Reuni bersama teman-teman SMP

Sore tadi habis reunian bersama teman-teman SMP saya di SLTPN 178 Pesanggrahan, Jakarta Selatan. Hanya reuni kecil, sebatas teman sekelas saja. Namun sangat cukup membayar kerinduan saya akan teman-teman lama, khususnya yang di Jakarta. Maklum, meski hanya tujuh tahun di Yogya, saya selalu merasa saya adalah orang Yogya. Saya lebih hafal jalan dan daerah di Yogya ketimbang Jakarta yang telah saya tempati selama tujuh belas tahun. Dan kini, ketika saya kembali ke Jakarta lagi, saya musti kembali men-setting mind set yang selama ini sudah "tertata rapi" dalam folder ke-Yogya-an.

Kembali soal reuni. Di sana, saya kembali menemukan wajah-wajah lama, dengan tampilan baru. Tentu, semua datang dengan tampilan baru. Tiga belas tahun adalah waktu yang cukupan untuk membuat seseorang berubah (minimal) secara tampilan. Ada beberapa teman perempuan yang jelang jadi ibu atau sudah menjadi ibu, seperti saya. Dengan satu atau dua anak. Ada pula yang datang dengan make-up atau polosan. Yang lelaki, ada yang tetap ganteng, lucu, diam,...seperti mereka dulu. Di luar pertemuan kami yang begitu membuat bahagia, saya teringat beberapa teman saya. Selain teman-teman SMP saya ini...

Beberapa hari belakangan, saya menemukan seorang teman SMU saya sudah jadi seorang DeeJay. Seorang DeeJay perempuan yang cantik. I really mean it, she's really georgeus!! Tidak jauh berbeda waktu dia masih jadi teman sebangku saya. Teman berbagi tawa waktu guru Biologi membosankan di kelas. Atau teman berbagi contekan... :p

Dari teman-teman SMP dan SMU saya itu, intinya adalah: bahwa seseorang tidak mungkin jauh berubah secara karakteristik. Sebuah perubahan yang total drastis, saya rasa, hampir tidak mungkin. Sebab, ada watak atau personalistik tertentu yang sudah menjadi bagian dari dirinya yang sebenarnya. Jikapun dalam rentang tiga belas tahun itu ada yang berubah, hal itu mungkin adalah nasib. Mungkin ia bisa lebih sejahtera dengan pekerjaannya, atau sukses dengan bisnis atau pendidikannya. Perkara sifat? It wouldn't change. Seperti seorang teman SMP saya yang sudah menjadi ibu dua anak. Dia dulu adalah "preman" kelas bersama dua teman perempuan lainnya. Sekarang? Ia tetap bertutur "bebas" seperti dulu, ditambah kesukaannya merokok (bahkan di depan kedua anaknya yang kerap ia marahi). Karakternya yang keras dan cenderung bebas sudah terlihat sejak kami masih satu kelas waktu SMP dulu.

Sama juga dengan teman saya di Ms. DeeJay. Selagi sekolah dulu, ia tidak terlalu terlihat memiliki minat yang besar terhadap apapun yang berhubungan dengan hal-hal akademis. Contoh sederhananya: buku. Contoh konkretnya: ia tak pernah bersemangat di kelas. Dari hal-hal itu saja, sepertinya sudah bisa cukup menjelaskan mengapa ia bisa menjadi DeeJay sukses. Because that's her choice, part of her biggest dream.

Seperti juga ketika teman SMP saya berkata, "Anggie, kamu tidak berubah...". Yes, this is me, never change...

Comments