- sepetak ruang kecil untuk menjadi diri sendiri -

Pengalaman pribadi saya saat menjadi stay at home mom, membuat saya belajar banyak hal. Selain belajar menjadi istri dan ibu yang (lebih) baik, saya juga belajar untuk tetap menghargai diri saya. Menjadi ibu, bagaimana pun adalah sebuah kontrak seumur hidup. Tidak ada hari libur atau cuti bagi peran ini. Justru itu, peran ini membutuhkan komitmen yang kuat agar ada keseimbangan yang bisa dicapai antara kebahagiaan bersama juga kebahagiaan personal. Kebahagiaan personal ini juga penting untuk para ibu agar secara psikis mereka bisa tetap menjadi diri sendiri serta tetap bisa mewujudkan mimpi yang selama ini mereka punya.

Jika para ibu tidak memiliki orang lain yang membantu mereka di rumah (helper, babysitter, atau orang tua/mertua), maka rencana untuk mewujudkan mimpi mungkin tetap akan hanya memjadi mimpi. Cita-cita itu terkekang di dalam ruang bernama rumah. Pengecualian bila partner hidup masih bisa diajak kompromi. Misalnya dengan bergantian mengurus rumah atau anak, atau lebih baik lagi jika memberi waktu untuk si ibu melakukan hal-hal yang ia sukai. A me-time. Ini dia yang sulit didapat atau dirasakan kebanyakan ibu. Adalah sebuah privilage bila ibu bisa "bersenang-senang" sejenak. Apalagi jika senang-senang yang dilakukan merupakan sesuatu yang positif, seperti membaca, misalnya.

Inilah pengalaman saya sepanjang menjadi ibu yang hanya berkutat dengan pekerjaan rumah tangga dan peran saya sebagai istri dan ibu. Pikiran saya seolah-olah tumpul untuk sekedar bermimpi menjadi orang yang lebih baik. Saya pun meyakini, saya tidak sendirian. Banyak juga ibu-ibu di luar sana yang mungkin juga memiliki pengalaman seperti ini. Dan saat ini, inilah (salah satu) mimpi besar saya: ingin membangun dan menggugah hasrat para ibu-ibu akan sesuatu yang positif melalui sebuah pondok baca (khusus untuk para ibu).

kenapa pondok baca, dan kenapa buat ibu-ibu?
Pertama: karena membaca itu sebuah habit positif. Tidak ada yang negatif dalam aktivitas membaca. Kecuali bacaannya yang negatif. Kedua, habit positif ini belum menular secara masif di negeri ini. Ketiga--guna menjawab pertanyaan sebelumnya secara paralel--salah satu cara guna menularkan habit ini adalah melalui "role model" terdekat, yakni: orang tua. Dan karena peran ibu lebih intens terhadap anak-anaknya, maka pondok baca bagi ibu adalah penting. Buat saya, bahkan lebih penting dari pondok baca untuk anak-anak. Sebab, jika orang tua sudah sadar akan pentingnya membaca, maka akses buku-buku bagi anak-anak bisa diusahakan. Bahkan bukan hanya akses akan buku, namun juga bagaimana orang tua mulai mengenalkan aktivitas membaca sejak dini melalui dongeng, misalnya.

Selain itu, korelasinya dengan persoalan me-time untuk ibu di atas adalah: belum banyak ibu-ibu yang bisa mengakses bacaan baik untuk dirinya sendiri--sebagai person atau sebagai ibu dan istri yang perlu juga untuk beraktualisasi diri. Sebab aktualisasi diri sebetulnya bukan cuma monopoli para "wanita karier" yang setiap hari pergi ke kantor. Believe me, berpikir keras untuk menyediakan menu makanan yang variatif dan bergizi tiap hari atau mampu multitask antara memasak sambil mengangkat jemuran, bagi saya itu juga bagian dari aktualisasi diri. Aktualisasi diri tak harus berbentuk profesi atau menghasilkan uang. Total mendidik anak dan menjadi a reliable housewife, adalah aktualisasi diri yang riil dari seorang ibu. Dan untuk menunjang proses ini, asupan informasi melalui berbagai bacaan juga cukup penting. Para ibu-ibu juga deserved a good reads, isn't it?

