- sepetak ruang kecil untuk menjadi diri sendiri -

Tidak banyak buku yang benar-benar saya senangi. Apalagi jika penulisnya laki-laki. No offense, tidak bermaksud seksis, tapi kenyataannya saya lebih cenderung suka tulisan-tulisan penulis perempuan. Dan penulis-penulis yang saya gemari itu standar saja, maksudnya, mereka adalah nama-nama yang kerap didengar dalam ranah sastra. Sebut saja: Dewi Lestari, Ayu Utami, atau Djenar. Tapi bukan berati saya betul-betul menutup mata pada karya-karya penulis lelaki--meski jumlahnya tidak sebanyak penulis perempuan. Seperti banyak penikmat buku lain, saya suka membaca karya Pramoedya. Dan saya sampai saat ini belum pernah membaca tertraloginya. Haha! Saya agak susah membaca tulisan bagus seperti itu. Tetralogi terlampau apik untuk seorang penikmat buku (sangat) biasa seperti saya. Saya sudah sering mendengar betapa Pram lihai membuat cerita yang berlatar sejarah Indonesia. Terutama dari suami saya--si kutu buku itu, hehe. Alih-alih tetap ingin "menikmati Pram", saya memilih buku-bukunya yang lain. Yang lebih tipis, tentu saja. ^_^

Lalu, bertemulah saya dengan Gadis Pantai. Yang kemudian menjadi salah satu buku yang buat saya sangat "feminis". Atau, sangat membakar semangat ke-perempuan-an. Buku itu betul-betul berhasil menggambarkan betapa aristokrasi kebudayaan Jawa sangat menindas perempuan (setidaknya dalam konteks waktu saat itu). Pram pun mendeskripsikan ketertindasan si Gadis Pantai tidak secara eksplisit, melainkan dengan cara yang cenderung metaforis.

Kemudian yang membuat saya merasa bahwa Pram memliki kesadaran gender yang cukup tinggi dan sensitif akan isu perempuan ini. Dari caranya bertutur dan memilih sebagai orang pertama sebagai angle cerita, tampaknya Pram paham betul bagaimana perihnya menjadi perempuan (baca: Gadis Pantai). Padahal, ia seorang lelaki, yang dalam paham feminisme dianggap sebagai counter bagi para perempuan. Tetapi buktinya, selain Gadis Pantai (yang menurut saya paling kerasa sense ke-perempuan-annya), beliau juga menulis beberapa buku lain yang tokoh utamanya adalah perempuan. Misalnya Midah, si cantik bergigi emas, dan Larasati. Ini satu bukti bahwa Pram bukan penulis yang male oriented.

Buat saya, menemukan buku yang ditulis oleh laki-laki namun "wangi" perempuan (dalam arti: sadar gender), adalah menakjubkan. Sebab, sejauh saya membaca beberapa karya penulis lelaki, tidak banyak yang menunjukkan sense ke-perempuan-an yang kuat. Mungkin banyak penulis lelaki yang menjadikan isu ke-perempuan-an (baca: ketertindasan perempuan) sebagai tema besar. Namun, bagaimana cerita itu dibangun untuk menumbuhkan kesadaran gender, tidaklah banyak. Bahkan jika ada, saya rasa tidak ada yang sanggup menandingi keberhasilan Pram "menghidupkan" Gadis Pantai. Berhasil menghidupkan dari sisi cerita, konstruksi latar cerita, hingga yang sisi paling dalam: sisi humanisnya.

Saya rasa, tidak ada.

namanya (juga) mimpi

Saya, sama halnya dengan banyak orang lain, juga punya mimpi. Punya cita-cita. Mimpi saya yang paling kini sudah ada sejak tahun-tahun terakhir di kampus. Layaknya menulis, mimpi yang sudah naik cetak dan sedang dalam perjalanan untuk diwujudkan, juga mengalami fase edit, koreksi atau ralat. Namun, koreksi itu dilakukan bukan karena (tiba-tiba) saya berubah pikiran dan menginginkan mimpi lain, melainkan dalam perjalanan tersebut, si mimpi harus melakukan serangkaian mimikri. Ia harus menyesuaikan diri terhadap keadaan hidup saya dan berbagai kendala yang merintangi. Ya, mimpi saya itu HARUS fleksibel. Sebab di satu sisi saya tak ingin disorientasi, sementara di sisi lain, saya juga tak mau menyerah dan mengganti mimpi saya hanya karena kondisi saya yang belum memungkinkan.

