Monday, 19 March 2012

Puskesmas, suntik dan kontrasepsi



Saya sudah lima tahun langganan kontrasepsi suntik 3 bulan. Dan saya SELALU suntik di Puskesmas. Norak? Biarin. Saya punya apresiasi lebih untuk tenaga dan fasilitas kesehatan di level puskesmas. Sebab saya pernah ikut sebuah riset kecil tentang pelayanan kesehatan (ibu dan anak) dan saya sadar betapa pemerintah sebetulnya sudah melalukan upaya-upaya untuk meningkatkan fasilitas dan pelayanan kesehatan. Kendalanya? Tentu saja di masyarakat. Tentu saja di mindset yang memposisikan Puskesmas (dan pelayanan kesehatan pemerintah lainnya) seolah-olah "tidak ada apa-apanya" dibanding pelayanan kesehatan swasta. Toh banyak orang yang secara ekonomi relatif tidak bisa meng-cover biaya kesehatan keluarga, sementara di sisi lain mereka gengsi untuk mengakses Jamkesmas atau Askes.

Honestly, saya pun tak mau mengeneralisir bahwa pelayanan kesehatan pemerintah adalah 100% lebih baik dibandingkan swasta. Tidak. Toh, saya juga mengalami beberapa hal yang tidak mengenakkan selama menjadi user pelayanan ini. Yang ingin saya bagi kali ini adalah perjalanan saya selama menjadi pengguna kontrasepsi di Puskesmas yang pada masing-masing tempat berbeda-beda pula cara penanganannya.
Kenapa Suntik (tiga bulan)?

Sehabis selapanan Chiya, saya dan dia yang masih merah diboyong ke Jakarta, ke rumah orang tua saya. Setelah masa nifas selesai, atas rekomendasi ibu saya, saya pun langsung ke Puskesmas untuk suntik KB. Saya lupa awalnya kenapa saya memilih suntik. Yang pasti, saya tidak bisa pakai pil (karena saya susahnya minta ampun kalau mau minum obat sekaligus pelupa) dan tidak mau pakai IUD. Berangkatlah saya ke Puskesmas sekalian membawa Chiya imunisasi. Di sana saya diberi suntik yang sebulan sekali. Namun setelah beberapa hari, ASI saya tiba-tiba kering. Berkurang banyak. Dan muncul flek-flek. Setelah diskusi, ternyata suntik satu bulan tidak cocok untuk ibu menyusui. Setelah berjibaku selama sebulan, saya beralih ke suntik tiga bulan. Sisanya, tidak ada keluhan apa-apa. Termasuk menstruasi.

Dari dokter kandungan yang mendampingi saya riset waktu itu, saya akhirnya tahu bahwa jika pengguna suntik KB tidak haid, maka artinya dia "baik-baik saja". Anggapan bahwa suntik hormonal bikin gemuk (sebab darah kotornya tidak disalurkan melalui haid), juga tidak logis. Yang saya baca, logikanya menstruasi terjadi karena dinding rahim yang menebal (mempersiapkan diri untuk proses pembuahan) tidak dibuahi, dan akhirnya luruh sebagai darah menstruasi. Suntik hormonal mencegah agar dinding rahim tidak menebal sehingga sama sekali tidak ada menstruasi. Dulu saya serem sih kalau dengar bahwa KB hormonal itu berpotensi bikin gemuk. Mungkin sebetulnya bukan berpotensi bikin gemuk, tapi cocok-cocokan juga. Saya juga kalau lagi kalap, bisa naik sampai 51 Kg. Dan yang pasti, perubahan berat badan bukan karena darah mens yang "menumpuk" di badan. Haduh! *tepok jidat*

Puskesmas Pesanggrahan
Di Puskesmas ini, saya pertama kali suntik KB. Dan selama di Jakarta (sebelum bekerja), saya pasti suntik di sana. Tidak enaknya,saya tidak suka sama ibu-ibu tenaga kesehatan yang melayani saya. Boro-boro ada diskusi atau obrolan ringan, senyum saja tidak! Pernah saya ada salah ucap sedikit (bukan salah ucap sih, dia yang merasa intonasi suara saya tidak menyenangkan, padahal maksudnya biar suara saya terdengar di antara speaker bagian antrian yang menggelegar itu), eh dia manyunnya minta ampun. Ya sudah, saya juga tidak ada terima kasih-terima kasihnya deh!

