup, dengan beraktualisasi diri. Saya selalu ingat apa yang dikatakan ibu saya bahwa (bagaimana pun) saya harus bekerja. Apalagi ijazah sudah digenggaman. Pengalaman beliau sebagai ibu bekerja membuatnya sadar bahwa dengan bekerja, istri dapat berperan dalam sebuah keluarga. Bukan hanya membantu kondisi finansial, tetapi juga akan dapat banyak pengalaman dan (yang penting) kemandirian. Dan saya pun meyakininya.

Kalau begini, rasanya kemenangan semangat perempuan yang ingin diwariskan Kartini ada di tangan kaum perempuan sendiri. Mau maju, ayo. Tidak mau, yo monggo...
Kalau ada yang bilang, love is about ask nothing in return, buat saya itu bullshit. Maaf, saya hanya merasa kalimat itu terdengar hipokrit. Jika memang benar tidak butuh sesuatu atas nama resiprositas, lalu kenapa begitu banyak orang yang tidak terima dengan poligami? Mengapa juga ada konsep bernama durhaka--dalam konstelasi cinta yang universal? Bukankah (setidaknya pada beberapa orang dan pada beberapa titik) itu berarti cinta membutuhkan respon dua arah? Hell, bagi saya, tentu saja iya! Tetapi hanya dua, tidak lebih...

Dalam kehidupan cinta tentu juga ada pahit-manisnya. Semoga saja keduanya seimbang, karena jika tidak... Neraka itu namanya. Sebagaimana hal-hal klise lainnya: menjadi positif lebih sulit dari pada menjadi negatif. Membuat kecewa lebih gampang ketimbang menyenangkan hati orang. Disadari atau tidak, ada hal-hal di mana kadang kita mengecewakan partner. Saya hanya menemukan tiga, sejauh pengalaman saya menelan hal-hal pahit. Here we go...

First, sering membuat kesalahan. Terlalu sering, malah. Dan kesalahan yang dibuat sudah bikin mata merah. Entah physical abuse, grey rape, sampai cheating. Dan ini dilakukan over and over again. Sampai capek memaafkan, sampai lelah melupakan. Lalu niat untuk tidak mengulanginya sampai mirip lipservice. Manis di depan doang.
Second, tidak belajar mendengarkan. Ada banyak hal yang disenangi dan dibenci dari partner. But it's so human, and they comes in one-sweet package. Selain belajar menerima, (seharusnya) juga belajar mendengarkan. Jangan sampai partner tidak didengarkan, sementara kita lebih memilih mendengarkan suara teman atau orang lain. Remember, being ignored is really hurt.
Third, tidak menyenangkannya di momen-momen berharga, such as birthday, anniversary or another precious moments. Masalahnya, momen-momen ini penting karena tidak terjadi atau dialami setiap hari. Dan sebetulnya di momen penting inilah kadang kita bisa menunjukkan how much that we care...

Begitulah... Perlu evaluasi dan dialog selalu. Tetapi, jika merasa dikecewakan, introspeksi diri juga: apakah kita pernah melalukan hal-hal yang mengecewakan partner? Jangan-jangan, secara sadar atau tidak, disengaja atau tidak, kita pernah (atau sering?) membuat kecewa... Ingat juga, diam bukan berarti selalu bisa sabar. Suatu saat kejengkelan bisa terakumulasi dan meledak. Lalu jadi karma yang buruk...

baik-buruknya seatap dengan eyang...

Saat ini keluarga mungil kami (yang terdiri dari ayah-bunda-Chiya) hidup bersama dengan orang tua saya di Jakarta. Sebelumnya kami tinggal di Jogja. Setelah kuliah lalu menikah, kami memutuskan untuk tetap stay di sana karena beberapa alasan. Dan satu alasan besarnya adalah: we both love that city so much! Saya sendiri memilih "minggat" dari Jakarta dan memilih kuliah di sana karena saya muak dengan kota ini (beserta segala isinya!). Karena sejak saya kecil saya kerap diajak ke Jogja, saya percaya: saya akan meneruskan hidup saya di kota mungil itu. Then everything was changed. Maybe my fate isn't there. Alih-alih sangat rindu dan selalu berharap suatu hari bisa tinggal di sana lagi, saya mencoba menikmati harihari "panas" saya di sini. Well, i have to admit that something in my life was changes: into a progress one. Tetapi, di sini saya malah tertantang oleh pola pengasuhan yang selama di Jogja "baik-baik" saja.

Entah, sewaktu saya dan Chiya sering mondar-mandir Jakarta-Jogja, saya dan suami sering melihat perbedaan sikap yang cukup kentara pada Chiya. Sepulang dari Jakarta ia biasanya sering ngambek, rewel, dan tidak mau mendengar perkataan kami, orang tuanya. Padahal, Chiya termasuk anak yang gampang mengerti maksud omongan kami. Ia pun tidak pernah protes atau melawan jika kami beritahu secara baik-baik. Namun, itu semua berubah jika ia pergi ke Jakarta. Nah, ketika sekarang ia tinggal (selamanya) di Jakarta, bisa kebayang kan, se-signifikan apa perubahan sikapnya?