Sejauh ini, saya masih menggenggam kuat mimpi saya itu. Mimpi lawas, namun terus saya perbarui metode dan jangka waktunya. Tak harus terikat deadline. Sebab saya masih ingin hidup yang lama (amien). Juga saya sangat menghargai bahwa hidup ini harus disikapi dengan dinamis. Tahun ini (mungkin) belum terwujud. Berarti tahun depan harus lebih gigih. Lakukan satu per-satu. Mimpi saya banyak, jadi harus berbagi ruang dan waktu dalam pikiran. Yang penting harus terus punya mimpi. Asal jangan hanya terus bermimpi.

Ada satu mimpi besar saya. Sangat besar, hingga saya kerap berpikir "apakah saya mampu?". Tetapi, bahkan dulu kuliah di UGM pun adalah mimpi saya. Jadi, mimpi ini bukan tidak mungkin untuk jadi nyata. Meski saya masih suka "ngeri" membayangkannya. Haha... kalau ngeri begini, mimpi buruk, dong namanya...

Tetapi, mimpi harus dibangun atas ketidak mungkinan. Sebab, jika kita bermimpi untuk mencapai sesuatu yang sebetulnya hanya berjarak dua depa dari tempat kita berpijak, itu bukan mimpi, melainkan "rencana". Bandingkan: jika ada dua orang yang berhasil menulis buku. Keduanya menulis hasil otodidak, namun yang satu difasilitasi sejak kecil dan satunya berjuang bahkan hanya untuk mengetik lembar demi lembar. Mungkin keduanya sama-sama memiliki mimpi menjadi penulis. Tetapi kegetihan si orang kedua yang berjuang sejak memulai mimpinya akan lebih dirasa sebagai "mimpi". Karena apa yang ia cita-citakan terasa lebih "jauh" dan tidak terengkuh dibanding dengan orang pertama yang sepertinya menjadi penulis bukanlah hal yang sulit dicapai. Apalagi seandainya orang pertama punya koneksi dekat dengan orang penerbitan. Semua ada digenggaman tangan, kan?

Anak petani yang jadi dosen. Anak tukang sayur yang jadi manajer. Anak miskin yang sukses berwirausaha. Tetapi bukan berarti saya sedang ingin berkata bahwa orang yang non-tidak mampu tak boleh bermimpi lho... Maksud saya: mulailah bermimpi dari yang tidak mungkin! Jangan bermimpi maju dua langkah, bermimpilah untuk melompat! Saya, seorang perempuan rumahan juga punya mimpi besar. Yang jika orang lain mengetahinya, ia mungkin mencibir: kamu? Mau melompat sejauh itu?

Dan, saya, seorang pemimpi akan menjawab: ya! Saya mau melompat sejauh itu. Melompati bukit itu. Sebab saya seorang liliput berjiwa raksasa yang ingin merengkuh dunia!
Pengalaman pribadi saya saat menjadi stay at home mom, membuat saya belajar banyak hal. Selain belajar menjadi istri dan ibu yang (lebih) baik, saya juga belajar untuk tetap menghargai diri saya. Menjadi ibu, bagaimana pun adalah sebuah kontrak seumur hidup. Tidak ada hari libur atau cuti bagi peran ini. Justru itu, peran ini membutuhkan komitmen yang kuat agar ada keseimbangan yang bisa dicapai antara kebahagiaan bersama juga kebahagiaan personal. Kebahagiaan personal ini juga penting untuk para ibu agar secara psikis mereka bisa tetap menjadi diri sendiri serta tetap bisa mewujudkan mimpi yang selama ini mereka punya.

