namanya (juga) mimpi

Saya, sama halnya dengan banyak orang lain, juga punya mimpi. Punya cita-cita. Mimpi saya yang paling kini sudah ada sejak tahun-tahun terakhir di kampus. Layaknya menulis, mimpi yang sudah naik cetak dan sedang dalam perjalanan untuk diwujudkan, juga mengalami fase edit, koreksi atau ralat. Namun, koreksi itu dilakukan bukan karena (tiba-tiba) saya berubah pikiran dan menginginkan mimpi lain, melainkan dalam perjalanan tersebut, si mimpi harus melakukan serangkaian mimikri. Ia harus menyesuaikan diri terhadap keadaan hidup saya dan berbagai kendala yang merintangi. Ya, mimpi saya itu HARUS fleksibel. Sebab di satu sisi saya tak ingin disorientasi, sementara di sisi lain, saya juga tak mau menyerah dan mengganti mimpi saya hanya karena kondisi saya yang belum memungkinkan.

Sejauh ini, saya masih menggenggam kuat mimpi saya itu. Mimpi lawas, namun terus saya perbarui metode dan jangka waktunya. Tak harus terikat deadline. Sebab saya masih ingin hidup yang lama (amien). Juga saya sangat menghargai bahwa hidup ini harus disikapi dengan dinamis. Tahun ini (mungkin) belum terwujud. Berarti tahun depan harus lebih gigih. Lakukan satu per-satu. Mimpi saya banyak, jadi harus berbagi ruang dan waktu dalam pikiran. Yang penting harus terus punya mimpi. Asal jangan hanya terus bermimpi.

Ada satu mimpi besar saya. Sangat besar, hingga saya kerap berpikir "apakah saya mampu?". Tetapi, bahkan dulu kuliah di UGM pun adalah mimpi saya. Jadi, mimpi ini bukan tidak mungkin untuk jadi nyata. Meski saya masih suka "ngeri" membayangkannya. Haha... kalau ngeri begini, mimpi buruk, dong namanya...

Tetapi, mimpi harus dibangun atas ketidak mungkinan. Sebab, jika kita bermimpi untuk mencapai sesuatu yang sebetulnya hanya berjarak dua depa dari tempat kita berpijak, itu bukan mimpi, melainkan "rencana". Bandingkan: jika ada dua orang yang berhasil menulis buku. Keduanya menulis hasil otodidak, namun yang satu difasilitasi sejak kecil dan satunya berjuang bahkan hanya untuk mengetik lembar demi lembar. Mungkin keduanya sama-sama memiliki mimpi menjadi penulis. Tetapi kegetihan si orang kedua yang berjuang sejak memulai mimpinya akan lebih dirasa sebagai "mimpi". Karena apa yang ia cita-citakan terasa lebih "jauh" dan tidak terengkuh dibanding dengan orang pertama yang sepertinya menjadi penulis bukanlah hal yang sulit dicapai. Apalagi seandainya orang pertama punya koneksi dekat dengan orang penerbitan. Semua ada digenggaman tangan, kan?

Anak petani yang jadi dosen. Anak tukang sayur yang jadi manajer. Anak miskin yang sukses berwirausaha. Tetapi bukan berarti saya sedang ingin berkata bahwa orang yang non-tidak mampu tak boleh bermimpi lho... Maksud saya: mulailah bermimpi dari yang tidak mungkin! Jangan bermimpi maju dua langkah, bermimpilah untuk melompat! Saya, seorang perempuan rumahan juga punya mimpi besar. Yang jika orang lain mengetahinya, ia mungkin mencibir: kamu? Mau melompat sejauh itu?

Dan, saya, seorang pemimpi akan menjawab: ya! Saya mau melompat sejauh itu. Melompati bukit itu. Sebab saya seorang liliput berjiwa raksasa yang ingin merengkuh dunia!

Comments

  1. bunda anggie bunny luplyhh..yuhuuu...akhirnya daku berkunjung jua..what's a very cute blog:) ceria syalalaaa...impianku? bisa tinggal seumur idup sm soulmate-ku kelak(klo dah ktemu,huhu) terus bikin taman bermain skaligus baca bwt anyak2..biar chiya bisa turut serta,hha:D

    ReplyDelete
  2. haaaiii azzah!! gimana kabarmu nun jauh di jogja sana?? jaga jogja-ku baik-baik yaa... hehe... mimpimu begitu syahdu, nduk... tapi kurang menantang ah! gimana kalo mimpi jadi profesor perempuan antro?? keren kan?? hihi... ayo, berjuang demi ekspansi habit membaca!!!

    ReplyDelete
  3. saya berkunjung lagi..
    yaayy..go for your dream Bun..

    [ aku gelem bgt diajari bikin headernya..
    lucu..aku kepingin^^ ]

    ReplyDelete
  4. mbak shendy, ini hasil browsing semalaman karena insomnia, mbak... ternyata gampang kok... cuma nyari template gratisan gitu.. beneran gampang! apalagi kalo speed internetnya maksimum... uuhh.. wuss wuuss wuss..!!

    ReplyDelete

Post a Comment