Puskesmas Minomartani
Puskesmas ini adalah Puskesmas paling sepi dan mungil yang pernah saya kunjungi. Jaraknya hanya dua blok dari kontrakan saya. Pengunjunganya paling banter sepuluh orang tiap hari. Tapi tenaga kesehatannya tidak terlalu cuek dalam hal melayani pasiennya. Setelah giliran saya, saya pun disuruh untuk menimbang dan proses suntik pun dimulai. Ibu yang akan menyuntik saya pun memberi saya kebebasan untuk memilih posisi: mau berbaring boleh, mau sambil duduk juga tidak apa-apa. Di Puskesmas ini tidak ada interaksi juga antara user KB (minimal saya lah!) dengan si ibu bidan. Dari sana saya akhirnya tahu bahwa jadwal suntik yang diberikan sudah dilebihkan minimal satu hari guna meminimalisir keterlambatan suntik. Just in case si user lupa atau seperti saya yang waktu itu kehabisan stok obat sementara besoknya tanggal merah (saya dirujuk untuk suntik di Puskesmas tempat lain yang buka).

Puskesmas Kotagede
Ini adalah Puskesmas paling bersih dan paling besar yang saya tahu (selama saya tinggal di Jogja). Di sana juga sudah tersedia pelayanan bersalin inap yang hanya dimiliki Puskesmas tertentu. Setiap saya jadwal suntik, saya bukan hanya melakukan "ritual" menimbang (yang dilakukan secara mandiri di luar ruangan) dan periksa tensi, melainkan juga "ritual" lain yang--jujur--saya hanya mengalaminya di sana. Seperti: periksa perut (dengan cara diurut/dipijat) untuk mendeteksi kehamilan awal juga asupan air putih, tanya-jawab siklus mens sampai diskusi soal kontrasepsi yang diinginkan. Saya bahkan tidak diperbolehkan untuk memilih suntik dengan posisi duduk. Mereka benar-benar menjaga prosedur standar proses kontrasepsi. Bahkan ruang untuk periksa hamil (kontrol IUD) disekat untuk menjaga privasi. Tidak seperti Puskesmas lain yang menjadi satu ruangan. Jadi, periksa IUD tidak bisa dilakukan bersamaan dengan kontrol lain (tidak efisien secara waktu). Pokoknya, nyaman kalau suntik di sana.

Bu Bidan
Setelah bekerja, saya merasa saya harus mencari tempat lain untuk suntik KB. Pertama, karena saya sudah tak lagi bisa mengikuti jadwal Puskesmas yang pagi atau sore. Kedua, saya rasa inilah saatnya saya "lepas" dari bu Bidan Puskesmas nan jutek itu. Akhirnya, setelah tanya kanan-kiri, saya memutuskan untuk pindah ke bu Bidan di sebrang jalan. Katanya sih dia bidan teladan. Saya pun mendatangi bu bidan pada malah harinya setelah pulang bekerja dan rapi jali (abis mandi, maksudnya). Tempatnya sih di "pedalaman", di antara pemukiman warga yang cukup padat. Tapi bangunannya besar, kalau diibaratkan tempat tinggal, itu seperti rumah "gedongan". Besar, dua lantai, luas, rapi dan bersih. Sempurna untuk tempat praktek bidan.

Di sana sih bisa konsultasi soal kontrasepsi sampai soal persalinan, tapi si ibu bidan ini sepertinya tidak selalu punya banyak waktu, jadi konsultasi pun tidak bisa dilakukan lama-lama. Satu lagi, dalam hal harga, suntik di Puskesmas dengan Bu Bidan selisihnya tidak banyak. Hanya sekitar 2 ribu rupiah saja. Pun harga waktu saya di Jogja, sama saja. Tidak ada perbedaan harga yang signifikan.

Jadi, mau kontrasepsi apa dan di mana? :)


[gambar diambil dari sini]
Repost from Facebook on October 3, 2011

0 comments:

Post a Comment

 

:: busy bee :: Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template