Jika para ibu tidak memiliki orang lain yang membantu mereka di rumah (helper, babysitter, atau orang tua/mertua), maka rencana untuk mewujudkan mimpi mungkin tetap akan hanya memjadi mimpi. Cita-cita itu terkekang di dalam ruang bernama rumah. Pengecualian bila partner hidup masih bisa diajak kompromi. Misalnya dengan bergantian mengurus rumah atau anak, atau lebih baik lagi jika memberi waktu untuk si ibu melakukan hal-hal yang ia sukai. A me-time. Ini dia yang sulit didapat atau dirasakan kebanyakan ibu. Adalah sebuah privilage bila ibu bisa "bersenang-senang" sejenak. Apalagi jika senang-senang yang dilakukan merupakan sesuatu yang positif, seperti membaca, misalnya.

Inilah pengalaman saya sepanjang menjadi ibu yang hanya berkutat dengan pekerjaan rumah tangga dan peran saya sebagai istri dan ibu. Pikiran saya seolah-olah tumpul untuk sekedar bermimpi menjadi orang yang lebih baik. Saya pun meyakini, saya tidak sendirian. Banyak juga ibu-ibu di luar sana yang mungkin juga memiliki pengalaman seperti ini. Dan saat ini, inilah (salah satu) mimpi besar saya: ingin membangun dan menggugah hasrat para ibu-ibu akan sesuatu yang positif melalui sebuah pondok baca (khusus untuk para ibu).

kenapa pondok baca, dan kenapa buat ibu-ibu?
Pertama: karena membaca itu sebuah habit positif. Tidak ada yang negatif dalam aktivitas membaca. Kecuali bacaannya yang negatif. Kedua, habit positif ini belum menular secara masif di negeri ini. Ketiga--guna menjawab pertanyaan sebelumnya secara paralel--salah satu cara guna menularkan habit ini adalah melalui "role model" terdekat, yakni: orang tua. Dan karena peran ibu lebih intens terhadap anak-anaknya, maka pondok baca bagi ibu adalah penting. Buat saya, bahkan lebih penting dari pondok baca untuk anak-anak. Sebab, jika orang tua sudah sadar akan pentingnya membaca, maka akses buku-buku bagi anak-anak bisa diusahakan. Bahkan bukan hanya akses akan buku, namun juga bagaimana orang tua mulai mengenalkan aktivitas membaca sejak dini melalui dongeng, misalnya.

Selain itu, korelasinya dengan persoalan me-time untuk ibu di atas adalah: belum banyak ibu-ibu yang bisa mengakses bacaan baik untuk dirinya sendiri--sebagai person atau sebagai ibu dan istri yang perlu juga untuk beraktualisasi diri. Sebab aktualisasi diri sebetulnya bukan cuma monopoli para "wanita karier" yang setiap hari pergi ke kantor. Believe me, berpikir keras untuk menyediakan menu makanan yang variatif dan bergizi tiap hari atau mampu multitask antara memasak sambil mengangkat jemuran, bagi saya itu juga bagian dari aktualisasi diri. Aktualisasi diri tak harus berbentuk profesi atau menghasilkan uang. Total mendidik anak dan menjadi a reliable housewife, adalah aktualisasi diri yang riil dari seorang ibu. Dan untuk menunjang proses ini, asupan informasi melalui berbagai bacaan juga cukup penting. Para ibu-ibu juga deserved a good reads, isn't it?

Jika aktivitas membaca diandaikan sebagai input, maka bagaimana para ibu bisa memberi output yang baik dan berkualitas jika ia tidak mencari atau memiliki input yang sama baiknya?