Saya lalu mulai mendiagnosis: kira-kira kondisi atau situasi apa di Jakarta yang membuat dia begitu? Lalu ketemulah jawabannya. Eyang kakungnya yang jadi "tersangka". Beliau ini sangat sayang pada Chiya. Mungkin karena Chiya adalah cucu pertama (klise, lah...). Namun, kadang, pemanjaannya terhadap Chiya jadi kelewatan, sehingga Chiya sendiri merasa terus ada yang "melindungi", atau ada seseorang yang siap memenuhi segala keinginannya. Apapun itu.

Inilah, dualisme situasi kami selama tinggal seatap dengan orang tua. Sisi baiknya, saya dan Chiya tidak sendiri lagi di rumah. Ada eyang kakung, uti dan si om yang ada setiap hari (kecuali pada jam-jam bekerja, ya). Sesekali, saya bisa menimati me-time yang memanjakan selagi Chiya bermain dengan yang lain. Atau, saya tidak lagi pusing karena berkutat dengan urusan daily menu untuk semua anggota keluarga. Di sini untuk urusan makan ada tukang makanan yang menjual lauk-pauk untuk sehari-hari. Saya pun tak perlu bicyling tiap hari. Jadi tidak punya aktivitas fisik yang agak signifikan sih, tapi bagaimana pun saya senang karena tak lagi harus capek-capek untuk urusan makan setiap hari ini.

Namun, bukan berarti saya jadi "ongkang-ongkang" kaki lho... Saya tetap mengurusi Chiya dari mulai ia bangun pagi hingga tidur di malam hari. Semua masih saya, meski banyak orang di rumah. Ini memang agak enak-tidak enak, tapi masih ada yang lebih tidak enak. Dan ini dia yang tidak enak: ketika saya sebagai orang tua, harus berjibaku dengan si eyang yang gemar memanjakan anak saya. Sementara ketika kami masih di Jogja, saya tidak pernah terlampau lepas kendali begitu. Saya ajak dia jajan dan jalan-jalan sebagaimana mestinya. Di sini, setiap hari ia jajan dengan rata-rata lima ribu rupiah, belum termasuk beli mainan yang harganya minimal sepuluh ribu rupiah. Saya tidak protes tentang nominalnya, saya tidak suka pembentukan habitus buruk itu!

Chiya jadi sangat bergantung pada aktivitas jajan yang tidak produktif itu. Masalahnya, ia sering mengajak ke luar rumah dengan dalih "mau main" tetapi nanti ujung-ujungnya ia (memaksa) ke warung dan membeli sesuatu yang tidak jelas. Apa yang biasanya ia pilih adalah sesuatu yang bukan makanan namun juga bukan mainan yang bisa berumur panjang. Selain itu, mainan-mainan itu nantinya hanya akan teronggok di rak mainan dan akan jadi calon sampah.

Ada beberapa hal buruk dari pembiasaan ini. Pertama, Chiya jadi tidak "ketulungan" manja dan konsumtifnya. Terutama kalau eyangnya ada di rumah. Tiap tukang jualan lewat minta dibeli. Ampun deh....
Kedua, saya sebagai ibunya seolah-olah seperti kehilangan kontrol atas dirinya. Saya dan suami pun seperti tidak lagi konsisten pada apa yang selama ini kami lakukan sebagai orang tuanya.
Ketiga, sebagai imbas yang paling signifikan tentu saja boros! Padahal, ayahnya belum terima gaji pertama, yang artinya, kami belum punya pola finansial yang tetap.

Begitulah, enak-tidak enaknya hidup bersama orang tua. Saya harus terus berusaha membimbing Chiya supaya mau mengurangi aktivitas komsumtifnya itu. Dan semoga ia mau...

well, finally...

Akhirnya, bisa menulis lagi... Saya memang sedang kena penyakit gatal-gatal. gatal nulis, gatal baca, gatal earn money, pokoknya gatal do something. Dan sejauh ini, ada beberapa personal project yang mau saya jalankan. Tetapi karena bagaimana pun juga saya tetap harus memprioritaskan peran saya sebagai housewife, maka baru beberapa hal yang saya jalankan. Itu pun seolah-olah baru previewnya saja. Toh saya tidak ngoyo dan tidak terburu-buru. Saya masih seorang ibu dan saya tetap bermimpi.

Do both things equally, and i'd still be happy!!

welcome to this a brand new blog!!

Sebetulnya tidak ingin mendua. Tapi apa boleh buat, blog saya yang pertama dan tercinta, mess up. Karena satu dan banyak hal, saya sebenarnya tidak ingin menghapusnya. Macam cinta pertama, saya begitu ingin anthrogynous tetap di sana, Menemani saya menikmati sepetak ruang, hanya untuk saya sendiri saja.

Tapi, apa boleh buat. Kami harus berpisah secepat ini. Saya harus belajar melepaskannya... Sedih rasanya. Mengingat sudah cukup banyak tulisan saya di sana. Juga nama yang (menurut saya) begitu lucu. Sebuah nama yang saya temukan bertahun-tahun lalu dan hanya saya simpan dalam hati saja. Sampai akhirnya saya merasa ada waktu yang tepat untuk menggunakannya.

Bye anthrogynous... Kelak, jika saya masih bisa "menyelamatlanmu", saya akan menghidupkan kamu kembali... Sebab bagaimana pun juga nama dizzy anggie terasa begitu aneh...

Blog Hits

Hello

"Membuat jarak paling intim antara suara hati dan memori adalah dengan menuliskannya pada sebuah tulisan. Dan kamu, sedang menuju ke tempat milikku."

Enjoy reading.

Popular Posts

Followers