Jika aktivitas membaca diandaikan sebagai input, maka bagaimana para ibu bisa memberi output yang baik dan berkualitas jika ia tidak mencari atau memiliki input yang sama baiknya?

bagaimana caranya?
Pondok baca ini masih berupa cetak biru. Masih ada dalam bayangan saja. Saya sendiri membayangkan pondok baca ini sebagai tempat di mana para ibu bisa mendapatkan banyak bacaan baik tentang parenting, kehamilan, sastra, sampai soal feminisme. Pondok baca ini terbuka buat ibu-ibu siapapun dan dimungkinkan ada aktivitas lain selain membaca. Diskusi, misalnya. Bahan bacaan pun (mungkin) bisa datang dari donatur atau uang hasil iuran yang terjangkau. Selain itu, bacaan bukan hanya buku, bisa juga majalah. Sebab, kadang untuk menumbuhkan hasrat membaca harus dimulai dari hal-hal yang disukai dulu atau melalui bacaan yang menyenangkan. Yang penting, tema bacaan tidak keluar dari tema besar "keluarga" atau women empowered. Bahkan, jika ada yang tidak bisa meninggalkan anaknya, bisa dibawa ke pondok baca ini. (Semoga memungkinkan ^_^) Idealnya, saya juga menginginkan pondok baca yang mobile. Agar subyek dari target pembaca bisa semakin ekstensif. Sebab, tujuan utama yang paling penting adalah pengenalan aktivitas membaca agar hasrat membaca menjadi habit.

Saat ini saya belum memulainya. Mungkin nanti, secara perlahan-lahan akan terwujud. Saya juga masih mencoba mencari "partner" yang bisa saya ajak sharing tentang proyek ini. Namun, sejauh yang saya amati, sepertinya para ibu-ibu (muda, terutama) di daerah tempat tinggal saya, tidak terlihat begitu berhasrat terhadap buku atau membaca. Semoga saya salah menilai. Karena jika benar, mimpi besar ini akan hanya menjadi mimpi saja...

4 comments:

  1. Bun, aku suka dengan ide segar kamu. Sayangnya it needs a lot of money..masih belum tergambar mencarinya. Karena masyarakat kita masih belum hobi membaca. Sampai sekarang pun aku masih punya impian itu, cuma segmentasinya masih anak-anak dan belum ke kaum ibu. Kapan2 kita discuss ya Bun..

    ReplyDelete
  2. hai da!! um... nothing venture, nothing gain, kan? pernah baca buku ROOM TO READ, blum? cerita seorang eksekutif muda, seorang empoyer di Microsoft yang menanggalkan karier cemerlangnya demi mengabdikan diri menyumbang perpustakaan di Napal, dan wilayah lain... baca buku itu aku jadi tahu gimana cara "memberdayakan" orang-orang sekitar kita agar bisa membantu proyek besar ini...
    yup, kapan2 kita harus sharing live!! hihi...

    ReplyDelete
  3. hai, kita dulu ga pernah ngobrol di kampus yah. hahahha cuma lirik2 aja:) sayang kalian dah di jakarta, aku juga lagi bingung mo memberdayakan buku2 anak2 yang aku punya (bawa dari bogor), buat di lingkungan kontrakanku.

    ReplyDelete
  4. haha.... lirikan macam apa yah?? mang kamu skrg di mana? masih di jogja kah? gimana kalo disumbangkan untuk taman bacaan??

    ReplyDelete

Blog Hits

Hello

"Membuat jarak paling intim antara suara hati dan memori adalah dengan menuliskannya pada sebuah tulisan. Dan kamu, sedang menuju ke tempat milikku."

Enjoy reading.

Popular Posts

Followers