bagaimana caranya?
Pondok baca ini masih berupa cetak biru. Masih ada dalam bayangan saja. Saya sendiri membayangkan pondok baca ini sebagai tempat di mana para ibu bisa mendapatkan banyak bacaan baik tentang parenting, kehamilan, sastra, sampai soal feminisme. Pondok baca ini terbuka buat ibu-ibu siapapun dan dimungkinkan ada aktivitas lain selain membaca. Diskusi, misalnya. Bahan bacaan pun (mungkin) bisa datang dari donatur atau uang hasil iuran yang terjangkau. Selain itu, bacaan bukan hanya buku, bisa juga majalah. Sebab, kadang untuk menumbuhkan hasrat membaca harus dimulai dari hal-hal yang disukai dulu atau melalui bacaan yang menyenangkan. Yang penting, tema bacaan tidak keluar dari tema besar "keluarga" atau women empowered. Bahkan, jika ada yang tidak bisa meninggalkan anaknya, bisa dibawa ke pondok baca ini. (Semoga memungkinkan ^_^) Idealnya, saya juga menginginkan pondok baca yang mobile. Agar subyek dari target pembaca bisa semakin ekstensif. Sebab, tujuan utama yang paling penting adalah pengenalan aktivitas membaca agar hasrat membaca menjadi habit.

Saat ini saya belum memulainya. Mungkin nanti, secara perlahan-lahan akan terwujud. Saya juga masih mencoba mencari "partner" yang bisa saya ajak sharing tentang proyek ini. Namun, sejauh yang saya amati, sepertinya para ibu-ibu (muda, terutama) di daerah tempat tinggal saya, tidak terlihat begitu berhasrat terhadap buku atau membaca. Semoga saya salah menilai. Karena jika benar, mimpi besar ini akan hanya menjadi mimpi saja...
Semalaman saya browsing segala sesuatu tentang homeschooling (selanjutnya disingkat HS). Dulu, waktu di Jogja, saya sudah pernah mencoba digging tentang tema ini. Tapi karena saya yakin bahwa dalam HS, parameter yang digunakan adalah anak kita sendiri, maka semua yang saya dapat hanya untuk second opinion saja. Satu-satunya yang mampu membaca parameter itu adalah orang tua si anak. Meski, dalam beberapa hal, sharing juga penting dalam proses evaluasi dalam pembelajaran.

Ketika kami masih di Jogja, semua terasa kondusif. Saya punya banyak waktu bersama Chiya dan kami sehari-hari di rumah hanya berdua saja. Repot, memang--tentu saja! Namun, saya bebas mengatur semuanya sesuai keinginan dan kemampuan saya. Saya bisa memasak dan menyetrika di hari ini. Tetapi saja juga bisa absen dari semua pekerjaan rumah, dan hanya fokus menemani Chiya bermain. Nah, pada masa-masa free itulah saya mencoba untuk menerapkan metode HS pada Chiya. Sebetulnya sekedar main-main saja. Tapi hasil dari main-main itu, waktu umur dua tahun, dia sudah bisa berhitung satu sampai sepuluh dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Meski masih hafalan dan menghitungnya masih suka melompat-lompat... Misalnya waktu main-main di dapur, ia suka berhitung sendiri: satu, tiga, enam... Hehe..

Di sini, di Jakarta, ada banyak kendala. Pertama, Chiya sudah punya banyak teman. Yang artinya: dia bisa lebih memilih bermain di luar daripada di rumah. Selain itu, ada eyang-eyangnya yang selalu siap "menampung" kebosanannya dengan jajan di luar. Fiuh... Kedua, pada umurnya sekarang, rasanya lebih sulit untuk menjadi guru untuknya. Apalagi Chiya punya sifat yang senang "menjadi orang lain". Maksudnya, jika sedang bermain, dia akan berganti-ganti peran dengan teman mainnya. Masalahnya, kalau sedang belajar dan diajari, dia senang untuk "mengajari balik" orang yang sedang jadi gurunya. Ribet deh!

Seperti yang sedang saya coba lagi belakangan ini. Aduh, anak itu... Diajari bikin angka empat, malah bikin bentuk spiral (mirip angka tiga tapi keterusan). Katanya, "aku bikin bunga aja ya, Bunda". Capek kaann??

Tapi seperti yang telah disampaikan pada berbagai webpage yang mengulas soal HS, konsistensi memang sangat dibutuhkan demi menjalankan metode ini. Dalam kasus saya, saya sebagai orang yang berperan sebagai "guru" Chiya, harus menguji kesabaran terhadap metode belajar yang berfokus pada eksplorasi cara belajar ini. Saya sebagai orang tua dan sekaligus guru Chiya, selain harus bisa membaca kemampuan belajarnya dan ketertarikan dirinya terhadap proses ini, juga jangan sampai memaksakan dirinya untuk terus fokus. Sebab esensi dari HS adalah fun learning. Tidak boleh ada paksaan. Tidak boleh ada kata "harus". Semua harus fleksibel, semua harus menyenangkan. Dan jika anak mulai bosan, tantangan berikutnya adalah: find another fun way to learn. Namanya juga metode pendidikan alternatif, jangan sampai cara yang digunakan sama atau mirip dengan metode pendidikan formal biasa, kan?

Begitulah, kadang, sebagai orang tua si anak itu sendiri, justru proses belajar menjadi lebih sulit. Sebab, kita sebagai orang tua sebetulnya paham kemampuan anak, dan si anak itu sendiri menganggap bahwa "guru" yang merupakan orang tuanya sendiri bisa dijadikan "tameng" untuk lebih santai atau meminta cara yang lebih longgar. Misalnya soal punishment, dan lain-lain. Kelak, saya ingin metode HS ini terus saya terapkan. Melalui bermain, melalui aktivitas kesehariannya, melalui cara yang lebih menyenangkan. Dan semoga, saya bisa konsisten dengan komitmen ini.

Semoga.

what makes u happy?

Saya sedang dalam kondisi tidak enak--secara psikis. Entah. Mungkin jenuh, mungkin juga sedang muak...

Kondisi ini tidak saya alami untuk pertama kalinya. Ini sudah yang kesekian kalinya. Saya jadi tidak fokus dan yang paling penting, saya jadi sensi sekali. Bagai seember penuh bahan bakar, hal sedikit saja, bisa membuat saya "meledak". Tidak dalam istilah harafiah, tentu saja. Tapi sedikit-banyak mirip-mirip. You know what I mean...

Dan semua ini membuat saya, seolah-olah "fall on my own knee". Break down and cry... Lebay ya? Tapi serius, bagitulah kira-kira...

Dan saat ini, saya belum menemukan "teman" sesungguhnya yang bisa berbagi pahit-manis tentang ini. Sebenarnya saya juga punya teman, ia juga seorang full-time mom, namun saya tentu tidak bisa terus-terusan curhat dengannya. Sekarang ini, saya hanya bisa menyendiri saja. Saya pikir, memang ini yang saya butuhkan. Mungkin, kapan-kapan saya akan coba sharing dengan teman saya itu.

Kapan-kapan...

Cemilan yang mudah dibuat

[Mau resep yang lain? Sila cek Cookpad saya, ya.]

Minggu pagi...
Kalau di Yogya, biasanya kami bangun siang, lalu sarapan seadanya. Agak siangan, kami jalan-jalan--kemana saja kami suka. Taman Pintar, museum, kadang-kadang ke mall, ke Sunmor (Sunday morning) di UGM, or just walking around. Pokoknya Minggu pagi jadi waktu buat kami untuk leyeh-leyeh dan santai-santai. Saya pun biasanya pada hari Minggu absen dari aktivitas memasak. Paling-paling bikin sesuatu buat cemilan atau sarapan saja. Nah, yang biasa saya bikin adalah cemilan-cemilan yang easy to make. Beberapa di antaranya, saya tulis di sini. (Sumpah, semua yang saya tulis ini, gampang bukan main!!)

CUP CORN
Biasanya jajanan ini kita beli waktu ke mall atau pas jalan-jalan. Sebetulnya, cara bikinnya simpel banget lo! Cuma butuh jagung manis yang sudah dipipil, lalu dikukus. Kenapa dikukus? Karena kalau direbus, repot! Hehe, selain juga karena jagungnya sudah bentuk pipilan, jadi lebih cepat matang. Nah, setelah dikukus kira-kira selama lima belas menit-an, lalu diambil secukupnya ke dalam mangkuk dan ditambahkan margarin sesuai selera. Kalau bisa pas jagungnya masih panas, agar margarinnya meleleh di atas jagung. Kemudian, tinggal dipilih mau pakai topping apa. Saya biasanya pakai parutan keju atau coklat pasta. Kalau tidak ada, bisa pakai meises atau susu kental manis. Nah, gampang kan???

ROTI GORENG
Kalau yang ini saya terinspirasi jajanan waktu SMP. Bikinnya juga mudah kok. Roti tawar dipotong-potong mejadi empat bagian. Ambil satu bagian, lalu isi dengan abon. Ambil satu bagian lagi, kemudian ditangkupkan. Celupkan ke dalam telur yang sudah dikocok lepas, lalu digulingkan pada tepung roti. Goreng pada api kecil sampai kecoklatan. Dan roti goreng siap disantap!

MOCCA-OREO SMOOTHIE
Saya bingung mau memberi nama apa. Tapi kurang lebih, ini adalah minuman yang dibuat dari campuran kopi instan rasa Moccacino (yang tentu saja ama-sangat mudah dicari) dengan kepingan biskuit Oreo. Bisa ditambah susu juga kalau mau. Biar dingin, tambah es batu lalu diblender. Tuh kan, gampang banget...

FRUIT ICED
Kalau yang ini bisa dijadikan andalan jika anak kita agak susah makan buah. Karena Chiya sangat welcome dengan buah, maka minuman ini hanya jadi selingan saja. Fruit iced ini hanya jus buah yang dibuat lebih kental lalu dibekukan dalam frezzer. Biar lebih menarik, taruh dalam wadah es krim komplit dengan stiknya. Voila, Bunda bisa punya es krim sendiri di rumah!

ANEKA GORENGAN
Goreng-gorengan ini biasanya saya buat untuk lauk. Tapi bisa juga buat cemilan. Bahan utamanya bisa ayam tanpa tulang, udang yang sudah dikuliti, atau cumi-cumi. Bikinnya cuma mencelupkan bahan utama ke kocokan telur, lalu dilumuri tepung bumbu. Sudah, itu saja. Kemudian digoreng, tentu saja! Masak mau makan mentah-mentah... Selain itu, bisa juga menggoreng jamur. Jenis jamur yang biasa saya gunakan adalah jamur tiram atau jamur kancing. Tergantung selera dan kemudahan mendapatkannya saja sih! Yang penting, bahan utamanya penuh gizi dan Bunda tidak kesulitan membuatnya. Ya kan? ^_^

Reuni bersama teman-teman SMP

Sore tadi habis reunian bersama teman-teman SMP saya di SLTPN 178 Pesanggrahan, Jakarta Selatan. Hanya reuni kecil, sebatas teman sekelas saja. Namun sangat cukup membayar kerinduan saya akan teman-teman lama, khususnya yang di Jakarta. Maklum, meski hanya tujuh tahun di Yogya, saya selalu merasa saya adalah orang Yogya. Saya lebih hafal jalan dan daerah di Yogya ketimbang Jakarta yang telah saya tempati selama tujuh belas tahun. Dan kini, ketika saya kembali ke Jakarta lagi, saya musti kembali men-setting mind set yang selama ini sudah "tertata rapi" dalam folder ke-Yogya-an.

Kembali soal reuni. Di sana, saya kembali menemukan wajah-wajah lama, dengan tampilan baru. Tentu, semua datang dengan tampilan baru. Tiga belas tahun adalah waktu yang cukupan untuk membuat seseorang berubah (minimal) secara tampilan. Ada beberapa teman perempuan yang jelang jadi ibu atau sudah menjadi ibu, seperti saya. Dengan satu atau dua anak. Ada pula yang datang dengan make-up atau polosan. Yang lelaki, ada yang tetap ganteng, lucu, diam,...seperti mereka dulu. Di luar pertemuan kami yang begitu membuat bahagia, saya teringat beberapa teman saya. Selain teman-teman SMP saya ini...

Beberapa hari belakangan, saya menemukan seorang teman SMU saya sudah jadi seorang DeeJay. Seorang DeeJay perempuan yang cantik. I really mean it, she's really georgeus!! Tidak jauh berbeda waktu dia masih jadi teman sebangku saya. Teman berbagi tawa waktu guru Biologi membosankan di kelas. Atau teman berbagi contekan... :p

Dari teman-teman SMP dan SMU saya itu, intinya adalah: bahwa seseorang tidak mungkin jauh berubah secara karakteristik. Sebuah perubahan yang total drastis, saya rasa, hampir tidak mungkin. Sebab, ada watak atau personalistik tertentu yang sudah menjadi bagian dari dirinya yang sebenarnya. Jikapun dalam rentang tiga belas tahun itu ada yang berubah, hal itu mungkin adalah nasib. Mungkin ia bisa lebih sejahtera dengan pekerjaannya, atau sukses dengan bisnis atau pendidikannya. Perkara sifat? It wouldn't change. Seperti seorang teman SMP saya yang sudah menjadi ibu dua anak. Dia dulu adalah "preman" kelas bersama dua teman perempuan lainnya. Sekarang? Ia tetap bertutur "bebas" seperti dulu, ditambah kesukaannya merokok (bahkan di depan kedua anaknya yang kerap ia marahi). Karakternya yang keras dan cenderung bebas sudah terlihat sejak kami masih satu kelas waktu SMP dulu.

Sama juga dengan teman saya di Ms. DeeJay. Selagi sekolah dulu, ia tidak terlalu terlihat memiliki minat yang besar terhadap apapun yang berhubungan dengan hal-hal akademis. Contoh sederhananya: buku. Contoh konkretnya: ia tak pernah bersemangat di kelas. Dari hal-hal itu saja, sepertinya sudah bisa cukup menjelaskan mengapa ia bisa menjadi DeeJay sukses. Because that's her choice, part of her biggest dream.

Seperti juga ketika teman SMP saya berkata, "Anggie, kamu tidak berubah...". Yes, this is me, never change...

Selamat menjadi ibu!

Belakangan ini saya mendengar dan mengetahui bahwa beberapa teman saya sedang hamil. Ada yang sedang menanti kelahiran, ada yang umur janinnya baru beberapa mingguan dan (yang paling) baru, ada yang tadi pagi baru pakai test pack. Saya merasa lucu saja. Sebab, ternyata peristiwa (menakjubkan) itu sudah saya lalui beberapa tahun lalu. And now is their turn. Saya benar-benar ikut kesetrum bahagia. Buat saya proses kehamilan begitu indah, begitu mengharukan. Apalagi kehamilan yang pertama (selain karena saya belum pernah hamil yang kedua ^_^). Dan ketika saya mengetahui beberapa teman dekat sedang hamil, wwiii..... ikut senang, pokoknya.

Sebetulnya, pengalaman kehamilan saya biasa-biasa saja. Maksudnya, sama saja seperti yang lain: pakai acara morning sick (kalau saya mengalami itu for almost about the whole nine months! Capek kan?), tapi tanpa ngidam (dalam makna sebenarnya, ngidam yang minta mangga muda [harus] tengah malam, atau yang merepotkan lainnya). Dan dari semua pengalaman panjang yang melelahkan itu, the most memorable moment is hearing my baby's heart beating... Uuuhh... saya dan suami tidak bisa membohongi bahwa kami berdua bahagia (terkejut sebenarnya, bahwa dia benar-benar hidup dan ada di sana!), meski kami hanya saling lirik saja. Saya yakin, orang yang mengalami hal itu bisa langsung terenyuh seperti kami.

Wah, untuk teman-teman perempuan saya yang tahun menjadi mommy: selamat yaa...!! Saya ikut senang... Dan, jangan sampai tidak hepi. Semua dibawa hepi saja. Jangan melakukan sesuatu "hanya" atas nama mitos dan lain-lain. Just do what you believe.

 Selamat menjadi ibu!!!!

Bakmoy ayam favorit

[Mau resep yang lain? Sila cek Cookpad saya, ya.]

Bisa dibilang saya baru mulai masuk dapur dan teratur menjadi personal cleaning service dalam keluarga sejak menikah. Sebelumnya? Wuuu... saya seperti remaja perempuan  kebanyakan: malas dan "alergi" dengan hal-hal yang berhubungan dengan ke-perempuan-an macam memasak atau beres-beres. Overall, boleh dibilang perkejaan rumah itu baru saya alami dan pelajari ketika waktunya tiba. Termasuk: cooking. Tantangan terbesar saya (waktu itu) adalah ketika bayi saya mulai memasuki masa mengkonsumsi nasi atau makanan padat. Sementara kemampuan memasak saya yang cocok untuk bayi usia sembilan bulanan hanya sup. Mulai dari sup dimodifikasi, sayur bening dengan variasi isi, hingga bakso kuah atau soto. 

Nah waktu ikut Posyandu di Minomartani (Sleman, Yogyakarta, *rumah pertama kami), saya mendapati semangkuk sayur yang... lucu, lezat dan bergizi. Sebab itulah pertama kali saya menemukan sayur sejenis sup yang isinya daging ayam, tahu putih dan wortel. Dan... tentu saja: enak! Karena penasaran dan saya juga harus memperluas variasi makanan buat Chiya, akhirnya bertanyalah saya pada ibu tetangga yang ikut jadi penitia Posyandu. Dan kata beliau, itu adalah bakmoy. Hah? Bakmoy? Nama yang lucu...

Hingga akhirnya, bakmoy ayam menjadi favorit hingga kini. Chiya selalu exciting kalau sudah tahu Bundanya mau masak bakmoy. Oya, waktu dulu diberitahu resepnya, awalnya bakmoy ini pakai Tongjay atau Tongjae. Setelah saya coba, ternyata Tongjay adalah preservatived vegetables. Setelah saya baca, jenis sayur yang diawetkan adalah sawi dan sayur-sayur lain. Harumnya memang menggoda dan mampu membuat bakmoy menjadi sedap, namun saya tidak senang karena Tongjay adalah sayuran awetan yang tidak segar. Setelah konsultasi (lagi), akhirnya saya disarankan memakai ebi, atau udang kering sebagai subsitusi Togjay. Sebagai hasil akhir, sama lezatnya kok! Selain juga bisa lebih "aman" dan sehat... Here we go, check the recipe below then try to find out! Gampang 9banget) kok... Trust me, i'm not a very expertise cook.. ^0^

BAHAN:
- 1/2 kg ayam, rebus, kemudian potong-potong dadu
- satu potong tahu cina ukuran besar, potong-potong dadu kecil, goreng sampai kecoklatan (saja)
- dua buah wortel ukuran sedang, potong-potong dadu
- daun bawang dan seledri


BUMBU:
- empat butir bawang putih
- sebutir utuh kemiri
- 1 sendok makan ebi
(semua bumbu dihaluskan, kecuali ebi. lalu digongso bersama ebi.)


CARANYA, gampang banget, sumpah!
Sama seperti memasak sup. Masukkan wortel lebih dulu, kemudian ayam dan tahu berturut-turut. Bumbu gongso dimasukkan, lalu bumbui dengan kecap manis secukupnya saja, serta garam dan gula. Terakhir, masukkan irisan daun bawang dan seledri. taburkan bawang goreng sebagai finishing. Voila, bakmoy ayam siap disantap. ^U^

the benefit of (being) insomniac...

Ini dia!!! Akhirnya saya bisa punya weblog "beneran"!! Hihi... Dulu sempet punya di wordpress. Tapi terbengkalai, gak keurus. Selain itu, dari segi waktu dan minat belum kondusif juga untuk turut menyuburkan blog yang sudah jadi itu... Dan sekarang adalah saatnya untuk benar-benar niat punya blog beneran. Semoga hasrat menulisnya bisa tetap on fire.

Dan malam ini, ketika saya (lagi-lagi) tidak bisa tidur, saya memutuskan untuk momong "bayi virtual" saya yang baru saja lahir. Semoga, semoga...

Blog Hits

Hello

"Membuat jarak paling intim antara suara hati dan memori adalah dengan menuliskannya pada sebuah tulisan. Dan kamu, sedang menuju ke tempat milikku."

Enjoy reading.

Popular Posts

Followers